"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Terhebat Kedua 34.
Langkah kaki Timy membawa dirinya ke lantai dua gedung bimbingan konseling.
Lorong di sini sepi karena hampir seluruh siswa sudah turun ke lapangan untuk upacara.
Timy sendiri sengaja bersembunyi di balik pilar dekat ruang multimedia, mengabaikan teriakan pak satpam di bawah sana.
Kepalanya masih berdenyut hebat. Kertas di saku celananya terasa seperti bara api yang membakar kulitnya.
Saat itulah, dia melihat Naya.
Gadis itu berjalan dari arah tangga menuju koridor kelas dua belas yang sepi.
Naya memakai jaket rajut oversize yang biasa dia gunakan saat mengeluh kedinginan akibat trauma. Jalannya lambat, kepalanya agak menunduk.
Dari jauh, dia masih terlihat seperti Kanaya yang rapuh, gadis yang membuat Timy rela melepaskan Nawang karena takut Naya akan menyakiti dirinya sendiri.
Timy menahan napas. Dia merapat ke dinding, menyembunyikan tubuhnya di balik bayangan tanaman pot besar.
Tiba-tiba, dari arah belokan kelas ujung, terdengar suara benturan keras.
Dua cowok bertubuh besar—anak kelas sebelah yang terkenal sering bikin onar—tengah saling cengkeram kerah baju.
Napas mereka memburu, bersiap melayangkan jotosan. Suasana mendadak tegang.
Logikanya, Naya yang punya riwayat PTSD berat terhadap kekerasan fisik akan langsung histeris, menutup telinga, atau minimal tumbang ke lantai dengan napas memburu.
Timy tahu itu, karena dia pernah melihat Naya "kumat" dengan kejadian yang serupa, dan murid nya itu sama persis dengan yang terjadi sekarang.
Timy bersiap melompat keluar untuk menahan Naya. Namun, langkahnya terhenti.
Naya tidak mundur. Dia bahkan tidak gemetar.
Gadis itu justru mempercepat langkahnya. Wajahnya yang semula tampak sayu mendadak berubah datar, sangat tenang, bahkan cenderung dingin.
Tanpa ragu, Naya menyusup ke tengah-tengah dua cowok yang sedang emosi itu.
Dia mencengkeram lengan salah satu cowok dengan cengkeraman yang terlihat sangat kokoh, lalu mendorong dada cowok satunya lagi dengan telapak tangannya.
"Berhenti. Kalian lagi! Gak kapok? Atau Lo berdua mau diskors minggu ini?" Suara Naya terdengar sangat tegas. Tidak ada getaran ketakutan. Tidak ada nada panik. Itu adalah suara seorang gadis yang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri.
"Ngoceh apa sih lo, Bocah? Minggir!" bentak salah satu cowok.
Naya sama sekali tidak berkedip saat cowok itu mengacungkan kepalan tangan tepat di depan wajahnya. "Gue bilang berhenti, ya berhenti. Lo berdua emang gak kapok masuk ruang tatib ya?"
Kedua cowok itu saling pandang, mendengus kesal, lalu perlahan menurunkan tangan mereka. Dengan sisa umpatan di mulut, mereka berbalik arah dan pergi meninggalkan koridor.
Begitu kedua cowok itu menghilang di belokan tangga, Naya berdiri sendirian di koridor.
Timy terus mengawasi dari kejauhan, matanya tidak berkedip, mencari tanda-tanda sekecil apa pun.
Apakah setelah ini Naya akan terduduk lemas? Apakah dia akan mencari obat di tasnya?
Tidak. Sama sekali tidak.
Naya justru mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat santai.
Dia merapikan jaket rajutnya, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, lalu mengambil ponsel dari saku.
Jari-jarinya bergerak lincah di atas layar.
Sudut bibirnya bahkan terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat asing bagi Timy.
Senyuman seseorang yang baru saja menyelesaikan masalah kecil yang remeh.
Di balik pilar, dada Timy rasanya seperti dihantam palu tak kasatmata.
Seluruh tubuhnya mendadak dingin. Otaknya yang sempat macet kini dipaksa merangkai semua kepingan ingatan selama satu semester ini dengan kecepatan penuh.
Kejadian di rumahnya dua minggu lalu.
Saat itu lampu mati dan ada suara petir. Naya menangis histeris di pojokan, memeluk lututnya, mengaku melihat bayangan masa lalunya yang kelam.
Timy sampai panik setengah mati, memeluk gadis itu, dan membiarkan Nawang menunggu sendirian di halte bus selama tiga jam di tengah hujan deras hingga Nawang jatuh sakit.
