NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

****

Sejak insiden mendebarkan di Ruang Tindakan Tiga Poli Anak pagi tadi, lorong-lorong RS Utama Wigunadi mendadak riuh oleh bisik-bisik yang menjalar secepat angin. Dari stasiun perawat lantai dua hingga kantin utama di lantai dasar, kabar tentang dr. Ivandra Arya Wigunadi yang secara impulsif pasang badan melindunginya dari cengkeraman wali pasien menjadi bahan pembicaraan paling hangat. Bagi para staf yang terbiasa melihat sang 'Dokter Iblis' bersikap acuh tak acuh dan kejam pada siapa saja, aksi pasang badan itu bagaikan fenomena ajaib yang memicu teka-teki besar.

"Serius, Dokter Ivan sendiri yang megang tangan wali pasien itu?" bisik seorang perawat di meja administrasi Bedah Saraf.

"Iya! Mata Dokter Ivan dingin banget pas natap bapak-bapak itu. Rasanya kayak mau menelan orang hidup-hidup cuma gara-gara Dokter Aini hampir dipegang," timpal perawat lainnya heboh.

Di ruang kerjanya yang luas di lantai empat, Ivandra duduk menyandarkan punggung pada kursi kulit mewahnya. Jemari panjangnya mengetuk-ngetuk permukaan meja mahoni dengan irama kaku. Di balik wajah tampannya yang terpasang tenang, ada kejanggalan emosi yang mengganggu pikirannya. Gosip yang berhembus liar di antara staf medis benar-benar mengusik ketenangannya. Pria itu menyadari bahwa rumor ini berpotensi besar meretakkan benteng kerahasiaan pernikahan mereka—sebuah poin utama dalam kontrak yang ia ciptakan sendiri.

Ivandra memijit pelipisnya pelan. Mengapa ia harus se-impulsif itu pagi tadi? Mengapa tubuhnya bergerak lebih cepat daripada otaknya saat melihat ada bahaya yang mengintai gadis itu?

**

Malam makin larut ketika pintu apartemen lantai tiga puluh terbuka pelan. Suasana apartemen terasa hening dan remang, hanya diterangi pendar cahaya kota dari balik jendela kaca raksasa.

Aini melangkah masuk dengan tubuh yang terasa remuk redam. Kelelahan fisik akibat sif padat di Poli Anak bercampur dengan kelelahan emosional setelah diinterogasi habis-habisan oleh Nina di ruang ganti tadi siang sungguh menguras energinya. Gadis itu melepaskan sepatu pantofelnya, melangkah pelan menuju area dapur bersih untuk mengambil segelas air putih.

"Kamu teledor, Dokter Aini."

Suara berbariton berat dan dingin yang bergema mendadak dari arah ruang tengah membuat langkah Aini terhenti seketika.

Aini menoleh. Ivandra berdiri menjulang di dekat sofa kulit hitam, telah melepaskan jas klinisnya dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Aini dengan manik mata elangnya yang amat tajam dan mengintimidasi.

Aini menarik napas panjang, mencoba menata kembali sisa-sisa tenaganya. "Selamat malam, Mas Ivan. Maksud Mas teledor dalam hal apa?"

Ivandra melangkah mendekat dengan gestur menekan, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma kayu cendana bercampur mint yang khas memenuhi udara di sekitar Aini.

"Kejadian di Poli Anak pagi tadi," tutur Ivandra dengan nada suara rendah yang sarat akan teguran tajam. "Bagaimana bisa seorang dokter muda membiarkan dirinya berdiri begitu dekat dengan wali pasien yang sedang emosional tanpa penjagaan? Kamu hampir saja mencelakakan dirimu sendiri."

Aini mengerutkan keningnya tipis, menatap lurus ke dalam mata Ivandra. "Saya menjalankan prosedur dengan benar, Mas. Pasien butuh penanganan segera, dan tugas saya adalah menenangkan wali pasien agar pemeriksaan bisa berjalan. Saya tidak bisa memprediksi bahwa orang tua pasien akan bertindak anarkis."

"Tapi kenyataannya kamu berdiri tanpa jarak aman!" potong Ivandra cepat, alis tebalnya bertaut kaku. "Dan gara-gara ketidakwaspadaanmu itu, saya terpaksa bertindak di depan umum. Sekarang seluruh staf medis di rumah sakit sibuk membicarakan hal tak berguna itu!"

