Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Hukuman.
Hari apes memang tidak pernah ada di kalender. Mereka tak menyangka malam itu menjadi malam naas bagi mereka berdua. Dua taruna berprestasi, putra dari keluarga yang dihormati, tergeletak di sudut lorong asrama dengan bau alkohol yang menyengat.
Bang Oscar bahkan sudah tak sadarkan diri, tubuhnya terkulai di bahu adiknya yang juga tak jauh berbeda kondisinya. Satria berusaha menopang Abangnya yang berat, langkahnya sempoyongan, namun belum sampai ke kamar, suara langkah sepatu tegas terdengar mendekat.
"Darimana kalian berdua??????" Tegur Pak Wiradante membuat Bang Satria kaget setengah mati hingga melepaskan Abangnya begitu saja di lantai.
Bang Oscar terkapar, meracau tak jelas menjabarkan body seorang wanita yang membuat Bang Satria rasanya ingin menyumpal mulut Abangnya.
"Darimana????????" Bentak Pak Dante dengan suara dua oktaf lebih tinggi.
Suara itu membuat jantung Satria berhenti berdetak sejenak. Perwira tinggi Wiradante berdiri di ujung lorong, menatap kedua putranya dengan raut wajah yang bukan sekadar marah, tapi kecewa yang dalam. Matanya menatap lurus ke arah Oscar yang matanya terpejam berat, mulutnya sedikit terbuka, napasnya tak teratur tapi mengoceh tak jelas tanpa henti.
"Siap.. Makan sushi, Komandan." Jawab Bang Satria.
"Makan Sushi atau makan tante Sushi??????" Pak Dante langsung melepaskan ikat pinggangnya dan menghajar kedua putranya tanpa ampun.
:
Satria muda menahan rasa sakit tanpa banyak suara, keringat dingin bercucuran di dahinya. Ia tak berani mengeluh, tak berani membela diri, karena ia tau sepenuhnya salah mereka. Di sampingnya, Oscar yang masih setengah sadar merintih pelan, tubuhnya terhuyung ke kiri kanan mencoba mencari keseimbangan namun tak mampu berdiri tegak. Oscar tumbang tak sadarkan diri beberapa saat namun cambukan Pak Dante kembali menyadarkan.
"Ini lagi.. Bangun kau, Oscar..!!!!!!!!" Teriak Pak Dante. "Papa tanamkan disiplin sejak kecil, supaya kalian menjadi perwira yang terhormat, bukan pemabuk dan main perempuan. Kalian benar-benar tak tau malu...!!!" Bentak Pak Wiradante, suaranya bergetar bukan karena marah semata, tapi karena kecewa yang mendalam. "Kalian pikir nama keluarga kita hanya untuk kalian banggakan di luar sana? Atau justru kalian jadikan tameng supaya bebas berbuat apa saja?"
"Kau itu siapa??? Berani atur saya." Celetuk Bang Oscar masih setengah sadar. "Saya mau sama perempuan mana saja, itu urusan saya."
"Sadar, Oscar.. Sadaaarr..!!!" Gumam Bang Satria.
Plaaaaaakkk..
Bang Satria terhuyung jatuh sedangkan Bang Oscar langsung terkapar tak sadarkan diri menerima tamparan keras dari Papanya.
"Besok pagi, kalian lapor ke kantor komandan. Sendiri. Tanpa ada yang bantu. Dan ingat... keberuntungan tidak selamanya berpihak pada kalian. Kalau kalian terus begini, suatu hari nanti tidak ada lagi yang bisa menolong kalian."
Pak Dante berbalik pergi meninggalkan mereka di lorong yang sunyi itu, tanpa menoleh ke belakang lagi.
Bang Satria perlahan bangkit dan merangkak di samping Abangnya. Ia memijat pelan lengan Bang Oscar yang masih terasa panas, mungkin Abangnya langsung demam. "Pengen ku strepless mulutmu itu. Macam mortir aja??? Diam.. Diam.. Celaka dua belas kita sekarang."
"Nabrak apa gue, Sat?? Sakit bener."
