Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ketika Takdir Mempertemukan Kembali
"Maaf, Bu Ratih. Saya terlambat. Tadi masih menyelesaikan pendataan peserta di sekolah."
Suara itu. Reihan mengenalinya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perlahan, ia menoleh, memastikan bahwa pendengarannya sinkron dan matanya tidak sedang mempermainkannya.
Dan benar saja.
Perempuan itu adalah gadis yang selama dua minggu terakhir membuatnya rela berkeliling menggunakan motor tua milik Pak Manto. Gadis yang keberadaannya terus ia pertanyakan. Gadis yang membuat malam-malamnya terasa lebih panjang daripada biasanya.
Mita.
Untuk beberapa saat, Reihan kehilangan kosentrasi tingkat tinggi yang selalu menjadi bagian insting terkuatnya sebagai seorang tantara, bahkan kemampuan menyimak pembicaraan antara ia, Ratih dan Arman serta beberapa perangkat desa sekitarnya langsung buyar.
Ia menatap perempuan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada kelegaan yang sulit dijelaskan, kebahagiaan yang datang tiba-tiba, sekaligus rasa syukur karena akhirnya ia bisa melihat gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
“Jadi, di sinilah kamu….” Kalimat itu berputar-putar dalam pikirannya.
Dua minggu ia mencari, dua minggu pula ia bertanya-tanya, dan kini perempuan yang dicarinya justru berdiri hanya beberapa meter darinya.
Mita belum menyadari keberadaan Reihan. Ia masih menyerahkan berkas kepada sekretaris desa sambil menjelaskan daftar kegiatan olahraga yang akan melibatkan para siswa.
"Untuk pertandingan antar sekolah, saya sudah membuat rancangan jadwalnya, Pak. Tinggal disesuaikan dengan agenda desa agar tidak berbenturan dengan kegiatan lainnya."
"Bagus, mbak Mita. Nanti kita bahas bersama," jawab Joko bersemangat.
Mita mengangguk, kemudian berbalik.
Saat itulah pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang tidak asing baginya. Langkahnya terhenti.
Kapten Reihan.
Nama itu seolah muncul begitu saja dalam benaknya, membawa kembali ingatan tentang pertemuan mereka sebelumnya. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria tersebut di tempat yang sama sekali tidak diduganya. Ada keterkejutan yang melintas di wajah Mita, sebelum ia buru-buru mengendalikan ekspresinya.
Sementara itu, Reihan berusaha bersikap biasa saja. Ia tidak ingin siapa pun mengetahui bahwa kehadiran perempuan tersebut telah mengubah suasana hatinya dalam sekejap.
Ia berdiri sedikit dari kursinya, memberikan senyum tipis yang sopan, “Selamat pagi, Bu Guru."
Mita membalas senyum itu dengan sedikit canggung, “Selamat pagi, Om..."
Hanya dua kalimat sederhana. Namun, bagi Reihan, sapaan tersebut terasa jauh lebih berharga daripada semua yang berada di dalam ruangan.
Ia ingin bertanya ke mana saja Mita selama dua minggu ini. Ingin memastikan apakah perempuan itu baik-baik saja. Bahkan, ia ingin mengetahui alasan mengapa tempat tinggal yang pernah dilihatnya selalu tertutup.
Namun, semua pertanyaan itu ditahannya rapat-rapat. Ia tidak memiliki hak untuk menuntut penjelasan dari seorang perempuan yang bahkan belum menjadi bagian dari kehidupannya. Karena itu, Reihan memilih kembali duduk, menyembunyikan kegembiraan di balik sikap tenangnya.
Mita pun mengambil tempat di sisi meja yang lain. Ia berusaha memusatkan perhatian pada pembahasan kegiatan desa, karena pertemuan telah dimulai bu Kades yang didampingi perangkat desa lainnya.
Mita berusaha fokus, meskipun sesekali kesadarannya terganggu oleh keberadaan pria itu. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak sepenuhnya nyaman. Bukan karena Reihan bersikap kasar atau berlebihan, melainkan karena tatapan pria itu terasa seolah menyimpan pertanyaan yang belum sempat diucapkan.
"Baiklah," kata Ratih, memecah keheningan singkat. "Karena Kapten Reihan hadir bersama pak Arman, kita sekalian membahas keterlibatan pihak perusahaan dalam event olahraga serta kegiatan lainnya.”
Setelah menyampaikan kata sambutan sekaligus membuka pertemuan pagi menjelang siang tersebut, Ratih memberikan kesempatan pada Reihan dan Arman untuk menyampaikan arahan-arahan selama event memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan dalam jangka waktu dua minggu ke depan.