Sekarang Timy ingat detailnya: saat dia datang, napas Naya memang memburu, tapi matanya... matanya terlalu waspada untuk ukuran orang yang sedang kehilangan kesadaran akibat serangan panik.
Naya sengaja memastikan Timy melihat air matanya.
Lalu kejadian di mall. Naya tiba-tiba menelpon saat Timy baru saja mau masuk ke dalam mall untuk nonton bioskop dengan Nawang.
Naya menjerit sampai pak rt turun tangan. Timy akhirnya membatalkan janji, mengantar Naya berobat, dan membiarkan Nawang sendirian di mall malam itu.
Malam yang menjadi awal dari retaknya hubungan mereka sampai Nawang akhirnya berada so titik nadir —menyerah dan memilih pergi.
Sekarang Timy sadar. Semua kepanikan itu terlalu pas momentumnya. Semua air mata itu muncul tepat saat Timy sedang berada di titik terdekatnya dengan Nawang.
"Bajingan ya lu, Nay..." bisik Timy pada dirinya sendiri. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara riuh lagu Indonesia Raya yang mulai berkumandang dari speaker lapangan upacara di bawah.
Naya tidak pernah butuh diselamatkan. Dia sudah sembuh total sejak satu tahun lalu, persis seperti yang tertulis di surat medis itu.
Gadis itu hanya butuh Timy kembali ke sisinya, memonopoli perhatiannya, dan dia tahu persis kartu as apa yang harus dimainkan— rasa bersalah Timy sebagai sahabat masa kecilnya.
Rasa muak yang teramat sangat mendadak bergolak di lambung Timy.
Bukan cuma muak pada Naya yang sudah menyusun skenario sekejam ini, tapi muak pada dirinya sendiri yang begitu mudah dibodohi.
Timy menatap Naya yang kini mulai berjalan santai menuruni tangga untuk ikut upacara.
Wajah gadis itu tampak ceria, sangat bertolak belakang dengan "topeng" korban trauma yang biasa dia kenakan di depan Timy.
Naya tidak melihat Timy. Dia berlalu begitu saja, merasa rencananya masih berjalan dengan sangat sempurna.
Sementara di sini, di balik pilar yang dingin, Timy perlahan merosot duduk di lantai lorong yang sepi. Dia meraba saku celananya, meremas kertas laporan medis itu sampai hancur di dalam genggamannya.
Setitik air mata lolos dari sudut matanya, tapi kali ini bukan karena sedih.
Itu adalah air mata kemarahan yang membakar. Timy mengingat bagaimana tatapan terakhir Nawang saat mereka putus. Nawang tidak menangis marah.
Gadis itu hanya menatapnya dengan pandangan lelah, kecewa yang sudah teramat dalam, lalu berkata, "Kita selesai ya, Tim!" Lalu, "Gue cuma sadar, jiwa lu udah nggak di sini lagi. Dan gue nggak mau buang-buang waktu buat mempertahankan orang yang hatinya udah pindah alamat."
Saat itu Timy membela diri dalam hati. Dia pikir dia sedang menyelamatkan nyawa orang. Dia pikir Nawang egois karena cemburu pada gadis yang penyakitan.
Ternyata, dialah orang paling bodoh di dunia ini. Dia membuang perempuan yang mencintainya dengan waras, demi melayani kegilaan seorang manipulator yang egois.
Timy mengepalkan tangannya ke lantai semen sampai buku-buku jarinya memutih.
Rasa bersalah yang selama ini mengikat lehernya seperti tali gantung, mendadak putus begitu saja. Rasa iba itu lenyap, digantikan oleh kekosongan yang dingin dan kalkulatif.
Dia tidak akan langsung melabrak Naya di depan umum. Itu terlalu murah.
Lagipula, dia harus tahu dulu siapa orang yang menaruh amplop ini di lokernya.
Siapa pun orang itu, dia sudah membuka mata Timy dari tidur panjang yang menjijikkan.
Timy berdiri, membuang napas berat, lalu mengusap wajahnya kasar.
Lapangan di bawah sana masih riuh dengan jalannya upacara.
Timy melangkah keluar dari persembunyiannya, menatap koridor kosong tempat Naya berdiri tadi.
'Lo udah selesai main-mainnya, Nay' batin Timy dingin. 'Dan gue... udah selesai jadi pahlawan bodoh lo.'
Sekarang, fokusnya bukan lagi menolong Naya. Fokusnya adalah bagaimana cara dia menghadapi Nawang kembali, meskipun dia tahu, hati yang sudah telanjur hancur menjadi debu mungkin tidak akan pernah bisa direkatkan lagi.
......................
...****************...
Tbc,