"Nikmati dulu, besok jantungmu benar-benar copot." Jawab Bang Satria gemas.
***
"Aduuhh ngiluuu, sakit semua badanku." Saat tersadar, Bang Oscar melihat sekujur tubuhnya sudah banyak luka lebam. "Kita kenapa nih??? Di keroyok??? Sini ku hajar balik..!!"
"Sono dah, temui manusia yang keroyok badanmu. Namanya Wiradante." Kata Bang Satria.
"Haaahh.. Serius lu??? Papa tau??" Tanya Bang Oscar.
"Bukan tau lagi. Di kuliti sampai habis." Jawab Bang Satria. "Kau lagi.. Kenapa mulutmu sebut-sebut body perempuan, kebelet kawin???? Papa sangka kita main perempuan semalam."
"Aku nggak ada omong apa-apa, aku diam aja."
"Matamu, diam. Ku jahit juga itu mulut." Omel Bang Satria.
Bang Oscar tetap santai. Ia malah menyulut rokoknya. Memang begitulah adanya, Oscar seakan tak punya rasa takut. Satria pun kemudian ikut menyambar rokok tersebut dan menghisapnya.
"Jadi gimana nih??"
"Ya ngadep komandan." Jawab Bang Satria.
"Ayo dah, biar cepat kelar nih urusan."
Mereka berdua berdiri perlahan, menahan rasa nyeri yang menjalar di setiap gerakan. Seragam mereka rapi namun tak bisa menyembunyikan sisa-sisa kemarahan Papanya semalam. Langkah kaki mereka terdengar berat di sepanjang lorong menuju kantor Komandan.
Langkah demi langkah seakan menentukan nasib mereka kedepannya.
:
Sesampainya di depan pintu, Bang Satria berhenti sejenak. Ia menatap Abangnya. "Terakhir kali aku lihat wajahmu seputih ini, waktu kita ujian fisik di hutan, kau sakit tapi tetap ingin lanjut kegiatan sampai selesai. Dan akhirnya kau tumbang karena kau ternyata kena DBD." bisiknya berusaha mencairkan suasana.
Bang Oscar tersenyum tipis sambil merapikan kerah seragamnya yang terasa perih menyentuh lukanya. "Tenang. Kalau diusir, aku bisa jadi begal. Kau ikut saja, kita jaga di motor, aku yang menjarah."
"Dasar sinting." gumam Bang Satria, namun ada rasa syukur di hatinya, Abangnya selalu punya cara untuk tetap tegar, bahkan di saat genting seperti ini.
Mereka kemudian mengetuk pintu, lalu masuk bersama dan memberi salam. Ruangan itu terasa sunyi, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak tegas. Komandan duduk di kursinya, menatap lurus ke arah mereka berdua. Di meja, sudah tersedia laporan tertulis yang ditandatangani Pak Dante sendiri.
Komandan menghela napas panjang, matanya tak lepas dari kedua calon perwira penuh huru hara tapi penuh dengan prestasi yang luar biasa.
"Papa kalian sudah menyerahkan laporan lengkap sekaligus permohonan hukuman. Beliau tidak meminta keringanan, justru meminta agar kalian mendapatkan hukuman setimpal agar belajar arti tanggung jawab."
Bang Oscar dan Satria saling lirik. Mereka tidak menyangka Papanya akan setegas itu pada mereka bahkan terhadap anaknya sendiri.
"Hukumannya.. baca Al Qur'an setiap sebelum subuh dan Maghrib sampai waktu sholat Isya. Bangun sholat malam untuk tobat. Tugas tambahan berat selama tiga bulan, dan catatan pelanggaran permanen di berkas kalian. Kalian tidak dikeluarkan, bukan karena nama besar keluarga kalian, tapi karena Komandan percaya kalian masih bisa diperbaiki dan di bina. Tapi ingat, ini kesempatan terakhir." Ucap komandan pembina di satuan Pendidikan.
"Siap."
...
Waktu sholat maghrib tiba. Bang Oscar dan Bang Satria melantunkan bacaan dari ayat suci Al Qur'an. Nyatanya suara kedua calon perwira itu memang sangat indah.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