Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Terakhir di Tanah Pengasingan
Langit pagi di atas SMA Pelita Bangsa tertutup kabut tipis berwarna kelabu, seolah mencerminkan atmosfer dingin yang menyelimuti sekolah megah itu. Bagi Juwita, gedung berarsitektur gaya Eropa dengan pilar-pilar pualam tinggi yang dulu ia puji sebagai gerbang menuju cita-citanya, kini tak ubahnya sebuah penjara berwujud megah.
Sejak berita putusan sidang ibunya tersebar di berbagai media massa dan papan pengumuman sekolah, hidup Juwita di SMA Pelita Bangsa berubah menjadi neraka terbuka. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa hormat atau kekaguman atas prestasinya saat memenangkan kompetisi sains nasional. Statusnya sebagai siswi teladan lenyap berganti dengan label yang jauh lebih mengerikan dan kejam: anak seorang pembunuh.
Begitu Juwita melangkah melewati pintu gerbang besi sekolah, keheningan yang mencekik seketika menyapu area lapangan basket utama. Puluhan pasang mata menatapnya dengan kombinasi rasa jijik, takut, dan cemoohan yang transparan. Para siswa yang dulu berebut ingin duduk di sampingnya saat kelas matematika kini sengaja membuang muka, berjalan melingkar menjauhinya seolah-olah Juwita membawa wabah penyakit mematikan.
"Lihat itu... si anak pembunuh datang lagi," bisik seorang siswi berblazer rapi di dekat deretan loker, suara bisikannya sengaja dikencangkan agar terdengar oleh Juwita.
"Kenapa anak seperti dia masih diperbolehkan sekolah di sini, ya? Apa tidak takut tiba-tiba dia membawa pisau dan menyerang kita seperti ibunya?" timpal temannya dengan tawa sinis yang tertahan.
"Ih, seram banget. Harusnya sekolah langsung mengeluarkan dia dari kemarin-kemarin. Malu-maluin nama Pelita Bangsa saja."
Juwita berjalan dengan mata menatap lurus ke depan. Punggungnya tetap ditegakkan, bibirnya terkatup rapat. Namun di dalam dadanya, setiap kata beracun itu meresap bagaikan cuka yang disiramkan di atas luka menganga. Ia mengepalkan jemarinya di dalam saku rok seragamnya, berusaha keras menahan getaran hebat yang merayapi seluruh tubuhnya.
Penderitaan Juwita tidak berhenti pada tatapan dan bisikan tajam. Ketika ia melangkah masuk ke dalam kelas XII-IPA 1, ia menemukan mejanya telah dipenuhi oleh coretan cat semprot berwarna merah pekat: ANAK PEMBUNUH! KELUAR DARI SEKOLAH KAMI! Tas sekolahnya yang ditinggalkan sebentar saat piket pagi telah dilempar ke dalam tempat sampah di belakang kelas, stands risetnya dirusak, dan buku-buku catatannya dibasahi dengan air kotor.
Di sudut kelas, Kevin Aditama duduk di bangkunya dikelilingi oleh para pengikut setianya. Pemuda itu tertawa-tawa santai sambil memainkan ponsel mewahnya, sesekali melemparkan tatapan kemenangan yang begitu dingin dan merendahkan ke arah Juwita. Kevin tidak perlu lagi mengotori tangannya sendiri; kekuasaan uang ayahnya dan stigma sosial telah melakukan pekerjaan kotor itu dengan sangat sempurna.
Juwita tidak menangis. Ia mengambil tasnya dari dalam tempat sampah, membersihkannya dengan kain lap kusam, lalu berjalan menuju ruang kepala sekolah. Ia sudah tidak punya harapan lagi pada keadilan di tempat ini.
Di dalam ruang kerja Kepala Sekolah yang ber-AC dingin dan beraroma parfum mahal, suasana terasa begitu formal dan kaku. Kepala Sekolah, seorang pria paruh baya berjas kemeja licin, duduk di balik meja kayunya tanpa memandang Juwita secara langsung. Di atas mejanya terhampar beberapa lembar dokumen resmi berstempel merah.
"Juwita," ucap Kepala Sekolah dengan nada suara yang dibuat-buat prihatin, namun terasa sangat dingin dan lepas tangan. "Pihak yayasan dan dewan sekolah telah melakukan rapat darurat mengenai statusmu pasca putusan hukum kasus ibumu."
Juwita berdiri tegak di depan meja besar itu, menatap pria yang dulu selalu menepuk bahunya bangga setiap kali ia menyumbang piala untuk sekolah. "Apa keputusannya, Pak?"
Kepala Sekolah berdehem pelan, membetulkan letak kacamata tebalnya. "Berdasarkan pasal poin tata tertib menjaga nama baik almamater, serta pertimbangan stabilitas lingkungan belajar siswa-siswi lain... dengan berat hati kami memutuskan untuk mencabut seluruh fasilitas beasiswa penuh milikmu dari Pratama Corp dan dana hibah sekolah."
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulut sang kepala sekolah, memutus satu-satunya benang tipis yang selama ini menopang pendidikan Juwita.
"Bukan hanya itu," lanjutnya sambil menyerahkan selembar kertas pembatalan, "seluruh hak penggunaan laboratorium komputer utama, akses jaringan server riset, dan surat rekomendasi kelanjutan studi universitas atas namamu secara resmi ditangguhkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Kami tidak bisa membiarkan nama SMA Pelita Bangsa terseret dalam skandal kriminal yang melibatkan orang tuamu."
