NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Janji yang Ditepati

Musim tanam kembali ke Karang Sewu, setahun lebih sejak malam badai di tepi sungai.

Dari bale-bale depan gubuk, Andien memandangi petani-petani yang berjalan beriringan ke sawah, caping mereka bergoyang di bawah matahari pagi. Gubuk bambu itu kini punya atap seng baru dan dinding yang dilapisi anyaman segar, hasil patungan Rumah Pulang dan beberapa tetangga yang ngotot membantu. Bu Rukmini menolak keras ketika Carlo menawarkan membangun rumah batu. "Rumah ini sudah cukup," katanya. "Yang perlu diperbaiki cuma yang bocor."

Kebun di samping gubuk kini dua kali lebih luas. Kangkung, bayam, dan cabai tumbuh lebat di bawah cahaya pagi, disiram sebelum matahari naik, tepat seperti yang pernah diajarkan seseorang.

"Nduk, mau sampai kapan melamun?" Bu Rukmini muncul membawa dua gelas wedang jahe. "Tamunya sebentar lagi datang."

"Tamu siapa, Bu?"

"Siapa lagi." Bu Rukmini mengerling dan duduk di sampingnya. "Dia sudah menelepon Ibu tiga kali minggu ini. Menanyakan apakah Ibu sehat, apakah kebun subur, apakah Ibu butuh sesuatu. Padahal Ibu tahu dia hanya ingin menanyakan kamu."

"Dia tidak pernah menanyakan Dien."

"Itulah." Bu Rukmini tersenyum. "Itu tandanya dia sungguh-sungguh."

---

Tiga bulan lalu, di serambi kantor urusan agama, Carlo menjalani proses yang ia janjikan di atas perahu nelayan itu.

Penghulu yang sama, bapak tua dari desa sebelah, menatap pria itu lama sebelum membuka berkas. Carlo menceritakan semuanya dengan tenang: bahwa pernikahan di gubuk itu terjadi saat ia masih terikat pernikahan lain, bahwa ia tak pernah jujur, dan bahwa ia datang untuk mengakhirinya dengan benar, supaya perempuan yang ia nikahi bisa melangkah dengan nama dan kehormatannya utuh.

Andien duduk di samping ibunya, menatap lantai. Ia tak ingat persis kata-kata penghulu, hanya bahwa ketika semuanya selesai, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan duka, bukan lega. Seperti seseorang yang baru saja melepas ikatan yang terlalu lama membelit tangannya.

"Kamu bebas sekarang," kata Carlo di halaman kantor itu, suaranya serak. "Tidak terikat apa pun padaku."

"Mas Carlo."

"Iya?"

"Mas bilang, kalau suatu hari mau melamar saya lagi, harus dengan benar."

"Aku bilang begitu."

"Berarti sekarang saatnya Mas mulai berpikir." Andien tersenyum kecil, menyembunyikan getar di suaranya. "Tapi pelan-pelan saja. Saya baru saja dibebaskan."

Carlo tertawa, dan di bawah pohon asam di halaman itu, mereka berdiri berdampingan, dua orang yang akhirnya sama-sama bebas untuk memilih.

---

Mobil hitam itu tak datang pagi ini.

Yang datang adalah seorang pria yang berjalan kaki dari ujung jalan desa, membawa tas kain di bahu dan kotak kayu kecil di tangan. Kemeja putihnya sederhana, celananya bersih tetapi bukan yang termahal. Anak-anak yang bermain di depan balai desa berhenti dan menatapnya sambil berbisik. Beberapa ibu di warung Mbok Darmi tersenyum sambil saling menyikut.

Carlo berhenti di depan pagar bambu yang rendah, tepat di tempat ia berdiri setahun lalu ketika mengakui kebohongannya di depan seluruh desa.

"Selamat pagi, Bu Rukmini, Dien."

"Pagi, Nak Carlo." Bu Rukmini berdiri, menepuk-nepuk kainnya. "Masuk. Ibu mau ke warung Mbok Darmi. Lupa beli garam."

"Ibu baru beli garam kemarin," kata Andien.

"Sudah habis." Bu Rukmi melenggang pergi tanpa menoleh, bahunya bergetar menahan tawa.

Carlo membuka pagar dan masuk. Ia berhenti satu rentang tangan dari bale-bale. Andien memperhatikan bahwa jarak itu, setelah setahun, masih ia jaga tanpa diminta.

"Aku tidak membawa apa-apa," katanya, lalu meralat sambil mengangkat kotak kayu kecil di tangannya. "Maksudku, hanya ini."

