NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Senin pagi Alina naik kereta ke Bandung. Ia tidak memberitahu Mei detailnya, hanya bilang akan pulang sebentar ke rumah. Pesan itu ia kirim dari peron, sebelum gerbong penuh. Mei membalas satu kata, "Hati-hati," dan tidak bertanya alamat. Alina mematikan layar sebelum kalimat tambahan sempat ia ketik.

Di perjalanan ia memegang ponsel yang baru dikembalikan, masih terasa asing di tangan setelah beberapa hari hilang. Beratnya salah. Ibu jarinya mencari tombol yang sudah tidak ada di tepi, lalu berhenti. Pesan dari Mei sudah menumpuk dari hari-hari ponsel itu terkunci di laci orang lain. Ada pertanyaan singkat, ada satu pesan yang hanya berisi "kabari", ada yang tidak ia buka karena judulnya terlalu panjang untuk dibaca di kereta. Ia membalas singkat: "Aman. Pulang sebentar."

Kursi di sampingnya kosong sampai Cikampek. Setelah itu seorang laki-laki duduk, membuka laptop, dan tidak mengajak bicara. Alina menaruh tas di pangkuan, bukan di rak. Di dalam tas ada baju ganti dan map kosong. Amplop yang ia cari belum ada di situ. Ia tidak ingin menuliskan di kertas, di perjalanan, apa yang akan ia ambil. Kalau tas terbuka di stasiun, yang terlihat hanya baju.

Rumah di Dago terasa lebih kecil dari yang ia ingat. Pagarnya sama. Cat tiang sudah lebih pudar di sisi yang kena hujan. Diah Prameswari membuka pintu dengan wajah yang langsung tegang saat melihat tas kecil di tangan anaknya. Handsfree tidak ada di telinganya. Dari dalam rumah terdengar radio yang pelan, lalu Diah mematikannya sebelum Alina melewati keset.

"Kau tidak bilang akan pulang."

"Hanya dua hari. Saya butuh sesuatu."

"Sesuatu di rumah ini, atau sesuatu dari saya?"

"Di rumah. Saya tidak minta Ibu mengantar ke mana-mana."

Diah membiarkannya masuk. Tangan Diah sempat menyentuh lengan Alina, memeriksa apakah anaknya lebih kurus, lalu ditarik lagi sebelum sentuhan itu jadi pertanyaan. Di ruang tamu, foto Baskara masih tergantung di dinding, tersenyum dalam jas formal. Bingkainya debu di sudut atas. Alina menatapnya sebentar. Senyum di foto itu tidak tahu apa yang nanti ditulis orang di bawah namanya. Ia tidak memperbaiki letak bingkai. Ia menuju kamar yang dulu ia tempati.

Tirai kamar masih yang lama, sedikit lebih pendek dari jendela karena sudah dicuci berkali-kali. Di lemari, di belakang tumpukan buku, ada amplop cokelat yang ia simpan sejak setahun lalu: fotokopi buku tabungan Bank Saka cabang Dago atas nama Baskara Prameswari. Buku-buku itu ia angkat satu per satu, supaya punggungnya tidak robek. Amplopnya tidak disegel. Hanya dilipat dan diberi karet yang sudah kendur.

Ia mengeluarkan amplop itu dan duduk di tepi kasur. Pegas kasur berbunyi. Halaman demi halaman menunjukkan mutasi yang biasa. Gaji masuk di tanggal yang ia hafal. Transfer rumah tangga dengan angka yang tidak pernah cukup untuk disebut berita. Pembayaran listrik. Ada satu baris biaya administrasi yang kecil, dan satu penarikan tunai yang dulu Diah pernah jelaskan untuk beras dan obat. Tidak ada aliran masuk sebesar ratusan miliar. Tidak ada jejak dana skandal yang dituduhkan. Tidak ada nama vendor yang kemarin ia lihat di layar Menara. Ia sudah melihat ini sebelumnya, tapi kali ini ia membawanya sebagai bukti yang bisa diletakkan di meja.

Ia membalik sampai halaman terakhir yang disalin. Stempel bank masih terbaca di sudut, tintanya tidak luntur ke kertas fotokopi. Ia mengetuk stempel itu dengan kuku, sekali, seperti memastikan benda itu tidak hanya ingatannya.

Sore itu Diah masuk ke kamar tanpa mengetuk. Celemek masih di pinggangnya. Matanya langsung ke amplop di pangkuan Alina, bukan ke wajah anaknya. "Kau mengambil itu lagi."

"Saya butuh."

"Untuk apa? Untuk membuka luka yang sudah menutup?"

"Luka itu tidak pernah menutup, Bu. Hanya ditutupi berita."

Diah duduk di kursi dekat jendela. Kursi itu berderit. Ia melepaskan celemek dan melipatnya di pangkuan, supaya tangannya tidak kosong. "Saya sudah bilang berkali-kali. Ayahmu tidak mencuri. Tapi membuktikan itu tidak akan mengembalikannya. Dan kau masih muda. Jangan habiskan umur untuk perang yang sudah selesai di kertas mereka."

"Kertas mereka yang selesai. Bukan kertas bank ini."

"Bagi orang di luar, itu sama saja. Mereka tidak akan duduk membaca buku tabungan ayahmu halaman per halaman."

Alina memasukkan amplop ke dalam tas. "Saya tidak meminta izin. Saya hanya memberitahu."

