Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lilis Baper? 18.
Lampu hijau akhirnya menyala. Dafa segera menarik gas motornya, memecah kerumunan di perempatan jalan yang mulai riuh.
Dia sengaja tidak memacu kendaraannya terlalu kencang. Selain karena pinggangnya masih terasa cenat-cenut akibat mahakarya cubitan Lilis, rintik gerimis di atas kepala mereka mendadak berubah wujud. Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit, langsung menghajar aspal dengan deras tanpa memberi peringatan terlebih dahulu.
"Daf! Teduh dulu, Daf! Ini deras banget!" teriak Lilis setengah histeris. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara hantaman air yang menabrak kaca helm mereka.
Pandangan Dafa ke depan mulai mengabur akibat silau air dan lampu kendaraan lain. Dia mengangguk sekilas, meski tahu Lilis tidak bisa melihatnya. Matanya bergerak lincah menyisir pinggir jalan, mencari tempat yang cukup layak untuk berlindung.
Beruntung, sekitar seratus meter di depan, sebuah halte bus tua yang tampak agak sepi berdiri di bawah lampu jalan. Tanpa pikir panjang, Dafa membelokkan motornya tajam ke kiri dan berhenti tepat di depan halte.
Lilis langsung melompat turun bahkan sebelum Dafa sempat standar motornya dengan benar. Cewek itu berlari kecil menuju area dalam halte yang terlindung atap seng, sambil mengibas-ngibaskan sisa air di lengan seragamnya.
Dafa menyusul sedetik kemudian setelah memarkir motor sport-nya dengan aman.
Begitu sampai di bawah atap, Dafa langsung melepas helmnya, mengacak-acak rambutnya yang agak basah di bagian depan, lalu mengembuskan napas panjang.
Suasana halte sepi.
Hanya ada mereka berdua dan satu bapak-bapak paruh baya yang duduk menjauh di ujung bangku kayu, sibuk memperhatikan layar ponselnya.
Di depan mereka, jalanan berubah menjadi panggung tirai air yang masif.
Suara gemuruh hujan begitu dominan, menciptakan sekat tak kasatmata yang memisahkan mereka dari dunia luar.
"Gila, langsung deras banget," gumam Lilis. Dia melepas helmnya, meletakkannya di atas bangku, lalu mulai sibuk dengan dirinya sendiri.
Rambut kuncir kudanya agak basah di bagian bawah. Bajunya untungnya terlindungi tas ransel yang dia dekap di dada sejak tadi, tapi bagian lengannya tetap terciprat air hingga mencetak warna kain yang lebih gelap.
Dafa berdiri bersandar pada tiang besi halte, memperhatikannya diam-diam.
Sifat protektif yang sempat mereda di lampu merah tadi kini naik lagi ke permukaan. Lilis terlihat... ringkih kalau sedang seperti ini.
Badannya yang mungil tampak agak menggigil karena embusan angin sore yang membawa hawa dingin menusuk tulang.
"Lu kedinginan ya?" tanya Dafa, memecah kecanggangan di antara mereka.
Nada suaranya tidak lagi mengejek seperti di lampu merah tadi. Ada ketulusan yang terselip di sana, jenis nada suara yang jarang Dafa tunjukkan di depan umum.
Lilis menoleh, sempat tertegun mendengar perubahan intonasi Dafa.
Namun dasar gengsinya setinggi langit, dia langsung menggeleng cepat. "Enggak. Cuma kaget aja. Lagian jaket lu kan tebal, harusnya lu yang nanya ke diri sendiri."
"Jaket gue tipis, Lis. Ini cuma jaket parasut buat naik motor," sahut Dafa lempeng. Dia melangkah mendekati Lilis, membuat jarak di antara mereka mengikis hingga menyisakan dua jengkal saja.
Lilis refleks memundurkan langkahnya sampai punggungnya membentur dinding halte. Jantungnya yang baru saja mau tenang setelah insiden cubitan tadi, kini kembali berulah.
Ketukan di dalam dadanya mendadak bersahutan, berlomba dengan ritme jatuhnya air hujan di luar sana,
'Ini anak ngapain makin dekat sih?' batin Lilis.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tangan Dafa bergerak naik ke ritsleting jaket basket berlogo sekolah yang dia kenakan di balik jaket motor.
Dengan gerakan santai namun pasti, Dafa menurunkan ritsleting itu, lalu melepas jaket basketnya yang berwarna hitam-merah tersebut.
Lilis memandangnya dengan dahi berkerut, bingung sekaligus waswas. "Daf, lu ngapain—"
Kalimat Lilis terputus di udara.
