"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Mic ungu
"Ini Desa selain terpencil tapi juga agak bersih ya karena jarang ada setan.'' gadis cantik berambut panjang berkata kepada teman dia yang ada di sebelah.
"Iya, dari tadi aku tidak melihat keberadaan setan di desa ini." yang berambut hijau juga menjawab dengan lembut.
"Kalau terlalu anteng begini justru membuat curiga." Nilam menyeringai dengan senyum yang sangat aneh.
Maharani yang berambut hijau hanya mengangguk karena dia juga merasa bingung dengan Desa ini karena sangat bersih dan seolah tidak ada arwah yang bergentayangan, Mereka berdua adalah arwah pendatang yang sering menjajah desa untuk mencari segala sesuatu yang bisa mereka ambil sebagai ramuan atau bahkan kebutuhan makanan.
Usia kedua setan ini sudah lama hidup menjadi arwah gentayangan namun mereka berbeda dengan para arwah yang masih belum memiliki tujuan, Sebab mereka sudah memiliki tempat tinggal sendiri dan bisa membantu para arwah lain yang sedang membutuhkan pertolongan, meski terkadang mereka juga bersikap sangat tengil sekali kepada setan baru.
Nilam menoleh ketika dia merasakan hembusan angin yang terasa berbeda namun dia tidak melihat seseorang yang datang, aroma ini juga sangat dia kenali sebagai aroma arwah yang memiliki dendam begitu besar karena dia dulu juga pernah memiliki dendam sebesar itu terhadap orang yang telah menyakiti dirinya saat masih menjadi manusia.
Tapi sejak tadi mereka datang ke tempat ini sama sekali tidak melihat ada sosok arwah yang bergentayangan, Oleh sebab itu mereka berdua juga merasa heran karena tidak melihat arwah namun merasakan kekuatan dalam dari seseorang yang kemungkinan sedang berkelana karena mau mencari sesuatu sebagai pembalasan atas rasa sakit.
Maharani berjongkok dan menjilat tanah yang ada di desa itu untuk memastikan lebih lanjut, sorot mata Gadis itu langsung berubah ketika dia mulai merasakan bahwa Desa ini telah dilengkapi oleh dendam yang begitu besar, bahkan bisa dikatakan bahwa seluruh warga yang ada di desa ini tidak akan selamat dan itu pernah terjadi di Desa mati.
"Ada seseorang yang memiliki dendam begitu besar dan Kemungkinan dia sedang membantai mereka yang tidak dia sukai." ujar Maharani dengan serius.
"Apa yang telah dia alami sehingga memiliki dendam?" Nilam juga penasaran dengan hal itu.
"Bila sudah memiliki dendam seperti ini maka dapat dipastikan yang dia dapat juga sangat menyakitkan." jawab Maharani dengan yakin.
"Mau mencari keberadaan arwah itu atau tidak?" Nilam bertanya karena mereka memang sedang memiliki waktu senggang.
"Ya, Aku penasaran dia meninggal karena apa dan saat ini siapa yang menjadi pelaku." Maharani mengangguk setuju.
"Semoga saja bukan pemerkosaan karena aku sangat merasa kasihan." harap Nilam.
"Eh apa itu yang kelip kelip?" Maharani tertarik dengan sesuatu sehingga dia langsung mendatangi benda tersebut.
"Sangat pantang melihat sesuatu yang kelap-kelip sehingga dia pasti akan langsung datang untuk mengambil." Nilam memutar bola mata dengan malas.
Jleduuuggg.
Byuuuuur.
"RANI!"
"Bangsat, keparat edan!" Maharani marah marah karena masuk dalam got.
Rambut yang berwarna hijau neon itu dalam sekejap mata berubah menjadi hitam dan penuh dengan Lumpur, bahkan bau yang sangat menjijikkan langsung dapat mereka cium sehingga Nilam yang melihat hal itu tentu saja menjadi tertawa terpingkal-pingkal, Maharani tentu saja semakin emosi karena dia tadi tidak melihat apa yang ada di depan mata dan langsung fokus aja ingin mengambil benda berkelip itu.
