NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekanak -kanakan

Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi, membiarkan senyum tipis yang sarat akan keangkuhan muncul di bibirnya. "Oh ya? Kalau begitu, mari kita lihat seberapa tahan kamu dengan 'penderitaan' itu."

Raka menekan tombol interkom di mejanya. "Sekretaris Maya, bawakan seluruh arsip fisik pembebasan lahan tahun 2018 sampai 2022 dari gudang lantai dasar ke ruang kerja saya sekarang."

Naya mengerutkan dahi. "Arsip fisik? Kan kodenya ada di sistem digital?"

"Sistem digitalnya sedang mengalami pembaruan server," kilah Raka santai dengan wajah tanpa dosa. "Kamu harus membandingkan data digital dengan dokumen fisik kertas satu per satu. Dan meja kerjamu..."

Raka menunjuk ke sebuah meja kayu kecil yang diletakkan persis di sudut ruang kerjanya, hanya berjarak sekitar tiga meter dari meja kerja megahnya sendiri.

"...ada di sana. Tepat di depanku. Kamu tidak boleh keluar dari ruangan ini sampai seluruh pembandingan data selesai."

Naya menganga. "Apa?! Saya harus bekerja di dalam ruang kerja Anda?! Kenapa tidak di kubikel luar bersama staf lain?!"

"Karena aku tidak percaya padamu," jawab Raka tegas dan dingin. "Sebagai penipu yang menyusup ke dalam keluargaku, aku harus mengawasimu setiap detik. Duduk di sana sekarang."

Naya memaki habis-habisan dalam hatinya. Pria ini benar-benar kekanak-kanakan! Ini bukan soal kepercayaan atau profesionalisme, ini adalah bentuk aksi balas dendam konyol karena Raka tidak suka melihatnya dekat dengan Aris!

Sepanjang pagi hingga siang hari, ruangan bernuansa hitam-abu itu menjadi saksi bisu perang dingin yang amat menggelikan.

Naya duduk di meja kecilnya, dikelilingi oleh puluhan tumpukan map arsip yang berdebu dan tebal. Tangannya menari-nari di atas keyboard laptop, sementara matanya mencocokkan angka-angka rumit di lembaran kertas. Setiap kali Naya merasa pegal dan hendak berdiri untuk meluruskan kaki, suara Raka yang dingin seperti es langsung menghentikannya.

"Mau ke mana?" tegur Raka tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

"Ke toilet, Pak Bos!" sahut Naya ketus.

"Waktu istirahatmu baru mulai jam dua belas tiga puluh. Duduk kembali."

"Ini urusan panggilan alam, Pak Raka! Masa ke toilet saja harus sesuai jadwal?!" jerit Naya frustrasi.

Raka hanya mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan menang, membiarkan Naya menghentakkan kakinya dengan gusar dan kembali duduk di kursinya dengan wajah bersungut-sungut

Naya kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan wajah masam. Bibirnya mengerucut, sementara kedua tangannya kembali menarik map tebal yang sejak tadi membuat kepalanya pening.

("Dasar bos iblis! Semoga saja semua dokumen ini menumpuk di atas kepalanya!")

Ia melirik Raka yang duduk santai di balik meja megahnya. Pria itu tampak begitu tenang, sesekali menyesap kopi hitam sambil membaca laporan. Bahkan, sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat setiap kali mendengar Naya menghela napas panjang.

Raka tahu betul perempuan itu sedang mengumpatnya dalam hati.

"Naya."

"Apa lagi, Pak?" sahut Naya cepat.

"Jangan melotot begitu. Nanti matamu sakit."

Naya terdiam sesaat, lalu menatapnya dengan senyum palsu. "Terima kasih atas perhatiannya, Pak. Saya sangat terharu."

"Sama-sama." Raka mengangguk santai. "Oh, ya, kalau kamu merasa lelah, di lemari sebelah sana ada kacamata baca. Silakan gunakan."

Naya langsung menoleh ke arah lemari yang ditunjuknya. Dengan langkah kesal, ia menghampiri lemari tersebut, tetapi ketika membukanya, ia justru menemukan setumpuk dokumen tambahan.

Matanya membelalak.

"PAK RAKA!"

Raka mengangkat wajah dengan ekspresi polos. "Kenapa berteriak? Saya masih bisa mendengar suara kamu yang merdu itu."

"Ini dokumen apa lagi?!"

