Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5_Pengkhianatan teman masa kecil
[Kilas Balik]
3 Tahun Yang Lalu. Taman Belakang Istana.
Matahari sore menggantung rendah. Cahayanya keemasan, menembus sela-sela daun dan jatuh ke rumput yang masih basah dan lembut.
Udara hangat. Burung-burung berkicau pelan di atas pohon. Suasana damai.
Terlalu damai untuk tempat yang bernama istana.
Langkah ringan mendekat. Cepat. Riuh dan ceria.
*Tap... tap... tap...*
Seorang gadis kecil berlari ke arahnya. Rambut pirang panjangnya berkibar tertiup angin.
Gaun putihnya bersih tanpa noda. Senyumnya lebar sampai ke mata, tulus.
"Heii!! Kamu!! Mau jadi temanku??" Suaranya cerah. Matanya berbinar. Tidak ada jijik. Tidak ada takut. Hanya senyum.
Waktu itu aku baru berumur 4 tahun. Tubuh kurus. Bajuku kotor, penuh debu dan jahitan tambalan yang kasar.
Dia anak selir. Anak haram. Anak yang bahkan nama lengkapnya tidak pernah disebut di istana.
Aku langsung mundur selangkah. Punggungku menegang, bahuku naik menahan diri.
"Aku tidak percaya siapapun. Kecuali Ibu." Suaraku dingin. Aku memaksa diriku percaya itu. Lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah kaku.
Tapi langkah kecil itu tidak berhenti. Mengikutiku dari belakang. Sabar. Tidak memaksa.
"Aku mengerti..." suara itu pelan, tapi jelas terdengar di punggungku. "Kamu pasti lelah kan."
"Selalu dilihat oleh orang. Selalu diomongin oleh orang lain."
"Tapi asal kamu tau saja, aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan."
"Lagipula harusnya mereka tidak berbicara seperti itu, karena semua adalah keluarga kan."
Aku berhenti. Tidak menjawab. Dadaku sesak, tenggorokanku tercekat.
Dari sudut mataku, aku hanya melihat gadis itu berdiri di sana.
Senyumnya masih ada di sana. Tulus. Hangat. Tidak meminta apa-apa.
Senyum yang tidak pernah aku dapat dari aula istana yang dingin dan penuh bisik-bisik busuk itu.
Senyum yang membuat dadaku terasa sangat perih dan hangat bersamaan.
_...mungkin. Mungkin hidupku bisa berubah kalau bersama dia._
*DERAK*
[Akhir Kilas Balik]
Tanganku mengepal sekuat tenaga. Kuku menancap ke telapak tangan sampai darah hangat menetes dan perih.
*Krek...*
Rasa sakit itu nyata. Itu yang membuatnya tetap waras dan tidak hancur di tempat.
_Sudah saatnya. Pergi dari kerajaan ini. Aku tidak peduli lagi._
_Kalau bisa... kalau bisa aku hancurkan tempat ini sampai rata dengan tanganku sendiri._
"TIDAK MUNGKIN!! WANITA ITU... FLORA??" Sebuah teriakan membelah keramaian. Parau. Putus asa dan tidak percaya.
Bukan sorak kemenangan yang menggema di alun-alun.
Tapi kemarahan. Kemarahan rakyat jelata yang selama ini diam.
"KEMBALIKAN MALAIKAT KAMI!!"
"FLORA SELALU MENOLONG KAMI DENGAN MEMBERI MAKAN PADA KAMI!! DIA JUGA YANG SELALU MENGOBATI KAMI!!"
"APAKAH RAJA KERAJAAN INI SUDAH KEHILANGAN AKALNYA?? PADAHAL DIA SENDIRI TIDAK PERNAH MEMEDULIKAN RAKYATNYA!!"
Suara itu bertabrakan satu sama lain. Menggema. Pecah di udara sore.
Rakyat marah. Mereka mengepalkan tangan, beberapa melempar batu kecil ke arah prajurit dengan nekat.
*Duk! Tak!*
Karena kerajaan baru saja membunuh satu-satunya orang yang pernah menoleh pada mereka.
Satu-satunya orang yang pernah memberi roti tanpa meminta imbalan apapun.
"Rambut hitam... mata kuning itu... jangan-jangan..." Mata seorang pedagang tua menyipit, menatap lurus. Menembus keramaian.
Tatapannya berhenti tepat di celah gang gelap tempat aku bersembunyi.
Darah di tubuhku langsung dingin. Jantungku serasa berhenti.
Napasku tertahan. Tanpa suara, aku berlari secepat yang kubisa.
*Tap! Tap! Tap!*
Jantungku menghantam rusuk dengan keras. Aku menyusup di balik gerobak pedagang yang penuh debu.
Dengan cepat aku mengangkat tutup tong kayu kosong, menggulung tubuh kurusku masuk ke dalamnya, lalu menutupnya lagi dari dalam dengan gemetar.
*DUK*
Gelap.
Pengap.
Bau kayu busuk, apek, dan keringat bercampur jadi satu. Udara di dalamnya tipis dan panas.
Di dalam gelap itu, akhirnya aku tidak bisa menahan lagi.
Air mata jatuh tanpa suara. Panas. Bahuku bergetar hebat, tidak bisa kukendalikan.
Aku menggigit bibirku sendiri sampai terasa darah yang asin di lidah, agar tidak ada suara tangis yang keluar.
_Maaf, Ibu..._
_Isakku tertahan di tenggorokan. Dadaku sangat sesak, sakit._
_Aku tidak bisa menyelamatkan Ibu..._
_Maaf... aku masih... aku masih tidak bisa percaya siapapun..._
Aku sudah belajar menahan tangis sejak umur 5 tahun.
Karena di Vain, anak yang menangis di jalanan akan diincar lebih dulu dan dianggap mangsa.
Tangan kananku meraba sisi tong yang dingin dan kasar.
_Aku akan pergi._
_Tapi aku ingin tahu alasannya. Siapa yang menyuruhnya?? Kenapa harus Ibu??_
_Kalau aku menemukannya... kalau aku tahu kebenarannya..._
_mungkin aku bisa ubah nasibku. Dengan tanganku sendiri._
Genggamanku mengeras. Kuku kembali menancap ke telapak sampai berdarah.
Di dalam kegelapan yang pengap itu, sebuah sumpah terukir dalam diam.
Sumpah seorang anak yang hampir kehilangan seluruh hidupnya.