Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: LAHIRNYA ALIANSI DAO SURGAWI
Setelah Bima Samudra menyelesaikan beberapa penjelasan singkat tentang peraturan perdamaian untuk seluruh Tanah Jawa di halaman Istana Kerajaan Mataram Baru, Klaten, ia kembali bertanya dengan suara yang lantang dan berwibawa,
"Apakah kalian semua setuju dengan semua yang telah aku jelaskan tadi tentang perdamaian Tanah Jawa...?"
" Kami semua setuju, Tuan Muda Bima...! Kami semua setuju...!" jawab semua raja, ketua perguruan, dan kepala keluarga besar serentak dengan suara yang menggemah.
"Tapi ada baiknya jika Tuan Muda membentuk sebuah aliansi resmi agar semua kekuatan punya satu tempat untuk tunduk dan bernaung. Dengan begitu akan jauh lebih mudah untuk mengatur semua kekuatan yang ada dan menjaga perdamaian agar tidak ada lagi perang antar kerajaan," usul salah satu tetua bijak dari Keraton Yogyakarta yang sudah berumur.
Bima mengangguk sambil berpikir dengan dalam, menatap satu persatu wajah para pemimpin di depannya.
"Baiklah, aku akan membuat sebuah aliansi besar. Tapi aku tidak akan membubarkan kelompok mana pun. Semua kerajaan tetap menjadi kerajaan, semua sekte tetap menjadi sekte, semua keluarga besar tetap menjadi keluarga besar. Semua pemimpin tetap memimpin kekuatan nya masing-masing seperti dulu. Tapi secara keseluruhan, kalian semua harus tunduk di bawah satu pimpinan tertinggi, yaitu pemimpin Aliansi, yang akan menjaga keseimbangan," kata Bima dengan tegas.
"Aliansi ini akan ku beri nama Aliansi Dao Surgawi Nusantara. Dao berarti jalan, Surgawi berarti jalan menuju kedamaian yang diridhoi Gusti," lanjut Bima.
"Dao Surgawi Nusantara...? Sungguh nama yang sangat indah, agung, dan penuh makna, Tuan Muda," kata beberapa orang tetua yang ada di sana dengan kagum.
"Karena aku tidak bisa terus menerus berada di sini di Tanah Jawa untuk menjaga kalian, nanti Aliansi Dao Surgawi ini akan dikelola oleh orang-orang kepercayaan ku yang paling tulus dan bijaksana. Perintah mereka sama dengan perintah ku. Siapa pun yang membangkang dan mencoba membuat kekacauan lagi, akan aku beri pelajaran tanpa ampun," kata Bima dengan nada yang sangat serius.
"Semua kekuatan yang ingin bergabung, silakan mendaftar ke petugas aliansi yang sudah aku tunjuk. Beri tahu nama kekuatan kalian, nama pemimpin kalian, dan berapa jumlah anggota kalian. Semua yang bergabung berarti berada di bawah naungan Aliansi Dao Surgawi, yang berarti kalian semua adalah satu keluarga besar, dan harus saling menjaga satu sama lain seperti saudara kandung."
" Kami semua patuh dan bersumpah setia kepada Aliansi Dao Surgawi Nusantara...!" terdengar suara gemuruh yang menggelegar dari semua orang di halaman istana, suara yang penuh semangat dan harapan baru.
"Baiklah, hari ini aku akan kembali dulu ke Perguruan Anggrek Putih di Desa Ngargoyoso, Karanganyar, sebagai pusat resmi dari Aliansi Dao Surgawi. Besok pagi, kalian semua datanglah ke Perguruan Anggrek Putih untuk mendaftar secara resmi dan melakukan sumpah setia," jelas Bima dengan singkat dan jelas.
"Baik, Tuan Muda, kami akan datang," jawab semua orang serentak dengan penuh antusias.
Setelah itu, Bima dan para anggota Perguruan Anggrek Putih bersiap untuk pulang kembali ke Karanganyar.
Bima memanggil Pak Wijaya dan Bu Lastri.
"Paman Wijaya, suruh semua anggota Perguruan Anggrek Putih yang lain pulang duluan dengan kapal terbang mereka. Paman bersama Bibi Lastri pulang bersama ku saja, biar lebih cepat," kata Bima.
"Baiklah, Bima," jawab Pak Wijaya.
Setelah semuanya pergi meninggalkan halaman istana, Bima dan Ketua Perguruan Anggrek Putih beserta istrinya berpamitan kepada Raja Sima Ngusada dan para raja lainnya dengan penuh hormat.
"Setelah ini kami pamit dulu, Raja Sima," kata Bima.
"Setelah itu, Paman, Bibi, ayo kita pulang ke rumah," kata Bima dengan senyum hangat.
"Pejamkan mata kalian sebentar, Paman, Bibi," pinta Bima.