"Kalau kau ketahuan membawa itu ke orang yang salah, mereka akan bilang kau memalsukan."

"Saya tidak memalsukan. Ini salinan resmi dari bank. Stempel masih ada."

Diah terdiam lama. Di luar, sepeda motor lewat tanjakan dan suara itu naik lalu hilang. "Adrian Mahendra. Kau sudah bertemu dengannya, kan?"

Alina tidak menjawab langsung. Tangannya tetap di resleting tas. "Saya bertemu dengan orang yang memegang angka yang tidak cocok."

"Itu anaknya Darmawan. Keluarga itu tidak akan mengakui kesalahan. Mereka akan melindungi nama mereka, sama seperti dulu."

"Saya tidak meminta mereka mengakui. Saya meminta angka yang benar."

"Angka yang benar, kalau pun ada, tidak akan dibacakan di rumah ini." Diah berdiri. Celemek ia gantung di sandaran kursi, bukan dipakai lagi. "Makan malam jangan di kamar. Saya masak untuk dua piring. Habiskan atau tidak, itu urusanmu. Tapi jangan bawa amplop itu ke meja makan."

"Tidak akan."

Malam itu mereka makan dalam diam. Sayur dan ikan yang digoreng kering, nasi yang sudah sedikit mengeras di pinggir magic jar. Diah menambah air di gelas Alina tanpa bertanya. Alina menerimanya. Tidak ada yang membuka tas. Tidak ada yang menyebut Menara, vendor, atau nama bank lagi. Diah sekali menatap tangan Alina yang lebih kasar daripada terakhir kali pulang, lalu mengalihkan mata ke ikan di piringnya. Televisi tidak dinyalakan. Jam dinding berdetak lebih keras dari percakapan yang tidak terjadi.

Diah tidak melarang lagi, tapi juga tidak mendukung. Ketika piring sudah di wastafel, ia hanya berkata, "Kunci pagar belakang macet. Kalau kau pergi pagi-pagi, lewat depan."

"Baik."

Pagi berikutnya Alina turun gunung dengan amplop di tas, menaiki kereta kembali ke Jakarta. Diah mengantar sampai pagar, tidak sampai halte. Ia memegang lengan Alina sekali lagi, lebih singkat dari kemarin, lalu melepaskan.

"Pulang kalau sudah tidak kuat," kata Diah. "Bukan kalau sudah menang."

Alina mengangguk. Ia tidak menjanjikan yang mana.

Di perjalanan ia memikirkan cara menyerahkan ini tanpa terlihat seperti meminta belas kasihan. Kalimat "ayah saya tidak mencuri" ia tulis di notes ponsel, lalu ia hapus. Kalimat itu sudah ia ucapkan di kafe, dan Adrian tidak memegangnya sebagai bukti. Yang bisa diletakkan di meja hanya halaman dengan stempel. Ia mencoba kalimat lain: ini bisa dicek, saya tidak minta dipercaya hari ini. Kalimat itu ia biarkan. Tidak ia hias.

Gerbong pagi lebih ramai daripada kemarin. Ia tidak membuka amplop di perjalanan. Sekali tas ia tarik lebih dekat ketika orang berdiri di gang, lalu ia kendurkan lagi setelah stasiun berikutnya.

Di Jakarta, Dimas menerima pesan singkat dari Adrian: "Siapkan pertemuan netral lagi. Besok. Bawa dia."

Dimas membalas setuju. Ia sedang di mejanya, lantai yang sama dengan ruang kerja yang kemarin sepi. Laptop terbuka. Folder foto 2019 ada di daftar, terkunci di belakang kata sandi yang tidak ia tulis di mana pun. Ia masih menyimpan foto itu. Sekarang, dengan identitas sudah terbuka di Menteng, foto itu hanya menjadi konfirmasi yang tidak perlu lagi. Wajah yang kemarin duduk di kafe sudah cocok dengan wajah di baris belakang. Menunjukkannya akan terasa seperti ia menahan kartu untuk menang, bukan untuk menjaga percakapan tetap di angka.

Ia menghapus rencana untuk menunjukkannya. Bukan menghapus berkasnya. Berkas itu tetap di folder, tidak dicetak, tidak dikirim. Yang ia coret hanya baris di catatan pribadinya: "tunjukkan kalau perlu." Ia menggantinya dengan "jangan." Angka yang harus berbicara, bukan wajah di foto lama.

Ia mengirim pesan ke Alina, singkat, tanpa nama gedung. "Besok siang. Tempat saya pastikan pagi. Bawa yang perlu dibawa. Jangan datang ke Menara."

Balasan Alina datang satu kata: "Baik."

Sore itu Alina kembali ke studio Tebet. Tangga belakang masih gelap di tanjakan kedua. Ia naik pelan, membuka pintu, dan baru meletakkan tas setelah lampu menyala. Ia meletakkan amplop di meja lipat, di samping coretan angka 12,4 dan 18,9. Kertas coretan itu sempat tergulung. Ia ratakan dengan telapak tangan. Amplop tidak ia buka lagi. Isinya tidak berubah sejak Dago. Yang berubah hanya meja tempatnya diletakkan.

Besok ia akan membawanya. Besok ia akan melihat apakah Adrian masih bisa menganggap semua ini hanya dendam anak yang kehilangan ayah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!