DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: BAYANGAN DI LORONG GANG
Duk! Duk!
Bunyi hantaman kaku pada dinding kamar tidurku itu bergetar tajam, memecah kesunyian malam yang dingin.
Aku mematung kaku di dekat meja rias, menggenggam rapat kunci laci kecil di telapak tangan kananku yang mendadak membeku.
Hawa udara di dalam kamar terasa kian dingin dan berat.
Aroma tanah merah basah bercampur bau kain lembap tua berhembus makin pekat dari celah ventilasi atas jendela.
Bau itu datang begitu cepat, memenuhi rongga dada dan membuat tenggorokanku terasa kering seketika.
Jantungku berdegup keras menghantam dinding dada di balik pakaian tidurku.
Aku melangkah perlahan mendekati dinding papan tempat tidurku yang berbatasan langsung dengan dinding luar lorong samping.
Tanganku terulur ragu, menempelkan telapak tangan kanan pada permukaan semen tebal yang terasa dingin kaku.
Tidak ada lagi suara ketukan susulan yang terdengar di balik dinding.
Keheningan tebal kembali mengendap membisu di lorong samping rumah kami.
Aku menyibak sedikit tirai kain krem jendela, memandangi kegelapan lorong gang di balik jeruji besi rumah sebelah.
Di bawah temaram sinar lampu jalan, bayangan kaku gembok perak di pagar Maya berdiri membisu tanpa ada tanda pergerakan.
Rasa dingin yang menyusup dari balik ventilasi perlahan-lahan memudar terhalau hembusan angin malam.
Aku membiarkan tirai jendela tertutup rapat kembali, lalu memutar selot kunci kamar dari dalam.
Klek!
Aku mematikan lampu utama, melangkah mendekati ranjang kayu jati, lalu membaringkan tubuhku di atas kasur kapuk.
Setiap kali mataku hendak terpejam, ingatan pada sandal jepit biru di teras Maya dan bunyi ketukan kaku di dinding terus berputar di kepala.
Ganjalan di dalam dadaku kian mengeras, menuntut kejelasan yang hingga kini belum terungkap.
Bagaimana mungkin sepasang sandal karet mendadak berada di teras dalam, sementara gembok besi perak tetap terkunci rapat?
Siapa atau apa yang menghantam dinding kamarku dari lorong samping yang seharusnya kosong itu?
Atau jangan-jangan, ada seseorang yang sengaja melintas di lorong gang tanpa berani menampakkan diri?
Pikiran itu membuat tanganku refleks meremas selimut katun tebal di atas dada.
Belasan tahun bekerja di balik meja teller bank telah melatihku untuk selalu teliti terhadap bukti fisik dan pencatatan.
Namun dalam urusan rumah sebelah ini, tidak ada satu pun catatan rasional yang bisa memberi kepastian.
Aku membalikkan posisi tubuhku menghadap dinding kamar.
Di balik dinding tebal itulah, rumah Maya berdiri membisu di dalam kegelapan malam Kota Malang.
Aku memaksa memejamkan mata, memohon perlindungan dalam doa-doa pendek sebelum akhirnya lelah fisik mengambil alih kesadaranku.
Suara nyaring azan Subuh dari pengeras suara mushola gang membangunkan tidurku yang tidak tenang sekitar pukul lima pagi.
Aku segera duduk di tepi ranjang, menyapu peluh tipis yang mengembun di dahi meskipun udara fajar amat dingin.
Setelah menunaikan salat Subuh dan merapikan mukena di lemari, aku melangkah keluar menuju dapur.
Ranti sudah lebih dulu berdiri di dekat kompor minyak, memanaskan air di dalam teko seng tua.
"Selamat pagi, Bu. Tidur Ibu nyenyak semalam?"
Sapa Ranti lembut sembari memalingkan wajah dan tersenum tipis.
"Selamat pagi, Ran. Agak kurang nyenyak, mungkin karena badan Ibu agak pegal habis kerja kemarin,"
Sahutku pelan sembari menyunggingkan senyum hangat.
"Ayo diminum dulu teh hangatnya, Bu, biar badannya agak segaran,"
Ucap Ranti perhatian sembari mengangsurkan cangkir porselen ke hadapanku.
"Matur nuwun ya, Ran. Kamu rajin sekali pagi-pagi sudah siapkan teh,"
Sahutku penuh kasih.
Aku tidak ingin anak bungsuku menangkap kegelisahan yang masih menggelayuti pikiranku sejak semalam.
Rahasia tentang ketukan dinding dan aroma tanah basah tetap kusimpan rapat di dalam dada.
Aku meminum beberapa teguk teh hangat manis itu, merasakan kehangatannya mengalir basah di kerongkonganku.
Kehangatan rasa manis itu memberikan sedikit kesegaran pada tubuhku yang masih kaku.
Dini keluar dari kamar tidur bagian dalam sembari merapikan kemeja kuliahnya.
Putri keduaku itu membawa tumpukan berkas tugas di tangan kirinya, lalu melangkah mendekati meja makan.