Ivandra mengambil satu langkah lagi maju, menatap Aini dari ketinggian dengan sorot menilai yang dingin. "Ingat poin pertama kontrak kita, Dokter Aini: kerahasiaan mutlak. Tindakan impulsif akibat kecerobohanmu pagi tadi memicu desas-desus yang bisa merusak kerahasiaan pernikahan ini di rumah sakit."

Dada Aini bergemuruh hebat mendengar teguran dingin yang terlampau menyudutkan itu. Rasa lelah yang menumpuk seharian di dadanya mendadak berubah menjadi percikan keberanian yang membakar. Aini tidak lagi menunduk pasrah seperti awal-awal mereka bertemu. Wajah ayunya yang menyiratkan kesenduan alami kini terbingkai oleh raut keteguhan yang amat kuat.

Aini menegakkan tubuhnya, menatap balik tepat ke dalam manik mata hitam Ivandra tanpa ada kedipan takut sedikit pun.

"Dokter Ivandra yang terhormat," sahut Aini dengan suara jernih, lembut, namun sarat akan ketegasan yang menghantam. "Pertama, saya tidak pernah meminta Anda untuk datang ke Ruang Tindakan Tiga dan pasang badan di depan semua orang."

Ivandra tertegun sejenak, tak menyangka Aini akan memberikan balasan secetus itu.

"Kedua," lanjut Aini tanpa membiarkan Ivandra memotong. "Saya tahu betul batas-batas profesionalitas saya. Jika Anda merasa tindakan Anda pagi tadi mengganggu kenyamanan atau mengancam poin kontrak yang Anda ciptakan sendiri, maka seharusnya Anda yang menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan pasien di departemen lain!"

Suasana di dalam apartemen yang remang itu seketika membeku. Kata-kata Aini mengalun tegas, memantul di antara dinding-dinding kaca yang dingin.

Aini mengambil satu langkah mundur untuk menegaskan jarak di antara mereka, menatap suaminya dengan sorot mata yang jernih namun begitu berjarak.

"Saya menghargai bantuan Anda pagi tadi sebagai senior di rumah sakit, dan saya sudah mengucapkan terima kasih," tutur Aini pelan namun menusuk. "Tapi tolong jangan menyalahkan saya atas gosip orang lain atau atas keputusan Anda sendiri untuk maju melindungi saya. Saya tidak pernah memanfaatkan Anda, dan saya selalu memegang teguh kontrak kita."

Ivandra berdiri membeku di tempatnya. Bibirnya yang biasa pandai menyusun kata-kata tajam dan instruksi medis tanpa cela mendadak terkunci rapat. Pria jangkung itu menatap Aini dengan riak terkejut yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, ia melihat gadis berhijab yang selalu tampak pasrah dan tenang itu berdiri sangat tegar, membalas sanggahannya dengan argumen yang tak terbantahkan.

Aini membungkukkan kepalanya sedikit, merapikan letak tas ranselnya di bahu.

"Jika tidak ada hal medis atau poin kontrak lain yang perlu diperdebatkan, saya permisi masuk ke kamar untuk beristirahat. Selamat malam, Dokter Ivan."

Tanpa menunggu balasan lagi, Aini memutar tubuhnya dan melangkah anggun menuju kamarnya. Pintu kayu tebal itu tertutup rapi dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Ivandra sendirian di tengah ruang tengah yang luas.

Ivandra tetap berdiri mematung. Tangannya di dalam saku celana mengepal amat erat. Dada pria itu berdesir hebat, bergemuruh oleh gelombang cemburu, penyesalan, dan kekepanikan asing yang bahkan tak sanggup ia cerna dengan logika medisnya.

Kata-kata Aini terus bergema di dalam kepalanya: "Seharusnya Anda yang menahan diri untuk tidak ikut campur..."

Ivandra menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, menyapu rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang sedikit gemetar. Dinding es yang selama ini ia banggakan untuk membentengi hatinya dari wanita kini tidak hanya retak—melainkan mulai runtuh perlahan oleh keteguhan dan pesona alami milik istrinya sendiri.

Bersambung....

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!