Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai tipis bermotif bunga pudar, menyorot langsung ke wajah Nisa.
Wanita itu membuka matanya perlahan. Selama beberapa detik, ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang memiliki noda kecokelatan akibat bocor. Suara bising deru knalpot motor dan riuh pedagang sayur keliling dari luar jendela perlahan menarik kesadarannya sepenuhnya.
Nisa mengerjapkan mata, merasakan perih yang luar biasa di pelupuknya. Ia bangkit dan duduk di tepi kasur busa tipis yang dialasi seprai tipis pula. Lantai semen berlapis karpet plastik murahan menyapa telapak kakinya, menghantarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Ini bukan kamarnya yang luas dengan ranjang king size beralaskan seprai sutra. Ini bukan rumah mewahnya. Ini adalah sebuah kontrakan sederhana berukuran tiga kali empat meter di pinggiran kota yang padat.
Nisa memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. Tubuhnya mulai bergetar. Semakin kuat ia mencoba menolak kenyataan, semakin keras realitas itu menghantam dadanya. Semuanya bukan mimpi buruk. Semuanya benar-benar nyata.
Papa dan Mamanya telah tiada. Perusahaan kebanggaan sang ayah hancur tak bersisa, tenggelam dalam lautan utang hingga semua aset disita.
Dan di tengah kehancuran dunianya itu, ia justru harus mengemasi barang-barangnya, pergi dari rumah pria yang selama satu tahun ini ia sebut sebagai suami. Ia akan segera berstatus janda.
"Pa... Ma..." bisik Nisa, suaranya teredam oleh isak tangis yang akhirnya pecah. "Kenapa kalian ninggalin Nisa sendirian? Nisa hancur, Pa. Nisa nggak kuat..."
Tangannya mencengkeram erat ujung selimut. Ingatan tentang jenazah kedua orang tuanya yang terbujur kaku, dinginnya tanah makam, dan rentetan cacian para penagih utang yang datang silih berganti di rumahnya kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Nisa menangis tersedu-sedu, membiarkan rasa sakit itu merobek-robek dadanya dalam kesendirian yang menakutkan.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu kayu menghentikan sejenak isak tangis Nisa. Pintu berderit terbuka, menampilkan sosok wanita berambut sebahu dengan kemeja oversized dan celana kulot. Itu Inayah, sahabat Nisa sejak bangku kuliah, satu-satunya orang yang tanpa ragu memungut Nisa disaat tak ada lagi yang menginginkannya.
Inayah melangkah masuk membawa sebuah nampan kecil berisi dua cangkir kopi hitam yang mengepulkan asap tipis. Mata Inayah langsung berubah sendu melihat sahabatnya meringkuk menyedihkan di atas kasur dengan mata yang membengkak parah.
"Nis..." panggil Inayah lembut, meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil di sudut ruangan.
Tanpa basa-basi, Inayah menghampiri Nisa dan merengkuh bahu wanita itu. Sentuhan hangat Inayah seolah menjadi tombol pelatuk bagi Nisa.
Tangisan yang tadinya coba ia redam kini meledak luar biasa. Nisa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Inayah, menangis merana, menumpahkan segala keputusasaan yang meracuni hatinya.
"Menangislah, Nis. Keluarkan semuanya. Jangan ada yang ditahan," bisik Inayah sambil mengusap punggung Nisa yang bergetar hebat. "Aku di sini. Kamu nggak sendirian."
"Aku gagal, Nay," isak Nisa, suaranya patah-patah terhalang air mata. "Aku anak yang nggak berguna. Papa sama Mama lagi kesusahan, tapi aku sama sekali nggak tahu. Aku terlalu sibuk mengemis cinta dari laki-laki yang bahkan nggak sudi menatap wajahku. Kalau saja aku tahu lebih cepat... kalau saja—"
"Sstt..." Inayah memotong cepat, mengeratkan pelukannya. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Ini takdir, Nis. Kecelakaan itu musibah, dan soal kebangkrutan Om Banu, itu murni karena dia ditipu. Om Banu dan Tante Inggrid menyembunyikan ini semua karena mereka sayang sama kamu. Mereka nggak mau kamu ikut menanggung beban ini. Semuanya bukan salah kamu, Nis. Mengerti?"
Nisa tidak menjawab, hanya tangisannya yang semakin mengiris hati. Inayah membiarkan sahabatnya itu menumpahkan kesedihannya selama belasan menit, hingga akhirnya napas Nisa mulai teratur meski bahunya masih sesekali terguncang.
Inayah perlahan melepaskan pelukannya, mengambil tisu dari nakas, lalu menghapus sisa air mata di pipi Nisa yang memucat. Ia meraih salah satu cangkir kopi dari meja dan menyodorkannya pada Nisa.
"Minum dulu. Ini kopi hitam, sedikit gula, kesukaanmu," bujuk Inayah.
Nisa menerima cangkir itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menyesapnya pelan. Rasa pahit yang bercampur manis tipis mengalir ke tenggorokannya, sedikit memberikan ketenangan pada perutnya yang sejak kemarin belum terisi makanan.
Inayah duduk menyila di hadapan Nisa. Ia menatap sahabatnya itu lekat-lekat, ada kehati-hatian yang jelas tergambar di wajahnya sebelum ia membuka suara. "Nis... aku tahu ini bukan waktu yang tepat buat ngebahas ini. Tapi, aku harus tanya."
