Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Begitu tiba di rumah sakit, Ivy langsung bergegas menuju kamar tempat Edgar dirawat. Langkah kakinya nyaris tak sabar menunggu pintu ruangan itu terbuka.
Dan ketika akhirnya ia melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang terbaring di atas ranjang.
Edgar.
Pria itu sudah sadar, matanya terbuka, menatap ke arahnya dengan senyum hangat yang begitu dirindukannya.
Senyum sederhana itu seketika meruntuhkan seluruh pertahanan Ivy.
Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar, sementara dadanya terasa sesak oleh luapan emosi yang selama ini ia pendam seorang diri.
"Edgar ..."
Hanya nama itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Edgar tersenyum lebih lebar saat melihat wanita yang dicintainya berdiri di ambang pintu dengan mata basah oleh air mata.
"Ivy ..."
Mendengar suaranya, Ivy tak mampu lagi menahan diri.
Ia segera menghampiri ranjang Edgar, lalu menghambur ke dalam pelukan pria itu dengan hati yang dipenuhi kerinduan. Kedua tangannya melingkar erat di tubuh Edgar, seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar berada di hadapannya dan bukan sekadar bayangan yang selama ini hadir dalam mimpi-mimpinya.
Tangis Ivy pun pecah.
Bukan tangisan biasa, melainkan tangisan seseorang yang akhirnya bisa melepaskan ketakutan, kecemasan, dan kesedihan yang telah menumpuk selama berminggu-minggu.
"Edgar...hiks..."
Ia menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, mencengkeram pakaian rumah sakit yang dikenakannya.
"Aku pikir...aku pikir kamu tidak akan pernah bangun lagi..."
Suara Ivy terdengar patah-patah di sela isak tangisnya.
Edgar terdiam sejenak, ada rasa perih yang menjalar di hatinya ketika menyadari betapa besar penderitaan yang telah dialami wanita itu selama dirinya tak sadarkan diri.
Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap punggung Ivy, berusaha menenangkan wanita yang kini menangis dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Ivy," bisiknya lirih. "Maaf karena sudah membuatmu menunggu begitu lama."
Ivy menggeleng kuat-kuat tanpa melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa...tidak apa-apa, Edgar. Aku tidak peduli berapa lama kamu tidur. Aku hanya ingin kamu bangun."
Suaranya kembali bergetar.
"Aku hanya ingin kamu kembali kepadaku."
Jari-jari Ivy semakin erat mencengkeram pakaian Edgar.
"Aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai lagi. Aku tidak sanggup mengalaminya sekali lagi," Lirih Ivy.
Mendengar pengakuan itu, senyum Edgar perlahan memudar. Ia dapat merasakan betapa besar ketakutan yang tersembunyi di balik kata-kata Ivy.
Selama ini, wanita itu mungkin terlihat kuat. Ia mampu menghadapi berbagai kesulitan, melatih dirinya menjadi lebih tangguh, bahkan mempelajari cara menggunakan senjata untuk melindungi diri.
Namun, di hadapannya, Ivy tetaplah seorang wanita yang memiliki ketakutan sederhana—kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya.
Dan Edgar tidak ingin menjadi alasan di balik air mata itu lagi.
Perlahan, ia melonggarkan pelukan mereka, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah Ivy.
Ivy mendongak.
Tatapan mereka bertemu.
Dengan ibu jarinya, Edgar menyeka air mata yang membasahi pipi wanita itu. Sentuhannya begitu lembut, seolah Ivy adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini dan harus dijaga dengan sepenuh hati.
"Hei, lihat aku," ucap Edgar pelan.
Ivy menatapnya dengan mata yang masih basah.
"Aku di sini, Ivy. Aku sudah kembali."
Edgar tersenyum tipis, lalu menatapnya dalam-dalam.
"Aku tidak tahu berapa lama lagi kita akan menghadapi kesulitan di masa depan. Tapi ada satu hal yang ingin kamu ketahui."
Ia mengusap pipi Ivy sekali lagi.
"Aku tidak akan dengan sengaja meninggalkanmu. Aku ingin tetap berada di sisimu, menemanimu melewati hari-hari yang akan datang. Jadi, jangan menangis seperti ini lagi ya."
Air mata Ivy kembali mengalir, tetapi kali ini sebuah senyum kecil mulai muncul di bibirnya.
"Kamu janji?"
Edgar mengangguk tanpa ragu.
"Aku janji."
Ivy menatap wajah pria itu selama beberapa detik. Seolah-olah ia sedang berusaha menghafal setiap detailnya, memastikan bahwa senyum hangat itu benar-benar nyata dan tidak akan menghilang begitu saja.
Kemudian, tanpa diduga, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Edgar.
Singkat.
Lembut.
Namun, cukup untuk membuat Edgar membeku di tempat.
Mata pria itu sedikit membesar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ivy akan mengambil inisiatif untuk menciumnya, terlebih setelah tangisan emosional yang baru saja terjadi.
Ketika Ivy menarik wajahnya, Edgar masih menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Namun, beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Sebuah senyum penuh kebahagiaan menghiasi wajahnya.
Itu adalah ciuman pertama yang diberikan Ivy kepadanya.
Dan entah mengapa, kecupan sederhana itu terasa jauh lebih manis daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Edgar bahkan mendapati dirinya ingin merasakan hal yang sama sekali lagi.
"Ivy..."
"A-apa?" Ivy segera menjawab, lalu buru-buru menundukkan kepalanya.
Wajahnya memerah hebat, bahkan hingga ke ujung telinganya.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" Goda Edgar dengan suara serak yang masih terdengar lemah.
Ivy menggigit bibir bawahnya, malu bukan main.
"Aku...aku hanya..."
Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri lakukan secara spontan?
Melihat tingkah menggemaskan itu, Edgar terkekeh pelan. Namun, gerakan kecil tersebut membuatnya sedikit meringis karena tubuhnya masih terasa lemah.
Ivy sontak mengangkat wajah.
"Edgar! Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," jawab Edgar sambil tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir."
"Tapi kamu baru saja sadar, jangan banyak bergerak dulu!"
Edgar mengangguk patuh, meski senyum jahil masih tersisa di bibirnya.
"Baiklah, aku akan mendengarkanmu."
Ivy mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk di sisi ranjangnya. Ia berusaha menghindari tatapan Edgar yang seolah tak pernah berhenti mengamatinya.
Namun, belum sempat ia menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan, suara Edgar kembali terdengar.
"Ivy."
"Hm?"
"Boleh aku meminta sesuatu?"
Ivy menoleh dengan wajah polos. "Apa?"
Edgar tersenyum, lalu melirik sekilas ke arah bibir wanita itu sebelum kembali menatap matanya.
"Bolehkah aku mendapatkan satu ciuman lagi?"
Seketika, wajah Ivy memerah semakin hebat.
"EDGAR!"
Tawa kecil Edgar pun memenuhi ruangan itu.
Akhirnya, Ivy kembali mendengar suara yang paling dirindukannya.
Suara tawa Edgar.
Di tengah kehangatan itu, Ivy kembali menggenggam tangan pria tersebut erat-erat. Kali ini, bukan karena takut kehilangan, melainkan karena ia akhirnya bisa merasakan kebahagiaan yang sempat ia kira tak akan pernah kembali.
Edgar telah terbangun.
Pria yang dicintainya telah kembali ke sisinya.
Dan bagi Ivy, itu sudah lebih dari cukup
Bersambung
Semangat terus thor👍👍👍
Semangat
Double up ya🤭🤭