Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
"Tapi Bang! Mas Burhan tertimpa besi proyek karena alatnya rusak! Itu bukan kesalahan suami saya!" protes Anisa dengan air mata yang makin deras.
"Iya, Abang paham, Nisa. Tapi pemilik proyek pusingnya setengah mati sekarang karena alat dereknya rusak. Abang cuma bisa bantu sekadarnya dari uang kas pekerja," Parlin merogoh kantong celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyodorkannya pada Anisa. "Ini ada lima ratus ribu rupiah. Cuma ini yang bisa Abang kumpulkan dari anak-anak di lapangan."
Anisa menatap uang lima ratus ribu di tangan Parlin dengan perasaan hancur. Betapa murahnya harga keringat dan keselamatan suaminya di mata para penguasa proyek itu.
"Terima kasih, Bang..." suara Anisa terdengar begitu dingin dan hampa. Ia menerima uang itu dengan tangan gemetaran.
Parlin menepuk bahu Anisa pelan. "Abang balik ke lokasi proyek dulu ya, Nis. Banyak urusan sama polisi juga gara-gara kejadian ini."
Sore harinya, Burhan sudah dipindahkan ke kamar perawatan kelas tiga. Bau karbol yang menyengat memenuhi ruangan berukuran sedang yang diisi oleh empat ranjang pasien. Bahu kiri Burhan terbebat perban tebal, kepalanya juga terikat kain kasa, dan selang infus tertancap di tangan kanannya.
Perlahan, mata Burhan terbuka. Rasa nyeri luar biasa langsung menyerang seluruh tubuhnya saat ia mencoba menggerakkan bahunya sedikit saja.
"Ssshh... ahh..." ringis Burhan.
"Mas... Mas Burhan, jangan gerak dulu," suara lembut Anisa terdengar cepat dari samping ranjang. Anisa memegang tangan kanan Burhan dengan lembut.
Burhan menoleh pelan, menatap wajah istrinya yang sembap dan kusam. Di sudut ruangan, bayinya tertidur di dalam keranjang bayi rumah sakit.
"Nisa... kamu... kenapa ke sini? Bayi kita mana?" suara Burhan sangat serak dan pelan.
"Adek ada di situ, Mas, sedang tidur. Mas jangan banyak gerak ya, kata dokter dada Mas masih memar parah," kata Anisa berusaha tersenyum meski matanya kembali berkaca-kaca.
Burhan menghela napas panjang, merasakan sesak yang menusuk di dadanya. Ingatannya tentang kejadian mengerikan di proyek tadi pagi perlahan kembali. "Musibah ya, Nis... Maafkan Mas... Mas malah merepotkan kamu. Padahal Mas kerja buat cari uang bayar utang melahirkanmu... Sekarang Mas malah tergeletak di sini..."
"Jangan bicara begitu, Mas! Ini musibah, bukan salah Mas," bisik Anisa seraya mengusap dahi suaminya yang dingin. "Yang penting Mas selamat. Aku enggak tahu harus bagaimana kalau Mas sampai..." Anisa tak sanggup melanjutkan kalimatnya, tangisnya pecah lagi.
Burhan memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya menetes di pinggir mata menuju pelipisnya. Keadaan ini benar-benar ujian bertubi-tubi bagi keluarga kecil mereka. Baru kemarin mereka bersuka cita menyambut kelahiran buah hati, kini dalam sekejap mereka dihempaskan ke titik terendah.
"Dokter bilang apa, Nisa? Biaya rumah sakit ini... bagaimana?" tanya Burhan, sudah bisa menebak arah jalan pikiran istrinya.
Anisa menunduk rapat, jemarinya meremas kain sprei rumah sakit. "Dokter bilang... bahu Mas harus dioperasi. Katanya butuh biaya sekitar lima belas juta."
Burhan membelalakkan mata, menahan napas. "Limo belas juta?! Dari mana kita dapat uang sebanyak itu, Nis?! Bang Parlin ada bantu?"
Anisa menggeleng lemah. "Bang Parlin cuma kasih lima ratus ribu dari uang kas kawan-kawan pekerja. Dia bilang perusahaan enggak mau tanggung jawab karena Mas cuma pekerja harian lepas."
"Keparat!" umpat Burhan pelan, giginya merapat menahan amarah dan ketidakberdayaan. "Mereka yang kelalaian menjaga keselamatan alat, tapi kita yang ditumbalkan!"
"Sudah, Mas... jangan emosi dulu, nanti dadamu makin sakit," Anisa menenangkan.
