Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kepulangan Isabella dan Misteri Bangkai Monster
Keesokan harinya, Isabella memutuskan untuk segera pulang. Setelah menghabiskan malam di rumah sang kusir, kini saatnya dia melanjutkan perjalanan menuju hutan tempat kedua anaknya menunggu.
Sebelum pergi, Isabella terlebih dahulu berpamitan kepada sang kusir dan istrinya. Dia mengucapkan terima kasih atas kebaikan mereka yang telah memberinya tempat untuk beristirahat semalam.
"Terima kasih karena telah mengizinkanku menginap di rumah kalian, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian." ucap Isabella dengan senyum tipis.
"Tidak perlu berterima kasih, Nona. Kami justru merasa terhormat karena Anda bersedia menginap di rumah sederhana kami." jawab sang kusir dengan sopan.
Istrinya yang berdiri di sampingnya turut mengangguk. "Semoga perjalanan Anda lancar dan selamat sampai tujuan."
Isabella mengangguk kecil sebelum melangkah keluar dari rumah.
Namun, baru saja dia keluar, langkahnya mendadak terhenti. Matanya tertuju pada kerumunan warga yang berkumpul tidak jauh dari rumah sang kusir. Mereka tampak heboh, saling berbicara dengan wajah penuh keterkejutan sambil menunjuk ke arah jalanan.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" gumam Isabella pelan.
Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh warga.
Di sana, tergeletak banyak bangkai monster dengan berbagai bentuk dan ukuran. Sebagian memiliki taring panjang, cakar tajam, serta tubuh besar yang mengerikan. Darah mereka masih membekas di tanah, sementara beberapa pohon di sekitar tempat itu tampak rusak akibat pertarungan yang terjadi semalam.
"Ya Tuhan! Siapa yang mampu membunuh monster sebanyak ini?" Ucap salah satu warga.
"Semalam aku mendengar suara geraman yang sangat mengerikan, tapi aku bahkan tidak berani mendekati jendela untuk melihatnya!" Sambung warga lainnya.
"Aku juga mendengarnya! Suaranya begitu keras hingga membuat anak-anakku menangis ketakutan. Aku pikir monster-monster itu menggeram karena mereka mendapatkan mangsa baru!" Lanjut warga lainnya.
"Tapi siapa yang membunuh mereka? Monster-monster ini bukanlah makhluk biasa. Bahkan para petualang berpengalaman pun belum tentu mampu menghadapi mereka!" Kata salah satu warga di situ.
Berbagai pertanyaan terus bermunculan dari mulut para warga. Tidak seorang pun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi semalam. Mereka hanya mendengar suara geraman dan raungan mengerikan, tetapi tidak ada yang cukup berani untuk keluar dan memeriksanya.
Kini, setelah melihat begitu banyak monster mati berserakan, rasa penasaran mereka semakin besar.
Beberapa warga bahkan mulai berspekulasi bahwa seorang pendekar hebat telah melewati desa mereka. Ada pula yang menduga bahwa sekelompok petualang peringkat tinggi telah memburu monster-monster tersebut.
Namun, tidak satu pun dari dugaan mereka yang benar.
Sebab, orang yang telah menghabisi semua monster itu sedang berdiri tidak jauh dari sana dan orang itu adalah Isabella.
Melihat kegaduhan tersebut, Isabella hanya mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh arti.
"Sepertinya mereka cukup terkejut melihat hasil pekerjaanku semalam." Batin Isabella menyeringai.
Dia hampir tertawa membayangkan betapa hebohnya para warga hanya karena melihat bangkai monster yang ditinggalkannya. Padahal, baginya, menghabisi monster-monster itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan.
Jika saja mereka mengetahui bahwa seluruh monster tersebut telah dikalahkan oleh seorang wanita yang selama ini di anggap lemah oleh seluruh kerajaan, mereka pasti terkejut. Apalagi kalau mereka tau bahwa wanita itu bahkan tidak mengalami luka sedikit pun, entah seperti apa reaksi mereka.
Namun, Isabella sama sekali tidak berniat menjelaskan apa pun. Biarlah mereka menebak-nebak sesuka hati, baginya hal semacam itu tidak penting.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya. Karena baginya hanya ketiga anaknya lah yang lebih berarti. Membayangkan wajah mereka saja sudah membuat Isabella ingin segera kembali, dia tidak tahu apakah ketiga anaknya telah sarapan atau apakah mereka sedang mengkhawatirkannya karena dia belum pulang sejak kemarin.
"Maafkan Ibu karena membuat kalian menunggu." Batin Isabella, Tiba-tiba dia merindukan mereka bertiga, Isabella berharap mereka baik-baik saja di sana.
Senyum tipis muncul di wajahnya, setelah itu Isabella kembali melangkah, meninggalkan kerumunan warga yang masih sibuk membicarakan bangkai monster tersebut.
Dia berjalan menuju hutan dengan langkah mantap. Jubahnya berkibar tertiup angin pagi, sementara sinar matahari menembus celah pepohonan dan menerangi jalan setapak di hadapannya.
Kali ini, dia tidak berniat membuang waktu, Isabella harus segera pulang untuk bertemu ketiga anaknya.
Bagaimanapun juga, setelah semua hal yang terjadi, ada tiga orang kecil yang selalu menjadi prioritas utamanya.
Dan Isabella tidak sabar untuk kembali memeluk mereka.
Bersambung