NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Clarissa Didepak

Clarissa menunduk semakin dalam, lalu memutar badannya dan melangkah pergi membelakangi mereka dengan bahu yang bergetar menahan tangis. Giselle cuma bisa menatap punggung sahabatnya itu dengan perasaan serbasalah dan iba.

Valeska sama sekali tidak memedulikan raut sedih Clarissa. Dia memutar bola matanya malas, merapikan letak kantong belanjaannya di lengan, lalu menoleh ke arah Giselle yang masih berdiri terpaku.

"Ngapain lo ngeliatin dia kayak gitu?" tegur Valeska dingin. "Lo mau ikut-ikutan jadi miskin juga gara-gara kasihan sama dia? Kalau lo mau sekelompok sama orang susah, silakan angkat kaki sekalian dari Velvet Sovereign."

Giselle tersentak kaget. Dia langsung memalingkan wajahnya dari arah Clarissa pergi, lalu menggeleng cepat sambil memasang senyum canggung untuk menyenangkan Valeska.

"A-enggak kok, Val," sahut Giselle terbata-bata. "Gue cuma kaget aja. Ya... lo bener sih, geng kita kan punya reputasi yang harus dijaga. Nanti apa kata anak-anak sekolah kalau tahu anggota Velvet Sovereign belanja aja harus dibayarin orang lain."

"Nah, itu lo tahu," jawab Valeska puas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh keangkuhan. "Udah ah, mood gue jadi rusak gara-gara dia. Yuk jalan lagi, gue mau cari sepatu heels baru di toko sebelah."

Giselle mengekor di belakang Valeska tanpa membantah lagi, walau di dalam hatinya timbul rasa takut yang sangat besar. Dia sadar betul, kepopuleran dan persahabatan di lingkaran Valeska sama sekali tidak punya tempat untuk kelemahan—sekali posisi keluarganya jatuh, dia juga bakal dibuang tanpa ampun sama seperti Clarissa.

***

Malam harinya, Porsche merah Valeska kembali berbelok memasuki garasi rumah mewahnya yang sepi. Seperti biasa, hanya lampu-lampu taman dan ruang tengah yang menyala remang-remang, menciptakan suasana dingin yang selalu menyambut kepulangannya.

Valeska melangkah masuk dengan tangan penuh bag belanjaan, menyerahkannya begitu saja ke Bi Sumi yang sudah menunggu di dekat pintu.

"Nih, taruh di kamar gue," perintah Valeska ketus.

"I-iya, Non Valeska," sahut Bi Sumi cepat sambil menerima tas-tas belanjaan mahal itu. "Anu, Non... Tadi Bapak sempat telepon lagi, katanya rapatnya diperpanjang sampai besok di luar kota. Terus Ibu juga tadi ngirim pesan, katanya langsung terbang ke Singapore sama teman-temannya."

Langkah Valeska terhenti di depan anak tangga pertama. Raut wajahnya yang tadinya angkuh dan puas habis berbelanja mendadak padam seketika. Matanya menatap kosong ke arah meja makan megah yang lagi-lagi kosong tanpa penghuni.

Rasa sepi yang mencekam kembali menusuk dadanya kencang-kencang, menghancurkan seluruh keangkuhan yang seharian ini dia pamerkan di sekolah dan di mall.

"Gue enggak nanya," desis Valeska pelan dengan suara serak, lalu melangkah naik ke kamarnya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Bi Sumi yang cuma bisa menghela napas panjang menatap punggung rapuh anak majikannya itu.

Sesampainya di kamar, Valeska langsung membanting pintu kencang-kencang. Dia melempar tas dan sepatu high heels-nya sembarangan ke lantai, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang terasa terlalu luas untuk dirinya sendiri.

Kamar yang bernilai ratusan juta itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Tidak ada suara menyapa, tidak ada yang menanyakan apakah kepalanya masih pusing setelah pingsan di sekolah tadi siang, dan tidak ada hangatnya suasana keluarga. Yang ada hanyalah deru halus pendingin udara dan bayangan dirinya sendiri di cermin.

Valeska memiringkan badannya, memeluk bantal erat-erat. Air mata yang seharian ini dia tahan mati-matian demi menjaga gengsi akhirnya menetes juga, membasahi sprei mewahnya.

"Semuanya palsu..." bisik Valeska pelan pada kegelapan kamar, suaranya serak dan gemetar. "Uang, teman, sekolah... semuanya enggak ada yang beneran peduli sama gue."

***

Keesokan paginya di SMA Nusantara, suasana koridor sudah ramai oleh gosip hangat. Kabar tentang Clarissa yang mendadak didepak dari Velvet Sovereign dan didekati sengaja oleh Giselle agar tidak kena semprot Valeska sudah menyebar cepat.

Valeska berjalan menyusuri koridor dengan gaya anggunnya yang biasa. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, melangkah seolah-olah tidak ada hal buruk yang terjadi semalam. Di belakangnya, Giselle mengekor setia, sementara Clarissa kini duduk sendirian di pojok kelas dengan mata sembap—benar-benar diabaikan oleh gengnya sendiri.

