Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana kediaman keluarga Darma terasa jauh lebih damai setelah kepergian Rosa dan Bima yang memalukan.
Astiana sedang duduk di teras paviliun sambil menikmati angin sore yang sejuk.
Kring kring.
Suara dering ponsel Raka memecah keheningan dari arah pintu masuk paviliun.
Raka berjalan mendekat sambil menempelkan ponsel pintar ke telinganya dengan wajah serius.
"Kau yakin dia ada di sana malam ini."
Raka bertanya pada seseorang di ujung telepon dengan nada memastikan.
"Kerja bagus, transfer bayaranmu sudah aku kirimkan."
Tuut.
Raka mematikan panggilan itu dan langsung duduk di kursi sebelah Astiana.
"Informanku baru saja memberikan kabar yang sangat bagus, Nona Astiana."
Raka tersenyum puas sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jas.
"Apakah ini tentang pria bernama Tuan Kusuma itu."
Astiana bertanya sambil meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kayu.
"Benar, dia selalu menghabiskan akhir pekannya di sebuah club malam bawah tanah."
Raka mencondongkan tubuhnya ke depan dengan raut wajah bersemangat.
"Namanya Club Malam Obsidian, tempat itu adalah salah satu bisnis pencucian uang milik PT Bintang Zamrud."
"Club malam."
Astiana mengulang kata itu dengan nada sedikit asing di telinganya.
Di desanya dulu, tempat hiburan paling malam hanyalah warung kopi yang buka sampai jam sepuluh.
"Itu adalah tempat orang-orang kaya mabuk dan menghabiskan uang, Nona."
Raka menjelaskan dengan sabar melihat ekspresi kebingungan di wajah Astiana.
"Tempat itu dijaga sangat ketat oleh puluhan preman bayaran, kita tidak bisa asal masuk begitu saja."
"Lalu bagaimana cara kita menyusup ke sana, Tuan Muda Raka."
"Kita tidak akan masuk dari pintu depan sebagai tamu VIP."
Raka mengeluarkan sebuah denah bangunan yang digambar di atas kertas tebal.
Srek.
Dia membuka lipatan kertas itu di atas meja agar Astiana bisa melihatnya dengan jelas.
"Club Obsidian sedang mencari pelayan tambahan untuk acara pesta besar malam ini."
Raka menunjuk sebuah titik di bagian belakang bangunan tersebut.
"Kau ingin aku menyamar menjadi pelayan pengantar minuman."
Astiana menaikkan sebelah alisnya merasa kurang tertarik dengan rencana itu.
"Hanya itu cara paling aman untuk menyusup ke area VIP di lantai dua tanpa dicurigai."
Raka menunjuk sebuah kotak merah di dalam denah kertas tersebut.
"Tuan Kusuma selalu menyewa ruang VIP nomor satu, dan pelayan biasa dilarang masuk ke sana."
"Kalau begitu aku harus menjadi pelayan yang membawakan pesanan khususnya malam ini."
Astiana mengangguk setuju karena rencana ini terdengar cukup masuk akal dan efisien.
"Aku akan menyuruh orang menyiapkan seragam pelayan club itu untukmu sekarang juga."
"Pastikan celananya panjang dan bajunya longgar, Tuan Muda."
Astiana memberikan syarat tambahan dengan wajah datar andalannya.
"Aku tidak mau memakai gaun ketat atau sepatu lancip yang menyiksa kaki lagi."
Raka tertawa pelan mendengar keluhan jujur dari gadis yang sangat kuat itu.
"Tenang saja, seragam pelayan di sana cukup tertutup dan kau bisa memakai sepatu kets hitam."
Malam harinya, jalanan ibu kota diguyur hujan gerimis yang cukup deras.
Tik tik tik.
Rintik hujan membentur kaca mobil sedan Raka yang terparkir di sebuah gang sempit nan gelap.
Gang ini terletak tepat di belakang bangunan Club Malam Obsidian yang menjulang tinggi.
Dentuman musik DJ terdengar samar-samar menembus dinding beton tebal bangunan tersebut.
Dum dum dum.
Astiana sudah berganti pakaian mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan celana kain hitam.
Dia juga mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda yang sangat rapi dan tidak mengganggu pergerakan.
"Ingat, Nona Astiana, alat komunikasi kecil ini sudah terpasang di telingamu."
Raka menunjuk ke arah earpiece hitam seukuran biji kacang yang dipakai Astiana di telinga kirinya.
"Aku akan memantaumu dari dalam mobil ini dan mencoba meretas kamera keamanan mereka."
"Kau terdengar seperti agen rahasia sungguhan, Tuan Muda Raka."
Astiana memuji Raka dengan nada setengah bercanda sambil membuka pintu mobil.
Kriet.
"Hati-hati, jika terjadi sesuatu yang berbahaya, segera tinggalkan tempat itu."
Raka memberikan peringatan terakhir dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Tunggu saja kabar dariku di sini."
Brak.
Astiana menutup pintu mobil dan mulai berjalan menyusuri gang gelap itu menembus gerimis dingin.
Di ujung gang, ada sebuah pintu besi besar dengan tulisan Pintu Karyawan.
Dua orang pria berbadan besar sedang merokok sambil berjaga di depan pintu tersebut.
"Malam ini dingin sekali, kenapa bos menyuruh kita berjaga di luar sini."
"Bos Kusuma sedang marah besar karena urusannya berantakan, makanya penjagaan diperketat."
Suara hati kedua penjaga itu langsung tertangkap oleh pendengaran jarak jauh Astiana.
Astiana mencatat informasi kecil itu di dalam kepalanya sebagai peringatan ekstra.
Dia merapikan kerah kemejanya dan berjalan santai menghampiri kedua penjaga tersebut.
Tap tap tap.
"Hei, berhenti di sana, siapa kau."
Penjaga pertama membuang rokoknya ke tanah dan menghadang langkah Astiana.
"Saya pelayan paruh waktu tambahan dari agen penyalur tenaga kerja, Bang."
Astiana menjawab dengan nada suara yang dibuat sedikit manja dan takut.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