Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Lentera Abu di Dasar Jurang Tulang Iblis
Jurang Tulang Iblis terletak di sisi paling utara pegunungan Sekte Pedang Awan Biru.
Tidak ada burung yang berani terbang melintasi celah menganga selebar sepuluh mil itu. Dari kedalamannya yang tak terukur, kabut hitam keunguan yang berbau belerang dan kebusukan abadi—Miasma Iblis Kuno—terus-menerus mengepul ke atas. Konon, jurang itu terbentuk dari tebasan senjata kuno saat Perang Senja seratus ribu tahun silam. Bahkan kultivator tingkat Pembangunan Fondasi sekalipun akan membusuk dagingnya dalam waktu satu jam jika berani terjun ke dalamnya, apalagi seorang manusia fana yang meridiannya telah hancur.
Di tepi tebing batu yang curam dan diselimuti kabut dingin malam hari, dua penjaga Aula Penegak Dharma melempar tubuh Lin Xuan ke tanah berbatu.
"Periksa napasnya. Kalau masih hidup, patahkan lehernya sekalian agar Tuan Muda Changge tenang," ujar penjaga bertubuh tinggi sambil menghunus belatinya.
Namun sebelum belati itu sempat menyentuh leher Lin Xuan, suara ketukan tongkat bambu di atas batu bergema pelan dari balik kabut malam.
Tak... tak... tak...
Seorang pria tua bungkuk berjubah kain kasar abu-abu, dengan sepasang mata yang tertutup kain hitam kusam dan sebilah pedang besi patah tanpa sarung di punggungnya, melangkah keluar dari balik kabut.
"Tetua... Tetua Mo Chen?!" wajah kedua penjaga itu langsung memucat. Meski Mo Chen hanyalah penjaga Lembah Pedang Patah yang buta dan terpinggirkan di sekte, semua orang tahu bahwa tiga puluh tahun lalu ia adalah pendekar paling mematikan di generasi Ketua Sekte.
Mo Chen tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tongkat bambunya hanya terayun pelan satu kali di udara.
WUSSSH!
Angin pedang tak kasatmata menebas leher kedua penjaga itu secepat kilat. Tanpa sempat menjerit, tubuh keduanya ambruk ke tanah.
Mo Chen bergegas berlutut di samping tubuh Lin Xuan yang nyaris membeku. Tangan tuanya yang gemetar menyentuh pergelangan tangan murid kesayangannya itu. Ketika merasakan bahwa Akar Spiritual Pedang Murni di dalam tubuh Lin Xuan telah dicabut hingga ke akarnya dan seluruh meridiannya hancur lebur, tubuh tua Mo Chen bergetar hebat. Setetes air mata bercampur darah merembes keluar dari balik kain hitam yang menutupi matanya.
"Gu Tianheng... binatang tak tahu malu!" geram Mo Chen dengan suara bergetar menahan amarah. Dari kejauhan di arah puncak utama sekte, lima berkas cahaya pedang terbang milik para Tetua Aula Penegak Dharma tampak melesat cepat membelah langit malam menuju tebing ini—mereka jelas telah merasakan kematian kedua penjaga tadi.
Mo Chen tahu, dengan kondisinya yang buta dan terluka oleh racun lama, ia tidak mungkin membawa Lin Xuan kabur dari kepungan lima tetua sekaligus. Namun jika Lin Xuan tertangkap kembali oleh Gu Tianheng, jiwanya pun akan dihancurkan agar tak menyisakan bukti.
Dengan keputusan cepat, Mo Chen mengeluarkan sebutir pil berwarna merah tua yang memancarkan aroma darah naga—Pil Penahan Nyawa Seribu Tahun, harta terakhir yang ia simpan untuk memperpanjang umurnya sendiri—dan memasukkannya ke dalam mulut Lin Xuan. Ia juga menyelipkan pedang besi patahnya ke dalam genggaman tangan pemuda itu.
"Xuan'er, bertahanlah!" bisik Mo Chen cepat sambil menepuk dada Lin Xuan dengan telapak tangannya, mengalirkan Qi pelindung untuk membungkus jantung pemuda itu. "Di dasar Jurang Tulang Iblis, tiga ribu tombak di bawah lapisan miasma, ada arus sungai bawah tanah yang mengarah keluar pegunungan. Pilku akan menahan nyawamu selama tiga jam! Hiduplah, Xuan'er... apa pun yang terjadi, tetaplah hidup!"
Tepat saat teriakan marah para tetua sekte terdengar dari langit di atas tebing, Mo Chen mendorong tubuh Lin Xuan jatuh ke dalam kegelapan Jurang Tulang Iblis, lalu berbalik seorang diri menghadap lima cahaya pedang yang datang menyerbu untuk membeli waktu bagi muridnya!
"Guru...!"
Bisikan lemah itu tercekat di tenggorokan Lin Xuan saat tubuhnya melayang jatuh menembus kabut hitam yang pekat.
Angin menderu di telinganya bagaikan lolongan ribuan hantu. Begitu tubuhnya menembus lapisan kedua kabut jurang, Miasma Iblis Kuno yang sedingin es langsung menerjang kulitnya, merobek pakaiannya dan mengikis dagingnya. Hanya kehangatan dari Pil Penahan Nyawa pemberian Tetua Mo Chen yang menjaga jantungnya tetap berdetak.
Entah berapa lama ia jatuh menembus kegelapan tanpa dasar itu.
BRAAAK!
Tubuh Lin Xuan akhirnya menghantam tumpukan tulang-belulang raksasa yang mencuat di tepi sungai berair hitam pekat di dasar jurang. Tulang rusuknya patah, darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi dada dan tanah hitam di bawah tubuhnya.
Di dalam keheningan dasar jurang yang mencekam, detak jantung Lin Xuan melemah... deg... deg... hingga akhirnya berhenti.
Namun tepat pada detik jantungnya berhenti berdetak, darah hangat yang mengalir dari luka di bekas Dantian-nya merembes turun melalui celah tumpukan tulang purba, menetes tepat ke atas sebuah benda perunggu kusam yang telah terkubur di sana selama seratus ribu tahun.
Tetes.
Seketika itu juga, waktu di seluruh dasar Jurang Tulang Iblis seolah berhenti berputar.
DENG—!
Sebuah dengungan kuno yang berat, seolah berasal dari awal mula penciptaan semesta, bergema di dalam kepala Lin Xuan. Benda perunggu di bawah tumpukan tulang itu—sebuah lentera tua berukir naga emas di sisi kanan dan gagak hitam di sisi kiri—tiba-tiba menyala dengan seberkas api berwarna abu-abu senja!
Lentera itu melayang naik, menembus masuk ke antara kedua alis Lin Xuan, dan bersemayam tepat di tengah lautan kesadarannya!
Di dalam kegelapan pikirannya, Lin Xuan melihat sebaris aksara kuno berwarna emas dan hitam yang terukir di dinding lentera tersebut:
Cahaya Dewa adalah fana, Kegelapan Iblis adalah fana. Ketika Senja tiba, Dewa dan Iblis kembali menjadi abu. Barang siapa yang mati di antara keputusasaan langit dan kebencian bumi, layak menyalakan Lentera Abu Senja!"