Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKANAN SISA DAN PEDANG PATAH
Pagi itu kabut lebih tebal dari biasanya.
Xuanyuan terbangun di gubuk kecil di belakang gerbang. Selimutnya hanyalah tumpukan jerami kering yang menipis. Udara pagi menembus celah-celah dinding anyaman, membuatnya menggigil. Ia duduk, menekan dadanya pelan. Semalam di Lembah Mayat terasa seperti mimpi tapi tubuhnya terasa berbeda. Lebih ringan, lebih sadar. Setiap napas terasa lebih dalam, seakan udara tidak hanya masuk ke paru-paru, tetapi meresap ke dalam tulang.
Ia meraba cincin perak di jarinya. Dingin, tapi hangat di dalamnya.
"Lang Wuyan?" bisiknya pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
Xuanyuan menghela napas, bangkit, dan menyiram wajahnya dengan air beku dari tempurung kelapa. Ia tidak berharap suara itu selalu ada. Setiap orang yang pernah memberinya sesuatu selalu pergi. Ia sudah terbiasa.
Hari itu berjalan seperti biasa menyapu gerbang, memindahkan kayu, membawa air ke aula utama. Murid-murid lewat, meludah, mengejek. Tapi sesuatu berubah di dalam dirinya. Ia tidak lagi menunduk sepenuhnya. Matanya yang tertutup kain mantra tetap menatap lurus, dan entah kenapa, mereka yang mengejeknya hari ini terasa lebih cepat pergi, seakan tidak betah berlama-lama dalam pandangannya.
Sore hari, saat ia sedang membersihkan halaman belakang, seseorang melempar sesuatu ke kakinya.
"Hei, cacat. Sisa makanan untukmu."
Itu adalah murid bernama Hu San. Tubuhnya pendek, wajahnya bulat, tapi mulutnya tajam. Ia tertawa bersama dua temannya, lalu berbalik pergi.
Xuanyuan menunduk. Di tanah ada sepotong roti yang sudah digigit sebagian dan buah yang memar. Ia tidak marah. Perutnya lebih kuat dari harga dirinya hari ini. Ia mengambilnya, lalu duduk sendirian di bawah pohon tua yang daunnya rontok.
Belum sempat ia makan, langkah kaki lain terdengar. Lebih ringan, lebih lembut.
"Xuanyuan."
Ia mendongak. Lian Yue berdiri di sana, membawa keranjang anyaman di lengannya. Wajahnya sedikit pucat, matanya terlihat lelah.
"Lian Yue... kau mencari aku?"
Dia duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup agar mereka bisa berbicara tanpa didengar orang lain.
"Aku mendengar apa yang terjadi pagi ini. Hu San dan yang lain..." Dia berhenti, melihat makanan di tangan Xuanyuan, lalu menunduk sedih. "Maaf. Aku tidak bisa menghentikan mereka."
"Kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu. Aku memang lebih rendah dari mereka di sini. Itu aturannya."
"Itu bukan aturan. Itu kebiasaan buruk orang-orang yang merasa kecil dan ingin terasa besar dengan menindas yang lebih kecil." Lian Yue membuka keranjangnya. Di dalamnya ada nasi hangat, sepotong ikan asin, dan dua buah nanas yang sudah dikupas rapi. "Makanlah ini. Itu yang di tanganmu sudah tidak layak dimakan."
Xuanyuan menatap makanan itu, lalu menatapnya. Hatinya terasa sesak. Seluruh dunia memperlakukannya seperti debu, dan gadis ini yang bahkan tidak berhutang apa-apa padanya memberinya makan seakan ia berharga.
"Kau selalu baik padaku. Mengapa?"
Lian Yue diam sejenak, jarinya memilin ujung keranjang.
"Karena aku tahu rasanya menjadi orang yang tidak diinginkan. Ayahku adalah pedagang obat yang gagal. Ibuku pergi. Aku diterima di sini hanya karena ibuku meninggalkan separuh cermin itu kepada guru sekte obat. Aku bukan murid berbakat. Aku hanya... diizinkan tinggal." Dia menatapnya lurus. "Kita sama, Xuanyuan. Dua orang yang seharusnya tidak ada di sini."
Xuanyuan menelan ludah. Ia tidak pernah membayangkan gadis yang selalu tersenyum itu memiliki beban sendiri.
