NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Alya Hamil

Udara pagi di Yogyakarta selalu menghadirkan ketenangan yang menyejukkan. Di beranda belakang rumah Natakusumah, aku sedang menikmati secangkir teh poci hangat ditemani alunan musik gamelan pelan dari radio tua milik Ibu. Dua hari setelah kepulanganku dari Jakarta bersama Dimas, suasana rumah terasa damai. Romo dan Mami sibuk mengurus persiapan daftar tamu undangan pernikahan kami yang rencananya akan dilangsungkan dalam hitungan minggu.

Namun, di balik ketenangan itu, ada satu hal kecil yang sejak tadi mengganjal di benakku: Adam.

Adik kandungku itu seharusnya sudah tiba di Jogja hari ini sesuai dengan alibi yang disiapkan Dimas saat makan malam bersama Romo. Tapi hingga matahari sepenggalahan naik, batang hidung Adam belum juga terlihat batang hidungnya di rumah. Pesan singkat yang kukirimkan sejak semalam pun hanya centang dua tanpa balasan.

Rasa cemas sebagai kakak sulung mulai merayap di dadaku. Apakah anak itu kembali berulah? Atau terjadi sesuatu di Jakarta?

Flashback beberapa jam sebelumnya di Jakarta. Di sebuah sudut kafe remang-remang di bilangan Jakarta Selatan, Adam duduk berhadapan dengan Dimas.

Pakaian pemuda itu tampak jauh lebih sederhana dari biasanya, kaus polos lusuh dan jaket kurir pengiriman barang. Sejak memutuskan untuk diam-diam berhenti kuliah seninya di Brooklyn karena masalah finansial dan tekanan hidup di luar negeri, Adam bertahan hidup dengan melakukan apa saja. Ia bekerja sebagai kurir paket keliling hingga waiters paruh waktu di restoran malam demi menyambung hidup sekaligus menutupi rahasianya dari keluarga di Jogja.

Namun, beban hidup Adam mendadak berlipat ganda ketika Alya, kekasihnya yang juga mahasiswi seni, mendapati dirinya positif hamil.

"Mas Dimas... aku benar-benar bingung," ucap Adam dengan suara bergetar, menatap cangkir kopi dingin di depannya. Air mata nyaris tumpah dari sudut matanya. "Aku siap jadi ayah, Mas. Aku siap kerja banting tulang siang malam jadi kurir, jadi buruh, apa saja demi menafkahi anak ini dan Alya. Tapi... Alya tidak mau."

Dimas yang duduk di seberangnya mendengarkan dengan saksama. Pria berjas rapi itu tidak menunjukkan ekspresi menghakimi. Wajahnya tenang, memancarkan kedewasaan seorang pria matang yang memahami betapa rumitnya realitas kehidupan anak muda.

"Kenapa dengan Alya?" tanya Dimas dengan suara berat dan tenang.

"Alya bilang, cita-citanya masih panjang, Mas," lanjut Adam putus asa, meremas jemarinya sendiri. "Dia sangat suka melukis. Dia masih punya impian besar untuk melanjutkan sekolah seni di Brooklyn. Dia merasa tubuhnya, masa depannya, dan mimpinya akan pupus kalau dia harus hamil dan melahirkan sekarang. Tadi malam... Alya memaksa aku untuk menandatangani surat persetujuan aborsi di sebuah klinik tertutup."

Adam menundukkan kepalanya, suara isak tangisnya tertahan di tenggorokan. "Dia mau kami berangkat ke luar negeri, ke klinik swasta di luar negeri tempat tindakan itu legal. Karena di Indonesia, aborsi adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum. Aku harus bagaimana, Mas? Aku ingin anak itu lahir, tapi aku juga takut kehilangan Alya."

Dimas terdiam cukup lama. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kafe, menatap Adam dengan pandangan yang dalam penuh empati.

