**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan untuk Lalu Raka
Subuh belum sepenuhnya pergi ketika Aina duduk di tepi kamar mandi dengan tangan gemetar. Azan dari masjid di ujung gang sudah lama selesai, tetapi ia masih terpaku menatap benda kecil di genggamannya. Dua garis merah, Tampak jelas tidak samar seperti yang dulu pernah membuatnya berharap lalu kecewa.
Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Garis itu tidak berubah masih sama dengan yang Ia lihat pertama kali tadi.
"Ya Allah…" bisiknya. Suaranya pecah, tetesan air mata jatuh begitu saja, membasahi punggung tangannya.
Sepuluh tahun, Waktu yang tak singkat. Sepuluh tahun ia menunggu saat seperti ini. Bahkan perjuangan Aina sudah tak terbatas selama sepuluh tahun belakang, Ia meminum ramuan daun sirih dan kunyit dari Ibunya di Praya, mendatangi dokter kandungan di Mataram, sampai mengikuti saran tetangga untuk mandi di mata air tertentu pada malam Jumat. Sepuluh tahun pula ia belajar tersenyum setiap kali seseorang bertanya, "Sudah isi, Aina?"
Pagi ini, Tanpa suatu tanda apa pun, Tuhan menjawab doanya.
Aina tampak berdiri menatap wajahnya di cermin kecil yang mulai berkarat di sudutnya. Matanya sembap, tetapi bibirnya tersenyum lebar. Ia mengusap perutnya yang masih rata, seolah ingin menyapa seseorang yang belum bisa mendengar.
"Assalamualaikum Nak," ucapnya pelan. "Ibu sudah lama menunggumu."
Rumah Aina tampak sepi pagi itu, Seperti biasa suaminya memang jarang ada dirumah bahkan sang suami Lalu Raka sudah tiga hari tidak pulang. Suaminya itu tengah sibuk mengurus proyek di kawasan Mandalika. Sejak adanya sirkuit dan hotel-hotel besar mulai bermunculan di kawasan sirkuit mandalika, Raka menjadi sangat sibuk sehingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu tak pulang ke rumah. Raka dipercaya menjadi pengawas lapangan sebuah perusahaan kontraktor dari Jakarta.
"Kerjaan begini memang tidak kenal waktu Na," kata Raka suatu kali, sambil mengemasi kemeja ke dalam tas. "Tapi demi masa depan kita. Kamu ngerti, kan?" Itu kalimat yang diucapkan Raka setiap kali hendak meninggalkan rumah dalam waktu lama yang terus diingat oleh Aina.
Aina selalu mengerti, Ia tidak pernah protes. Bukankah istri yang baik memang harus begitu? Lagi pula, setiap kali pulang, Raka selalu membawa oleh-oleh. Kadang kain tenun khas Sukarara, kadang sate rembiga kesukaannya. Raka juga tidak pernah lupa mencium kening isterinya sebelum tidur. Bagi Aina, itu sudah lebih cukup.
Hari itu Aina tampak meraih ponselnya berniat menelepon suaminya. Jarinya tangannya sudah di atas nama "Mas Raka ❤", tapi kemudian ia berhenti.
"Tidak, Kabar sebesar ini tidak boleh disampaikan lewat telepon" Ucapnya dalam hati
Lalu sebuah rencana mulai tersusun di kepalanya. Aina akan menyusul Raka ke Mandalika siang nanti. Wanita yang tengah hamil muda itu akan membawa kue kecil, Kemudian didalam kotak kue itu Aina akan menyelipkan alat tes kehamilan tersebut agar Ia melihat sendiri raut wajah suaminya ketika membukanya. Aina membayangkan Raka terkejut, lalu tertawa, lalu memeluknya erat-erat seperti di hari pernikahan mereka dulu.
Pikiran itu saja sudah membuat dadanya hangat.
Pukul tujuh lewat lima belas, Aina sudah memakai seragam cokelat khaki kebanggaannya. Wanita yang berprofesi sebagai PNS itu tampak memarkirkan motor matic tuanya di halaman Kantor Camat Pujut, Yaitu di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai terlihat memerah.
