Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
Udara pagi di Pegunungan Qingluo selalu beraroma pinus basah dan tanah berlumpur. Kabut masih menggantung rendah, menyamarkan jurang-jurang curam yang mengelilingi Desa Canglan.
Qin Mu berjongkok di balik semak belukar berduri, mengatur napasnya agar selaras dengan desir angin. Pakaian rami kasarnya basah oleh embun. Di tangan kanannya, sebuah pedang kayu pinus yang ujungnya telah diraut tajam digenggam erat. Mata hitamnya yang tajam tidak berkedip, menatap seekor Babi Hutan Punggung Besi yang sedang mengais akar di jarak dua puluh langkah.
Babi hutan itu bukan binatang biasa. Meski bukan monster spiritual, kulit punggungnya yang sekeras batu lempengan bisa mematahkan panah pemburu dewasa.
Jari Qin Mu bergerak perlahan. Ia tidak langsung menyerang. Ia menunggu babi itu menurunkan kepalanya lebih dalam ke tanah gembur, mencari titik buta. Ketika telinga binatang itu berkedut mendengarkan suara burung di kejauhan, Qin Mu melesat.
Kakinya menolak tanah lumpur tanpa suara, sebuah gerakan meluncur yang efisien dan membumi. Dalam tiga tarikan napas, ia memangkas jarak. Pedang kayunya menusuk lurus, bukan ke punggung yang keras, melainkan ke arah mata kiri babi hutan itu.
Namun, babi hutan itu bereaksi lebih cepat dari perkiraannya. Binatang itu memutar kepalanya dengan kasar, membuat ujung pedang kayu Qin Mu hanya menggores pipinya. Babi itu mendengus marah, mata kecilnya memerah, dan taringnya yang kotor siap merobek perut pemuda berusia empat belas tahun itu.
Tiba-tiba, sebuah kerikil kecil melesat dari atas pohon.
Kerikil itu menghantam titik tepat di belakang telinga babi hutan dengan suara tak pelan. Binatang buas seberat seratus kati itu mendadak kaku, matanya berputar ke atas, dan tubuhnya ambruk ke tanah dengan suara berdebum. Mati.
Qin Mu mundur dua langkah, napasnya sedikit memburu. Ia mendongak ke dahan pohon besar di dekatnya.
Seorang lelaki tua melompat turun dengan gerakan ringan yang sama sekali tidak sesuai dengan tulang-tulangnya yang tampak renta. Gu Shanyin meregangkan punggungnya, sebuah kendi arak dari labu kering bergoyang di pinggangnya. Pakaian sang lelaki tua penuh tambalan, rambutnya yang beruban diikat asal-asalan.
"Kau terlalu terburu-buru, Bocah," ucap Gu Shanyin suaranya serak dan malas. Ia berjalan mendekati bangkai babi hutan itu, menendangnya pelan untuk memastikan binatang itu benar-benar mati.
"Aku menunggu sampai ia lengah, Kek," bela Qin Mu sambil menurunkan pedang kayunya.
"Kau menunggu ia lengah, tapi kau lupa memperhatikan lumpur di bawah sepatumu," balas Gu Shanyin santai. "Tiga langkah sebelum kau menusuk, kakimu menginjak dahan pinus basah. Suaranya kecil, tapi bagi binatang yang hidup dengan insting, itu sama dengan kau berteriak 'aku datang untuk membunuhmu'."
Qin Mu terdiam, menunduk melihat sepatunya. Benar saja, ada patahan ranting kecil yang menempel di sepatunya. Ia mendecakkan lidah, merasa bodoh.
"Duduk," perintah Gu Shanyin.
Qin Mu patuh. Ia duduk bersila di atas akar pohon yang menonjol. Gu Shanyin mencabut belati kecil dari pinggangnya dan mulai menguliti babi hutan itu dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi, hampir seperti sebuah seni. Darah sama sekali tidak mengotori tangannya.
"Ingat apa yang selalu kukatakan padamu?" tanya Gu Shanyin tanpa menoleh.
"Sebelum belajar bagaimana membunuh, belajarlah bagaimana agar diri sendiri tidak mati," jawab Qin Mu datar, mengulang kalimat yang sudah ia dengar ratusan kali sejak ia bisa berjalan.
