-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
🍂🍂🍂🍂
Langkah kaki Bagas terasa berat ketika melintasi gerbang utama istana bawah tanah yang megah dan dinaungi pendar cahaya samar hijau keemasan. Mata pemuda itu tak henti-hentinya membelalak takjub bercampur bulu kuduk yang berdiri hebat. Di sepanjang lorong berisikan pilar-pilar batu ukir berarsitektur kuno, berbaris puluhan prajurit dan pelayan dengan rupa yang tidak lazim. Tubuh bagian atas mereka berwujud manusia rupawan berbalut zirah emas, namun dari pinggang ke bawah meliuk ekor ular bersisik tebal yang bergerak melata tanpa suara.
"Jangan takut, Bagas... Mereka tidak akan menyakitimu. Kamu adalah lelaki pilihan sang Ratu," bisik sesosok wanita bertubuh ular yang berjalan memandunya di depan.
Bagas menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang laksana dipalu. Pemuda tegap itu terus melangkah hingga tiba di depan sebuah pintu kayu jati berukir naga raksasa. Pelayan di sampingnya membungkuk dalam, lalu membukakan daun pintu tersebut secara perlahan.
Udara dingin bercampur wangi semerbak bunga melati dan dupa sakral menyergap indra penciuman Bagas. Di dalam kamar megah berlandaskan batu pualam halus dan berhiaskan tirai sutra hijau, berdirilah sang Ratu Ular—Nyai Ratu.
Awalnya, aura gaib yang mencekam menyelimuti ruangan. Di depan mata kepala Bagas sendiri, sosok Nyai mendadak menjelma menjadi sesosok ular kobra raksasa berukuran dahsyat dengan sisik hijau keemasan yang berkilat pekat. Sosok ular raksasa itu meliuk cepat mendekati Bagas yang mematung kaku ketakutan.
SSSTTT!
Ular raksasa itu memajukan kepalanya yang anggun namun mengerikan, lalu mendesis tajam sebelum akhirnya mendaratkan gigitan taring emasnya tepat di dada kiri Bagas!
"AARRGGHH!" jerit Bagas tertahan saat rasa dingin dan hangat yang menusuk meresap hingga ke dalam aliran darahnya.
Anehnya, rasa sakit itu hanya bertahan sedetik. Begitu gigitan itu dilepaskan, di dada kiri Bagas terukir sebuah rajah bertanda sisik ular keemasan yang memancar halus—sebuah segel ikatan gaib yang tidak akan pernah hilang seumur hidupnya.
Seketika itu pula, wujud ular raksasa tersebut menyusut dan bertransformasi kembali. Pendar cahaya keemasan menyelimuti raga sang Ratu. Ketika pendar itu memudar, berdiri sesosok wanita manusia yang cantiknya tiada tandingan. Sang Ratu tidak menggunakan mahkota megahnya lagi, melainkan hanya berbalut kain jarik sutra hijau tipis yang melilit anggun di pinggangnya serta ronce Bunga Melati segar yang terurai menyelimuti dada bahagianya yang terbuka.
Ketakutan di dalam diri Bagas seketika sirna, berganti dengan buaian pesona mistis yang tiada tandingannya. Sang Ratu menyunggingkan senyuman manis yang begitu memikat, melangkah mendekat lalu merengkuh dada bidang Bagas.
"Apakah kamu masih merasa takut melihat wujud asliku, Bagas?" tanya sang Ratu dengan nada lembut yang memikat.
Bagas menghela napas panjang, menatap lekat paras jelita di depannya. "Awalnya saya sangat terkejut dan takut, Nyai... Namun kini pesona dan keindahanmu melunturkan seluruh keraguan di hatiku."
"Bagus..." bisik Nyai dengan suara merdu yang mendayu-dayu, napas dingin beraroma melati mengusap leher Bagas. "Sekarang... raga dan jiwamu adalah milikku seutuhnya, Bagas."
Nyai membimbing Bagas untuk berbaring di atas peraduan batu pualam berlandaskan sutra empuk. Sang Ratu mengambil kendali penuh malam pertama itu. Wanita jelmaan ular itu merangkak naik, menunggangi pinggul tegap Bagas dengan gaya anggun dan memabukkan.
"Nyai... apakah ini nyata?" desah Bagas tersengal pelan, matanya terpejam saat jemari halus sang Ratu mengelus dada dan rahang tegasnya.
"Ini lebih dari sekadar nyata, Pemuda Tampan. Ini adalah ikatan abadi antara dua alam," tutur Nyai dengan suara lembut yang sarat gairah pemujaan. "Pasrahkan dirimu... Biarkan Ratumu memanjakanmu malam ini."
"Aku pasrah padamu, Nyai... Bimbinglah aku," balur Bagas tulus, kedua tangannya terulur menyentuh pinggul mulus sang Ratu.
Nyai membungkuk, mendaratkan cumbuan yang teramat dalam dan hangat di atas bibir Bagas. Seiring dengan cumbuan tersebut, sang Ratu membimbing penyatuan intim mereka untuk pertama kalinya dari atas.
Saat penyatuan gaib itu terjadi secara meresap dan utuh di atas tempat tidur pualam, sebuah erangan nikmat yang teramat dahsyat dan memabukkan lolos dari tenggorokan mereka berdua.