"Wah, Bu Aina pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri," goda Rini, rekan sekantornya di bagian pelayanan saat Aina terlihat masuk ruangan. "Ada apa nih? Dapat transferan dari Mas Raka?"
Aina tertawa kecil sambil meletakkan tas di meja. "Ada saja kamu, Rin."
"Serius Bu, Muka Ibu berbeda pagi ini! Berseri-seri begitu, Bagaikan seseorang yang tengah jatuh cinta!"
"Aku memang sedang jatuh cinta, " Ucapnya
"Seseorang yang sudah menikah memang beda ya! "
"Makanya kamu cepatan menikah supaya tahu rasanya, "
Saking senangnya Aina pagi itu, Ia bahkan hampir saja menceritakan semuanya pada Rini. Kata-kata itu sudah di ujung lidanya, Tetapi kemudian ia menahannya. Raka harus menjadi orang pertama yang tahu, Itu janji yang ia buat pada dirinya sendiri sejak lama.
"Ibu mau bicara apa tadi, Kok enggak jadi! " Rini tampak penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Aina
"Nanti saja Rin, Kalau sudah waktunya kamu orang kedua yang Ibu kasih tahu."
Rini memicingkan mata curiga, lalu tersenyum lebar. "Oke, saya tagih, Bu!"
Pagi itu terlihat antrean warga cukup panjang. Ada yang mengurus surat keterangan pindah, ada yang meminta legalisir kartu keluarga, ada pula seorang nenek dari Desa Teruai yang kebingungan karena namanya salah tulis di KTP. Aina melayani mereka satu per satu dengan sabar seperti biasa. Akan tetapi pagi itu , entah kenapa semuanya terasa lebih ringan. Bahkan ketika printer di mejanya macet dua kali, ia hanya tersenyum.
Di sela pekerjaannya, sesekali tangannya menyentuh perut yang masih tampak datar tanpa sadar.
Menjelang pukul sebelas melepaskan pekerjaannya lalu berjalan ke arah ruangan Sekertaris kecamatan. Sesampainya diruangan itu, Aina langsung mengetuk pintu ruangan Sekertaris kecamatan.
"Pak, mohon izin, saya pulang lebih awal hari ini. Ada urusan keluarga yang penting."
Lelaki paruh baya berkacamata itu mengangkat wajah dari tumpukan berkas. "Urusan keluarga? Semuanya baik-baik saja, Bu Aina?"
"Baik, Pak. Insyaallah sangat baik," jawab Aina, tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Lelaki paruh baya berkacamata itu langsung menganggukkan kepala. "Ya sudah, silakan. Laporan bulanan jangan lupa besok, ya."
"Siap, Pak. Terima kasih."
Sebelum ke Sirkuit Mandalika, Aina terlebih dahulu mampir ke toko kue di Pasar Sengkol. Wanita yang tengah hamil muda itu terlihat memilih kue bolu pandan kecil dengan hiasan krim putih kesukaan Raka sejak mereka masih pacaran. Di atasnya, ia meminta penjual menuliskan kalimat sederhana dengan krim hijau selamat Mamik.
Penjual kue, seorang ibu bertubuh gempal, tersenyum penuh arti. "Wah....kabar gembira ya, Bu?"
Aina hanya mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca.
Didalam kotak kue itu Aina menyelipkan alat tes kehamilan yang sudah dibungkus tisu dan pita kecil, Kemudian Aina menaruh kotak itu dengan hati-hati di pangkuan, Kemudian menyalakan mesin motornya.
Jalan menuju Kuta Mandalika siang itu terik. Angin dari selatan membawa aroma garam laut yang khas. Di kiri kanan jalan, bukit-bukit hijau bergelombang diselingi kerbau yang yang tengah memakan rumput. Di Jalanan itu, Aina terlihat mengendarai motornya pelan, takut kuenya rusak. Sepanjang jalan, Aina terus menerus berlatih kalimat yang akan ia ucapkan begitu bertemu dengan sang suami. Sepanjang perjalanan menuju sirkuit kalimat itu terus Aina ucapkan sembari mengendarai motornya dengan sangat pelan.