"Bu, semalam Dini dengar suara sepeda motor berhenti agak lama di depan gang samping sekitar jam satu malam,"
Kata Dini tiba-tiba sembari menarik kursi kayu jati.
Tanganku yang sedang meraih cangkir porselen seketika berhenti di udara.
Aku memandangi wajah Dini dengan mata terpaku.
"Suara sepeda motor siapa, Din? Mas Rian?"
Tanyaku dengan nada suara yang tertahan dan penuh rasa ingin tahu.
"Dini mboten melihat keluar, Bu, cuma dengar suara mesinnya stasioner sebentar lalu jalan lagi arah jalan raya,"
Jawab Dini polos.
"Tapi suaranya mirip sama motor matik knalpot agak kasar punya Mas Rian."
"Masa iya Mas Rian pulang malam-malam begitu tapi mboten mampir atau buka pintu?" tanya Ranti heran sembari memiringkan kepala.
"Lha iya, Ran, Mbak Dini juga heran. Suara mesinnya berhenti persis di depan gang samping kita," sahut Dini.
Keterangan dari kedua putriku membuat dadaku makin tertekan.
Jika benar Rian pulang pukul satu malam, mengapa ia tidak menyalakan lampu rumah atau menyapa tetangga?
Atau apakah Rian sengaja membiarkan gembok itu terpasang untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan warga gang?
"Ibu juga dengar dari warung depan tadi, petugas penagih iuran kebersihan RT katanya kemarin sore mboten ketemu siapa-siapa di rumah Tante Maya,"
Tambah Dini sembari mengambil sepotong roti.
"Iya, Mbak Dini, tadi malam waktu Ranti siram tanaman di halaman depan, rumah sebelah memang gelap gulita sama sekali mboten ada lampu yang menyala,"
Timpal Ranti.
Berarti bukan cuma aku yang merasa ada yang aneh dengan rumah itu.
Seluruh warga di lorong gang kami mulai merasakan ketidakberadaan tetangga kami itu.
"Ya sudah, nanti kalau kalian berdua mau berangkat ke kampus dan sekolah, jalan lewat depan saja ya, jangan lewat gang samping,"
Pesanku tegas pada kedua putriku.
"Iya, Bu, pasti kami lewat jalan depan,"
Sahut Dini dan Ranti serentak.
Pukul enam lewat lima belas menit pagi, aku mengambil sapu lidi dari sudut dapur.
Aku melangkah menuju pintu samping rumah, mengulurkan tangan meraih kait selot besi dingin.
Klek!
Selot besi tergeser pelan, dan daun pintu kayu kudorong ke luar.
Hawa dingin pagi Kota Malang yang segar meluncur masuk menyapa permukaan kulit wajahku.
Aku melangkah keluar ke lorong semen sempit yang memisahkan dinding rumahku dengan tembok rumah Maya.
Sinar matahari pagi membentang samar di antara celah genteng rumah-rumah warga yang berdiri rapat.
Langkah kakiku yang mengenakan sandal kain tipis mengayunkan sapu lidi di atas permukaan ubin semen.
Suara sabetan lidi berirama teratur memecah sepinya lorong gang.
Srek! Srek! Srek!
Sembari membersihkan guguran daun mangga kering dan serakan pasir halus, mataku bergerak secara perlahan mendekati area pagar besi samping rumah Maya.
Jantungku berdegup agak kencang saat posisiku berjarak dua langkah dari jeruji hijau kusam itu.
Aku menghentikan ayunan sapu lidi, membungkukkan badan sedikit untuk melongok ke arah teras rumah sebelah.
Hawa udara di sekitar jeruji besi terasa amat dingin dan berembun tipis.
Mataku memelototi lantai teras semen di depan pintu kayu rumah Maya.
Lantai teras itu tampak bersih dan kosong melompong.
Sepasang sandal jepit karet warna biru milik Maya yang kemarin sore tergeletak rapi menunjuk pintu kini telah lenyap tanpa bekas.
Aku memegang erat jeruji pagar besi yang terasa membeku di ujung jariku.
Sensasi dingin yang kaku merambat perlahan dari telapak tanganku menuju pergelangan.
Ke mana pasangan sandal itu berpindah dalam rentang waktu semalam?
Apakah Rian benar-benar datang pukul satu malam seperti yang didengar Dini dan mengambil sandal itu, atau ada orang lain yang masuk ke dalam rumah?
Mataku beralih memandangi gembok perak tebal di pintu pagar besi.
Gembok itu masih terpasang kaku di tempatnya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bekas dibuka secara paksa atau diubah posisinya.
Rasa heran dan kecurigaanku kian menebal hingga menusuk bagian dalam dadaku.
Sesuatu yang amat tidak wajar sedang berlangsung di dalam rumah tetanggaku ini, dan pola kejanggalannya kian hari kian rapat.
Saat aku sedang terpaku memandangi gembok pagar, suara langkah kaki berat dari arah gang depan mendekat.
Pak Mul, Ketua RT di permukiman kami, berjalan melangkah masuk ke lorong samping sembari memegang tumpukan surat iuran warga.
