Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMPARAN FAKTA
Hawa dingin di Ngarai Gagak terasa membeku, tetapi suasana di celah tebing itu mendadak menjadi jauh lebih tegang dari sebelumnya. Delapan pasang mata anggota Unit 1 tertuju pada Zhang Bao, yang masih berdiri mematung dengan lutut gemetar.
Zirah perak mewah milik Zhang Bao kini bernoda lumpur hitam dan darah busuk Serigala Duri. Di hadapannya, Lin Yuan berdiri tegak dengan tatapan mata sehitam jelaga—begitu tenang, tetapi menyimpan tekanan yang sanggup meremukkan keangkuhan siapa pun.
"Kau... kau sengaja menjebak kami!" Bentak Zhang Bao dengan suara bergetar, mencoba menutupi kehinaan yang melingkupi dadanya. "Kau tahu induk serigala itu ada di dalam celah, lalu membiarkan kami masuk lebih dulu!"
Lu Chen melangkah maju, memutar belati kembarnya dengan lihai sebelum menyarungkannya kembali ke pinggang. Pemuda mantan bangsawan itu menyunggingkan senyum yang amat tajam.
"Kapan seorang prajurit perbatasan menyalahkan musuh karena ketololannya sendiri?" Tanya Lu Chen dengan nada mengejek yang halus. "Kau yang menantang kami, Zhang Bao. Kau yang membusungkan dada mengklaim Ngarai Gagak sebagai wilayahmu. Sekarang setelah kapalmu karam, kau menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan?"
"Tutup mulutmu, Lu Chen!" Raung Zhang Bao dengan wajah merah padam.
"Serahkan pedang dan minyak spiritualmu," Ucap Lin Yuan datar, memotong perdebatan itu tanpa emosi. "Atau kau ingin aku mencabutnya sendiri dari punggungmu?"
Lin Yuan mengambil satu langkah ke depan. Aura perak tipis berdesir dari pori-pori kulitnya, memancarkan gelombang *qi* yang membuat hawa di sekitar mereka terasa makin berat.
Anak buah Unit 1 secara refleks mundur dua langkah, meninggalkan Zhang Bao berdiri sendirian di barisan depan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani memasang badan untuk pemimpin mereka setelah menyaksikan sendiri bagaimana Lin Yuan meremukkan tengkorak Serigala Mutasi Kelas Tiga hanya dengan satu pukulan.
Zhang Bao mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan memancarkan suara gemeletuk. Rahangnya mengatup rapat. Dengan tangan gemetar menahan malu yang luar biasa, ia melepaskan sabuk kulit yang mengikat Pedang Lebar bersepuh emas di punggungnya.
BAM!
Zhang Bao menghempaskan pedang pusaka itu ke atas tanah batu di depan kaki Lin Yuan, disusul oleh lima kantong kulit berisi minyak spiritual jatah bulanan milik Unit 1.
"Ambil semuanya!" Desis Zhang Bao dengan mata memerah menahan amarah yang membakar dada. "Tapi ingat kata-kataku, Lin Yuan! Hari ini kau menang karena keberuntungan! Di Benteng Tembok Besi ini, kau tidak akan pernah diterima oleh para perwira atas!"
Zhang Bao meludahkan dahaknya ke tanah, lalu perlahan menurunkan tubuhnya. Sesuai kesepakatan taruhan di lapangan tadi, ia menjatuhkan satu lututnya ke atas tanah dingin di hadapan Unit 9, memberikan penghormatan kekalahan yang paling menghinakan bagi seorang bangsawan.
"Pergi," Perintah Lin Yuan dingin tanpa memandang Zhang Bao lagi.
Zhang Bao bangkit dengan tergesa-gesa, berbalik memimpin anak buahnya melangkah pergi meninggalkan Ngarai Gagak dengan kepala tertunduk dalam. Kemenangan mutlak berada di tangan Unit 9.
