NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana kediaman keluarga Darma terasa jauh lebih damai setelah kepergian Rosa dan Bima yang memalukan.

Astiana sedang duduk di teras paviliun sambil menikmati angin sore yang sejuk.

Kring kring.

Suara dering ponsel Raka memecah keheningan dari arah pintu masuk paviliun.

Raka berjalan mendekat sambil menempelkan ponsel pintar ke telinganya dengan wajah serius.

"Kau yakin dia ada di sana malam ini."

Raka bertanya pada seseorang di ujung telepon dengan nada memastikan.

"Kerja bagus, transfer bayaranmu sudah aku kirimkan."

Tuut.

Raka mematikan panggilan itu dan langsung duduk di kursi sebelah Astiana.

"Informanku baru saja memberikan kabar yang sangat bagus, Nona Astiana."

Raka tersenyum puas sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jas.

"Apakah ini tentang pria bernama Tuan Kusuma itu."

Astiana bertanya sambil meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kayu.

"Benar, dia selalu menghabiskan akhir pekannya di sebuah club malam bawah tanah."

Raka mencondongkan tubuhnya ke depan dengan raut wajah bersemangat.

"Namanya Club Malam Obsidian, tempat itu adalah salah satu bisnis pencucian uang milik PT Bintang Zamrud."

"Club malam."

Astiana mengulang kata itu dengan nada sedikit asing di telinganya.

Di desanya dulu, tempat hiburan paling malam hanyalah warung kopi yang buka sampai jam sepuluh.

"Itu adalah tempat orang-orang kaya mabuk dan menghabiskan uang, Nona."

Raka menjelaskan dengan sabar melihat ekspresi kebingungan di wajah Astiana.

"Tempat itu dijaga sangat ketat oleh puluhan preman bayaran, kita tidak bisa asal masuk begitu saja."

"Lalu bagaimana cara kita menyusup ke sana, Tuan Muda Raka."

"Kita tidak akan masuk dari pintu depan sebagai tamu VIP."

Raka mengeluarkan sebuah denah bangunan yang digambar di atas kertas tebal.

Srek.

Dia membuka lipatan kertas itu di atas meja agar Astiana bisa melihatnya dengan jelas.

"Club Obsidian sedang mencari pelayan tambahan untuk acara pesta besar malam ini."

Raka menunjuk sebuah titik di bagian belakang bangunan tersebut.

"Kau ingin aku menyamar menjadi pelayan pengantar minuman."

Astiana menaikkan sebelah alisnya merasa kurang tertarik dengan rencana itu.

"Hanya itu cara paling aman untuk menyusup ke area VIP di lantai dua tanpa dicurigai."

Raka menunjuk sebuah kotak merah di dalam denah kertas tersebut.

"Tuan Kusuma selalu menyewa ruang VIP nomor satu, dan pelayan biasa dilarang masuk ke sana."

"Kalau begitu aku harus menjadi pelayan yang membawakan pesanan khususnya malam ini."

Astiana mengangguk setuju karena rencana ini terdengar cukup masuk akal dan efisien.

"Aku akan menyuruh orang menyiapkan seragam pelayan club itu untukmu sekarang juga."

"Pastikan celananya panjang dan bajunya longgar, Tuan Muda."

Astiana memberikan syarat tambahan dengan wajah datar andalannya.

"Aku tidak mau memakai gaun ketat atau sepatu lancip yang menyiksa kaki lagi."

Raka tertawa pelan mendengar keluhan jujur dari gadis yang sangat kuat itu.

"Tenang saja, seragam pelayan di sana cukup tertutup dan kau bisa memakai sepatu kets hitam."

Malam harinya, jalanan ibu kota diguyur hujan gerimis yang cukup deras.

Tik tik tik.

Rintik hujan membentur kaca mobil sedan Raka yang terparkir di sebuah gang sempit nan gelap.

Gang ini terletak tepat di belakang bangunan Club Malam Obsidian yang menjulang tinggi.

Dentuman musik DJ terdengar samar-samar menembus dinding beton tebal bangunan tersebut.

Dum dum dum.

Astiana sudah berganti pakaian mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan celana kain hitam.

Dia juga mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda yang sangat rapi dan tidak mengganggu pergerakan.

"Ingat, Nona Astiana, alat komunikasi kecil ini sudah terpasang di telingamu."

Raka menunjuk ke arah earpiece hitam seukuran biji kacang yang dipakai Astiana di telinga kirinya.

"Aku akan memantaumu dari dalam mobil ini dan mencoba meretas kamera keamanan mereka."

"Kau terdengar seperti agen rahasia sungguhan, Tuan Muda Raka."

Astiana memuji Raka dengan nada setengah bercanda sambil membuka pintu mobil.

Kriet.

"Hati-hati, jika terjadi sesuatu yang berbahaya, segera tinggalkan tempat itu."

Raka memberikan peringatan terakhir dengan raut wajah yang sangat cemas.

"Tunggu saja kabar dariku di sini."

Brak.

Astiana menutup pintu mobil dan mulai berjalan menyusuri gang gelap itu menembus gerimis dingin.

Di ujung gang, ada sebuah pintu besi besar dengan tulisan Pintu Karyawan.

Dua orang pria berbadan besar sedang merokok sambil berjaga di depan pintu tersebut.

"Malam ini dingin sekali, kenapa bos menyuruh kita berjaga di luar sini."

"Bos Kusuma sedang marah besar karena urusannya berantakan, makanya penjagaan diperketat."

Suara hati kedua penjaga itu langsung tertangkap oleh pendengaran jarak jauh Astiana.

Astiana mencatat informasi kecil itu di dalam kepalanya sebagai peringatan ekstra.

Dia merapikan kerah kemejanya dan berjalan santai menghampiri kedua penjaga tersebut.

Tap tap tap.

"Hei, berhenti di sana, siapa kau."

Penjaga pertama membuang rokoknya ke tanah dan menghadang langkah Astiana.

"Saya pelayan paruh waktu tambahan dari agen penyalur tenaga kerja, Bang."

Astiana menjawab dengan nada suara yang dibuat sedikit manja dan takut.

1
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
Was pray
gak sekolah dari SD - SMA langsung kuliah..... wao... amazing... gak sekalian ambil gelar doktor tuh astiana....? 🤣🤣🤣
Was pray
Adrian cuma lulus TK doang Raka... 🤣🤣
Was pray
baru tau dan nyadar ya astiana?
Was pray
mencari seseorang /keluarga di jakarta tanpa alamat yg pasti kayak mencari jarum di lapangan sepakbola... hadeh... capek deh Nemu orang kayak model astiana ini
kiyoe: heheheh iyaa kak untung gak jadi gembel
total 5 replies
Anisa
wihh deg-degan thor😄
kiyoe: hehehe tunggu bab selanjutnya kak pasti deg-degan juga 🤭
total 1 replies
Siskasuryaningsih
knpa bibi nya gk di hajar tadi sebentar, kan enak tu
kiyoe: kan Astiana di suruh baik hati sama alm kakek yang merawat Astiana dari kecil kak hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!