"NGGGHHHH! Mmmm... Bagas!" jerit sang Ratu menggeram panjang, matanya terpejam rapat, kepalanya mendongak pasrah saat raganya terbenam seutuhnya menyatu dengan kenikmatan raga Bagas.
"AHHH! Nyai... Nggghhh...!" rintih Bagas melengking merdu, matanya terpejam meresapi rasa penuh, hangat, dan aura mistis yang meresap hingga ke pembuluh darahnya.
Nyai tersenyum sangat puas. Ukuran milik Bagas yang tegap dan besar membuat sang Ratu merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari lelaki manusia mana pun.
"Luar biasa... Milikmu begitu kekar dan sempurna, Bagas," puji Nyai berbisik di dekat telinga Bagas.
"Sensasi ini sungguh tiada tandingannya, Nyai... Rasanya begitu hangat dan memenuhi seluruh jiwaku," sahut Bagas seraya menatap manik mata sang Ratu yang berkilat hijau keemasan.
"Kalau begitu, nikmatilah setiap detik permainan Ratumu ini, Tampan," bisik Nyai penuh gairah.
Nyai mulai mengayunkan pinggulnya dari atas dengan ritme yang lembut, teratur, namun begitu dalam meresap. Bagas yang awalnya merasa asing dan takut kini benar-benar terbuai, ikut memegang pinggul sang Ratu dan mendorong dari bawah untuk membalas ayunan mesra tersebut.
"Ahhh... hhh... Bagas... sungguh nikmat gerakanmu dari bawah... nggghhh... enak sekali... ahhh!" desah sang Ratu makin melengking merdu, ronce melati di dadanya bergoyang membiaskan aroma harum yang memenuhi kamar peraduan.
"Nggghhh... Nyai... permaisuriku... nikmat sekali, Nyai... hhh!" erang Bagas parau, kedua tangannya memegang erat pinggul mulus sang Ratu.
"Teruslah bergerak seperti itu, Bagas... Manjakan Ratumu ini!" perintah Nyai seraya makin mempercepat ketukan pinggulnya dari atas.
"Aku akan memberikan seluruh tenagaku untukmu, Nyai!" jerit Bagas, mengayunkan pinggul tegapnya makin dalam dan mantap.
Di bawah pendar hijau keemasan istana gaib, desahan nikmat keduanya mengalun merdu bersahutan. Nyai mempercepat ayunan pinggulnya dari atas dengan penuh gairah dan kepasrahan utuh, memanjakan Bagas dalam ritual penyatuan malam pertama yang panjang dan memabukkan.
"Bagas... Bagas! Aku sudah tidak tahan lagi... Aku mau sampai! Ahhh... nggghhh... peluk aku erat-erat dari bawah!" jerit Nyai melengking manis, seluruh raganya bergetar hebat di atas dada bidang Bagas.
"Nggghhh! Bersama, Nyai... Bersama!" jerit Bagas menggeram dahsyat.
Nyai menarik pinggul Bagas rapat-rapat ke bawah, memperdalam dorongan pungkasan sebelum akhirnya tumpahan energi kehangatan dan rasa syukur menyatu utuh di dalam peraduan gaib tersebut.
"NGGGHHHHHHHH! BAGAS!"
"AHHHHH! NYAI!"
Jeritan nikmat puncak keduanya berpadu sempurna dalam keheningan istana bawah tanah. Sang Ratu terkulai lemas, merebahkan raga cantiknya tepat di atas dada bidang Bagas yang bersimbah peluh. Bagas merengkuh raga Ratu rapat-rapat dalam dekapannya, menghirup napas yang tersengal-sengal pendek.
"Terima kasih atas kenikmatan malam ini, Bagas... Kamu lelaki manusia pertama yang sanggup memuaskanku hingga seperti ini," tutur Nyai seraya mengelus dada bidang Bagas.
"Aku pun merasa sangat beruntung bisa memilikimu, Nyai," jawab Bagas tulus, mendaratkan kecupan di kening sang Ratu.
Usai hembusan napas mereka kembali teratur, Nyai menegakkan tubuhnya sedikit, menatap tajam manik mata Bagas dengan pendar mata hijau keemasan yang kembali tegas dan berwibawa.
"Dengarkan aku baik-baik, Bagas..." tutur Nyai dengan suara berat dan penuh peringatan keras. "Kamu telah menjadi suamiku secara gaib. Mulai malam ini dan seterusnya, kamu tidak boleh menyentuh, mencintai, atau menikahi wanita manusia mana pun di alam nyata. Jika kamu melanggarnya... maka nyawa wanita itu yang akan menjadi tumbal daratku!"
Bagas menelan ludah, mengangguk pasrah dan patuh di bawah tatapan tajam sang Ratu. "Baik, Nyai... Saya mengerti dan akan mematuhi seluruh perintahmu. Saya tidak akan pernah menyentuh wanita lain."
Sang Ratu tersenyum bening dan puas, lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada hangat Bagas, menikmati sisa-sisa kehangatan penyatuan malam pertama mereka di dalam istana gaib yang abadi.
Bersambung....