Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Palsu!
Julian tidak menjawab dengan kata-kata. Sang Raja memangkas jarak di antara mereka dengan langkah-langkah tegap yang penuh penekanan. Sebelum Aurelia sempat melangkah mundur, tangan kekar Julian yang hangat dan basah meraih kedua bahu Aurelia, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka.
"Kau pikir aku bisa tenang berada di Istana Utama saat bayanganmu terus mengepung pikiranku, Aurelia?" suara bariton Julian terdengar serak, bergetar oleh emosi purba yang tak lagi sanggup ia kekang.
Aurelia menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam yang biasanya sedingin es itu. Di sana, tidak ada lagi ketenangan seorang penguasa; yang ada hanyalah badai obsesi dan gairah yang membakar.
"Hamba hanyalah salah satu selir di papan catur Anda, Yang Mulia," desis Aurelia, mencoba menyunggingkan senyum memikat yang dingin. "Anda tidak seharusnya—"
"Tutup mulutmu tentang papan catur itu!" potong Julian tegap. Jemarinya yang bertulang tegas naik membingkai wajah pualam Aurelia, ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Aurelia yang basah oleh hawa dingin. "Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa kau hanyalah alat politik... bahwa aku hanya memanfaatkankukan kecerdasanmu untuk menghancurkan Faksi Vance. Tapi aku gagal, Aurelia. Aku gagal total."
Dada Julian naik turun berantakan. Napas hangatnya berhembus di atas pipi Aurelia, menyatu dengan keharuman angin hujan.
"Setiap detik yang berlalu, setiap kali kau tersenyum dingin pada pria lain, setiap kali kau mempertaruhkan nyawamu untuk taktikmu... hatiku terkoyak oleh rasa cemas yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku," bisik Julian, suaranya melunak menjadi sebuah pengakuan yang teramat intim. "Kau telah meracuni pikiranku, Aurelia Montclair. Aku tidak bisa lagi berhenti memikirkanmu. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu dari sisiku."
Sentuhan Julian yang hangat dan jujur di bawah gema gemuruh hujan membuat dada Aurelia berdesir hebat. Untuk sejenak, benteng es rasionalitas yang ia bangun sejak kehidupan lalunya terguncang hebat di hadapan pengakuan sang Raja.
Pagi harinya, hujan telah reda, meninggalkan embun dingin di sekeliling Paviliun Timur. Aurelia duduk di depan cermin gadingnya, menatap pendar cincin Blue Sapphire di jemarinya. Pengakuan Julian semalam memang menggetarkan hatinya, namun sebagai seorang strategis, Aurelia membutuhkan jaminan mutlak melebihi sekadar kata-kata cinta. Ia harus menguji sejauh mana kesetiaan Julian, sekaligus memancing Genevieve untuk melancarkan serangan maut yang akan menjadi jebakan terakhir bagi Faksi Vance.
"Apakah seluruh ramuan obat pemalsu denyut nadi sudah siap, Marta?" bisik Aurelia tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.
Marta, yang berdiri di sampingnya dengan wajah tegang, menyerahkan botol pualam kecil berisi cairan berwarna ungu pekat. "Sudah, Nona Muda. Tabib kepercayaan keluarga Montclair menjamin bahwa ramuan ini akan memicu kejang singkat, membuat bibir memucat, dan menghentikan denyut nadi permukaan selama delapan jam tanpa merusak organ dalam."
Selir Vivienne yang baru saja menyelinap masuk mengangguk mantap. "Lady Genevieve telah mengutus pelayan pribadinya untuk menyuap kasim dapur Paviliun Timur pagi ini. Mereka berniat memasukkan racun Lotos Merah ke dalam sup teh hangat Anda menjelang jamuan sore."
Aurelia menyunggingkan senyum maut yang sangat indah. "Sempurna. Genevieve merasa terdesak usai kejatuhan Celeste dan pengakuan dalam perburuan. Ia ingin membunuhku sebelum Perayaan Musim Panas mencapai puncaknya."
Aurelia meminum cairan ungu dari botol pualam tersebut hingga habis, lalu memoles bibirnya dengan sedikit pewarna alami yang pucat. Ia kemudian menuangkan sup teh dari mangkuk emasnya ke lantai, menyisakan sedikit cairan bercampur sampel racun nyata yang diselundupkan Vivienne sebagai barang bukti.