Keempat orang itu, yaitu Amelia, Intania, Pak Wijaya, dan Bu Lastri pun menuruti perkataan Bima dan memejamkan mata mereka.
"Wusssshhht..."
Dalam sekejap mata, keempat orang itu menghilang dari pandangan Raja Sima Ngusada dan semua orang yang ada di halaman istana terkejut, semua yang melihat itu menjadi sangat kagum dan takjub dengan kemampuan teleportasi Bima yang seperti dewa.
Sementara itu, di sisi Bima, ia sudah sampai kembali di Perguruan Anggrek Putih di Karanganyar hanya dalam satu tarikan napas. Perjalanan yang biasanya memakan waktu setengah hari dengan kapal terbang, kini hanya butuh satu kedipan mata.
"Paman, Bibi, buka lah mata kalian," kata Bima dengan lembut.
Betapa kagetnya Ketua Perguruan Anggrek Putih dan istrinya melihat mereka sudah berada tepat di depan gerbang utama Perguruan Anggrek Putih yang asri.
"Bagaimana mungkin ini, Bima...? Kita sudah sampai di Perguruan Anggrek Putih hanya dalam beberapa tarikan napas...? Padahal tadi kita masih di Klaten yang jaraknya sangat jauh," kata Pak Wijaya dengan mata melotot tidak percaya.
"Itulah Bima, Ayah, dia seperti hantu, bisa menghilang dan muncul sesuka hatinya. Sudah biasa," kata Intan dengan bangga sambil menggandeng tangan Bima.
"Tidak, Paman, itu hanya Teknik Teleportasi Bayu Langit, sebuah teknik pergerakan tingkat tinggi. Dengan teknik ini bisa sangat menghemat waktu perjalanan yang jauh," jelas Bima dengan merendah.
"Teknik legendaris itu benar-benar ada...? Aku hanya pernah mendengarnya dari legenda kuno di Candi Cetho," kata Pak Wijaya dengan kagum.
"Ada, Paman, tapi untuk mempelajarinya, setidaknya tingkat kultivasi harus sudah menembus Alam Dewa tingkat awal. Tidak bisa dipelajari oleh sembarang orang," jawab Bima.
"Aaaaa, apakah itu artinya kultivasi mu saat ini sudah...?" tanya Pak Wijaya yang hampir menyelesaikan tebakannya.
"Sudah lah, Paman, tidak perlu dibahas terlalu dalam. Yang pasti, semua jauh di atas perkiraan Paman," potong Bima dengan cepat sebelum Ketua Perguruan selesai menebak, sambil tersenyum misterius.
"Ayo kita masuk ke dalam, Paman. Perjalanan kita masih panjang," kata Bima sambil menggandeng tangan Amelia dan Intan dengan lembut masuk ke dalam gerbang.
Sementara Ketua Perguruan masih membeku di tempat, memikirkan ucapan Bima】 barusan.
"Aku menebak dia sudah berada di tingkat Alam Dewa tingkat atas, jika jauh di atas tebakanku, tingkat alam apa pencapaian pemuda ini sebenarnya...? Alam Nirvana...? Atau di atasnya lagi...?" pikir Ketua Perguruan dengan bingung dan merinding.
"Sudahlah, Pak, tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Yang penting Bima itu anak baik dan ada di pihak kita. Lihatlah putri-putri kita, begitu bahagia bersama nya. Itu yang paling penting," kata istri Ketua Perguruan, Bu Lastri, menyadarkan suaminya yang masih beku dalam keterkejutan.
"Ayo kita masuk, Pak," kata Bu Lastri sambil menggandeng tangan suaminya itu masuk ke dalam perguruan.
Sementara di tempat lain, di berbagai kerajaan dan perguruan di seluruh Jawa, para pemimpin dari berbagai kekuatan sibuk untuk bersiap-siap untuk pertemuan besar di Perguruan Anggrek Putih besok pagi untuk peresmian Aliansi Dao Surgawi.
Yang memiliki putri-putri cantik, meminta putri mereka untuk berdandan dengan sangat cantik, memakai kebaya terbaik dari Solo, berharap bisa menarik perhatian Bima Samudra.
Sementara para putri cantik bangsawan itu sendiri, sudah bertekad di dalam hati ingin bisa dekat dengan Bima apa pun yang terjadi, karena mereka sudah melihat berbagai keistimewaan dan ketulusan dari Bima. Menurut mereka, tidak akan ada lagi pria yang lebih baik, lebih gagah, dan lebih bijaksana dari Bima Samudra di seluruh Tanah Jawa.
Sepertinya para putri bangsawan ini benar-benar sudah tergila-gila akan pesona dan kharisma Bima Samudra.
Sedangkan di Perguruan Anggrek Putih, setelah semua orang masuk, Bima sedang bersama kedua wanitanya, Amelia dan Intania, sedang bersantai dan berendam kaki di pemandian air panas alami yang ada di belakang perguruan, pemandian yang airnya berasal dari sumber mata air Gunung Lawu yang hangat.