"Itu apa?"

"Aku belum membukanya. Aku ingin kamu yang memutuskan boleh dibuka atau tidak."

Andien menatap kotak itu lama. Jantungnya berdebar, tetapi ia menahan senyum. "Mas ingat tiga janji yang Mas patahkan?"

"Pulang ke desa, beberapa bulan lagi, dan malam pengantin." Carlo menyebutnya tanpa ragu. "Aku menghitungnya setiap malam selama setahun."

"Berapa janji yang sudah Mas tepati?"

Carlo berpikir sejenak. "Kita ke desa berkali-kali. Aku menepati *pulang* bukan hanya sekali. Beberapa bulan sudah lewat, dan semuanya sudah selesai sesuai yang kukatakan." Ia menatapnya. "Dan malam pengantin, yang katanya *yang penting cuma kamu.* Soal itu aku tidak tahu bagaimana menebusnya, kecuali dengan setiap hari sesudahnya."

"Itu jawaban yang bagus, Mas."

"Aku sudah berlatih."

Andien tertawa, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. "Duduk. Jangan berdiri seperti tiang listrik."

Carlo duduk di ujung bale-bale yang jauh. Ia meletakkan kotak kayu itu di antara mereka, tertutup, tak disentuh siapa pun.

"Dien, aku akan bicara. Kamu boleh menyela kapan pun."

"Saya dengar."

Carlo menarik napas.

"Pertama kali bertemu, aku sekarat. Aku tidak punya nama, tidak punya masa depan, tidak punya apa pun yang bisa kutawarkan. Kamu menolongku bukan karena aku pantas, tapi karena kamu tidak sanggup membiarkan orang tergeletak. Itulah yang kutahu pertama kali tentangmu. Dan selama ini, setiap kali aku ragu pada diriku sendiri, aku mengingat itu."

Andien menunduk, memainkan ujung kain.

"Aku datang kepadamu membawa kebohongan, dan kamu tetap memberiku bubur. Aku menyembunyikanmu, dan kamu tetap bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku menyakitimu, dan kamu tetap berdiri di depan pisau untuk menyelamatkan orang yang menyakitimu." Suaranya bergetar. "Aku tidak pantas mendapatkan perempuan seperti itu. Aku tahu. Aku tidak akan pernah pantas. Tapi aku ingin berusaha menjadi laki-laki yang setiap hari berusaha pantas."

"Mas..."

"Aku belum selesai." Carlo tersenyum, matanya basah. "Kamu bilang, tunjukkan saja. Jadi setahun ini aku mencoba menunjukkan. Aku menunggu tanpa memaksa. Aku mengaku salah tanpa membela diri. Aku bekerja dengan jujur, menepati yang kukatakan, mengurus hal-hal kecil." Ia menunjuk kotak kayu itu. "Dan sekarang aku ingin menanyakan sesuatu yang tidak kutanyakan pertama kali, ketika aku melamarmu di selasar rumah sakit dengan syarat rahasia."

Andien menahan napas.

"Andien binti Suparman." Carlo menatapnya lurus, tanpa topeng, tanpa perhitungan. "Maukah kamu menikah denganku? Dengan nama lengkapku disebut di depan siapa pun, dengan wajahmu terlihat di semua foto, tanpa ada satu pun yang disembunyikan? Dan dengan kamu yang memegang kunci dapur, kunci rumah, dan hak untuk bilang tidak kapan saja?"

Hening. Burung-burung berkicau di pohon randu. Angin pagi membawa bau tanah basah dan asap kayu bakar.

Andien tak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangan dan menarik kotak itu ke pangkuannya, membukanya perlahan.

Di dalamnya ada sebuah cincin emas tipis dan sederhana, hampir sama dengan cincin murah yang dulu ia terima di gubuk ini. Tetapi di bagian dalam lingkarnya terukir dua kata kecil:

*Kamu memilih.*

Mata Andien mengabur. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, dan air matanya jatuh ke kain jaritnya.

"Mas ingat bahwa dulu saya tidak memilih," bisiknya. "Mas yang menanyakan, saya yang menjawab ya karena terlalu terkejut dan terlalu percaya."

"Aku ingat."

"Sekarang saya memilih." Ia mendongak, tersenyum di tengah air mata. "Dan saya memilih ya."

Carlo membeku. Seluruh napasnya seperti berhenti. "Ya?"

"Ya, Mas. Dengan tiga syarat."

Carlo tertawa lepas, tawa yang bergetar dan basah. "Sebutkan."