Juwita menatap lembaran kertas pembatalan beasiswa itu. Tidak ada kejutan. Tidak ada kepanikan. Hanya ada rasa pahit yang meluap di dalam hatinya hingga membakar sisa-sisa rasa hormatnya pada institusi tersebut.
"Jadi..." suara Juwita keluar begitu tenang, sangat tenang hingga membuat Kepala Sekolah sempat menghentikan tangannya yang hendak menandatangani berkas. "Sekolah ini memilih untuk mempercayai kebohongan seorang konglomerat daripada membela siswanya sendiri yang telah berjuang mengharumkan nama sekolah ini?"
Wajah Kepala Sekolah sedikit memerah, merasa tersinggung oleh ketegangan kalimat Juwita. Ia mengetukkan pulpennya keras-keras ke atas meja. "Jaga bicaramu, Juwita! Ini bukan soal siapa yang benar atau salah! Ini soal fakta hukum! Ibumu sudah divonis bersalah oleh pengadilan negeri, dan sekolah memiliki standar moral yang harus dijaga! Jangan mencoba melimpahkan kesalahan keluargamu pada pihak sekolah!"
Juwita menatap pria di hadapannya dengan sorot mata yang begitu tajam dan hampa. Sisa-sisa kehangatan dari seorang gadis muda yang dulu berjuang demi masa depan runtuh tanpa bekas di ruangan itu.
"Bagus," bisik Juwita, suaranya pelan namun bergema dengan otoritas yang menakutkan. "Simpan saja 'standar moral' palsu kalian itu, Pak."
Dengan gerakan yang sangat tenang namun tegas, Juwita meraih pulpen di atas meja, menarik selembar formulir pengunduran diri siswa mandiri, dan membubuhkan tanda tangannya di kolom bawah dengan coretan tebal.
Sret!
Juwita melemparkan lembaran surat pengunduran diri yang sudah ditandatanganinya tepat di hadapan Kepala Sekolah.
"Saya tidak perlu dikeluarkan oleh sekolah yang berdiri di atas uang haram," tegas Juwita, matanya tidak berkedip sedikit pun. "Saya mengundurkan diri. Mulai hari ini, saya bukan lagi bagian dari SMA Pelita Bangsa."
Kepala Sekolah melotot kaget, tidak menyangka gadis miskin di hadapannya akan mengambil keputusan seekstrem itu tanpa memohon atau menangis. "Juwita! Kau pikir dengan keluar seperti ini kau bisa bertahan di luar sana?! Tanpa ijazah dari sekolah ini dan tanpa beasiswa, kau tidak akan jadi apa-apa! Kau cuma anak jalanan dari bantaran rel!"
Juwita tidak membalas teriakan itu. Ia membalikkan tubuhnya dengan anggun, meraih tas sekolahnya, dan melangkah keluar dari ruangan ber-AC itu tanpa menoleh sedikit pun.
Juwita melangkah menyusuri koridor utama untuk terakhir kalinya. Ratusan siswa berkumpul di sepanjang lorong, menyaksikan kepergian sang mantan juara sains yang kini angkat kaki dengan kepala tertunduk dingin. Di ujung lorong dekat tangga utama, Kevin Aditama berdiri bersama kawan-kawannya, menyilangkan tangan di dada dengan senyuman ledekan yang paling puas.
Saat Juwita melewatinya, Kevin melangkah satu sentimeter ke depan, berbisik dengan nada menyindir yang sangat jelas. "Selamat tinggal, Gadis Jenius. Selamat menikmati hidup barumu di tempat sampah bersama ibumu."
Juwita menghentikan langkahnya tepat di samping Kevin. Ia tidak marah. Ia tidak membalas dengan kata-kata kasar. Juwita menoleh perlahan, menatap Kevin lurus ke dalam matanya dengan sepasang mata yang kini tidak lagi memancarkan jiwa seorang gadis sekolah—melainkan sorot mata dingin seorang eksekutor yang sedang menghitung mundur waktu kehancuran musuhnya.
Senyuman ledekan di wajah Kevin mendadak membeku saat menangkap aura mengerikan dari tatapan Juwita. Untuk pertama kalinya, Kevin merasa merinding hingga ke tulang belakangnya.
"Sampaikan pada ayahmu, Kevin..." bisik Juwita dengan suara yang begitu tenang dan halus, namun sanggup membekukan aliran darah pemuda itu. "...bahwa keluar dari sekolah ini bukanlah akhir dari permainanku. Ini adalah momen saat aku melepaskan seluruh aturan main kalian. Sampai jumpa di neraka."
Juwita kembali melangkah maju, menerobos gerbang besi SMA Pelita Bangsa yang terbuka lebar. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi, namun Juwita tidak memperdulikannya. Ia melepaskan blazer seragam sekolah mewahnya, melemparkannya begitu saja ke dalam tong sampah di luar gerbang, lalu melangkah mantap menyusuri jalanan kota Jakarta di bawah guyuran hujan.
Gedung megah di belakangnya perlahan menjauh dan mengecil. Sekolah elit yang dulu ia puja telah membuangnya, beasiswanya telah hilang, dan masa depannya secara akademis telah hancur. Namun saat kaki telanjangnya menapak di atas aspal yang dingin, Juwita merasakan sebuah kekuatan baru yang membakar habis seluruh ketakutannya.
Ia tidak lagi terikat oleh aturan sekolah. Ia tidak lagi terikat oleh etika seorang murid teladan. Di tengah kebangkrutan hidupnya dan jeruji besi yang mengurung ibunya, Juwita resmi meninggalkan dunia lamanya untuk melangkah masuk ke dalam kegelapan yang paling dalam—siap memburu keluarga Aditama hingga tidak ada lagi yang tersisa dari nama besar mereka.