Saat melewati depan lapangan basket, Valeska menghentikan langkahnya. Di sana, tim basket sekolah sedang latihan pagi. Elang terlihat baru saja mencetak poin lewat layup yang mulus, disambut sorak-sorai kecil dari anak-anak yang menonton di pinggir lapangan.

Begitu berbalik untuk mengambil minum, mata Elang tidak sengaja beradu pandang dengan Valeska yang berdiri di pinggir koridor.

Elang menyipitkan mata, memperhatikan wajah cewek itu. Meski Valeska memakai makeup tebal dan kacamata hitam, Elang masih bisa melihat raut pucat dan sedikit lebam halus di bawah matanya yang tidak bisa ditutupi.

"Woy, Lang! Ngeliatin siapa lo?" tegur Marco sambil menyenggol bahu Elang, mengarahkan pandangannya ke tempat Valeska berdiri. "Oalah, si Ratu Sekolah udah masuk lagi. Kirain bakal opname tiga hari gara-gara pingsan kemarin."

Elang meneguk air mineralnya santai, lalu membuang muka. "Gue cuma heran, cewek kayak gitu ternyata nyawanya sembilan juga. Kemarin udah kayak mau mati, sekarang udah tegap lagi kayak enggak punya dosa."

"Hush, pelan-pelan omongannya!" bisik Leo tertawa pelan. "Awas lo disemprot lagi!"

Dari tempatnya berdiri, Valeska menyadari tatapan Elang. Dia menurunkan sedikit kacamatanya, memberikan tatapan paling tajam dan dingin ke arah Elang, seolah menegaskan bahwa insiden pingsan, pertolongan malam itu, dan kemarahannya di gerbang sekolah kemarin tidak mengubah fakta kalau Elang tetaplah musuh utamanya.

Elang yang melihat tatapan tajam itu cuma menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan, lalu berbalik kembali ke tengah lapangan basket untuk melanjutkan latihannya—sama sekali tidak peduli pada gertakan sang putri konglomerat.

***

Valeska melangkah masuk ke dalam kelas XI-1 dengan dagu terangkat tinggi. Giselle menyusul tepat di belakangnya, langsung duduk di bangku sebelah Valeska tanpa melirik sedikit pun ke arah Clarissa yang terpojok di barisan belakang.

"Val, ntar siang mau makan di luar aja apa gimana?" tanya Giselle memasang senyum paling manis, berusaha mencairkan suasana. "Biar gue yang minta supir gue beliin makanan dari resto luar kalau lo males ke kantin."

Valeska melepas kacamata hitamnya, meletakkannya di atas meja dengan ketukan pelan. "Terserah. Yang penting gue enggak mau liat makanan kantin murahan hari ini."

Di barisan belakang, Clarissa menunduk dalam-dalam. Jemarinya meremas seragamnya sendiri, menahan lelehan air mata yang siap jatuh. Beberapa anak kelas yang sadar akan perubahan drastis di geng Velvet Sovereign mulai berbisik-bisik.

"Sumpah, si Clarissa beneran didepak?"

"Iya, denger-denger gara-gara keluarganya lagi bangkrut. Kejam banget si Valeska."

"Yah, nama juga Velvet Sovereign, kalau enggak beruang ya ditendang."

Bisik-bisik itu makin riuh sampai tiba-tiba suara sepatu memantul kencang di ambang pintu kelas. Jena melangkah masuk sambil bersedekap, matanya langsung tertuju pada Valeska.

"Aduh, aduh... Siapa nih yang baru bangun dari pingsannya?" cibir Jena dengan suara melengking yang sengaja dinyaringkan. "Kirain kemarin udah pindah alam gara-gara liat burung gagak di kumis Pak Bambang, ternyata masih hidup!"

Seisi kelas langsung tertawa pelan mengingat drama di UKS kemarin yang sudah jadi rahasia umum.

Valeska yang teringat janji pada dirinya sendiri langsung berdiri dari kursinya. Tatapan matanya mendadak sangat dingin dan berbahaya. Tenaganya yang sudah pulih sepenuhnya membuat aura intriknya kembali memancar kuat.

"Lo ngomong sama gue?" tanya Valeska tenang, tapi langkah kakinya pelan dan pasti mendekati meja Jena.

Jena menaikkan dagunya, tidak mau terlihat gentar. "Kenapa? Lo mau ngamuk? Mau pura-pura pingsan lagi di depan gue—"

SRET!

Tanpa babibu dan tanpa memberikan peringatan sedikit pun, tangan Valeska bergerak cepat mencekeram kencang rambut panjang Jena lalu memutarnya ke bawah.

"AAGHH! SAKIT, ANJING!" jerit Jena histeris saat kepalanya tertarik paksa hingga tersungkur di atas meja.

Anak-anak sekelas langsung heboh dan berdiri dari kursi mereka. Giselle menonton dengan senyum puas, sementara Clarissa hanya bisa melotot panik dari sudut belakang.

"Gue udah bilang kan kemarin?" bisik Valeska tepat di telinga Jena, mempererat cengkeraman tangannya tanpa peduli ringisan kesakitan cewek itu. "Pas gue udah sembuh, muka lo yang bakal gue hancurin duluan. Jangan pernah cari gara-gara sama gue kalau lo cuma remahan rengginang di sekolah ini!"

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!