Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sandiwara di Tengah Gesekan Reputasi
Kejadian aneh di pantry sore itu terus berputar di kepala Raisha seperti pita kaset rusak. Rasa penasaran dan ganjalan di dadanya membuat Raisha tidak bisa fokus bekerja hingga keesokan harinya. Sikap yang susah ditebak yang diperlihatkan Aldo, semakin memenuhi isi kepalanya. 'Dia kenapa, sih?'
Pada jam istirahat makan siang, Raisha menyeret Reno, sahabat cowoknya dari divisi IT ke sebuah kedai makan di area bawah gedung kantor. Reno adalah satu-satunya teman pria di kantor yang paling dekat dengan Raisha, tempat Raisha biasa bersikap lepas tanpa perlu menjaga imej.
"Jadi gitu ren," cerocos Raisha setelah menceritakan seluruh kronologi perbuatannya dan respons aneh Aldo di pantry. Raisha menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja.
"Gue tuh bingung banget! Pas dia nyangka gue punya pacar, mukanya kayak senang dan penasaran gitu. Tapi begitu gue bilang gue single murni... buset, mukanya langsung berubah dingin kayak kanebo kering terus main pergi gitu aja! Maksudnya apa coba?" Raisha merasa kesal.
Reno, yang sedang mengunyah ayam gepreknya dengan santai, menatap Raisha dengan pandangan malas. Sebagai pria yang otaknya sangat pragmatis dan suka asal bicara, Reno tidak butuh waktu lama untuk memberikan analisis ngawurnya.
"Ya elah, Ra. Gitu aja bingung," cetus Reno seraya menyeduh es teh manisnya.
"Ya mungkin dia tanya gitu biar memastikan aja. Kalapun dia tahu lu punya pacar, dia merasa aman karena lu nggak bakal mepetin dia. Tapi begitu tahu lu single... ya dia makin dingin lah, biar nggak dideketin sama lu."
Raisha mendelik tajam, matanya melebar. "Maksud lu gimana?"
"Ya kalau lu punya pacar, dia nggak perlu takut dikejar-kejar sama lu," lanjut Reno tanpa beban, menyeringai jahat.
"Kalau lu single, dia takut ribet kalau keburu dikejar sama lu. Mengingat reputasi lu ya..."
"Sialan!" omel Raisha keras, memukul lengan Reno dengan sendok stainless steel.
"Reputasi gue seburuk itu ya di mata lu?!"
"Lah, emang reputasi playgirl lu ada bagus-bagusnya darimana, Mba Raisha?" balas Reno sambil tertawa terbahak-bahak, menghindar dari pukulan Raisha.
"Satu kantor tahu lu demen gonta-ganti cowok terus diputusin lempeng gitu aja. Ya cowok mana yang nggak jiper?"
"Gue itu bukan gonta-ganti karena jahat, Reno! Gue tuh cuma—"
"Iya, iya, si paling mati rasa," potong Reno cepat, menyentil dahi Raisha pelan.
"Udah ah, makan tuh soto lu. Nanti dingin."
Raisha menjitak kepala Reno gemas sebagai balasan. Momen saling pukul dan tawa lepas itu berlanjut di antara mereka berdua. Bagi siapa pun yang melihat dari kejauhan, keakraban Raisha dan Reno yang tanpa jarak itu terlihat sangat mesra, seperti sepasang kekasih yang sedang asyik bersenda gurau di jam makan siang.
Dan tanpa disadari oleh Raisha, di sudut lain restoran yang agak remang, sepasang mata sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan dalam. Itu Aldo, yang sedang berdiri menanti antrean pesanan bungkusannya. Senyumnya terangkat tipis.
Tiga hari berlalu setelah insiden di kedai makan siang itu. Raisha berusaha keras untuk tidak terlalu memikirkan perkataan Reno yang menyesakkan dada, meski rasa kecewanya pada sikap Aldo masih tersisa. Raisha sempat sadar diri juga, dirinya harusnya tidak ada hak untuk merasa kecewa, mungkin dirasa karena sikap Aldo tidak sesuai yang diharapkan, maka timbul perasaan kecewa itu.
Suatu siang, Raisha kembali pergi ke pantry untuk mencuci kotak bekalnya. Saat sedang membilas kotak plastik di bawah kran air, pintu pantry terbuka dan sosok Aldo muncul.
Raisha refleks menegang, berniat untuk segera merapikan barangnya dan menyapa formal lalu pergi. Namun sebelum Raisha sempat menyapa, Aldo sudah melangkah mendekat.
Yang mengejutkan, raut dingin Aldo dari beberapa hari lalu telah menguap tanpa bekas. Sikapnya kembali sangat ramah, hangat, dan dipenuhi senyuman manis yang memikat.
"Hai, Ra," sapa Aldo lembut, berdiri di samping tempat cuci piring.
"Eh... hai, Al," balas Raisha ragu.
Aldo memperhatikannya sebentar, memiringkan kepalanya dengan gestur santai. Tanpa ada angin atau hujan, dan tanpa basa-basi yang panjang, Aldo tiba-tiba melontarkan sebuah ajakan yang sukses membuat jantung Raisha berhenti berdetak seketika.