"Pertama, kita menikah di sini, di desa, di depan semua orang. Tidak ada ballroom, tidak ada karangan bunga dua meter."

"Setuju."

"Kedua, Bu Laras duduk di barisan depan. Dan kalau dia tidak mau datang, kita tunda sampai dia mau."

Carlo terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan, dengan sorot mata yang melembut. "Dia sudah bilang akan datang. Dia bahkan sudah menanyakan apakah boleh membawa ayahnya."

"Dan ketiga..." Andien menatap lurus. "Setiap hari, Mas harus belajar menyiram kebun sebelum matahari naik."

"Itu syarat paling mudah."

"Itu yang paling berat." Andien tersenyum, matanya berkilat nakal. "Mas selalu bangun siang kalau tidak ada yang membangunkan."

"Aku tidak pernah..."

"Mas pernah. Waktu di penginapan Pak Jamal, jam tujuh Mas baru muncul."

Carlo tertawa lagi, kali ini sambil menutup wajah dengan tangan. "Baiklah. Aku akan bangun jam lima."

"Jam setengah lima."

"Jam setengah lima," sepakat Carlo, dan akhirnya mengulurkan tangan, bukan memaksa, hanya terbuka di atas bale-bale, menunggu.

Andien menatap tangan itu. Tangan yang dulu gemetar menggenggam ujung kain jaritnya di dalam demam. Tangan yang pernah berbohong, pernah menggenggam pisau pena di ruang rapat, pernah menahan bahu perempuan tua yang hampir terjatuh di kereta. Tangan yang kini hanya menunggu, tanpa memaksa, tanpa janji muluk.

Ia meletakkan tangannya di sana.

Tak ada musik. Tak ada tepuk tangan. Hanya sentuhan hangat dua telapak di bawah cahaya pagi, dan suara Bu Rukmini yang terbatuk keras dari balik pagar tempat ia, tentu saja, tidak pernah benar-benar pergi ke warung.

"Garamnya sudah ketemu!" serunya, pura-pura tak tahu apa-apa, sambil mengangkat sebungkus garam tinggi-tinggi dengan wajah yang basah air mata. "Ibu mau masak sayur. Siapa mau makan?"

---

Sore itu, ketika matahari condong ke barat dan langit Karang Sewu berubah warna menjadi jingga, Andien dan Carlo berjalan menyusuri jalan setapak menuju tepi sungai.

Air sungai tenang sekarang. Cokelat jernih, mengalir pelan di antara akar-akar bambu yang menjuntai. Tak ada hujan. Tak ada erangan di antara semak. Hanya burung-burung bangau yang pulang berarak dan suara air yang dulu pernah terdengar seperti ancaman, kini seperti nyanyian lama yang dimaafkan.

Mereka berhenti di tempat yang sama, di bawah rumpun bambu.

"Di sini," kata Andien pelan. "Mas tergeletak di sini."

Carlo menatap tanah di bawah kakinya. "Aku tidak ingat apa-apa, kecuali suaramu. Kamu bilang, *Mas, dengar saya?*"

"Dan Mas bilang, *jangan panggil siapa pun.*"

"Dan kamu tidak memanggil siapa pun."

"Saya memutuskan sendiri." Andien tersenyum. "Itu keputusan pertama yang saya buat tanpa bertanya pada siapa-siapa."

Carlo menoleh padanya. Di bawah cahaya senja, wajahnya tampak lebih muda daripada yang pernah ia lihat, seperti seseorang yang akhirnya meletakkan seluruh beban dan baru sekarang merasakan betapa ringan bahunya.

"Dien."

"Iya, Mas?"

"Aku punya satu janji lagi."

Andien mengangkat alis. "Janji yang keempat?"

"Janji yang keempat." Carlo mengangguk. "Aku tidak akan bilang kata *janji* lagi."

Andien terdiam sejenak, lalu tertawa, tawa jernih yang pecah di antara rumpun bambu dan terbawa angin sampai ke sawah, ke gubuk, ke tikungan jalan tempat dulu seorang pria menghilang dengan berjalan kaki dan kembali dengan mobil hitam.

"Itu janji paling bijak yang pernah Mas ucapkan."

"Aku belajar dari yang terbaik."

Mereka berdiri berdampingan menatap sungai, bahu hampir bersentuhan, tak ada lagi jarak satu rentang tangan di antara mereka. Di kejauhan, azan magrib mulai terdengar dari surau desa, dan langit di atas Karang Sewu berubah dari jingga menjadi ungu lembut.

Di dasar sungai, di bawah aliran air yang tenang, tak ada lagi apa pun yang tersembunyi.

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!