"Hahaaaaa...."
"Sialan, bau sekali air got ini." Maharani segera naik ke atas.
"Astaga perut ku sakit." Nilam sampai berjongkok karena menahan tawa.
Pluuuuk.
"Kurang ajar sekali kau ya, giliran aku sengsara seperti ini Kau pasti tertawa kencang." Maharani melempar lumpur kepada Nilam.
"Ran, kan salah kau sendiri yang tidak melihat jalan dan langsung saja masuk dalam got itu!" Nilam menjauh karena tidak mau bila sampai kotor lagi.
"Ah jadi kotor dan bau, giliran sudah kotor begini maka nanti pasti akan bertemu dengan pria tampan." Maharani terus aja marah-marah karena gaun putih itu berlumuran kotoran.
"Salah kau lah, yang mau kau ambil itu juga apa." Nilam segera terbang di udara untuk mengambil benda berkelip yang ada di seberang got.
Maharani tidak lagi menjawab karena dia sibuk membersihkan diri dan membuang lumpur yang menempel pada tubuh dia, rambut hijau yang indah itu Kini harus kotor seperti itu dan tentu saja membuat Maharani merasa sangat kesal. mana baru tadi sore dia keluar dari salon para iblis, ini malam ketika sedang jalan-jalan malah harus tercebur ke dalam got sehingga sudah pasti membuat Ratu burung hantu itu sangat kesal.
"Oooh mic untuk karaoke ternyata." Nila memperhatikan benda yang sudah ada di tangan dia.
"Ah aku sudah tidak peduli lagi." Maharani memang sudah tidak tertarik karena dia kotor begitu.
"BASAH BASAH, BIBIR INI BASAH SAAT KAU MENJILAT UJUNG KACANG KUUU.... HO, HOHOHOOOO....
"Ih kok lagu nya jadi gitu!" Maharani sampai hilang fokus karena mendengar lagu yang di nyanyikan oleh Nilam.
"Loh apa bukan begitu lagu yang sering aku dengar?" Nilam bertanya dan dia sibuk memperhatikan mic yang berkelip-kelip.
"Ndak ada ya kalau begitu, itu biduan apa tidak kena pelanggaran kalau nyanyi terlalu vulgar." Maharani jadi sewot sendiri.
"Eh bagus kok, beruntung kita dapat mic ini karena nanti pas Gabut jadi bisa nyanyi gitu." Nilam juga merasa senang dengan benda itu.
"Simpan bagus bagus, aku sudah hafal soalnya dengan lagu perceraian Lara." ujar Maharani dan sambil berjalan karena dia ingin menemukan air bersih.
"Emang Kenapa kau menghafal lagu itu, mau bercerai sama Jeno ya?" Nilam bertanya dengan wajah polos.
Kletaakk.
Nilam meringis ketika merasakan Kepala dia yang terkena jitak dari tangan Ratu burung hantu itu, sepanjang jalan dia terus saja mencoba mic yang sangat bagus karena berwarna ungu, rasanya benda itu memang sangat pas karena jatuh di tangan mereka berdua sehingga bisa di pakai untuk bermain-main.
"Ketika di buka baju nya, kelihatan bulu nya.... terlihat pula biji nya....
"Apa sih, Lam? kok lagu kau banyak sekali." Maharani merasa kalah saing karena besti dia sudah memiliki banyak lagu.
"Katanyaaaa yang di sana kurang besar....
"Apanya?" Rani menoleh dengan cepat karena otak dia juga sudah nyambung.
"Otong nyaaaaaa.... tidak ada goli goli nyaaaaaa....
Maharani sebenarnya sedang kesal Namun karena Nilam terus saja bernyanyi seperti itu dan sangat masuk kepada dia, maka Ratu burung hantu ini hilang kesal dan langsung tertawa terbahak-bahak berdua, secara bergantian mengambil mic berwarna ungu itu untuk menyanyi lagu yang menurut mereka sangat lucu.
Selamat sore, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya.
yg penting Ada purnama the gang
semangat💪👍
tapi apa iya Yayuk sudah ga perawan ya...