Shi Tou segera melompat kegirangan, memungut pedang emas dan kantong minyak spiritual dari tanah. "Hahaha! Lihat muka si gembung itu! Benar-benar seperti ditampar pakai batu!"
Ah Xiu tersenyum tipis, mengusap tali busurnya. "Jangan terlalu cepat senang, Shi Tou. Kita harus membawa hasil perburuan ini kembali ke benteng sebelum malam."
Lin Yuan memungut Inti Monster Mutasi berwarna merah kristal di atas batu, lalu mengangguk pelan. "Ayo kembali."
***
Satu jam kemudian, rombongan Unit 9 melintasi pintu gerbang Tembok Besi.
Suasana di kompleks lapangan tengah benteng sedang ramai oleh ratusan prajurit yang baru saja menyelesaikan giliran patroli siang. Begitu Unit 9 melangkah menuju tenda perwira logistik, desas-desus mengenai hasil taruhan di Ngarai Gagak rupanya telah menyebar lebih cepat daripada angin malam.
"Lihat! Itu Unit Sembilan!" Bisik seorang veteran bermata satu dari barak tengah.
"Apa benar berita itu? Zhang Bao kalah bertaruh dari mereka?" Tumpuk perwira lain dengan wajah tak percaya.
Lin Yuan tidak mengindahkan tatapan dan bisik-bisik di sekelilingnya. Ia melangkah lurus ke tenda logistik, di mana seorang perwira paruh baya bernama Perwira Li sedang duduk memeriksa catatan inventaris.
BAM!
Shi Tou meletakkan dua kantong kain besar yang berisi dua puluh empat Inti Monster Kelas Dua dan satu Inti Mutasi Kelas Tiga di atas meja kayu Perwira Li.
Perwira Li terhenyak, hampir menjatuhkan kuas tintanya. Ia membuka kantong kain itu dengan canggung, dan seketika itu juga pendaran cahaya abu-abu serta merah kristal menyinari seluruh bagian dalam tenda. Udara di dalam tenda mendadak diisi oleh riak energi murni dari monster-monster yang baru saja dibantai.
"Ini... ini hasil perburuan Unit Sembilan dalam setengah hari?" Tanya Perwira Li dengan suara tergagap, menatap Lin Yuan dengan mata membelalak lebar.
"Semuanya didapatkan dari sektor utara Ngarai Gagak," Jawab Lin Yuan tenang seraya menyilangkan tangannya di dada. "Tolong catat poin kontribusi untuk unit kami, dan cairkan jatah minyak spiritual tambahan sesuai aturan."
Perwira Li menelan ludahnya yang terasa pahit. Selama bertahun-tahun bertugas di bagian logistik, Unit 9 selalu tercatat sebagai unit dengan pengeluaran peti mati terbanyak dan pencapaian terendah. Namun hari ini, empat prajurit buangan ini justru menyerahkan hasil buruan yang melampaui gabungan pencapaian tiga unit elit sekaligus.
"B-baik... akan segera kucatat," Ucap Perwira Li tergesa-gesa, jemarinya menari menorehkan tinta di atas gulungan perkamen resmi benteng.
Dari atas balkon menara pengawas utama yang menjulang di dekat benteng, sosok tinggi besar berpundak lebar berdiri mengamati pemandangan di lapangan. Komandan Zhao—komandan bermata satu yang menguasai garis depan perbatasan—bersandar pada tiang kayu dengan sebotol arak keras di tangannya.
Mata tunggal Komandan Zhao memicing tajam, memperhatikan Lin Yuan yang sedang menerima potongan batu energi dari meja logistik. Senyum tipis yang amat jarang terlihat mengukir wajahnya yang penuh bekas luka bakar.
"Bocah itu... benar-benar membalikkan keadaan dalam waktu dua hari," Gumam Komandan Zhao seraya menenguk araknya. "Kera Putih di dalam tubuhnya bukan cuma sekadar legenda mati."