Pria paruh baya berusia lima puluh lima tahun yang berwibawa itu menghentikan langkahnya tepat di dekatku.
"Sugeng enjang, Bu Sari,"
Sapa Pak Mul ramah sembari menganggukkan kepala.
"Sugeng enjang, Pak RT,"
Sahutku berusaha merapikan raut wajah agar tetap terlihat biasa.
Pak Mul memandangi gembok perak di pagar rumah Maya dengan kening berkerut dalam.
Tangannya yang memegang map surat mengusap dagunya yang ditumbuhi uban tipis.
"Bu Sari, sampeyan sempat ketemu Mas Rian mboten dalam dua hari terakhir ini?"
Tanya Pak Mul dengan nada penuh rasa ingin tahu.
"Mboten nate, Pak RT. Kemarin sore cuma Tante Maya yang sempat ketemu saya sebentar di pintu samping,"
Jawabku jujur.
Pak Mul menghela napas panjang sembari membetulkan letak kacamata bacanya.
Pandangan matanya menatap pintu depan rumah Maya yang terkunci membisu.
"Iki lho, Bu Sari, sudah dua hari laporan iuran sampah dan keamanan rumah sebelah mboten diserahkan,"
Kata Pak Mul.
"Kemarin petugas pencatat meteran listrik PLN juga cerita kalau mboten bisa masuk ke pekarangan karena pagar digembok rapat dari luar."
Aku mendengarkan penuturan Pak Mul dengan cermat sembari menggenggam erat gagang sapu lidi di tangan kiriku.
Setiap keterangan dari warga dan pengurus RT mengaitkan fakta bahwa rumah sebelah memang sepenuhnya tertutup.
"Apa mungkin Mas Rian sama Tante Maya lagi pergi ke rumah keluarganya ya, Pak?"
Tanyaku memancing informasi tanpa membuka rahasia telepon Yuni.
Pak Mul menggelengkan kepala pelan sembari mendesah.
"Nggih mboten ngertos pasti saya, Bu Sari. Tapi tadi pagi saya sempat telepon ke nomor HP Mas Rian yang terdaftar di catatan RT, ternyata nomornya mboten aktif sama sekali,"
Beber Pak Mul.
"Kemarin waktu saya lewat depan rumahnya sore-sore juga mboten ada suara radio atau tv yang biasanya dinyalakan Mas Rian,"
Tambah Pak Mul.
"Wong kemarin saya juga tanya Pak Wo penjaga warung depan, katanya Mas Rian mboten nate kelihatan beli rokok dari dua hari lalu," seloroh Pak Mul.
"Mboten biasanya Mas Rian menghilang tanpa pamit begini ya, Pak?" tanyaku pelan.
"Pangapunten nggih, Bu Sari, makanya saya bingung. Nanti kalau Bu Sari lihat Mas Rian atau Tante Maya pulang, tolong saya dikabari nggih,"
Pesan Pak Mul sebelum berbalik.
"Nggih, Pak RT, siap pasti saya kabari kalau ada perkembangan,"
Balasku mengangguk.
Pak Mul melangkah pergi menyusuri lorong gang depan, meninggalkan suara gesekan sandal karetnya yang makin menjauh.
Aku membawa sapu lidi kembali ke dalam rumah, lalu mengunci rapat pintu samping dari dalam.
Klek!
Waktu di jam dinding ruang tengah sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit pagi.
Aku bergegas mandi, membersihkan diri, lalu mengenakan seragam resmi kemeja biru tua bertuliskan logo bank swasta tempatku bekerja.
Rok kain hitam panjang dan sepatu pantofel kulit yang bersih kupergunakan.
Aku merapikan kerah kemeja seragamku di hadapan cermin meja rias kamar tidur.
Setelah menyuap beberapa sendok sarapan dan berpamitan dengan Dini dan Ranti, aku meraih tas kerja kulit cokelat di atas meja.
Sebelum melangkah keluar rumah, tanganku meraba kunci laci meja rias di dalam kamar tidurku.
Di dalam laci terkunci itu, nota kelontong bekas berangka 8 tebal dan buku catatan alamat Mbak Yuni tersimpan aman.
Setiap bukti fisik dan kesaksian warga yang kuumpulkan sejak kemarin sore menguatkan keyakinanku bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Aku mengunci pintu depan rumahku dari luar dengan putaran kunci yang mantap.
Klek!
Langkah kakiku yang beralas sepatu pantofel hitam berbunyi teratur menyusuri aspal gang dingin Kota Malang menuju halte bus.
Saat aku melangkah melintasi depan pekarangan rumah Maya, mataku secara refleks melirik ke celah bawah pagar besi hijau yang terkunci gembok.
Langkah kakiku mendadak terhenti total di atas lantai aspal.
Di atas semen teras luar dekat celah pagar yang tadi pagi bersih, kini tercetak sebaris bercak jejak tanah merah basah yang masih segar memanjang lurus menuju pintu rumah Maya.
---