"Oh, itu arsip tambahan. Sekalian saja kamu cocokkan. Daripada nanti kamu menganggur dan mulai memikirkan Aris."

Nama Aris sengaja diucapkan dengan penekanan yang jelas.

Naya langsung memahami maksudnya. Ia menyipitkan mata, menatap Raka penuh kecurigaan.

"Jadi, semua ini karena Anda cemburu?"

Raka terdiam selama dua detik sebelum kembali menatap laptopnya.

"Jangan terlalu percaya diri. Saya hanya memastikan karyawan saya bekerja dengan baik."

"Kalau begitu, kenapa nama Aris terus Anda bawa-bawa?"

"Karena kamu terlalu sering memikirkannya."

Naya mendengus kesal. "Anda benar-benar menyebalkan!"

Raka tersenyum tipis. "Terima kasih. Saya anggap itu pujian."

Naya mengepalkan tangan di bawah meja.

Suatu hari nanti, Pak Bos sombong ini pasti akan mendapatkan balasannya!

Sementara itu, Raka kembali menyesap kopinya, menyembunyikan senyum puas.

Entah mengapa, melihat Naya merajuk justru membuat hari kerjanya terasa jauh lebih menyenangkan.

Tak berhenti di situ, kekanak-kanakan Raka semakin menjadi-jadi saat jam makan siang tiba.

***

Pukul satu siang, pintu ruang kerja Raka diketuk. Aris berdiri di ambang pintu memegang sebuah kotak makan siang berhias pita merah.

"Permisi, Pak Raka," sapa Aris sopan. "Saya cuma mau mengantarkan makan siang untuk Naya. Tadi saya lihat Naya belum sempat ke kantin, jadi saya belikan Nasi Padang kesukaannya."

Naya yang kelaparan setengah mati seketika berdiri dengan mata berbinar. "Wah, Mas Aris! Terima kasih banyak, ya ampun Mas Aris baik banget—"

"Taruh di meja luar," potong Raka cepat dengan suara yang sangat keras dan dominan.

Aris dan Naya tertegun. Raka berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah menghampiri Aris dengan tatapan mata yang teramat dingin.

"Di ruangan ini dilarang membawa makanan beraroma tajam," cetus Raka beralasan konyol, padahal ruangan itu memiliki sistem ventilasi udara kelas satu. "Dan Naya sudah ada jadwal makan siang bersama saya untuk membahas berkas proyek."

Aris mengedipkan matanya kebingungan. "Makan siang bersama Pak Raka?"

"Ya. Ada masalah?" tantang Raka dengan nada menekan yang sangat intimidatif.

Aris yang merasa ada aura ketegangan yang tidak biasa akhirnya mengalah. Pria itu menyerahkan kotak makan siang itu pada sekretaris di luar, lalu mengangguk hormat. "Baik, Pak Raka. Saya permisi."

Setelah Aris pergi, Naya menatap Raka dengan tatapan yang ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Pak Raka! Nasi Padang saya! Kenapa disuruh taruh di luar?!"

Raka tidak menjawab. Pria itu berjalan menuju telepon mejanya dan menekan tombol panggilan internal. "Pesan dua porsi steak sirloin dari restoran Prancis di lantai bawah. Kirim ke ruang kerja saya sekarang."

Naya mendengus kasar. "Saya tidak mau steak Prancis! Saya mau Nasi Padang dari Mas Aris!"

Raka memutar tubuhnya, menatap Naya dengan sepasang mata elangnya yang berkilat tajam. Pria itu melangkah mendekati Naya, mengikis jarak di antara mereka hingga Naya terdesak ke tepi mejanya. Raka menundukkan kepalanya sedikit, berbisik dengan suara rendah yang sarat akan rasa cemburu yang tersembunyi rapat di balik gengsi tingginya:

"Selama kamu memegang status sebagai istriku, meskipun hanya di atas kertas, kamu hanya boleh memakan apa yang aku belikan, berada di tempat yang aku tentukan, dan tidak boleh menerima perhatian dari pria mana pun selain aku. Paham, Naya Kanindita?"

Naya menahan napasnya. Jarak yang teramat dekat itu membuat ia bisa melihat dengan jelas bayangan pantulan dirinya di mata hitam Raka. Ada gemuruh aneh yang mendadak mengetuk dada Naya, sebuah denyut jantung yang tak beratur yang berusaha keras ia abaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!