Di saat mereka berdua tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan, pintu kamar perawatan tiba-tiba terbuka. Seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian rapi melangkah masuk. Dari penampilannya, terlihat jelas ia bukan orang sembarangan.
Pria itu memandang sekeliling kamar kelas tiga yang bising sebelum akhirnya tatapannya tertuju pada ranjang Burhan.
"Permisi, apakah ini dengan Saudara Burhan?" tanya pria itu dengan nada bicara yang tegas namun sopan.
Burhan dan Anisa saling berpandangan dengan bingung.
"Iya benar, saya Burhan. Bapak ini siapa, ya?" jawab Burhan perlahan.
Pria itu mendekat, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan menyerahkannya kepada Anisa. "Nama saya Hendra. Saya perwakilan dari pemilik utama proyek gedung tempat Anda bekerja."
Mendengar kata 'pemilik proyek', raut wajah Burhan langsung berubah keras. "Bapak mau apa ke sini? Mau lepas tangan juga seperti mandor saya? Tahu tidak, gara-gara kerek derek perusahaan Bapak yang rusak, saya hampir mati!"
Pak Hendra tidak marah mendengar kekesalan Burhan. Ia justru menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Burhan dan Anisa.
"Saya atas nama manajemen meminta maaf yang sebesar-besarnya atas musibah ini, Pak Burhan. Kami baru saja mendapatkan laporan lengkap dari pihak kepolisian dan tim verifikasi lapangan. Memang benar ada kelalaian berat dari kontraktor pelaksana dalam perawatan alat berat," kata Pak Hendra jujur.
Anisa dan Burhan tertegun melihat sikap pria berjas tersebut.
"Lalu, bagaimana nasib suami saya, Pak?" tanya Anisa memberanikan diri. "Kami tidak punya uang untuk biaya operasi. Mandor bilang suami saya cuma pekerja harian yang tidak berhak dapat jaminan."
Pak Hendra menghela napas, lalu menggelengkan kepala. "Pernyataan mandor Anda itu tidak benar dan melanggar hukum. Perusahaan kami memiliki komitmen bahwa setiap nyawa yang bekerja di area proyek kami adalah tanggung jawab kami."
Pak Hendra menarik sebuah kursi dan duduk di dekat Anisa. "Ibu Anisa dan Pak Burhan, tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya lagi. Mulai detik ini, seluruh biaya perawatan, operasi tulang bahu, hingga proses pemulihan Pak Burhan sampai sembuh total akan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan kami."
Burhan dan Anisa bagaikan mendengar keajaiban di tengah kegelapan malam.
"B-bapak serius?" tanya Burhan seakan tak percaya pada pendengarannya.
"Saya sangat serius, Pak Burhan," Pak Hendra tersenyum tipis. "Selain itu, karena Pak Burhan adalah kepala keluarga dan baru saja dikaruniai seorang bayi, perusahaan juga akan memberikan uang kompensasi kecelakaan kerja serta santunan pemulihan selama Pak Burhan belum bisa kembali bekerja."
Air mata Anisa kembali menetes, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata haru yang membuncah. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah..."
Burhan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan gejolak emosi di dadanya. Rasa nyeri di bahunya seolah tak terasa lagi tertutup oleh rasa syukur yang membuncah.
"Terima kasih banyak, Pak Hendra... Terima kasih banyak," bisik Burhan tulus.
"Sama-sama, Pak Burhan. Tugas Anda sekarang hanya satu: fokus untuk sembuh dan beristirahat. Biar tim medis kami yang mengurus kepindahan Anda ke ruang perawatan yang lebih layak setelah ini," ujar Pak Hendra seraya berdiri. "Saya permisi dulu untuk menyelesaikan administrasi dengan pihak rumah sakit."
Setelah Pak Hendra melangkah keluar dari kamar, suasana ruangan hening sejenak. Anisa menggenggam erat tangan Burhan, lalu menciumnya berulang kali.
"Tuhan tidak tidur, Mas," bisik Anisa lembut di mata suaminya. "Ujian bertubi-tubi ini... akhirnya membuahkan pertolongan."
Burhan menatap istrinya, lalu beralih menatap keranjang bayi mereka di sudut ruangan. Meski tubuhnya penuh luka dan perjalanan pemulihannya masih panjang, malam itu Burhan tahu, bahwa selagi ada senyum Anisa dan tangis hangat sang buah hati, tidak ada ujian di dunia ini yang tak sanggup mereka lalui bersama.