NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Undangan Rapat Karang Taruna

Baru saja Nayla hendak membuka suara untuk membalas ucapan Arkan, suara langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar memantul dari arah koridor luar. Pintu kayu ruang arsip yang tadinya tertutup rapat kini terdorong secara perlahan.

"Nayla? Ternyata kamu di sini. Dari tadi saya cari di aula depan—"

Ucapan pria itu terhenti seketika. Sosok Dimas Dananjaya berdiri di ambang pintu dengan kemeja batik lengan pendek berwarna cokelat tanah yang rapi serta celana kain yang bersih. Perawakan tubuhnya yang tegap proporsional dan senyum hangat khas pria Jawanya mendadak mengendur begitu pandangan matanya bertubruk lurus dengan Arkananta Dewangga yang berdiri sangat dekat di samping meja kerja Nayla.

Atmosfer di dalam ruangan sempit itu berubah drastis dalam hitungan detik. Ketenangan yang tadinya manis mendadak berganti menjadi tekanan udara yang berat dan dingin. Dua pria dari latar belakang yang bertolak belakang itu saling melemparkan pandangan mata. Dimas menatap Arkan dengan kening berkerut halus—ada guratan ketegasan dan protektivitas yang muncul secara alami di balik matanya yang ramah. Sementara itu, Arkan berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, menatap Dimas dengan rahang mengeras dan tatapan tajam nan tajam khas pewaris tunggal Dewangga Group.

"Mas Dimas..." sapa Nayla sedikit gugup, buru-buru mengambil jarak satu langkah menjauhi Arkan demi menutupi salah tingkahnya yang kentara. "Ada apa ya, Mas? Kok pagi-pagi sudah ke balai desa?"

Dimas berdeham pelan, mencoba menguasai keadaan dan mengalihkan fokus matanya kembali sepenuhnya kepada Nayla. Senyum hangatnya kembali terkembang, meski kini terasa sedikit tertahan.

"Ini, Nay. Saya cuma mau mengingatkan rapat Karang Taruna nanti malam jam delapan di rumah saya," ucap Dimas dengan intonasi suara yang lembut dan tertata sopan. "Kita harus mulai membahas persiapan pembentukan panitia lomba 17 Agustus untuk desa kita. Pak RT dan beberapa tokoh masyarakat menyarankan kamu yang memegang posisi sekretaris acara karena kamu paling telaten menyusun proposal."

Nayla mengangguk paham, merasa lega karena fokus pembicaraan beralih ke urusan desa. "Oh, iya Mas Dimas. Terima kasih sudah diingatkan. Nanti malam saya pasti datang tepat waktu. Proposal dasarnya nanti siang akan saya rapikan dulu di sini."

"Bagus kalau begitu," balas Dimas, lalu pandangan matanya perlahan bergulir kembali menatap Arkan yang masih berdiri bergeming di tempatnya bagaikan patung batu yang angkuh. Dengan penuh kesopanan, Dimas menganggukkan kepalanya tipis. "Mas Arkan. Selamat pagi. Semoga betah tinggal di desa kami."

Arkan tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Dimas dari atas sampai bawah, menilai pria di depannya. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba bergejolak hebat di ulu hatinya—rasa tidak suka yang asing dan sangat mengganggu saat melihat betapa akrab dan halusnya cara Dimas berbicara kepada Nayla. Lebih dari itu, sebutan "rumah saya" dan ide bahwa Nayla akan mendatangi rumah pria ini di malam hari membuat dada Arkan terasa menyempit panas.

"Nih orang kayaknya emang suka sama Nayla."Kenapa saya harus merasa risih kayak gini? batin Arkan sengit, mempertanyakan reaksi tubuhnya sendiri. Pria kota itu belum sepenuhnya menyadari bahwa benih-benih perasaan yang mulai tumbuh di hatinya sedang memicu rasa cemburu yang luar biasa besar. Yang Arkan tahu saat ini hanyalah satu hal: ia sama sekali tidak suka melihat Dimas berdua saja dengan Nayla.

