PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 — Kopral Pertama
Pagi berikutnya, delapan nama diumumkan sebagai anggota regu baru Ardan.
Tobin dan Kael, tentu saja.
Farin, yang lengannya sudah mulai sembuh meski masih dibalut. Lalu lima wajah yang lebih asing: seorang pemuda pendiam bernama Bryn yang jarang bicara kecuali diperlukan, dua bersaudara dari kota pelabuhan bernama Ress dan Davo yang selalu berdiri berdekatan seperti bayangan satu sama lain, seorang perempuan bernama Ilsa yang telah bergabung dengan pasukan karena desanya juga hancur seperti Elar, dan seorang lelaki tua bernama Corin yang usianya hampir empat puluh, terlalu tua untuk seorang prajurit biasa tapi terlalu keras kepala untuk berhenti mencoba.
Ardan berdiri di depan mereka semua untuk pertama kalinya sebagai pemimpin, dan untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu beberapa dari kalian mungkin bertanya-tanya kenapa aku, bukan seseorang yang lebih berpengalaman," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
"Jujur saja, aku juga bertanya-tanya hal yang sama."
Beberapa dari mereka tertawa kecil, tegang tapi tulus.
"Yang bisa kujanjikan adalah ini: aku tidak akan memerintahkan kalian melakukan apa pun yang tidak akan aku lakukan sendiri. Dan aku akan berusaha membawa kalian semua pulang, sebanyak yang aku bisa."
Corin, lelaki tua itu, mengangguk pelan. "Itu lebih baik daripada janji kosong tentang kemuliaan, Kopral. Aku sudah cukup sering mendengar itu."
---
Hari-hari pertama sebagai kopral penuh dengan penyesuaian yang canggung.
Ardan harus belajar menyeimbangkan persahabatannya dengan Tobin dan Kael dengan kebutuhan untuk bersikap adil pada seluruh regu, tidak memberikan perlakuan khusus meski mereka teman lama.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri," kata Kael suatu malam, ketika mereka duduk di luar tenda setelah latihan formasi yang melelahkan.
"Kau memperlakukan kami semua sama seperti anggota lain. Itu bagus, tapi kau tidak perlu menjaga jarak dari kami hanya karena sekarang kau memimpin."
"Aku tidak ingin dituduh pilih kasih."
"Tidak ada yang akan menuduhmu begitu," sahut Tobin. "Kau memperlakukan Ilsa dan Corin dengan hormat yang sama seperti kau memperlakukan kami. Itu sebabnya mereka mempercayaimu secepat ini."
Ardan menatap api unggun kecil di depan mereka, memikirkan kata-kata itu.
Sejak menjadi kopral, ia mulai memperhatikan hal-hal yang dulu tidak pernah ia sadari—bagaimana Bryn selalu memeriksa perlengkapannya dua kali sebelum tidur, tanda kecemasan yang tidak pernah ia ucapkan; bagaimana Ress dan Davo saling melengkapi tanpa perlu bicara, hasil dari tumbuh besar bersama sebagai saudara; bagaimana Ilsa menyimpan sepotong kain biru kecil, satu-satunya barang yang tersisa dari rumahnya yang hancur.
Setiap orang membawa kisah mereka sendiri ke medan perang ini. Dan sekarang, kisah-kisah itu menjadi tanggung jawabnya.
---
Ujian pertama kepemimpinan Ardan datang lebih cepat dari yang ia harapkan.
Seminggu setelah promosinya, regu mereka ditugaskan untuk patroli malam di sepanjang tepi sungai, memeriksa tanda-tanda pergerakan musuh setelah serangan besar minggu sebelumnya.
Tugas yang seharusnya rutin berubah menjadi berbahaya ketika mereka menemukan jejak kaki segar di lumpur, mengarah ke sebuah gua kecil di tebing sungai yang jarang diperiksa.
"Bisa jadi pengintai," bisik Ardan, mengisyaratkan regunya untuk mendekat dengan hati-hati.
"Atau bisa jadi jebakan," balas Farin pelan.
Ardan menimbang pilihannya. Protokol mengharuskan mereka melapor dan menunggu bala bantuan sebelum menyelidiki lebih jauh.