***
Malam kembali menyelimuti Benteng Tembok Besi.
Di dalam barak usang Unit 9, perapian batu menyala terang, memancarkan bau asap kayu pinus yang hangat. Lima kantong minyak spiritual hasil jarahan dari Unit 1 berjejer rapi di atas meja kayu, berdampingan dengan Pedang Lebar bersepuh emas milik Zhang Bao.
Shi Tou sedang sibuk mengoleskan minyak spiritual baru ke atas permukaan perisai besinya, membuat logam hitam itu kembali berkilau rapat. "Minyak spiritual kelas atas memang beda rasanya! Karat di perisaiku langsung hilang dalam sekali usap!"
Lu Chen duduk di tepi dipannya, mengamati Pedang Lebar bersepuh emas di tangannya. Ia mengayunkan bilah berat itu beberapa kali di udara sebelum terkekeh pelan. "Baja campur emas ini terlalu berat dan lambat untuk bertarung. Tapi kalau kita jual ke pedagang pasar gelap di benteng barat, kita bisa dapat pasokan obat herbal untuk tiga bulan."
"Jual saja," Sahut Lin Yuan dari atas dipannya, sedang duduk bersila sambil mengalirkan *qi* perak di sepanjang meridian lengannya. "Kita butuh lebih banyak bahan pemulih luka daripada pedang hiasan."
Ah Xiu melangkah mendekati dipan Lin Yuan, membawa sebuah cawan kayu berisi seduhan teh akar pahit yang masih berasap. Gadis pemanah itu meletakkan cawan tersebut di samping Lin Yuan.
"Minum ini," Ucap Ah Xiu dengan suara jernih dan hangat. "Pembersih uap racun untuk paru-parumu. Kau terlalu banyak menghirup kabut merah di ngarai tadi."
Lin Yuan membuka matanya, menatap Ah Xiu sejenak sebelum mengambil cawan tersebut. "Terima kasih, Ah Xiu."
Ah Xiu mengangguk pelan, lalu duduk di kursi kayu di dekat perapian. Matanya yang gelap menatap nyala api yang menari-nari. "Hari ini seluruh barak membicarakan namamu, Lin Yuan. Orang-orang di Unit Empat dan Unit Tujuh mulai memandang kita dengan rasa segan, tapi..."
Gadis itu menghentikan kalimatnya, raut wajahnya berubah sedikit cemas.
"Tapi para perwira bangsawan tidak suka ada tahanan buangan yang melangkahi anak-anak mereka," Lanjut Lu Chen memotong dengan nada serius. "Zhang Bao punya koneksi dengan Utusan Kekaisaran yang dijadwalkan tiba di benteng minggu depan. Mereka pasti akan mencari cara untuk menekan kita lebih keras."
Shi Tou menghentikan kegiatannya mengoles perisai, menatap Lin Yuan. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Kapten?"
Lin Yuan meminum teh akar pahitnya hingga tandas, merasakan rasa hangat yang meresap ke dalam tenggorokannya. Ia meletakkan cawan kayu itu kembali, lalu menatap ketiga rekannya satu per satu.
Di dalam matanya, tidak ada ketakutan atau keraguan. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak dari seorang pemangsa yang tahu persis ke mana ia harus melangkah.
"Biarkan mereka datang," Jawab Lin Yuan dengan suara membumi dan penuh kepastian. "Tembok ini dibangun di atas darah dan kekuatan murni. Selama kita tetap berdiri bersama dan terus bertambah kuat, tidak ada intrik politik apa pun yang sanggup menghancurkan Unit Sembilan."
Lu Chen tersenyum lebar, Shi Tou mengangguk mantap, dan Ah Xiu mengukir senyum tipis di bibirnya. Di dalam barak usang yang kusam itu, empat jiwa yang pernah dibuang oleh dunia kini menyatu padu dalam rasa saling percaya yang tak tergoyahkan.