Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekejaman Kirana
Suasana ruang makan seketika berubah sunyi.
Kendra mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan teliti. Ia memeriksa nama pasien, tanggal kelahiran, serta catatan dokter yang tertera di dalam arsip itu, memastikan bahwa dokumen tersebut memang berkaitan dengan Kirana.
Sementara itu, Kirana menatap lembaran kertas di tangan Kendra dengan mata yang perlahan menyipit.
"Kau yakin arsip ini asli?" tanya Kendra dengan suara rendah.
"Ya, Tuan. Saya sudah meminta pihak rumah sakit memeriksa kembali data lama mereka dan mencocokkan identitas pasiennya," jawab Marco tegas. "Catatan tersebut menunjukkan bahwa Nyonya Kirana tidak mengalami masalah yang membuatnya tidak bisa berbicara ketika dilahirkan."
Kendra perlahan meletakkan dokumen itu di atas meja. Tatapannya berubah dingin ketika ia mulai menyusun kemungkinan-kemungkinan yang selama ini belum terpikirkan olehnya.
"Kalau begitu, ada sesuatu yang terjadi setelah Kirana meninggalkan rumah sakit," gumamnya.
Kendra kembali menatap dokumen itu, kemudian mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang semakin serius. "Marco, kalau dia lahir dalam keadaan sehat, berarti racun yang menyebabkan kondisinya itu mungkin diberikan setelah dia dibawa pulang."
Marco mengangguk. "Itu juga dugaan saya, Tuan. Jika hasil pemeriksaan rumah sakit ini benar dan tidak ada catatan medis lain yang menunjukkan sebaliknya, kita perlu menyelidiki siapa saja yang merawat Nyonya Kirana setelah kelahirannya."
"Jika memang kau diracuni setelah meninggalkan rumah sakit, mansion Lin adalah salah satu tempat yang harus kita selidiki," jawabnya.
Kendra masih duduk di meja makan dengan dokumen rumah sakit milik Kirana terbentang di hadapannya.
Kendra mengangkat kepalanya dan menatap Marco yang masih berdiri di samping meja. "Cari pengasuh atau pelayan yang pernah bekerja di mansion Lin ketika Kirana masih kecil, terutama mereka yang mengetahui kondisi Kirana sebelum dia kehilangan suaranya."
"Baik, Tuan" jawab Marco segera.
"Jangan hanya mencari nama mereka dari catatan keluarga Lin," lanjut Kendra dengan nada tegas. "Periksa juga tempat tinggal mereka sekarang, riwayat pekerjaan mereka, dan apakah ada seseorang yang pernah membayar mereka untuk tutup mulut."
Marco mengangguk memahami perintah tersebut. Ia sudah menduga bahwa penyelidikan ini tidak akan mudah, terlebih jika pelakunya memang seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Lin dan berusaha menyembunyikan perbuatannya selama bertahun-tahun.
"Sebenarnya, saya sudah menemukan satu petunjuk mengenai pengasuh yang dahulu merawat Nyonya Kirana," ujar Marco kemudian. "Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, perempuan itu sekarang tinggal di sebuah desa kecil di salah satu provinsi terpencil."
Kendra sedikit menyipitkan mata. "Kau sudah memastikan identitasnya?"
"Saya sedang memastikannya. Saya juga sudah mengirim orang kepercayaan Tuan untuk pergi ke sana dan mencari pengasuh tersebut secara langsung."
Mendengar itu, Kendra mengangguk puas. Ia tahu orang-orang kepercayaannya tidak akan bertindak gegabah, tetapi ia tetap ingin penyelidikan tersebut dilakukan secepat mungkin karena pengasuh itu mungkin menjadi satu-satunya orang yang mengetahui apa yang terjadi pada Kirana ketika masih bayi.
"Bagus. Pastikan orang kita menemukannya sebelum pihak lain mengetahui keberadaannya," perintah Kendra. "Kalau dia benar-benar mengetahui sesuatu, aku ingin mendengar keterangannya secara langsung."
"Baik, Tuan. Saya akan terus memantau perkembangannya dan segera melaporkan begitu ada kabar."
Kendra terdiam sejenak sebelum kembali teringat pada masalah lain yang belum terselesaikan. Ia mengangkat pandangannya kepada Marco, lalu bertanya dengan nada lebih dingin, "Bagaimana dengan dokter yang meninggal itu?"