"Weekend ini kamu ada acara nggak?" tanya Aldo. "Kalau nggak ada, nonton yuk berdua? Ada film baru bagus di XXI."
Raisha membeku di tempatnya. Matanya membelalak menatap Aldo. Rasa kaget luar biasa bercampur dengan gelombang kebahagiaan yang sangat besar langsung membumbung tinggi di dadanya. Semua dugaan buruk Reno hancur berkeping-keping detik itu juga.
"Nonton... berdua?" ulang Raisha memastikan.
Aldo tersenyum makin lebar, mengangguk pelan. "Iya, nonton berdua sama aku. Mau kan?"
"Mau!" jawab Raisha cepat, bahkan sedikit terlalu cepat dari yang seharusnya.
Aldo terkekeh halus melihat kepolosan reaktif Raisha. "Oke. Nanti aku chat ya buat jamnya."
Raisha mengangguk dengan binar mata yang memancarkan rasa senang yang tak lagi bisa disembunyikan. Hatinya yang selama ini dingin serasa disiram oleh kehangatan yang sangat manis.
Hari Sabtu yang dinantikan akhirnya tiba.
Raisha menghabiskan waktu hampir dua jam di depan cermin apartemennya hanya untuk memilih pakaian, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya dalam hidupnya. Dia akhirnya memilih gaun kasual berwarna krem yang simpel namun menonjolkan bentuk tubuhnya yang jenjang, dengan riasan wajah tipis yang alami.
Mereka janjian di sebuah mal megah di pusat kota. Tempat tujuan pertama adalah XXI untuk menonton sebuah film komedi romantis yang sedang hangat dibicarakan.
Sepanjang acara menonton dan berjalan di koridor bioskop, sikap Aldo benar-benar sempurna. Pria itu bertindak sangat hangat, perhatian, dan manis. Dia membelikan popcorn ukuran besar, membukakan pintu bioskop untuk Raisha, dan beberapa kali membisikkan lelucon kecil di tengah film yang membuat Raisha tertawa lepas.
Perlakuan hangat itu terasa begitu intens. Di mata Raisha, Aldo bersikap seolah-olah dia sedang memainkan peran sebagai seorang kekasih yang protektif dan penuh kasih sayang, padahal status mereka secara teknis belum resmi berpacaran. Raisha merasa terbang tinggi ke awan, meyakini bahwa proses pendekatan ini berjalan sangat mulus.
Setelah film usai, Aldo mengajak Raisha untuk makan malam di sebuah kafe berkonsep aesthetic yang tidak terlalu bising di dalam mal tersebut.
Mereka duduk berhadapan di sebuah meja kecil dekat pembatas kaca. Makanan dan minuman mereka sudah disajikan. Raisha baru saja hendak menyesap pasta carbonara-nya ketika Aldo meletakkan garpunya, menyandarkan punggung ke kursi, dan menatap Raisha dengan raut wajah yang mendadak serius namun terkesan santai.
"Ternyata kamu udah punya pacar ya, Ra," ujar Aldo tiba-tiba. Suaranya terdengar datar, disertai senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Kenapa waktu di pantry waktu itu dibilangnya belum punya?"
Raisha mengernyitkan dahi. Garpunya terhenti di udara. Rasa bingung yang amat sangat langsung memukul kepalanya.
"Pacar?" ulang Raisha tidak paham.
"Pacar dari mana, Al? Aku emang nggak punya pacar. Kalau aku punya pacar, nggak mungkin aku mau diajak jalan dan nonton berdua sama kamu malam ini."
Aldo terkekeh pelan, sebuah tawa miring yang terdengar sangat sinis dan meremehkan.
"Gak usah bohong lah, Ra. Aku tahu kok," sahut Aldo santai, merapikan lengan kemejanya.
"Tempo hari di jam istirahat, aku nggak sengaja lihat kamu lagi bercanda mesra banget sama anak divisi IT di kedai makan bawah."
Raisha terpaku seketika. Memori otaknya langsung berputar cepat kembali ke kejadian tiga hari lalu. Anak divisi IT? Bercanda mesra?
Reno!
Raisha menyadari bahwa pria yang dimaksud Aldo adalah Reno, sahabat cowoknya yang memang bertugas di divisi IT dan hari itu berargumen heboh dengannya soal reputasi playgirl.
Raisha melepaskan garpunya ke atas piring, bermaksud meluruskan kesalahpahaman konyol ini.
"Al, itu Reno! Dia cuma teman aku, bukan pacar! Kita udah temenan dari kampus!"
Namun, respons Aldo justru membuat darah Raisha membeku di tempat.
Aldo tidak menunjukkan raut legah atau percaya. Pria itu justru menyunggingkan senyum miring yang makin lebar, menggelengkan kepalanya dengan santai seraya menatap Raisha dari atas ke bawah.
"Nggak apa-apa kok, Ra," potong Aldo halus, nada suaranya sangat santai namun mengandung implikasi yang sangat dingin.
"Mau pacar juga nggak apa-apa. Aku nggak masalah kok."
Raisha terdiam seribu bahasa.