NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:411.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Gugatan cerai Naira resmi masuk ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada hari Senin.

Tidak ada air mata. Tidak ada adegan dramatis. Hanya ruang tunggu yang penuh orang, suara nama dipanggil dari loket, dan map berisi dokumen yang akhirnya berpindah tangan.

Naira duduk di samping Maya.

Ia memakai pakaian sederhana, kerudung warna abu muda yang dipilih bukan karena ingin terlihat salehah di depan orang, melainkan karena pagi itu rambutnya terlalu lelah untuk ditata. Di pangkuannya ada tas kulit hitam. Di dalamnya, cincin pernikahan yang sudah ia lepaskan disimpan dalam amplop kecil.

Dimas datang lima belas menit sebelum jadwal mediasi awal.

Bu Ratna tidak ikut. Entah karena malu, entah karena Maya mengirim surat peringatan soal keributan rumah sakit. Yang ikut hanya Rendi.

Dimas duduk di seberang Naira.

Beberapa pasangan lain di ruang itu saling lirik. Mereka mungkin menebak-nebak. Perempuan tenang dengan pengacara, pria berwajah mahal yang tampak tidak tidur, jarak di antara mereka yang lebih jelas dari garis lantai.

"Kamu makan pagi?" tanya Dimas.

Naira menoleh.

Pertanyaan itu hampir lucu.

Selama lima tahun, ia yang bertanya begitu. Ia yang memastikan Dimas makan sebelum rapat, minum obat sebelum migrainnya naik, membawa jaket saat hujan. Hari ini Dimas bertanya, dan kalimat itu terdengar seperti seseorang yang baru belajar bahasa asing.

"Sudah."

Dimas mengangguk, lalu diam.

Maya membuka berkas. "Sidang pertama biasanya hanya pengecekan administrasi dan mediasi awal. Ibu Naira, nanti jawab seperlunya."

Naira mengangguk.

Dimas mendengar itu. "Kamu benar-benar tidak mau bicara denganku tanpa pengacara?"

"Kita sudah bicara berkali-kali tanpa pengacara. Hasilnya aku selalu kalah."

"Aku tidak pernah menganggap ini menang-kalah."

"Karena kamu selalu menang."

Dimas seperti ingin membalas, tetapi petugas memanggil nama mereka.

Ruang mediasi kecil. Ada meja, tiga kursi utama, dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Mediator bertanya formal, memastikan identitas, lalu mencoba membuka ruang damai.

"Apakah masih ada kemungkinan rujuk?"

Dimas langsung menjawab, "Ada."

Naira menjawab setelahnya, "Tidak."

Mediator menatap Naira, lalu Dimas.

"Ibu yakin?"

"Yakin."

"Dalam perkara perceraian, pengadilan mendorong mediasi..."

"Saya paham." Naira tidak memotong dengan kasar, tetapi cukup tegas. "Saya sudah mempertimbangkan. Saya datang bukan karena emosi satu malam."

Mediator menoleh ke Dimas. "Bapak?"

Dimas menatap tangan Naira di atas meja. Jari manisnya kosong.

"Saya mengakui ada kesalahan," katanya pelan. "Tapi saya ingin memperbaiki."

Naira tidak bergerak.

Mediator bertanya, "Kesalahan seperti apa?"

Dimas terdiam.

Ia bisa berkata tidak datang menjemput ayah Naira.

Ia bisa berkata membiarkan ibunya menghina.

Ia bisa berkata memberikan undangan kepada Clara.

Tapi semua itu hanya potongan kecil dari sesuatu yang lebih besar.

"Saya tidak melihat istri saya dengan benar," katanya akhirnya.

Naira menatapnya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresinya berubah sedikit.

Dimas menangkapnya dan cepat melanjutkan.

"Saya terlalu banyak mendengar keluarga saya. Saya membuat dia merasa sendiri. Saya..."

Suaranya tertahan.

Rendi yang duduk di belakang ikut menunduk.

Mediator mengangguk, seperti sudah sering mendengar pengakuan yang datang terlambat. "Ibu Naira?"

Naira menarik napas pelan.

"Saya menghargai pengakuan itu."

Dimas menatapnya dengan harapan bodoh yang langsung ia benci.

"Tapi saya tidak ingin kembali."

Harapan itu pecah tanpa suara.

"Kenapa?" tanya Dimas, kali ini bukan kepada mediator. "Kalau aku sudah tahu salahku..."

"Karena tahu salah tidak otomatis menghapus luka."

Ruang itu hening.

Mediator menulis sesuatu.

Naira melanjutkan, "Saya tidak membenci Dimas. Saya hanya tidak mau hidup sebagai istrinya lagi."

Kalimat itu lebih buruk daripada benci.

Benci masih punya api.

Ini sudah selesai.

Setelah sesi itu, mediator menjadwalkan pertemuan berikutnya. Secara hukum, proses belum selesai. Tapi secara batin, Dimas tahu meja itu sudah menjadi tempat Naira menutup pintu.

Di luar ruangan, Rendi menerima telepon dan wajahnya berubah.

"Pak, ada masalah di kantor."

Dimas masih menatap Naira.

Maya sudah berjalan ke loket lain untuk mengambil salinan tanda terima.

"Masalah apa?" tanya Dimas tanpa fokus.