Tapi jika itu benar pengintai Ravharn yang mengumpulkan informasi tentang posisi mereka, menunggu bisa berarti kehilangan keunggulan.
"Kael, Bryn, ikut aku. Sisanya, jaga posisi dan bersiap untuk sinyal." Ardan membuat keputusan cepat, mengandalkan insting yang mulai ia percayai. "Kalau dalam waktu sepuluh menit kami tidak kembali, kirim sinyal ke perkemahan utama."
Mereka bertiga mendekati gua dengan hati-hati, senjata siap.
Di dalam, mereka menemukan bukan pengintai bersenjata, melainkan dua pengungsi Ravharn—seorang perempuan tua dan cucunya yang masih kecil, bersembunyi setelah desa mereka di sisi timur sungai hancur akibat pertempuran yang sama yang mereka alami.
Perempuan tua itu gemetar ketakutan saat melihat mereka, mencoba melindungi cucunya dengan tubuhnya sendiri.
"Kami tidak akan menyakiti kalian," kata Ardan pelan, menurunkan tombaknya meski ia tahu itu berisiko. "Kalian aman."
Kael menatapnya terkejut. "Ardan, mereka dari Ravharn—"
"Mereka pengungsi, Kael. Sama seperti aku, sama seperti Ilsa." Ardan berlutut agar sejajar dengan mata anak kecil itu, yang menatapnya dengan campuran ketakutan dan keheranan. "Perang ini bukan salah mereka."
---
Keputusan Ardan untuk membawa kedua pengungsi itu kembali ke perkemahan, alih-alih meninggalkan atau menahan mereka sebagai tawanan, memicu perdebatan di antara para perwira senior.
"Kau membawa musuh ke dalam perkemahan kita," bentak seorang letnan yang tidak Ardan kenal, ketika laporan itu sampai ke telinganya.
"Mereka seorang nenek dan cucunya, bukan prajurit," bantah Ardan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya bergejolak.
"Mereka pengungsi perang, seperti banyak orang Valdren yang juga kehilangan rumah mereka."
Perdebatan itu akhirnya sampai ke telinga Kapten Orwin, yang memanggil Ardan untuk menjelaskan keputusannya secara langsung.
"Kau tahu ini bisa dianggap pelanggaran protokol," kata Orwin, meski nadanya tidak sepenuhnya menghukum.
"Saya tahu, Kapten. Tapi saya tidak bisa membiarkan seorang anak kecil dan neneknya kelaparan di gua hanya karena kewarganegaraan mereka yang salah tempat dalam perang ini yang bukan pilihan mereka."
Orwin menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca. Akhirnya, ia menghela napas. "Halric benar tentangmu. Kau punya bakat peduli yang jarang ditemukan di medan perang." Ia menandatangani sebuah dokumen di mejanya.
"Mereka akan dikirim ke kamp pengungsi di belakang garis, jauh dari zona pertempuran. Keputusan yang benar, meski cara kau mengambilnya sedikit... tidak konvensional."
"Terima kasih, Kapten."
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena masih punya hati nurani di tempat seperti ini." Orwin kembali ke laporannya, isyarat bahwa pertemuan telah berakhir.
"Tapi Ardan—lain kali, laporkan dulu sebelum bertindak. Aku tidak selalu bisa melindungimu dari konsekuensi keputusan impulsif, sebaik apa pun niatnya."
Ardan mengangguk dan keluar dari tenda, menghadapi udara malam yang dingin.
Ia memikirkan wajah anak kecil itu, ketakutan namun akhirnya sedikit tenang ketika mereka memberikan selimut dan makanan.
Ia telah membuat keputusan pertamanya sebagai pemimpin yang bertentangan dengan aturan, didasari sesuatu yang lebih dalam daripada protokol.
Ia tidak tahu apakah itu keputusan yang tepat dalam pandangan semua orang, tapi ia tahu itu keputusan yang bisa ia hidup bersamanya.
Kabar tentang keputusan Ardan menyelamatkan pengungsi Ravharn menyebar cepat di seluruh perkemahan, dan tidak semua orang memandangnya dengan simpati.
"Kudengar Kopral baru kita punya lunak pada musuh," kata seseorang cukup keras untuk didengar ketika Ardan lewat di dekat tenda logistik. Ardan tidak perlu menoleh untuk tahu suara itu milik Garrek, yang ternyata ditempatkan di resimen yang sama, meski di regu berbeda.
"Abaikan dia," bisik Tobin, menahan Ardan yang hampir berbalik.
"Aku sudah biasa," jawab Ardan, meski rahangnya mengeras.
Tapi Garrek tidak berhenti di situ.
Ia sengaja mendekat, menghalangi jalan mereka dengan senyum mengejek yang sudah dikenal Ardan sejak Karhold. "Aku dengar kau bahkan berlutut di depan anak kecil Ravharn, memohon maaf atas nama negaramu sendiri."
"Aku tidak memohon maaf pada siapa pun," jawab Ardan datar. "Aku hanya tidak membiarkan orang tak bersalah kelaparan."
"Orang tak bersalah." Garrek mendengus.
"Mereka semua bersalah hanya dengan menjadi bagian dari bangsa yang membakar desamu, petani. Atau kau sudah lupa?"
Kalimat itu menyentuh sesuatu yang dalam di diri Ardan, luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Untuk sesaat, amarah membakar dadanya, dan tangannya mengepal tanpa sadar.
"Aku tidak lupa," katanya, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku ingat setiap wajah yang hilang malam itu. Tapi aku juga ingat wajah prajurit muda yang kubunuh, yang napas terakhirnya memanggil ibunya. Dia bukan monster, Garrek. Dia orang yang ketakutan, sama seperti aku."
Garrek terdiam sejenak, terkejut oleh intensitas jawaban itu.
Tapi ia cepat memulihkan diri, menyeringai lagi. "Sentimental sekali untuk seorang prajurit. Semoga kelembutan hatimu itu tidak membunuhmu suatu hari nanti."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Ardan dengan dada yang masih bergejolak.
---
Malam itu, di tenda mereka, percakapan itu masih membebani pikiran Ardan.
"Apakah aku salah?" tanyanya pada Tobin dan Kael, duduk dengan lutut ditarik ke dada seperti kebiasaan lamanya sejak kecil. "Membantu mereka?"
"Tidak," jawab Kael tanpa ragu. "Tapi aku mengerti kenapa kau bertanya."
"Garrek benar tentang satu hal," lanjut Ardan pelan. "Mereka membakar desaku. Mereka membunuh keluargaku, mungkin. Bagaimana bisa aku menyelamatkan orang dari bangsa yang sama?"
Farin, yang duduk di sudut tenda mengasah pisaunya, ikut bicara tanpa mengangkat kepala. "Karena bangsa bukan orang, Ardan. Bangsa adalah gagasan. Orang-orang yang hidup di dalamnya, mereka punya wajah, punya cerita, punya alasan sendiri untuk melakukan apa yang mereka lakukan."
"Itu terlalu mudah untuk dikatakan."
"Aku tahu." Farin akhirnya menatapnya. "Tapi aku juga tahu ini: kalau kita mulai membenci setiap orang hanya karena bendera yang mereka bawa, kita tidak lebih baik dari mereka yang memulai semua ini."
Ilsa, yang duduk agak jauh, tiba-tiba bicara, suaranya jarang terdengar tapi selalu tajam ketika muncul.
"Desaku dihancurkan oleh Ravharn juga. Aku kehilangan ayah dan dua saudaraku." Ia menatap kain biru kecil yang selalu ia genggam.
"Tapi aku juga pernah melihat prajurit Valdren membakar ladang petani Ravharn di perbatasan, hanya karena diperintahkan. Perang ini tidak sesederhana kita melawan mereka."
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan tidak nyaman, tapi juga membawa semacam kejujuran yang jarang diucapkan secara terbuka.
---
Beberapa hari kemudian, sebuah insiden terjadi yang memaksa Ardan menghadapi kompleksitas itu secara langsung.