Nisa mengangkat pandangannya dari cangkir kopi, menatap Inayah dengan sepasang matanya yang sayu. "Soal Arga?" tebaknya pelan.
Inayah mengangguk pelan. "Kamu beneran udah yakin mau cerai dari dia? Maksudku, dengan kondisimu yang sekarang baru saja kehilangan orang tua dan seluruh hartamu... kamu yakin melepaskan satu-satunya perlindungan finansial yang kamu punya?"
Pertanyaan itu membuat ruang kontrakan sempit tersebut mendadak hening. Nisa menunduk menatap pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan kopi yang pekat.
Satu tahun yang lalu, ia mungkin akan hancur lebur jika ditanya hal ini. Namun pagi ini, meski badainya baru saja meluluhlantakkan segalanya, ada sebuah ketegasan yang tiba-tiba mengakar di hatinya.
Nisa meletakkan cangkir itu kembali ke meja, lalu menatap Inayah. Ia mengangguk mantap. Sama sekali tidak ada keraguan dalam gerakannya.
"Sangat yakin, Nay," jawab Nisa pelan, namun suaranya terdengar sangat jernih. "Justru karena orang tuaku sudah tidak ada, aku merasa ini saat yang paling tepat. Dulu, aku bertahan karena aku tidak mau membuat Papa dan Mama malu. Aku mengorbankan harga diriku demi menjaga martabat keluarga kami di depan keluarga Arga. Tapi sekarang... untuk siapa aku harus bertahan?"
Inayah terdiam, membiarkan Nisa melanjutkan kalimatnya.
"Aku capek, Nay," Nisa tersenyum getir, sebuah senyum yang menyimpan ribuan luka tak berdarah. "Aku nggak mau lagi menghabiskan sisa hidupku dengan terus-terusan menyakiti diriku sendiri. Mencintai seseorang yang setiap malam menyebut nama wanita lain dalam tidurnya... itu membunuhku pelan-pelan. Arga berhak bahagia dengan perempuan yang dia cintai. Dan aku... aku juga berhak bahagia. Saling melepaskan adalah satu-satunya jalan keluar. Aku cuma menyesal, kenapa aku baru menyadari hal itu sekarang."
Mendengar penuturan Nisa, Inayah mengembuskan napas lega. Ia meraih kedua tangan Nisa dan menggenggamnya erat.
"Alhamdulillah. Sebenarnya, aku udah nunggu kamu ngomong begini dari berbulan-bulan yang lalu," ucap Inayah dengan mata yang kembali berkaca-kaca karena bangga. "Laki-laki brengsek dan buta kayak Arga itu nggak pantes dapetin berlian kayak kamu. Dia bakal nyesel seumur hidup karena udah ngebuang kamu, Nis. Aku jamin itu."
Nisa hanya tersenyum tipis. Penyesalan Arga bukan lagi urusannya. Pria itu sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tutup buku.
"Lalu, rencana kamu ke depannya apa?" tanya Inayah, mengubah topik pembicaraan agar suasana terasa lebih ringan. "Urusan pengacara dan sidang cerai biar nanti aku yang bantu cari kenalan. Tapi untuk kehidupanmu sehari-hari... apa kamu mau tinggal di sini terus?"
Nisa menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara pagi yang baru. "Aku mau mulai semuanya dari nol, Nay. Aku mau kembali bekerja. Aku butuh kesibukan supaya aku nggak terus-terusan teringat Papa dan Mama. Aku punya ijazah desain, dan selama setahun belakangan diam-diam aku masih sering bikin sketsa. Aku rasa... aku akan mulai kirim-kirim portofolio ke beberapa perusahaan fesyen."
Inayah tiba-tiba menjentikkan jarinya dengan mata berbinar lebar, membuat Nisa sedikit terkejut.
"Nggak perlu kirim ke mana-mana!" seru Inayah semangat. "Kamu lupa, hah? Butikku di pusat kota itu sampai sekarang masih kelimpungan karena kurang orang. Posisi kepala desainer masih kosong melompong semenjak desainer lamaku resign bulan lalu. Aku pusing tujuh keliling nyari orang yang seleranya pas sama standar butik."
Inayah menatap Nisa dengan tatapan memohon yang sengaja dibuat-buat. "Nisa sayang... sahabatku yang paling cantik sedunia. Daripada kamu kerja sama orang lain dan dimarah-marahin bos galak, mending kamu ngisi posisi kepala desainer di butikku. Gaji awal emang nggak sebesar perusahaan raksasa, tapi aku jamin bonusnya lancar kalau desainmu laku keras. Gimana?"
Nisa tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, tak percaya dengan kemudahan yang baru saja disodorkan di depan matanya. Posisi kepala desainer. Dunia yang dulu ia tinggalkan demi menjadi seorang istri penurut yang berujung dibuang begitu saja.
Sebuah senyum tulus yang hangat perlahan terbit di bibir Nisa. Beban yang sejak semalam menghimpit dadanya seolah terangkat sebagian. Tuhan mengambil keluarganya, namun Tuhan mengirimkan malaikat dalam wujud Inayah untuk menopangnya.
Nisa membalas genggaman tangan Inayah dengan tak kalah erat. Matanya kini memancarkan secercah harapan yang sudah lama mati.
"Terima kasih banyak, Nay," ucap Nisa dengan suara bergetar bahagia. "Aku janji... aku nggak akan ngecewain kamu. Aku terima tawaran itu."
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga