Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - BALAS DENDAM DENGAN JAMU
Dua hari aku dan Mbok terbaring lemas di Paviliun Mawar karena pusing berputar-putar akibat madu hutan campur getah kecubung dari Ibu Suri.
Dua hari itu, Segara El-Bhumi tidak pernah meninggalkan Paviliun Mawar. Dia tidur di kursi samping ranjangku, dia yang menyuapi ku air kelapa muda, dia yang mengganti kompres di dahiku, dan dia yang memarahi Tabib Ageng karena arang aktifnya bekerja terlalu lambat.
"Kau bilang arang aktif itu penawar racun dewa! Kenapa sudah dua hari Permaisuri Sejati ku masih pusing?!" bentak Segara pada Tabib Ageng yang gemetar.
Tabib Ageng berkeringat dingin. "Ampun, Gusti Kaisar, madu campur getah kecubung itu bukan racun mematikan, Gusti. Racunnya menyerap di darah dan membuat pusing berputar. Arang aktif hanya bisa mengeluarkan racun yang masih di perut, Gusti. Yang sudah di darah harus menunggu sampai tubuh mengeluarkannya sendiri lewat keringat dan air seni, Gusti."
Mendengar itu, Segara langsung menyuruh semua pelayan membawakan air putih hangat sebanyak-banyaknya ke Paviliun Mawar.
"Minum, Kahiyang. Minum yang banyak biar racunnya keluar lewat air seni," katanya sambil membantu ku duduk dan meminumkan air putih hangat dengan sabar, seperti menyuapi anak kecil.
Aku yang masih pusing, hanya bisa mengangguk lemah. "Gusti Kaisar... bau air putihnya seperti bau madu... saya mual, Gusti."
"Jangan manja, minum," jawabnya dengan suara dingin tapi tangannya lembut mengelus punggungku agar tidak mual.
Hari ketiga, pusingku mulai hilang. Dunia tidak lagi berputar-putar. Aku bisa duduk tegak tanpa memegang pilar. Mbok juga sudah bisa berdiri dan memasak bubur lagi, meski masih sedikit sempoyongan.
Pagi hari ketiga itu, saat aku sedang duduk di teras Paviliun Mawar dengan mahkota emas murni ku yang sudah dibersihkan oleh Segara dan diletakkan di kepalaku lagi, Ibu Suri datang.
Tidak dengan pengawal. Tidak dengan senyum kemenangan. Dia datang sendirian, dengan jubah ungu sederhana, tanpa perhiasan, dan wajah yang terlihat sangat lelah dan tua.
Di tangannya, dia membawa nampan kecil dengan satu mangkuk bubur sumsum putih lagi. Sama seperti tiga hari yang lalu.
Semua pengawal di depan Paviliun Mawar langsung siaga dan menghunus setengah pedang mereka, karena mereka masih ingat kejadian madu beracun tiga hari lalu.
Segara yang sedang duduk di sampingku sambil mengupas buah salak untukku, langsung berdiri dan berdiri di depan ku, melindungi ku dari Ibu Suri dengan tubuhnya yang bidang.
"Ibu, untuk apa Ibu datang lagi? Apa Ibu ingin memberikan madu lagi? Cukup, Ibu. Kahiyang masih pusing karena madu Ibu," kata Segara dengan suara dingin, dingin sekali, lebih dingin dari saat dia menjadi Kaisar Tanpa Hati dulu.
Ibu Suri tidak menjawab bentakan Segara. Dia hanya menatapku yang duduk di teras dengan mahkota emas dan wajah yang masih pucat, lalu dia bersimpuh. Bersimpuh di tanah berdebu di depan teras Paviliun Mawar ku.
Satu Paviliun hening.
Ibu Suri, wanita paling berkuasa di Kerajaan Langit setelah Kaisar, yang bahkan para menteri harus bersimpuh padanya, sekarang bersimpuh di depan Paviliun Mawar ku yang sederhana.
"Kahiyang... Anakku Kahiyang Permaisuri Sejati," kata Ibu Suri dengan suara yang bergetar dan air mata yang menetes tanpa dibuat-buat. Kali ini air matanya tulus, bukan drama.
"Ibu minta maaf. Ibu minta maaf karena Ibu sudah memberikan madu campur getah itu. Ibu... Ibu hanya takut, Kahiyang. Ibu takut kehilangan Segara. Sejak kecil, Segara hanya milik Ibu. Tidak ada perempuan yang boleh mendekatinya. Saat ada selir yang mendekatinya, Ibu akan menyingkirkannya dengan cara Ibu. Tapi kau... kau berbeda."
Ibu Suri menangis semakin keras, bahunya berguncang.
"Kau tidak takut pada Ibu. Kau tidak takut pada racun. Kau malah membalas racun Ibu dengan teh mawar dan lipstik surga untuk selir-selir. Kau membuat Segara yang dulu tidak pernah tersenyum, sekarang tertawa dan berani kotor tangannya menggali selokan. Kau membuat anakku menjadi kaisar yang dicintai rakyatnya, bukan ditakuti."
Dia mengangkat nampan bubur sumsum putih itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Ini... ini bubur sumsum yang Ibu buat sendiri pagi ini, tanpa madu, tanpa getah, hanya bubur sumsum putih dan garam sedikit. Ibu sudah memakannya sendiri setengah mangkuk di dapur tadi sebagai bukti tidak ada racun. Jika Anakku Kahiyang masih marah pada Ibu, siramkan saja bubur ini ke kepala Ibu. Ibu ikhlas. Tapi jangan usir Ibu dari istana ini. Ibu sudah tua, tidak punya tempat lain selain istana ini."
Satu Paviliun Mawar terdiam mendengar pengakuan Ibu Suri yang tulus itu.
Aku menatap Ibu Suri yang bersimpuh di tanah berdebu, dengan nampan bubur di atas kepalanya, menangis seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.
Hati manusiawi ku yang dari abad 21 itu luluh lagi.
Aku mencoba berdiri, meski kepalaku masih sedikit pusing, dan Segara langsung membantu ku berdiri.
Aku berjalan pelan mendekati Ibu Suri yang masih bersimpuh, dan aku mengambil mangkuk bubur sumsum itu dari nampannya.
Ibu Suri memejamkan mata, mengira aku akan menyiramkan bubur itu ke kepalanya.
Tapi aku tidak melakukannya.
Aku mengambil sendok dan memakan bubur sumsum putih itu satu suap di depan Ibu Suri.
Rasanya tawar, sedikit asin, tidak manis. Bubur sumsum biasa.
"Ibu Suri, buburnya enak. Tidak perlu pakai madu juga sudah enak," kataku pelan dengan senyum tulus, lalu aku membantu Ibu Suri berdiri dari tanah berdebu itu.
Ibu Suri membuka matanya dengan tidak percaya. Dia menatapku yang memakan buburnya, lalu dia menangis semakin keras dan memelukku.
"Kahiyang... Anakku... maafkan Ibu... maafkan Ibu..."
Aku membalas pelukannya dengan pelan. Di dalam pelukan itu, aku bisa merasakan tubuh Ibu Suri yang gemetar karena menahan tangis dan rasa bersalah selama bertahun-tahun.
Segara yang melihat itu dari belakang, matanya berkaca-kaca. Dia tidak pernah melihat Ibunya memeluk siapa pun sejak ayahnya meninggal. Dan hari ini, Ibunya memeluk permaisurinya.
Setelah pelukan itu, aku punya ide.
Aku menyuruh Mbok mengambil kotak P3K ku yang sudah kosong, tapi masih ada sisa jahe, kunyit, dan gula aren yang aku simpan untuk jaga-jaga.
"Ibu Suri, kalau Ibu ingin menambah tenaga, jangan pakai madu hutan yang keras itu. Pakai jamu ini saja. Jamu kunyit asam buatan saya. Tidak bikin pusing, malah bikin badan hangat dan segar," kataku sambil meracik jamu kunyit asam sederhana di depan Ibu Suri, dengan kunyit yang ditumbuk, asam jawa, dan gula aren.
Aku memberikan jamu itu pada Ibu Suri.
"Minum ini, Ibu. Setiap pagi. Biar Ibu tidak pusing lagi memikirkan cara menyingkirkan saya," kataku dengan nada bercanda, santai, tapi ngena.
Ibu Suri yang mendengar candaan ku itu, tertawa sambil menangis. Tawa pertamanya yang tulus di depan ku.
"Anak nakal, Kahiyang. Kau membalas racun Ibu dengan jamu," kata Ibu Suri sambil meminum jamu kunyit asam itu sampai habis. "Enak. Asam manis segar. Lebih enak daripada madu hutan itu."
Sore itu, Ibu Suri pulang dari Paviliun Mawar ku tidak dengan wajah pucat dan malu seperti tiga hari lalu, tapi dengan wajah yang segar karena jamu kunyit asam, dan dengan nampan kosong di tangan.
Segara yang melihat Ibunya pergi, mendekatiku dan berbisik, "Kahiyang, kau membalas dendam dengan jamu? Itu balas dendam paling aneh yang pernah aku lihat. Biasanya orang membalas racun dengan racun lagi."
Aku tersenyum dan memakai lagi mahkota emas ku yang sempat miring karena memeluk Ibu Suri.
"Di dunia saya, Gusti Kaisar, balas dendam terbaik bukan dengan racun. Tapi dengan membuat musuhmu menjadi temanmu yang meminum jamu buatanmu setiap pagi," jawabku.
Segara tertawa dan mencubit pipi ku pelan. "Permaisuri Sejati ku memang aneh, tapi anehnya itu yang membuatku tidak bisa tidur tanpa memastikan kau ada di Paviliun Mawar."
Di kepalaku, Sistem cadangan yang sudah hampir mati itu berbunyi untuk terakhir kalinya dengan suara yang jernih.
[MISI TERAKHIR: MENGUBAH IBU SURI MENJADI IBU - BERHASIL!]
[SISTEM AKAN MATI TOTAL - HOST SUDAH MENJADI PERMAISURI SEJATI SELAMANYA - TERIMA KASIH SUDAH MENJADI KAHIYANG]
Setelah itu, tidak ada lagi bunyi Sistem di kepalaku. Hening total. Tidak ada lagi misi, tidak ada lagi hadiah, tidak ada lagi peringatan racun.
Hanya ada aku, Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, dengan mahkota emas murni di kepala, jamu kunyit asam di tangan, dan Segara El-Bhumi di sampingku yang masih mengelus punggungku agar tidak mual lagi.
Alurnya memang santai hari ini, hanya bubur sumsum dan jamu kunyit asam.
Tapi ngena sekali, karena jamu yang tawar itu, berhasil menghapus dendam bertahun-tahun antara Ibu Suri dan Permaisuri Mawar, dengan cara yang paling sederhana: memaafkan dan meminum bersama.
Dan mulai hari itu, setiap pagi, Ibu Suri akan datang ke Paviliun Mawar bukan untuk membawa madu beracun, tapi untuk meminta jamu kunyit asam buatannya Permaisuri Sejati.