Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Bima mengemudikan Lamborghini hitamnya kembali membelah jalanan kota menuju Universitas Nusantara.
Perutnya sudah kenyang dan suasana hatinya cukup bagus setelah makan siang bersama Nadhira.
Mobil mewah itu kembali terparkir dengan mulus di area parkir khusus dosen Fakultas Bisnis.
Bima turun dari mobil dan berjalan santai menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa.
Tujuan Bima sekarang adalah Ruang Dosen Utama untuk mengambil jadwal mengajar sesi sore.
Ruang Dosen Utama di kampus elit ini jauh lebih mewah dari ruang kerja manajer di perusahaan biasa.
Pintu kaca otomatis bergeser terbuka saat Bima melangkah masuk ke dalam ruangan luas ber-AC dingin tersebut.
Di dalam sana, belasan dosen bergelar magister dan doktor sedang duduk di bilik mereka masing-masing.
Semua dosen pria mengenakan setelan jas rapi atau kemeja batik sutra lengan panjang.
Sementara dosen wanita tampil elegan dengan blazer dan perhiasan yang tidak bisa dibilang murah.
Kehadiran Bima yang memakai kemeja flanel pudar berlengan gulung dan celana jins langsung merusak pemandangan ruangan elit itu.
Suara ketikan keyboard dan obrolan pelan mendadak berhenti secara serempak.
Semua mata tertuju pada pemuda asing yang penampilannya lebih mirip tukang kebun kampus tersebut.
"Permisi, apakah Anda tersesat mencari ruang kebersihan?" tegur seorang pria paruh baya dari sudut ruangan.
Pria itu memiliki perut sedikit buncit, kepala setengah botak, dan memakai kacamata berbingkai emas.
Bima menoleh dan mendapati pria itu berjalan mendekatinya dengan wajah sangat tidak senang.
"Saya tidak tersesat, ini Ruang Dosen Fakultas Bisnis kan?" jawab Bima santai.
Pria berkacamata emas itu mendengus kasar dan menyilangkan tangannya di dada.
"Ini memang ruang dosen, dan karena itu orang luar dilarang masuk sembarangan."
"Tolong keluar sekarang juga sebelum saya memanggil petugas keamanan kampus."
Bima menghela napas pelan melihat sambutan yang selalu sama di setiap tempat elit kota ini.
Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan kartu identitas dosen miliknya.
"Nama saya Bima Aditama, dosen pengganti untuk kelas Manajemen Bisnis hari ini."
Pria paruh baya itu merebut kartu identitas Bima dan membacanya dengan mata menyipit tajam.
"Dosen pengganti?" ulangnya dengan nada yang jauh lebih merendahkan dari sebelumnya.
Dia melemparkan kartu itu kembali ke atas meja terdekat dengan kasar.
"Perkenalkan, nama saya Profesor Sudirja, Kepala Program Studi Ekonomi Makro di fakultas ini."
"Saya tidak tahu siapa petinggi kampus yang memasukkan orang sepertimu ke sini."
Profesor Sudirja menatap Bima dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Tapi melihat caramu berpakaian, kamu benar-benar telah merendahkan martabat dan kredibilitas Universitas Nusantara."
Beberapa dosen lain di ruangan itu mulai berbisik-bisik menyetujui ucapan Profesor Sudirja.
Mereka merasa harga diri mereka sebagai kaum intelektual elit ikut tercoreng karena harus satu ruangan dengan pria berflanel lusuh.
"Pakaian hanya selembar kain penutup tubuh, Prof," balas Bima dengan wajah datar tanpa dosa.
"Mahasiswa membayar mahal untuk ilmu yang ada di kepala saya, bukan untuk menonton peragaan busana."
Wajah Profesor Sudirja langsung memerah menahan marah mendengar bantahan dari seorang dosen pengganti rendahan.
"Lancang sekali mulutmu, Anak Muda!" bentak Profesor Sudirja hingga suaranya menggema di ruangan.
"Kamu pikir ilmu bisnis itu bisa dikuasai hanya dengan modal percaya diri jalanan?"
"Ilmu bisnis sejati membutuhkan puluhan tahun riset dan pemahaman mendalam tentang pasar global."
Bima menyandarkan tubuhnya ke dinding kaca di dekat pintu masuk dengan sangat rileks.
Dia sama sekali tidak terintimidasi oleh gelar profesor kebanggaan pria botak di depannya ini.
"Kalau begitu, silakan uji ilmu jalanan saya ini, Prof," tantang Bima santai.
"Tanyakan apa saja yang menurut Anda paling sulit, mari kita lihat apakah kemeja flanel ini menghalangi otak saya berpikir."
Tantangan terbuka itu membuat suasana di Ruang Dosen menjadi sangat tegang dan sunyi.
Para dosen senior saling berpandangan tak percaya melihat keberanian Bima menantang seorang kepala program studi.
Profesor Sudirja tertawa sinis, merasa mendapatkan mangsa yang sangat empuk untuk dipermalukan.
"Baiklah kalau kamu memang mau bunuh diri secara akademis di hari pertamamu."
Profesor Sudirja berjalan kembali ke mejanya dan mengambil sebuah jurnal tebal berbahasa Inggris.
"Ini adalah draf jurnal terbaruku tentang dampak inflasi semu terhadap likuiditas perusahaan rintisan digital."
Dia membanting jurnal itu ke atas meja tepat di depan Bima.
"Jelaskan padaku apa kelemahan fatal dari teori ekspansi kuantitatif jika diterapkan pada model bisnis bakar uang."
"Jika kamu tidak bisa menjawabnya dalam waktu satu menit, kemasi barangmu dan angkat kaki dari kampus ini."
Semua dosen di ruangan itu menahan napas mendengar pertanyaan jebakan tersebut.
Itu adalah studi kasus tingkat doktoral yang bahkan para dosen senior pun butuh waktu berhari-hari untuk membedahnya.
Bima menunduk menatap draf jurnal setebal seratus halaman itu tanpa menyentuhnya sama sekali.
Pengetahuan akademis tingkat profesor di dalam otaknya langsung berputar dengan kecepatan cahaya.