Melihat wajah Amelia dan Intan yang memerah karena uap air panas, Bima jadi bertanya dengan usil,
"Hei, apa yang membuat pipi kalian memerah seperti buah jambu air seperti itu...? Apakah airnya terlalu panas...?"
"Apakah kamu tidak sadar kalau kamu menatap kami terus dari tadi...?" jawab Intan dengan wajah cemberut manja.
Seketika Bima tertawa terbahak-bahak.
"Wah, sepertinya pemandian ini memang membuat kalian berdua semakin cantik saja," kata Bima sambil bercanda dengan gagah.
"Iiiihhh, nakal sekali kamu ini, Bima," kata Intan sambil mencubit lengan Bima dengan gemas, tapi Bima malah membalas dengan mencium kening Intan dengan penuh kasih sayang dan tulus, sambil mengelus kepala Amelia yang bersandar di bahunya.
Suasana di pemandian air panas itu menjadi sangat hangat, bukan karena air panasnya, tapi karena canda tawa dan kehangatan di antara mereka bertiga.
Setelah beberapa jam bersantai dan mengobrol tentang masa depan, tentang Aliansi Dao Surgawi, tentang rencana Bima untuk pulang ke Gunung Lawu, mereka pun kembali ke kamar istirahat mereka.
Sementara kedua wanita itu beristirahat dengan lelap karena kelelahan, Bima bersantai sejenak di balkon joglo, menatap bintang-bintang di langit Karanganyar.
Setelah beberapa saat, Bima pun mulai mengantuk. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan tidur di ranjang besar di antara kedua wanita yang sudah tertidur pulas itu, memeluk mereka dengan lembut dari luar selimut sebagai seorang pelindung.
Sentuhan kehangatan itu membuat mereka tidur semakin lelap dan damai.
Malam itu, Bima tidak melakukan hal yang macam-macam. Ia hanya menjaga mereka dengan tulus, membiarkan mereka beristirahat dengan tenang setelah hari yang sangat melelahkan.
"Selamat tidur, putri-putri ku. Besok adalah hari yang baru untuk Aliansi Dao Surgawi," bisik Bima dengan lembut sebelum akhirnya ia pun tertidur dengan lelap karena kelelahan, diapit oleh dua sahabat terbaiknya.
Malam pun perlahan bertukar menjadi pagi. Ketiganya bangun dengan segar dan mandi bersama di pemandian air panas untuk menyambut hari yang sangat penting.
Karena hari ini adalah hari bersejarah, hari untuk menyambut ratusan orang dari berbagai kekuatan di seluruh Jawa untuk peresmian pembentukan Aliansi Dao Surgawi Nusantara yang akan berpusat di Perguruan Anggrek Putih.
Setelah semuanya selesai sarapan pagi dengan nasi liwet Karanganyar yang lezat buatan Bu Lastri, Bima dan kedua wanitanya, Amelia dan Intania, yang sudah mengenakan pakaian resmi kebesaran perguruan, datang ke aula pertemuan utama Perguruan Anggrek Putih.
Ternyata di sana sudah berkumpul ratusan orang dari berbagai kekuatan. Aula yang besar itu sampai penuh sesak. Dan Ketua Perguruan Anggrek Putih, Pak Wijaya, sudah mengurus semua pendaftaran dengan rapi dan teliti.
Setelah Bima tiba dengan wibawa, Ketua Perguruan langsung memberikan catatan daftar anggota aliansi itu kepada Bima.
Bima melihat catatan itu yang ternyata isinya sangat banyak dan mengagumkan.
Ada lima kerajaan besar,
Ada tujuh sekte dan perguruan besar,
Serta sembilan keluarga besar bangsawan dari seluruh Jawa,
Yang semuanya sepakat untuk bergabung.
"Baiklah, dengan ini, secara resmi Aliansi Dao Surgawi Nusantara resmi dibentuk hari ini, di Desa Ngargoyoso, Karanganyar, di bawah langit Gunung Lawu. Saya harap, meski kelak saya sedang tidak berada di sini dan kembali ke Gunung Lawu, kalian semua tetap menghormati dan mematuhi peraturan-peraturan perdamaian yang telah kita buat bersama untuk kebaikan anak cucu kita," kata Bima dengan suara yang lantang dan penuh wibawa di depan ratusan orang.
" Kami semua bersumpah setia kepada Aliansi Dao Surgawi Nusantara, di bawah pimpinan Tuan Muda Bima Samudra...!" jawab semua orang serentak dengan suara yang menggelegar, yang membuat suara sumpah itu menggema ke seluruh penjuru Gunung Lawu dan Karanganyar.
Hari itu, sejarah baru Tanah Jawa telah tercipta.
Dan Bima Samudra, pemuda dari Gunung Lawu, telah resmi menjadi pemimpin tertinggi dari aliansi terbesar di Tanah Jawa.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?