**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran di Ruang Pemeriksaan
"Hanya kepada Ibu Aina".
Kata-kata petugas itu membuat Raka langsung berdiri di depan Aina, seolah ingin melindunginya.
"Istri saya sedang hamil Pak, Kandungannya lemah. Dia tidak boleh tertekan," katanya tegas. "Kalau Mamik Mustiadi ingin mengatakan sesuatu, dia bisa mengatakannya kepada saya."
Petugas itu mengangguk sopan. "Saya mengerti, Pak. Ibu Aina tidak wajib menemuinya. Pertemuan ini hanya akan terjadi kalau Ibu Aina bersedia. Kami juga akan mendampingi Ibu selama pertemuan berlangsung."
Aina menyentuh lengan Raka. Ia menimbang sejenak. Tubuhnya memang lelah, Tetapi rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya. Selama ini terlalu banyak rahasia yang disembunyikan darinya. Ia tidak mau membiarkan satu rahasia lagi tetap tersembunyi.
"Saya bersedia Pak," katanya. "Asal didampingi petugas."
Sekar menggenggam tangan Aina erat-erat. "Hati-hati. Mamik pandai bicara. Dia selalu tahu cara membuat orang merasa berutang padanya."
Aina mengangguk. "Aku akan ingat itu."
Ruangan itu kecil dan sederhana. Hanya ada sebuah meja kayu, tiga kursi, dan sebuah jendela berjeruji yang menghadap ke halaman belakang kantor polisi. Seorang penyidik perempuan berseragam duduk di sudut ruangan dengan buku catatan di pangkuannya.
Di tempat itu sudah terlihat Lalu Mustiadi duduk di balik meja. Ia masih mengenakan baju koko putih yang kemarin ia pakai di rumah Aina. Tetapi baju itu kini kusut. Pecinya tidak lagi terpasang rapi. Wajahnya yang kemarin tampak keras kini terlihat jauh lebih tua.
Ia berdiri ketika Aina masuk. "Silakan duduk, Ibu Aina. Terima kasih sudah bersedia datang."
Aina duduk di kursi di seberangnya. Ia tidak membalas ucapan terima kasih itu.
"Saya tidak punya banyak waktu Pak," katanya. "Apa yang ingin Bapak katakan tentang Ibu Sumi?"
Lalu Mustiadi tersenyum tipis. Senyum itu tidak lagi dingin seperti kemarin. Kali ini terlihat lelah.
"Langsung saja ke inti persoalan, Saya suka berlama-lama." Lalu Mustiadi melipat kedua tangannya di atas meja. "Saya meminta bertemu dengan Ibu karena saya mendengar dari polisi bahwa Ibu mengakui kesalahan Ibu sendiri di depan tim pemeriksa. Soal data kependudukan itu. Padahal tidak ada yang bisa membuktikannya."
Aina tampak diam.
"Orang yang jujur seperti itu jarang sekali saya temui selama tiga puluh tahun bekerja." Lalu Mustiadi menghela napas. "Karena itu saya percaya Ibu akan memahami tawaran saya."
"Tawaran?"
"Ya." Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Saya tahu sesuatu yang sangat penting tentang Sumiati dan Raka. Sesuatu yang bahkan Lale Rukmini tidak tahu. Sesuatu yang bisa mengembalikan hak mereka yang dirampas tiga puluh tahun lalu." Ia terdiam sejenak. "Saya akan memberi tahu Ibu semuanya. Asalkan Ibu membujuk Sekar agar tidak bersaksi melawan saya dalam perkara pidana ini."
Penyidik perempuan di sudut ruangan berhenti menulis. Ia menatap Lalu Mustiadi dengan tajam.
Aina menatap lelaki itu lama. Sekar benar, Ayahnya selalu tahu cara membuat orang merasa berutang.
"Bapak meminta saya menukar kebenaran dengan kebenaran lain," ucap Aina akhirnya, Suaranya pelan tetapi tegas.
"Saya meminta Ibu memilih kebenaran yang lebih berguna," balas Lalu Mustiadi. "Kesaksian Sekar hanya akan membuat seorang lelaki tua masuk penjara. Tapi apa yang saya ketahui bisa mengubah hidup Sumiati dan Raka selamanya. Bukankah itu lebih adil?"
Aina menggeleng.
"Pak, saya tidak akan membujuk Sekar untuk diam. Sekar sudah terlalu lama dipaksa diam. Dia sudah dipaksa menulis surat dengan anaknya di sampingnya. Saya tidak akan menjadi orang berikutnya yang memaksanya."
Lalu Mustiadi terdiam. Rahangnya mengeras.