Dimas tidak menyalahkan Adam, juga tidak langsung menghakimi keputusan ekstrem Alya. Dengan suara baritonnya yang tenang, Dimas berkata bijak:

"Adam... dengarkan saya," ujar Dimas pelan namun tegas. "Kalau itu keputusan Alya, kamu harus menghormatinya. Walaupun kamu merasa siap menafkahi, bekerja keras banting tulang siang malam, tetap saja yang akan mengalami mual, muntah, ngidam, perubahan fisik, rasa sakit melahirkan, dan menyusui adalah Alya, bukan kamu. Tubuh itu milik Alya, masa depannya ada di tangannya. Kalau Alya memang belum siap secara mental dan fisik, kamu juga harus bisa menerimanya dengan besar kepala."

Adam terdiam seribu bahasa. Nasihat Dimas menampar kesadarannya dengan telak. Ia sadar, menjadi pria sejati bukan hanya tentang memaksakan kehendak untuk bertanggung jawab secara materi, melainkan juga memahami penderitaan dan pilihan sulit yang ditanggung oleh perempuan di hadapannya.

*

*

Kembali ke Jogja. Menjelang sore hari, suara deru motor matik tua memasuki halaman depan rumah Natakusumah.

Aku yang sedang menyiram tanaman di teras segera menoleh. Adam turun dari motor, melepas helmnya dengan gerakan lesu. Penampilan adikku itu tampak sangat berantakan. Wajahnya kuyu, matanya merah kurang tidur, dan jaket kurir yang dipakainya tampak berdebu.

"Adam!" panggilku kaget, segera meletakkan selang air dan menghampirinya. "Kamu dari mana saja? Kenapa baru sampai Jogja sekarang? Handphone-mu kenapa tidak aktif?!"

Adam mendongak menatapku. Pertahanan emosi yang sejak tadi ditahannya seketika runtuh. Tanpa diduga, pemuda itu langsung merengkuh tubuhku, memelukku erat-erat sambil terisak pelan di bahuku.

"Mbak Mei..." isak Adam tertahan. "Aku hancur, Mbak..."

Dadaku seketika berdesir cemas luar biasa. Aku mengusap punggung adikku dengan penuh kasih sayang. "Stt... tenang, Dam. Ada apa? Masuk dulu ke dalam, cerita sama Mbak."

Aku menuntun Adam duduk di kursi teras belakang, menjauhkannya dari jangkauan Romo yang mungkin sedang beristirahat di ruang tengah. Kubawakan segelas air hangat untuknya.

Setelah meneguk air itu perlahan, Adam mulai menceritakan semuanya. Mulai dari keputusannya yang diam-diam berhenti kuliah di Brooklyn demi bertahan hidup, pekerjaannya sebagai kurir paket dan waiters di Jakarta, hingga kenyataan pahit bahwa Alya kini tengah mengandung anak mereka.

Puncak dari cerita Adam membuat darahku mendadak mendidih seketika.

"Alya mau menggugurkan kandungan itu, Mbak..." suara Adam bergetar hebat. "Dia memaksa aku tanda tangan surat persetujuan aborsi di klinik swasta luar negeri karena di Indonesia tindakan itu ilegal. Dia bilang mimpi dan cita-citanya melukis di Brooklyn akan hancur kalau dia hamil sekarang."

Aku terpaku di tempat dudukku. Napas memburu, kemarahan dan rasa iba bercampur aduk menjadi satu di dalam dadaku. Di satu sisi, aku sangat memahami ketakutan Alya sebagai perempuan muda yang punya impian besar. Tapi di sisi lain, gagasan tentang mengakhiri nyawa janin tak berdosa membuat nuraniku bergidik ngeri.

"Lalu... apa yang kamu lakukan, Dam?" tanyaku dengan suara parau.

"Aku sudah bicara sama Mas Dimas tadi pagi di Jakarta," jawab Adam menunduk. "Mas Dimas bilang... aku harus menghormati keputusan Alya. Karena yang mengandung dan melahirkan nanti adalah Alya, bukan aku."

