Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaminan Pengganti
Dua hari berlalu seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Giorgio pulang ke rumah dengan wajah cemberut dan senyum yang dipaksakan.
Dia bersikap baik pada Miranda, membelikan bunga dan cokelat, seolah-olah semua yang terjadi hanyalah hal kecil.
Ophelia menghabiskan waktu di kampus, terutama di perpustakaan, berusaha mencari informasi tentang cara melindungi diri dari mafia. Sebuah pencarian yang konyol.
Tapi dia tetap mencari informasi itu. Dan semua yang dia baca hanya membuatnya semakin takut. Mafia tidak peduli hukum. Mafia tidak peduli polisi. Mafia hanya peduli uang dan kekuasaan.
“Huufft … aku tak menyangka akan ikut pusing memikirkan ini,” gumamnya kesal.
*
*
Hari itu, Ophelia pulang telat dari biasanya. Ia sengaja mampir ke rumah temannya, mencoba menenangkan diri. Tapi saat fia membuka pintu rumah, suasananya semakin tegang dari sebelumnya.
Giorgio duduk di kursi, dengan sebatang rokok di tangannya, hal yang jarang dia lakukan di dalam rumah. Di hadapannya, Miranda duduk dengan wajah pucat dan mata sembab. Di atas meja, ada amplop coklat lain.
"Ophelia, kemarilah," suara Giorgio datar. Dingin. Bukan nada memelas seperti malam itu, tapi nada perintah.
Ophelia mendekat dengan langkah pelan. "Ada apa?"
Giorgio membuang rokoknya dan menginjaknya di lantai. "Ada perubahan rencana."
Jantung Ophelia berdegup kencang.
"Aku tak bisa membayar hutang. Chloe tidak bisa dihubungi. Dia sudah melarikan diri ke luar negeri tanpa sepengetahuanku. Salvatore marah. Dia menagih jaminan, dan kali ini dia tidak menerima alasan."
"Lalu?" Ophelia menahan napas.
Giorgio menatapnya. "Kau harus menggantikan Chloe, Ophelia."
Ophelia meraih sandaran sofa untuk menahan diri.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau akan menjadi jaminan baru. Salvatore setuju. Dia bahkan bilang dia lebih suka kau daripada Chloe. Kau muda, kau pintar, kau memiliki nilai lebih."
"Tidak!" Miranda tiba-tiba berdiri, suaranya melengking. "Giorgio, jangan! Aku sudah bilang, jangan sentuh anakku!"
Giorgio berbalik ke arah Miranda dengan gerakan cepat. Wajahnya berubah menjadi garang.
"Diam, Miranda! Ini bukan pilihan! Kau pikir aku suka melakukan ini? Kalau tidak, kita semua akan mati! Salvatore sudah kehilangan kesabaran. Aku sudah berusaha melunasi hutang, tapi tidak cukup. Satu-satunya cara untuk memberinya waktu adalah dengan memberikan jaminan yang benar-benar berharga!"
"Tapi Ophelia—"
"Ophelia, atau kita semua mati!" Giorgio membentak. Lalu dia berbalik ke arah Ophelia. Matanya menyipit, dia berbisik yang mengancam. "Dengar, Ophelia. Aku tahu kau mendengar percakapan kami malam itu. Kau tahu situasinya. Jadi aku tidak perlu berbasa-basi. Kau akan pergi dengan Salvatore malam ini."
"Dan kalau aku menolak?"
Giorgio tersenyum. Senyum iblis yang membuat Ophelia takut.
"Kalau kau menolak, Salvatore akan menyuruh orang-orangnya datang ke sini sekarang juga. Dan mereka tidak hanya akan membawamu secara paksa. Mereka akan membunuh ibumu di hadapanmu, pelan-pelan, agar kau tahu konsekuensi dari ketidakpatuhanmu."
Miranda jatuh berlutut, meraih kaki Giorgio. "Giorgio, jangan! Aku mohon! Dia anakku! Satu-satunya yang kumiliki!"
Giorgio menendang pelan tangan Miranda hingga wanita itu terjatuh ke lantai.
"Sudah cukup! Aku lelah! Aku lelah menjadi orang yang selalu mengalah, selalu berusaha menyelamatkan kalian! Sekarang giliran kalian yang menyelamatkanku!" teriaknya, nadanya histeris.
Ophelia mematung. Dunianya gelap dalam sekejap. Ia menatap ibunya yang tergeletak di lantai, menangis, berusaha merangkak kembali ke arah Giorgio meskipun telah ditolak.
Dan dalam sekejap, rasa geram yang selama ini dia pendam berubah menjadi rasa pasrah. Kepasrahan yang pahit.
“Kau benar-benar benalu! Kau tak pernah menyelematkan kami! Justru kamilah yang selalu menyelamatkanmu!” teriak Ophelia.
PLAK!!
Giorgio menampar wajah Ophelia. Miranda berdiri dan menahan tangan Giorgio. “Jangan! Jangan pukul anakku!”
“Jika kau tak mau melihat ibumu mati, ikuti perintah Salvatore!” bentak Giorgio pada Ophelia.
Ophelia tidak bisa membiarkan ibunya mati. Ibunya adalah satu-satunya orang yang dia miliki. Meskipun ibunya bodoh, meskipun ibunya memilih cinta buta, Ophelia tidak tega melihatnya tersiksa.
"Baiklah," bisik Ophelia, suaranya ragu dan sangat pelan. "Aku akan pergi."
Miranda membelalak. Matanya yang basah menatap Ophelia dengan rasa bersalah yang besar. "Tidak, Ophelia! Jangan!"
"Mom, diam!" Ophelia membentak, dan dia melihat ibunya terdiam karena ketakutannya. "Kau tidak bisa melindungiku. Kau bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri. Jadi biarkan aku yang melindungimu kali ini. Tapi ingat, Mom. Aku melakukan ini untukmu. Bukan untuk dia."
Ophelia menunjuk Giorgio dengan jari gemetar. Pria itu akhirnya menunduk, menatap lantai, tak berani menatap mata Ophelia.
*
*
(JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE DI SETIAP BAB YA)
😭😭😭😭
kasihan phelia,sudah di titik kesabaran yg sudah habis..
biar bleiz merasa kehilangan...
😁😁