"Satu lagi," lanjut Aina. "Kalau Bapak benar-benar tahu sesuatu yang bisa mengembalikan hak Ibu Sumi dan Raka, Bapak tidak perlu menukarnya dengan apa pun. Bapak hanya perlu mengatakannya. Itu bukan tawaran, Itu kewajiban Bapak sebagai manusia."
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit.
Aina berdiri. "Kalau tidak ada lagi yang ingin Bapak katakan, saya permisi."
Ia berjalan menuju pintu. Penyidik perempuan itu ikut berdiri dan membukakan pintu untuknya.
"Tunggu."
Suara Lalu Mustiadi terdengar berbeda. Tidak lagi tenang. Tidak lagi penuh perhitungan. Suara itu terdengar seperti suara seseorang yang baru saja kehilangan pegangan terakhirnya.
Aina berhenti, lalu menoleh.
Lalu Mustiadi menatap meja di depannya. Kedua tangannya gemetar.
"Putri saya membuka lemari besi saya," katanya pelan. "Putri saya membawa dokumen-dokumen saya ke kantor kepegawaian. Putri saya akan bersaksi melawan saya di depan polisi." Ia tertawa getir. "Selama tiga puluh tahun saya menjaga rahasia ini demi keluarga saya. Dan sekarang keluarga saya sendiri yang membongkarnya."
"Mungkin karena keluarga Bapak tidak pernah meminta Bapak menjaganya," jawab Aina.
Lalu Mustiadi mengangkat wajahnya. Matanya merah.
Untuk pertama kalinya, Aina tidak melihat seorang lelaki yang licik. Ia melihat seorang ayah tua yang sedang menyadari bahwa semua yang ia bangun ternyata berdiri di atas pasir.
"Duduklah sebentar lagi Ibu Aina," pintanya lirih. "Tidak ada tawaran lagi. Saya hanya ingin mengatakannya kepada seseorang yang tidak akan memakainya untuk kepentingan sendiri."
Aina ragu sejenak. Ia menatap penyidik perempuan itu. Penyidik itu mengangguk pelan dan kembali duduk di sudut dengan buku catatannya.
Aina kembali ke kursinya.
"Lalu Wiradana meninggal lima belas tahun lalu," Terdengar Lalu Mustiadi memulai bercerita "Sebelum meninggal, ia sakit keras selama berbulan-bulan. Ia sering memanggil saya ke rumahnya. Ia tidak pernah bisa melupakan Sumiati. Ia merasa bersalah karena membiarkan ibunya merampas bayi mereka."
Ia terdiam, menelan ludah.
"Dua bulan sebelum meninggal, ia membuat surat wasiat. Ia mewariskan sebidang tanah kebun di Tanak Awu kepada Sumiati dan anak mereka. Tanah itu atas namanya sendiri, bukan tanah keluarga. Ia membelinya diam-diam bertahun-tahun sebelumnya. Katanya, untuk Bayu dan ibunya, kalau suatu hari kebenaran terungkap."
Aina menahan napas. "Tanah di Tanak Awu…"
"Tanah tempat toko pupuk saya berdiri sekarang," ucap Lalu Mustiadi. Suaranya hampir tidak terdengar. "Wiradana menitipkan surat wasiat itu kepada saya. Ia meminta saya menyerahkannya kepada Sumiati setelah ia meninggal. Tetapi saya tidak melakukannya. Saya berkata kepada keluarga Wiradana bahwa tanah itu sudah dijual kepada saya sebelum ia meninggal. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya."
Penyidik perempuan itu menulis dengan cepat.
"Itu sebabnya Bapak takut surat keterangan lahir itu ditemukan," kata Aina pelan. "Kalau semua orang tahu Raka anak Sumiati, mereka akan mulai bertanya tentang hak warisnya."
Lalu Mustiadi mengangguk. Air mata akhirnya mengalir di pipinya yang keriput.
"Di mana surat wasiat itu sekarang Pak?" tanya Aina. "Masih Bapak simpan?"
Lalu Mustiadi menggeleng perlahan.
"Saya menyimpannya bertahun-tahun di lemari besi. Tetapi beberapa tahun lalu, seseorang mengetahuinya dan mencurinya dari rumah saya. Orang itu meninggalkan sepucuk surat kecil di dalam lemari. Isinya hanya satu kalimat. Hak anak dan ibunya akan kembali kepada mereka pada waktunya."
"Siapa orang itu?"
Lalu Mustiadi menatap Aina lurus-lurus.
"Saya baru tahu pagi ini, ketika penyidik memperlihatkan catatan di balik surat keterangan lahir yang diserahkan Lale Rukmini. Tulisannya sama persis dengan tulisan di surat kecil yang ia tinggalkan di lemari saya." Ia menarik napas gemetar. "Bidan Rohani. Dia masih hidup, Ibu Aina. Surat wasiat itu ada di tangannya."