"Nanti malam jam delapan?" Arkan akhirnya membuka suara, memecah ketegangan dengan nada baritonnya yang dalam, memotong momen di antara mereka.

Dimas agak terkejut dengan interupsi tersebut, namun tetap merespons dengan tenang. "Iya, betul. Jam delapan malam. Biasanya cuma untuk anggota Karang Taruna dan pemuda desa."

Arkan menyunggingkan senyuman miring yang terkesan meremehkan, lalu membusungkan dadanya yang tegap. "Kalau begitu, saya ikut."

Sontak saja, baik Nayla maupun Dimas sama-sama menatap Arkan dengan mata membelalak kaget.

"Kamu mau ikut rapat Karang Taruna?" cetus Nayla dengan nada heran yang tak mampu ia sembunyikan. "Untuk apa? Kamu kan bukan warga asli sini, Arkan. Lagipula acara rapat begitu pasti membosankan buat orang kota seperti kamu."

"Kenapa tidak boleh?" Arkan memotong cepat, melangkah maju hingga kini posisinya sejajar dengan Nayla, seolah menegaskan keberadaannya di dekat gadis itu. "Semalam Pak Barkah dan Mbah Harjo sendiri yang berpesan pada saya. Katanya, kalau saya mau benar-benar belajar membumi, saya tidak boleh cuma diam di rumah atau kerja di sawah. Saya harus ikut bersosialisasi dalam kegiatan kemasyarakatan desa."

Arkan menatap Dimas dengan pandangan menantang, membawa nama dua sosok paling berpengaruh di desa Sukmawarna sebagai perisai utamanya. "Mbah Harjo menyuruh saya ikut apa saja kegiatan pemuda di sini. Jadi, Ketua Karang Taruna... tidak ada larangan kan untuk saya ikut hadir nanti malam?"

Dimas sempat terpaku sejenak. Ia adalah pria yang cerdas dan tentu bisa merasakan ada aura persaingan yang secara terselubung ditiupkan oleh Arkan. Namun, sebagai ketua organisasi pemuda yang berpendidikan dan dihormati warga, Dimas tetap menjaga ketenangannya.

"Tentu saja tidak ada larangan, Mas Arkan," jawab Dimas tenang sambil tersenyum tipis. "Kalau Mbah Harjo dan Pak Barkah yang memberi izin, pintu rumah saya terbuka lebar. Justru kami akan sangat senang kalau ada masukan dari orang kota yang berwawasan luas seperti Anda untuk meramaikan acara kemerdekaan di desa kami."

Pernyataan Dimas yang tetap santun dan tidak terpancing emosi justru membuat Arkan makin gemas di dalam hati. Pria desa di depannya ini benar-benar lihai menjaga kestabilan dirinya.

"Baguslah kalau begitu," sahut Arkan singkat, tak mau kalah mengendalikan suasana. Ia lalu menoleh menatap Nayla yang masih memandangnya dengan tatapan curiga dan bingung. "Saya permisi dulu, Nayla. Jangan lupa bekal kue dari Bude Lastri dimakan. Nanti malam... kita berangkat bersama dari rumah Mbah Harjo."

Tanpa menunggu balasan dari Nayla atau ucapan perpisahan dari Dimas, Arkan membalikkan badannya dengan gaya yang sangat percaya diri, melangkah lebar keluar dari ruang arsip dengan pundak yang tegap.

Nayla hanya bisa tertegun menatap punggung tegap Arkan yang menghilang di balik pintu, sementara dadanya kembali berdebar kencang tak beraturan. Ada rasa heran, bingung, namun tak bisa dipungkiri ada sedikit rasa manis yang menyelusup halus di dalam benaknya melihat tingkah konyol Tuan Muda Jakarta itu.

Di sisinya, Dimas menatap ke arah pintu keluar dengan pandangan mata yang lebih dalam dan penuh makna, menyadari bahwa kehadiran Arkan di Desa ini bukan lagi sekadar masalah tumpangan orang kota, melainkan ancaman nyata bagi hatinya yang telah lama menaruh harapan pada Nayla.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!