"Kita tidak tidak ada di sini," katanya pelan. "Kita hanya... belum menemukan tempat kita."
Lian Yue tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya. "Semoga kau benar. Tapi berjanjilah satu hal padaku."
"Apa?"
"Jangan terlalu cepat menjadi kuat. Semakin kuat seseorang di dunia ini... semakin cepat ia dipaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya." Dia berdiri, menutup keranjang. "Aku harus pergi. Guru memintaku meracik ramuan malam ini. Hati-hati, Xuanyuan. Angin di gunung ini berubah arah, dan bukan ke arah yang baik."
Dia pergi. Xuanyuan menatap punggungnya yang menghilang di antara pepohonan, lalu menunduk ke makanan di pangkuannya. Nasi itu masih hangat. Ia memakannya perlahan, menikmati setiap butirnya. Bukan hanya kenyang perutnya tapi juga hatinya.
Malam itu, setelah sekte tertidur, ia kembali berjalan keluar. Bukan ke Lembah Mayat ke arah berbeda, ke tebing sebelah utara tempat sampah-sampah sekte dibuang.
Di antara tumpukan benda rusak, peralatan bela diri patah, dan jubah usang, ia melihatnya.
Sebuah pedang.
Pegangannya terbuat dari tulang hitam yang mengkilap samar. Bilahnya patah tepat di tengah, seakan dipotong oleh sesuatu yang jauh lebih tajam. Tidak ada yang menginginkannya. Tidak ada yang tahu siapa pemilik aslinya. Ia hanya tergeletak di sana, terlupakan, seperti dirinya.
Xuanyuan berlutut, mengangkatnya perlahan. Beratnya luar biasa — tangannya gemetar menahan beban itu. Kulitnya yang kasar menyentuh pegangan tulang itu, dan seketika, sebuah getaran dingin menjalar ke lengannya.
"Pedang Tulang Hitam. Patah, tapi belum mati. Sama sepertimu." Suara Lang Wuyan terdengar, kali ini lebih jelas, lebih dekat.
"Kau tahu pedang ini?"
"Pemilik terakhirnya adalah seorang yang dikhianati oleh sekte ini. Namanya... sudah dihapus dari catatan. Ia bertarung sendirian melawan tiga tetua sekte ini. Pedangnya patah, tapi ia membawa dua dari mereka ke kematian sebelum akhirnya jatuh. Pedang itu menunggu seseorang yang juga tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan selain nyawanya sendiri."
Xuanyuan mengepalkan tangannya di pegangan tulang itu. Ia tidak peduli pedang itu patah. Ia tidak peduli orang lain menganggapnya sampah.
"Kalau ia patah, aku akan bertarung dengan yang tersisa. Kalau ia tidak tajam, aku akan menebas dengan niatku. Aku Liu Xuanyuan, dan aku tidak butuh pedang sempurna untuk menembus langit yang salah."
Ia menyelipkan pedang patah itu di ikat pinggangnya. Terasa berat, tapi terasa benar.
Saat ia berbalik untuk pulang, langit di atas Sekte Awan Langit tiba-tiba berubah. Bintang-bintang yang biasanya redup kini tampak bergetar. Angin kencang meledak dari puncak gunung, meniup dedaunan berputar liar. Dan di kejauhan, di arah Lembah Mayat, sebuah cahaya ungu samar naik perlahan ke langit sebelum padam seketika.
Di aula tertutup sekte, empat tetua sekte berdiri melingkar di peta batu yang bercahaya. Wajah mereka pucat.
"Segel pertama telah retak," kata Tetua Tertua, suaranya bergetar. "Dia mulai bergerak."
"Haruskah kita membunuhnya sekarang?" tanya tetua kedua, tangannya menggenggam gagang pedang.
Tetua Tertua menggeleng pelan, matanya menatap ke arah jendela gelap.
"Kita tidak bisa membunuh apa yang bahkan tidak kita pahami. Kita hanya bisa menunggu. Dan berdoa agar dia tidak membuka yang lain sebelum waktunya."
Di luar, di gubuk kecil yang dingin, Xuanyuan berbaring dengan pedang patah di pelukannya. Ia belum tahu bahwa malam ini, dia tidak hanya mengambil sebuah sampah dari tumpukan dia telah mengambil langkah pertama yang akan mengguncang empat domain.