Regu mereka ditugaskan mengawal sekelompok tawanan perang Ravharn yang tertangkap dalam serangan sebelumnya, memindahkan mereka ke kamp tawanan di belakang garis.
Di antara para tawanan, seorang prajurit muda—tidak lebih tua dari Ardan sendiri—terus menatapnya dengan campuran ketakutan dan kebencian.
"Kau yang membunuh saudaraku," katanya tiba-tiba, dalam bahasa Valdren yang terbata-bata, matanya menyala. "Di Sungai Aldis. Aku melihatnya."
Ardan berhenti berjalan, jantungnya berdegup. "Aku tidak tahu siapa saudaramu."
"Rambut cokelat. Bekas luka di dagu. Dia bilang dia akan membawa pulang cerita tentang perang ini untuk anak-anaknya kelak." Suara prajurit itu bergetar, campuran duka dan amarah yang belum terselesaikan.
"Sekarang dia tidak akan pernah pulang."
Ardan tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak ingat setiap wajah yang jatuh di bawah tombaknya—ada terlalu banyak, dan pikirannya secara naluriah melindungi dirinya dari mengingat semuanya secara detail.
Tapi kemungkinan bahwa ia bertanggung jawab atas kematian saudara pemuda ini terasa nyata dan berat.
"Aku menyesal," katanya akhirnya, kata-kata yang terasa tidak cukup tapi satu-satunya yang bisa ia tawarkan.
"Aku menyesal atas semua yang telah direnggut perang ini, dari kedua belah pihak."
"Penyesalanmu tidak mengembalikan saudaraku."
"Aku tahu." Ardan menatap mata pemuda itu, melihat refleksi dari kemarahannya sendiri terhadap prajurit yang membakar Elar. "Tapi itu satu-satunya yang bisa kutawarkan selain kebencian, dan aku sudah cukup kenyang dengan kebencian."
Pemuda itu tidak menjawab, tapi sesuatu di matanya sedikit melunak, meski kesedihan tetap ada.
---
Malam itu, setelah tawanan-tawanan diserahkan dengan aman ke kamp belakang garis, Ardan duduk sendirian di tepi sungai, menatap air yang mengalir tenang di bawah cahaya bulan.
Kapten Orwin menemukannya di sana, dan untuk beberapa saat, keduanya hanya berdiri dalam diam, menatap air yang sama yang telah menjadi saksi begitu banyak kematian di kedua sisinya.
"Kau memikirkan apa yang dikatakan tawanan itu," kata Orwin, bukan pertanyaan.
"Bagaimana Kapten tahu?"
"Karena aku pernah berada di posisimu, bertahun-tahun lalu." Orwin menghela napas panjang.
"Setiap prajurit yang cukup lama bertahan di medan perang akhirnya menghadapi momen itu—ketika mereka menyadari bahwa orang yang mereka bunuh punya keluarga, punya cerita, punya orang yang mencintai mereka, sama seperti prajurit kita sendiri."
"Bagaimana Kapten mengatasinya?"
"Aku tidak yakin ada yang benar-benar 'mengatasi' hal seperti itu, Ardan." Orwin menatap ke seberang sungai, ke arah wilayah Ravharn yang gelap.
"Yang bisa kau lakukan hanyalah memutuskan apa artinya bagimu. Bagi sebagian orang, itu membuat mereka semakin membenci musuh, mengubah setiap kematian menjadi pembenaran untuk kekejaman lebih lanjut. Bagi yang lain..."
"Bagi yang lain?"
"Itu mengajarkan mereka bahwa musuh yang sesungguhnya mungkin bukan orang-orang di seberang sungai ini." Orwin menatap Ardan dengan ekspresi yang sulit dibaca dalam kegelapan.
"Tapi itu pemikiran untuk hari lain, Kopral. Untuk malam ini, cukup ketahui bahwa apa yang kau rasakan—rasa bersalah itu, keraguan itu—itu tandanya kau masih manusia. Jangan pernah kehilangan itu."
Orwin berjalan pergi, meninggalkan Ardan dengan kata-kata yang akan terus menghantuinya dalam bulan-bulan mendatang, benih pertanyaan yang kelak akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan saat ini.