"Investor utama minta rapat. Mereka dengar soal lisensi paten yang tidak diperpanjang."

Dimas memejamkan mata.

Naira mendengar, tetapi tidak berkomentar.

"Naira," kata Dimas. "Bisakah kita tunda soal paten? Setidaknya sampai proses cerai selesai."

"Tidak."

"Ini akan menghantam perusahaan."

"Proses cerai menghentikan pernikahan. Penarikan paten menghentikan penggunaan hak saya. Itu dua hal berbeda."

"Kamu tega?"

Naira menatapnya. "Tega?"

Dimas sadar ia salah memilih kata.

Tapi terlambat.

"Kamu memakai hak ibuku, hakku, selama bertahun-tahun tanpa tahu. Ketika aku mengambilnya kembali, kamu menyebutku tega?"

"Aku tidak bermaksud..."

"Kamu selalu tidak bermaksud. Tapi dampaknya tetap sampai."

Maya kembali. "Kita bisa pergi."

Naira mengangguk.

Di pintu keluar pengadilan, beberapa wartawan kecil dan akun gosip sudah menunggu. Entah siapa yang memberi tahu. Kamera ponsel terangkat.

"Bu Naira, benar menggugat cerai Pak Dimas?"

"Pak Dimas, apakah benar ada orang ketiga?"

"Apakah ini terkait Dr. Clara Larasati?"

Dimas kaget. Rendi langsung maju menahan.

Sebelum suasana kacau, tiga mobil hitam berhenti rapi di depan tangga. Bagas turun dari mobil pertama. Dua pria lain membuka jalan tanpa menyentuh siapa pun.

Naira berjalan turun.

Para wartawan yang tadi agresif otomatis mundur.

Dimas melihat pemandangan itu.

Naira tidak menunduk.

Tidak bersembunyi.

Tidak lagi berjalan tiga langkah di belakangnya.

Salah satu wartawan masih sempat bertanya, "Bu Naira, apa alasan utama menggugat cerai?"

Naira berhenti sebentar.

Dimas menahan napas.

Naira menoleh ke kamera.

"Karena saya akhirnya memilih diri saya sendiri."

Ia masuk mobil.

Pintu tertutup.

Dimas berdiri di tangga pengadilan, dikelilingi kamera, pertanyaan, dan suara Rendi yang panik mengatur jalan.

Di ponselnya, pesan dari Clara masuk.

Mas, aku lihat berita. Kamu baik-baik saja?

Dimas menatap pesan itu lama.

Untuk pertama kali, ia tidak membalas.

Clara menunggu balasan itu sampai layar ponselnya redup.

Di ruang istirahat rumah sakit, ia menatap berita perceraian yang terus naik. Nama Naira mulai dibicarakan bukan hanya sebagai istri Dimas, tetapi sebagai perempuan yang datang ke pengadilan dengan pengawalan rapi dan kalimat yang terlalu kuat untuk dijadikan korban.

Clara menggigit bagian dalam pipinya.

Seorang perawat masuk dan berkata, "Dok, itu yang cerai dari Pak Dimas cantik juga ya. Kelihatannya bukan orang sembarangan."

Clara tersenyum. "Memang orang sekarang mudah terkesan mobil hitam."

"Tapi katanya dia dokter juga?"

Senyum Clara menegang. "Katanya."

Perawat itu tidak sadar udara berubah. Ia hanya mengambil botol minum lalu keluar.

Clara membuka chat dengan Dimas lagi. Tidak ada balasan. Ia mengetik pesan baru.

Mas, aku cuma takut kamu disudutkan.

Ia mengirimnya.

Lalu untuk pertama kali sejak kembali ke Jakarta, Clara merasa Dimas mungkin tidak lagi berdiri otomatis di sisinya.

Di luar pengadilan, Dimas akhirnya masuk mobil.

Rendi duduk di depan, tidak berani bicara. Sopir bertanya pelan, "Ke kantor, Pak?"

Dimas hendak menjawab ya, tetapi melihat amplop kecil di kursi sebelah. Salinan dokumen awal dari mediasi. Di halaman depan tertulis nama mereka berdua.

Dimas Mahendra.

Naira Salsabila Atmadja.

Atmadja.

Nama itu terasa asing dan terlambat. Selama menikah, ia jarang memakai nama belakang Naira. Ia bahkan pernah meminta Naira tidak mencantumkannya di undangan keluarga karena terdengar terlalu mencolok.

Sekarang nama itu berdiri di dokumen pengadilan, lebih tegak daripada nama Mahendra.

"Ke rumah," kata Dimas akhirnya.

Rendi menoleh. "Pak?"

"Aku perlu bicara dengan Mama."

Untuk pertama kali, ia tahu masalahnya tidak bisa diselesaikan di kantor.

Di perjalanan pulang, berita tentang kalimat Naira sudah dipotong menjadi video pendek.

Karena saya akhirnya memilih diri saya sendiri.

Dimas memutarnya sekali. Lalu sekali lagi.

Setiap kali mendengar suara Naira, ia teringat betapa sering ia meminta perempuan itu memilih keluarga Mahendra, memilih ibunya, memilih reputasinya, memilih diam.

Ia tidak pernah bertanya kapan Naira terakhir memilih dirinya.

Pertanyaan itu baru datang setelah jawabannya pergi jauh dari rumahnya, tanpa menunggu lagi.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!