Marco langsung memahami dokter yang dimaksud oleh atasannya.
"Kami sudah menemukan petunjuk yang mengarah kepada saudara tiri Anda," jawab Marco hati-hati. "Tapi saat kami mencoba menelusuri lebih jauh, sebagian bukti penting ternyata sudah dihancurkan."
Kendra tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan punggungnya pada kursi roda, sementara sorot matanya perlahan berubah semakin dingin.
Sejujurnya, ia sudah menduga bahwa orang yang berada di balik semua itu adalah saudara tirinya sendiri. Sejak kecelakaan yang membuatnya kehilangan kemampuan berjalan, Kendra telah melihat terlalu banyak kejanggalan, dan sikap saudara tirinya yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari keadaan semakin memperkuat kecurigaannya.
"Dia memang selalu pandai membersihkan jejak," gumam Kendra dengan senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan. "Sayangnya, dia terlalu percaya diri sampai mengira aku akan berhenti hanya karena beberapa bukti sudah dihilangkan."
Marco berdiri diam, menunggu perintah berikutnya. Ia tahu Kendra bukan tipe orang yang mudah menyerah, terlebih jika menyangkut seseorang yang diduga telah mencelakainya dan menghilangkan nyawa orang yang mungkin mengetahui kebenaran.
Di samping Kendra, Kirana yang sejak tadi menyimak percakapan mereka akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja. Tatapannya tertuju kepada Marco, lalu beralih kepada Kendra, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan.
Kirana kemudian meraih ponselnya dan mulai mengetik. Setelah selesai, ia mengangkat layar itu agar Kendra bisa membacanya.
Kalau kita tidak bisa menangkapnya dengan bukti yang ada, kita lakukan hal yang sama. Mata dibalas mata, kaki dibalas kaki.
Marco tertegun membaca tulisan tersebut. Ia tidak menyangka perempuan yang selama ini terlihat tenang itu akan mengusulkan sesuatu dengan kejam seperti itu, sementara Kendra justru perlahan mengangkat sudut bibirnya.
Kendra membaca pesan Kirana sekali lagi, kemudian menoleh kepada istrinya. "Maksudmu, kalau dia sudah menghancurkan bukti dan mengira dirinya aman, kita buat dia merasakan akibat dari perbuatannya sendiri?"
Kirana mengangguk tanpa ragu. Jarinya kembali bergerak di atas layar ponsel sebelum ia menunjukkan tulisan berikutnya.
Dia membuat orang lain menderita, lalu bersembunyi di balik kekuasaan dan uangnya. Kalau kita hanya terus menunggu bukti muncul dengan sendirinya, dia akan semakin berani.
Kendra terdiam selama beberapa detik, lalu mengeluarkan tawa rendah yang membuat Marco menoleh kepadanya.
"Aku setuju padamu," ujar Kendra sambil menatap Kirana. "Kalau dia mengira bisa terus mempermainkanku dan lolos begitu saja, sepertinya dia perlu diberi pelajaran."
Kirana membalas tatapannya dengan ekspresi tenang.
Marco berdeham pelan, berusaha mengembalikan pembicaraan pada pekerjaan mereka. "Tuan, apakah ada instruksi khusus untuk menangani saudara tiri Anda?"
Kendra menyandarkan tubuhnya, lalu mengetukkan jari pada sandaran kursi roda. "Buat dia kecelakaan seolah-olah ia mengantuk dalam berkendara dan pastikan kakinya cacat."
"Baik, Tuan."
Kirana lalu mengangkat tangannya pada Marco, kemudian beranjak pergi dari sana. Tak lama Kirana kembali membawa sesuatu.
Gadis cantik itu memberikan dua botol kecil. Marco menerimanya dengan wajah bingung.
Kirana lalu mengetik dan memperlihatkan pada Marco, "Ini adalah racun pelumpuh untuk kaki Harry, dan satunya cairan yang membuat seseorang mengantuk. Tenang saja, meski dicek tak akan diketahui oleh siapapun. Ingat pastikan dia lumpuh atau kalau perlu suruh orang memotong kakinya saat di rumah sakit."
Marco meringis, lalu menjawab, "Baik, Nyonya!"
🤭🤭🤭🤭