Dafa tidak memberikan jaket itu ke tangan Lilis. Alih-alih melakukan hal normal seperti itu, Dafa justru membentangkan jaket basketnya yang lebar, lalu menyampirkannya langsung di atas kepala Lilis. Dia menggunakannya seperti tudung darurat, membungkus kepala, bahu, hingga separuh badan Lilis yang mungil ke dalam kain tebal yang masih menyimpan kehangatan suhu tubuh Dafa.
Aroma parfum khas Dafa langsung menyerbu indra penciuman Lilis, begitu pekat dan memabukkan.
Dafa menahan kedua ujung jaket itu di bawah dagu Lilis selama beberapa detik, memastikan cewek itu terbungkus dengan benar.
Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga Lilis bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di manik mata hitam Dafa.
Ada keseriusan di sana yang membuat Lilis mendadak lupa cara bernapas.
"Pakai. Biar rambut lu nggak makin basah. Entar lu sakit, gue yang repot diamuk nyokap lu," ucap Dafa pelan, nyaris berbisik namun terdengar sangat jelas di telinga Lilis.
Setelah memastikan posisi jaketnya pas, Dafa menarik tangannya kembali, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya, kembali bersandar di tiang dengan tampang sok cuek.
Lilis membeku di tempatnya.
Suasana di dalam kepalanya mendadak blank. Rasa hangat yang menjalar dari jaket Dafa merembes masuk ke dalam kulitnya, menembus hingga ke ulu hati.
Sesuatu di dalam dadanya berdesir hebat. Perasaan ini terlalu kuat untuk diabaikan.
Lilis bisa merasakan pipinya kembali memanas, jauh lebih panas daripada saat di lampu merah tadi. Ini bukan sekadar salah tingkah biasa. Ini adalah momen di mana pertahanannya benar-benar runtuh sekejap.
Lilis... baper. Sangat baper, hingga dia ingin bumi menelannya sekarang juga agar Dafa tidak melihat senyum bodoh yang hampir lolos dari bibirnya.
Namun, tepat saat letupan-letupan manis itu mulai menguasai akalnya, sebuah suara di dalam kepalanya berbisik dengan kejam, menariknya kembali jatuh ke realitas bumi.
'Sadar, Lilis. Jangan bego.'
Lilis mencengkeram ujung jaket Dafa yang kebesaran di tubuhnya.
Matanya menatap aspal basah di depan mereka, mencoba menjernihkan pikiran yang mulai melantur.
Dia harus ingat satu fakta krusial yang mendasari semua kedekatan ini. Hubungan mereka adalah status "pacaran" fiktif yang sedang mereka jalani saat ini. Bukan lahir dari sebuah ketulusan.
Ini semua berawal dari kejadian konyol satu minggu lalu, saat Dafa Mahendra, si cowok populer yang sok tahu itu, salah menembak orang di koridor sekolah.
Karena Dafa yang terlanjur di ujung tanduk saat berhadapan dengan guru BK, cowok itu malah menerima nasibnya sebagai pacar Lilis karena ya memang terpaksa dari pada dihukum karena buat gaduh.
Jadi, semua perhatian ini? Semua perlakuan manis di atas motor dan di halte hujan ini?
Lilis memejamkan matanya rapat-rapat, mengusir rasa hangat yang tadi sempat bersarang di dada nya.
'Ini cuma bagian dari skenario dia,' pikir Lilis pahit. 'Dafa cuma lagi akting jadi pacar siaga karena mungkin aja ada anak sekolah kita yang lewat atau ngeliat.'
Lilis menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali serpihan harga dirinya yang sempat tercecer. Dia menepis jauh-jauh rasa baper yang tidak tahu diri itu.
Hubungan salah tembak ini punya tanggal kedaluwarsa, dan Lilis sadar penuh dengan hal itu.
"Makasih," ujar Lilis akhirnya. Suaranya sudah kembali datar, terkendali, dan dingin seperti biasanya. Dia membetulkan posisi jaket Dafa di kepalanya, menolak untuk menatap mata cowok itu lagi.
Dafa yang menyadari perubahan atmosfer itu hanya menaikkan satu alisnya, sedikit bingung dengan perubahan sikap Lilis yang begitu cepat. Namun, dia memilih diam, kembali menatap tirai hujan yang tampaknya masih enggan mereda dalam waktu dekat.
Di bawah atap halte yang dingin, keduanya kembali terjebak dalam pikiran masing-masing, menutupi debar jantung yang sebenarnya sama-sama berisik.
......................
...****************...
Tbc,