"Saat ramuan ini bekerja sepuluh menit lagi," instruksikan Aurelia seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang berkanopi sutra, "jeritlah sekeras mungkin, Marta. Biarkan seluruh Istana Interior mendengar bahwa putri Montclair telah tewas diracun."
Aurelia memejamkan matanya seraya menahan napas. Efek ramuan dingin mulai merayap di sepanjang pembuluh darahnya, melambatkan detak jantungnya secara drastis hingga tubuhnya terkulai kaku bagaikan mayat. Rencana Kematian Palsu telah dimulai.
Jeritan histeris Marta memecah keheningan Paviliun Timur, bergema melintasi koridor pualam hingga terdengar ke Menara Utama.
"TOLONG! KEADAAN NYONYA MUDA! LADY AURELIA DIRACUN!"
Gema jeritan itu belum sepenuhnya memudar ketika pintu ganda Paviliun Timur dihantam hingga hancur berkeping-keping. Raja Julian menerobos masuk bagaikan badai yang mengamuk. Wajah sang Raja yang biasanya tenang dan berwibawa kini berubah pucat pasi, matanya yang kelam menyala oleh ketakutan yang teramat sangat.
Julian melompati tangga, menyibakkan kelambu sutra ranjang dengan tangan gemetar. Di sana, Aurelia terbaring kaku. Kulit pualamnya memucat bagaikan es, bibirnya kehilangan warna merah alaminya, dan dadanya sama sekali tidak naik turun bernapas.
"Aurelia...?" bisik Julian dengan suara bergetar yang hampir tak terdengar.
Pria perkasa yang tak pernah gentar di padang pembantaian itu berlutut di tepi ranjang. Tangannya yang gemetar meraih jemari Aurelia yang dingin, menggenggam cincin Blue Sapphire yang melekat di jari manis wanita itu. Julian meraba leher dan pergelangan tangan Aurelia, namun tak merasakan sedikit pun denyut kehidupan.
"TIDAK! AURELIA! BUKA MATAMU!" jerit Julian penuh keputusasaan, sebuah raungan emosi yang menggetarkan seluruh isi ruang tidur.
Tabib Utama Kerajaan yang baru tiba bersujud gemetar di lantai. "Y-Yang Mulia... racun ini sangat cepat... denyut nadi beliau telah—"
"DIAM!" tebas Julian dengan mata memerah membara. Sang Raja menarik tubuh kaku Aurelia ke dalam pelukannya, merengkuh kepalanya erat ke dadanya yang bertumpuk penyesalan mendalam.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan, para pengawal dan pelayan menyaksikan tetesan air mata jatuh dari sepasang mata Raja Julian. Air mata sang penguasa menetes membasahi pipi pucat Aurelia. Rasa sakit karena kehilangan wanita yang baru saja ia akui cintanya membakar jiwa Julian hingga ke puncaknya.
"Siapa pun yang melakukan ini..." desis Julian dengan suara bariton yang begitu dingin dan mematikan, bangkit berdiri seraya meletakkan tubuh Aurelia dengan lembut. "Aku akan mencabut nyawanya beserta seluruh keturunannya malam ini juga!"
Amarah membunuh Raja Julian meledak bagaikan gunung berapi. Tanpa menunggu keputusan Dewan Kerajaan, sang Raja memimpin langsung tiga ratus prajurit zirah perak dari Markas Pengawal Rahasia menuju Paviliun Barat—kediaman Lady Genevieve.
Gema dentang sepatu boot berat dan ringkik kuda tempur mengepung seluruh kompleks Paviliun Barat. Pintu gerbang kayu berukir milik Genevieve didobrak hingga hancur oleh ayunan kapak prajurit kerajaan.
"Berani-beraninya kalian merusak kediaman Selir Keagungan!" bentak seorang pejabat dari Faksi Vance yang berdiri di halaman.
SLAS!
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Julian mengayunkan pedangnya, memenggal kepala pejabat itu dalam satu sabetan cepat. Darah menyembur mengotori tanaman mawar Paviliun Barat, membuat para pelayan menjerit histeris dalam ketakutan yang mencekam.
"Cari di setiap sudut! Geledah setiap laci, perapian, dan ruang bawah tanah!" perintah Julian dengan suara menggelegar bagaikan petir. "Siapa pun yang mencoba menghalangi, eksekusi di tempat!"
~ To Be Continue