"Mas, aku punya hadiah"
"Tidak. Terlalu biasa"
"Mas, coba tebak, sebentar lagi kamu dipanggil apa?"
Aina tertawa sendiri di balik helmnya. Wanita yang tengah mengandung itu terus menerus membayangkan raut wajah Raka yang ketika Aina mengucapkan kalimat tersebut. "Lelaki itu memang selalu lambat menangkap kode" Ucapnya sembari tersenyum sendiri.
Ditengah perjalanan menuju sirkuit, Sesekali Aina tampak menghentikan motornya hanya untuk menelpon sang suami. Aina hanya sekadar memastikan suaminya ada di lokasi atau tidak. Berulang kali Aina menelpon Raka, Tetapi tak satupun panggilan Aina di angkat oleh Raka.Karena Raka tak kunjung menjawab panggilan itu, Aina pun berinisiatif mengirim pesan singkat pada suaminya itu.
"Mas di mana? Lagi sibuk?"
Pesan yang dikirim Aina itu terkirim, tapi belum dibaca.
"Tidak apa-apa!"Pikir Aina. "Mungkin Raka sedang di lapangan" Ucapnya dalam hati. Aina masih mengingat tempat lokasi proyek suaminya yang tak jauh dari kawasan pantai. Raka pernah menunjukkannya sekali, Kira-kira dua tahun lalu, ketika mereka jalan-jalan sore di pantai Kuta.
Matahari sudah condong ke barat ketika Aina tiba di pesisir pantai Kuta, Pantai itu tampak ramai oleh wisatawan. Selain itu, Anak-anak penjual gelang juga terlihat berlarian menawarkan dagangan. Aina memutuskan berhenti sebentar di sebuah warung bambu di pinggir jalan untuk membeli air minum dan bertanya arah.
Aina baru saja melepas helm, Tetapi tiba-tiba Aina mendengar suara tawa anak kecil dari arah meja di sudut warung.
"Mamik! Mamik! Lagi! Angkat lagi!"
Suara pria yang dipanggil mamik itu tidak asing bagi Aina, Sehingga wanita yang masih berada diatas motor itu pun menoleh tanpa pikir panjang. Aina sekadar ingin tahu apakah yang dipikirkan itu benar atau salah.
Ternyata yang dipikirkan Aina itu memang benar adanya, Suara pria yang tengah bersama anak kecil itu memang bukan orang asing. Mengetahui hal itu tiba-tiba dunianya Aina seolah berhenti.
Di meja itu, seorang lelaki berkemeja biru muda sedang mengangkat bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun tinggi-tinggi ke atas. Bocah itu tergelak riang, kakinya menendang-nendang. Pria itu pun ikut tertawa, Tawa lepas yang begitu Aina kenal. Tawa yang selama sepuluh tahun hanya ia dengar di rumah mereka. Kemeja biru muda yang dipakai pria itu Aina sendiri yang menyetrikanya empat hari lalu.
Selain itu, Di samping pria itu, Terlihat duduk seorang wanita berkerudung krem. Wanita itu tampak cantik, anggun, dengan senyuman yang tenang. Seorang perempuan yang tahu dirinya dicintai. Wanita itu mengulurkan tisu, lalu dengan gerakan sangat akrab, menyeka keringat di pelipis lelaki itu.
Sesekali pria itu tampak menurunkan bocah tadi ke pangkuannya, lalu mengecup puncak kepala anak itu dengan penuh sayang.
"Mamik sayang Lalu Arsya," katanya.
Melihat semua itu, Kotak kue di tangan Aina yang awalnya terasa ringan tiba-tiba menjadi sangat berat. Jemarinya terasa dingin, lututnya lemas. Suara ombak, suara pedagang, suara kendaraan, semuanya mendadak lenyap. Yang tersisa hanya degup jantungnya sendiri yang keras dan menyakitkan. Bibirnya bergerak, nyaris tanpa suara.
"Mas… Raka?"