"Tepat," Gu Shanyin menoleh, matanya yang biasanya sayu kini menatap Qin Mu dengan tajam. "Dunia di luar desa ini tidak seperti babi hutan yang hanya mengandalkan taring. Di luar sana, orang bisa tersenyum padamu sambil menuangkan racun ke dalam cangkir tehmu. Mereka bisa memberimu emas sambil merencanakan bagaimana menjual keluargamu. Kau tidak memiliki tubuh baja. Kau tidak memiliki Qi murni yang bisa membelah gunung. Jika kau mati, kau hanya akan menjadi bangkai dingin di pinggir jalan."
Qin Mu mengangguk pelan. Tangan kirinya tanpa sadar menyentuh dadanya, merasakan sebuah benda dingin di balik pakaian raminya. Sebuah Cincin Giok Retak dan kepingan logam hitam yang diikat dengan tali kulit pudar. Benda itu selalu terasa dingin, seolah menolak suhu tubuh manusia.
Penduduk desa selalu mengatakan bahwa orang tuanya telah mati dimakan binatang buas. Tetapi Gu Shanyin, setiap kali mabuk, selalu bergumam bahwa orang-orang yang meninggalkan benda itu tidak akan mati semudah itu. Qin Mu tidak pernah bertanya lebih jauh, tapi rasa ingin tahunya, dan rasa marahnya karena ditinggalkan, selalu membakar pelan di dalam dadanya.
"Bawa daging ini. Kita kembali," ucap Gu Shanyin, melemparkan bagian paha babi hutan yang sudah dibersihkan ke arah Qin Mu.
Qin Mu menangkapnya dengan sigap, mengikatnya dengan tali rami, dan memanggulnya di bahu. Saat mereka mulai berjalan menuruni lereng menuju desa, langkah Gu Shanyin tiba-tiba berhenti.
Lelaki tua itu menyipitkan mata, menatap jauh ke arah jalan tanah kecil yang membelah hutan menuju pintu masuk Desa Canglan. Angin membawa bau yang berbeda. Bukan bau tanah basah atau getah pinus.
Itu bau logam berkarat, keringat kuda, dan darah kering.
"Kek?" Qin Mu memanggil pelan, menyadari perubahan postur Gu Shanyin. Punggung bungkuk lelaki tua itu mendadak tegak. Hawa malasnya lenyap sama sekali, digantikan oleh tekanan dingin yang membuat bulu kuduk Qin Mu berdiri.
"Ambil jalan memutar melalui Bukit Belakang," suara Gu Shanyin berubah sangat rendah, nyaris berbisik. "Jangan kembali ke rumah sampai aku datang mencarimu."
"Apa yang terjadi?" Qin Mu mencengkeram pedang kayunya. Matanya memindai pepohonan, insting berburunya mengambil alih.
"Lakukan saja, Bocah keras kepala!" gertak Gu Shanyin, menoleh dengan tatapan yang memaksa Qin Mu terdiam.
Tanpa menunggu bantahan, Gu Shanyin berbalik dan melesat menuruni lereng. Gerakannya kali ini tidak lagi seperti orang tua renta, melainkan bagai embusan angin bayangan yang melintasi pepohonan. Dalam sekejap, sosoknya menghilang ditelan rimbunnya hutan.
Qin Mu berdiri mematung selama satu tarikan napas. Ia mendengar samar suara ringkikan kuda dari arah desa. Jantungnya berdebar keras. Sesuai ajaran Gu Shanyin, pilihan paling logis adalah bersembunyi di Bukit Belakang dan menyelamatkan nyawanya sendiri.
Namun ia mengingat Bibi Zhao yang sering memberinya ubi hangat, Paman Li yang membuatkan busur pertamanya, dan anak-anak kecil yang selalu berlarian di halaman.
Ia mencengkeram erat Cincin Giok Retak di dadanya, menarik napas panjang, dan mengabaikan perintah Gu Shanyin.
Dengan langkah hati-hati dan pedang kayu terhunus, Qin Mu mulai bergerak menyusup melalui bayangan pepohonan menuju desa. Ia tahu ia belum cukup kuat untuk membunuh, namun ia menolak untuk hanya bersembunyi sementara dunianya diinjak-injak.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️