Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi hari di lobi utama The Crown Penthouse langsung disibukkan dengan lalu-lalang yang padat.
Para tamu penting dan pengusaha berdasi mondar-mandir dengan langkah terburu-buru.
Di tengah hiruk-pikuk orang berkelas itu, seorang wanita berdiri terpaku di dekat pilar marmer putih.
Vira menatap pintu masuk lift VIP dengan mata sembab dan tatapan hampa.
Riasan wajahnya luntur total karena semalaman suntuk tidak tidur.
Pakaiannya kusut masai, jauh sekali dari kesan elegan seperti saat ia masih sombong bersanding dengan Rama.
Selepas semalaman cekcok hebat dan menangis histeris di apartemen kumuh, Vira nekat mengambil satu keputusan.
Ia memutuskan datang seorang diri ke tempat ini demi menemui Bayu.
Langkah kaki Vira terseret ragu saat mendekati meja resepsionis.
"Permisi, Mbak..." suara Vira tercekat, serak dan parau di tenggorokan.
Resepsionis wanita itu mendongak, melemparkan senyum ramah yang terlatih.
"Selamat pagi, Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu ramah.
"Saya... saya ingin ketemu pemilik penthouse utama di gedung ini," jawab Vira dengan suara bergetar lemah.
Resepsionis itu mengernyit sejenak, mengamati penampilan Vira dari ujung rambut sampai kaki dengan tatapan menilai.
"Maaf, Nyonya, apa Anda sudah buat janji temu sebelumnya?" tanya resepsionis itu waspada.
"Belum, tapi saya..." Vira berhenti sedetik, menelan ludahnya yang terasa pahit. "Saya mantan istrinya."
Resepsionis itu terkesiap mendengar pengakuan blak-blakan tersebut.
Berita tentang pemilik baru penthouse yang memborong properti seharga lima puluh miliar tunai sudah jadi buah bibir di kalangan staf.
Ditambah lagi, kejadian pengusiran seorang wanita paruh baya oleh satpam kemarin masih sangat segar di ingatan mereka.
"Maaf sekali, Nyonya," ekspresi resepsionis itu langsung berubah kaku dan dingin.
"Pemilik utama kami memberi instruksi mutlak: siapa pun yang ngaku-ngaku mantan istri atau keluarga dilarang keras masuk area VIP."
Deg!
Jantung Vira seperti copot mendengar penolakan telak itu.
"Tolonglah, Mbak... saya cuma mau ketemu dia sebentar aja," mohon Vira dengan suara memelas, air matanya mulai menetes.
"Sebentar saja, ada hal penting yang harus saya bicarakan."
"Aturannya udah mutlak, Nyonya," balas resepsionis itu tanpa secuil pun rasa iba.
"Silakan pergi dari lobi ini sebelum saya panggil satpam."
Vira menggeleng panik.
"Enggak! Saya enggak mau pergi sebelum ketemu Bayu!" teriak Vira mulai kehilangan akal sehatnya.
Beberapa tamu hotel yang lewat mulai menoleh, berbisik-bisik melihat keributan kecil itu.
Isak tangis Vira pecah begitu saja di tengah lobi yang mewah tersebut.
"Ada apa ini?" suara tegas komandan keamanan mendadak membahana dari arah koridor samping.
Dua satpam berbadan tegap langsung merangsek mendekati meja resepsionis.
"Perempuan ini bikin onar dan maksa mau naik ke lantai VIP tanpa izin," lapor si resepsionis.
Komandan satpam itu menatap tajam Vira dengan sorot mata beringas.
"Nyonya, silakan angkat kaki secara baik-baik atau kami paksa seret keluar," ancam komandan ber suara berat itu.
Vira mendongak, menatap kedua satpam itu dengan mata memerah menyala penuh putus asa.
"Kalian enggak tahu siapa saya!" bentak Vira histeris.
"Saya mantan istri pemilik gedung ini! Dia pasti mau nemuin saya kalau kalian sampaikan pesan saya!"
Komandan satpam mendengus sinis mendengar omong kosong itu.
"Mantan istri? Bos kami itu miliarder bujangan tulen! Jangan bikin halusinasi di tempat umum, Nyonya!" hardik komandan itu sengit.
"Pegang tangannya, seret ke luar sekarang!" perintah komandan pada anak buahnya.
"Siap, Komandan!" jawab kedua satpam serentak.
Dugh!
Kedua satpam langsung mencengkeram lengan Vira tanpa ampun.
"Lepasin! Jangan sentuh saya!" teriak Vira meronta-ronta histeris di atas lantai marmer.
"Bayu, tolong! Kalau kamu denger suara ini, temuin aku!" rintih Vira menangis kencang sambil digelandang paksa menjauhi meja resepsionis.
Orang-orang di lobi menonton tontonan murahan itu dengan tatapan jijik dan mencemooh.
Jauh di lantai teratas, di dalam ruang kontrol The Crown Penthouse, Bayu berdiri menyilangkan tangan di dada.
Matanya lekat menyaksikan seluruh drama di lobi lewat layar monitor digital besar di hadapannya.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Terdeteksi upaya penyusupan emosional oleh subjek Vira di area lobi.]
[Apakah Host ingin memberikan izin akses masuk sementara?]
Bayu menatap layar itu dengan ekspresi datar, tanpa secuil pun rasa iba di matanya.
"Enggak perlu," balas Bayu memberikan perintah mental pada sistem.
[Perintah diterima. Akses masuk ditolak secara permanen.]
Bayu berbalik pelan, melangkah meninggalkan ruang pantau menuju ruang kerjanya yang mewah.
Tangisan pilu Vira di lobi bawah perlahan lenyap tertutup pintu lift.
Di luar gedung, Vira dilempar kasar hingga tersungkur di atas trotoar jalan raya yang terik.
Tas tangannya terlempar jauh, sementara sepatu hak tingginya patah sebelah.
Vira terduduk lemas di atas debu trotoar, menatap gedung pencakar langit yang menjulang angkuh di depannya dengan tatapan kosong.
Saat itulah kesadaran pahit menghantam telak benaknya.
Pintu maaf itu kini sudah terkunci rapat untuk selamanya.
Penyesalan pekat meremukkan dadanya hingga ia kehilangan sisa tenaga untuk sekadar berdiri di atas kakinya sendiri.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