Mendengar nama Dimas disebut, aku tertegun. Pria itu benar-benar menunjukkan kedewasaan berpikir yang luar biasa. Di saat emosi Adam meledak-ledak, Dimas mampu memberikan pandangan yang adil dari sudut pandang perempuan.

Malam harinya, suasana di ruang keluarga rumah Natakusumah mendadak berubah tegang ketika Romo secara tidak sengaja memergoki Adam menangis di kamar mandi dan menemukan tiket penerbangan internasional atas nama Alya dan Adam di dalam ransel adiku yang berserakan.

Romo yang menjunjung tinggi nilai moral dan adat istiadat langsung mengamuk hebat. Suara bentakan Romo menggema keras di seluruh penjuru rumah.

"Anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu berbuat nista di perantauan, lalu mau berencana melakukan dosa besar ke luar negeri?!" geram Romo dengan dada naik turun, menunjuk wajah Adam yang bersimpuh di lantai ruang tamu.

Ibu menangis histeris di samping Mami yang mencoba menenangkan. Aku berdiri di hadapan Adam, berusaha melindungi adikku dari kemarahan besar Romo.

"Bapak, sudahlah! Jangan dihakimi begini, Adam sedang kalut!" bela ku dengan suara bergetar menahan tangis.

"Diam kamu, Mei! Lelaki macam apa ini, menghamili anak orang lalu mau lepas tangan dengan cara biadab?!" bentak Romo lagi, amarahnya sudah di ujung tanduk.

Tepat di saat situasi rumah sedang berada di ambang kehancuran, dering bel pintu depan berbunyi nyaring.

Beberapa saat kemudian, pintu pendopo terbuka. Dimas Arjowibowo melangkah masuk ke dalam rumah. Pria itu datang mengenakan kemeja formal malam, tampaknya langsung meluncur ke Jogja begitu mendengar kabar genting dari Adam via telepon sore tadi.

Kehadiran Dimas yang tiba-tiba membuat amarah Romo seketika tertahan oleh wibawa sang CEO konglomerat tersebut.

Dimas melangkah tenang namun pasti, membungkuk hormat sejenak kepada Romo dan Ibu, lalu berdiri tepat di sampingku, merangkul bahuku dengan lembut untuk memberikan ketenangan.

"Mohon maaf malam-malam lancang datang ke kediaman, Romo," suara bariton Dimas mengalun berat, tenang, dan berwibawa memenuhi ruangan yang senyap. "Saya yang meminta izin datang malam ini... karena saya ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Adam dan Alya."

Romo mendengus marah, menatap Dimas tajam. "Mau membela anak durhaka ini, Nak Dimas? Dia sudah mencoreng nama baik keluarga!"

Dimas menggeleng pelan, wajahnya tetap tenang tanpa ada secercah rasa takut pun. "Bukan membela dalam artian membenarkan kesalahan, Romo. Tapi mari kita duduk bersama, selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Membentak Adam atau mengutuk Alya tidak akan mengembalikan keadaan. Yang dibutuhkan anak-anak muda ini sekarang bukan hukuman... melainkan bimbingan kita sebagai orang dewasa."

Mendengar ketenangan dan kebijaksanaan yang terpancar dari setiap kalimat Dimas, ketegangan di wajah Romo perlahan-lahan mulai melunak.

Aku menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca. Di hadapan badai keluarga yang paling mengerikan sekalipun, pria ini sekali lagi membuktikan bahwa dia adalah pilar terkuat yang siap berdiri di sisiku, melindungiku, dan merangkul keluargaku dengan penuh rasa hormat.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Adira🍓: AQ masih setia nungguin gempurannya Dimas ini lho Thor 🤣🤣 kapan Dimas nggempur lagi ini ..... Waiting /Applaud/
total 2 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!