“Pak Darma dan bu Mita bisa koordinasi pertandingan bersama panitia, ya." Ratih memberikan arahan padanya dan Darma yang merupakan rekan guru PJOK dari SMP sebelah yang ditunjuk sebagai panitia inti olahraga voly putra dan putri tingkat dewasa.
"Baik, Bu," jawab Mita.
Ratih kemudian menoleh kepada Reihan, “Mas Reihan, saya rasa akan lebih mudah kalau nanti kita membuat grup koordinasi khusus.”
Reihan terkejut mendengar Ratih mengubah panggilannya seketika. Tapi ia berusaha tidak mempermasalahkan itu. Karena konsentrasinya benar-benar terpecah.
“Bu Mita bisa menjadi penghubung untuk kegiatan olahraga, sementara saya akan menangani keseluruhan acara,” Ratih berkata dengan penuh semangat.
"Menurut saya itu ide yang bagus, Bu Ratih," jawab Reihan. "Dengan begitu, informasi bisa disampaikan lebih cepat."
"Kalau begitu, nanti nomor telepon mas Rei saya minta, ya. Supaya koordinasinya lebih mudah."
"Siap, Bu."
Ratih tersenyum puas. Baginya, permintaan itu merupakan kesempatan untuk membuka jalur komunikasi yang lebih intensif dengan pria yang mulai menarik perhatiannya. Ia berniat memanfaatkan kesibukan persiapan HUT RI sebagai alasan yang wajar untuk lebih sering bertemu dan membina hubungan dengan kapten berkharisma itu.
Tanpa disadari Ratih, Mita mendengar percakapan mereka. Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Baginya, urusan pribadi kepala desa bukan sesuatu yang perlu dicampuri. Apalagi, Reihan hanyalah seorang kenalan yang kebetulan ditemuinya kembali.
Setidaknya, itulah yang berusaha ia tanamkan dalam pikirannya.
Sementara itu, Reihan mulai menyadari bahwa pertemuan di balai desa tersebut bukan sekadar jawaban atas penantiannya selama dua minggu. Ada kesempatan baru yang terbuka di hadapannya.
Kesempatan untuk mengenal perempuan yang telah mengacaukan pikirannya. yang baru ia ketahui bernama Mita secara lebih wajar, tanpa harus berkeliling mencari keberadaannya atau menebak-nebak keadaan perempuan itu dari kejauhan.
Jika sebelumnya ia hanya bisa berharap pada kebetulan, kini mereka memiliki alasan yang jelas untuk bertemu kembali. Persiapan peringatan HUT RI akan mempertemukan mereka dalam berbagai rapat, koordinasi, dan kegiatan di lapangan.
Reihan tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Baru kali ini pikirannya kacau hanya karena perempuan yang namanya kini telah ia sebut dengan rasa yang berbeda.
Mita Septia.
Nama yang biasa, tetapi mampu mengacaukan konsentrasi serta pikirannya yang selalu tenang dan terarah. Ia pun belum bisa meyakinkan diri sendiri, bahwa hatinya telah jatuh atas kesederhanaan perempuan yang namanya mulai menempati salah satu sudut di hatinya.
"Mas Rei, nanti setelah rapat ini selesai, mungkin kita bisa melihat lapangan yang akan digunakan untuk event perlombaan nanti," ujar Ratih. "Saya akan menemani mas Rei dan pak Arman berkeliling desa."
Reihan mengangguk sopan.
"Terima kasih, Bu. Saya siap!” jawaban tegas Reihan membuat Ratih merasa senang.
Ratih tampak semakin bersemangat, "Kalau begitu, nanti kita berangkat bersama."
Reihan tidak memberikan tanggapan berlebihan. Ia hanya tersenyum tipis, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Mita yang sedang berbincang Bersama Darma dan Joko juga beberapa perempuan dan laki-laki yang berpakaian olahraga yang masih menyusun beberapa dokumen.
Reihan mengamati dari jarak sekitar 5 meter. Mita tampak begitu serius dengan pekerjaannya , seolah tidak menyadari bahwa keberadaannya telah mengubah seluruh suasana hati seorang pria.
Reihan menahan senyum, “Setidaknya, sekarang aku tahu kamu baik-baik saja, Mita.”
Untuk pertama kalinya setelah dua minggu yang melelahkan, hatinya terasa lebih tenang.
Di luar balai desa, umbul-umbul berwarna warni namun lebih dominan Merah Putih berkibar tertiup angin. Suara para pemuda yang sedang mempersiapkan perlombaan terdengar dari lapangan, menandai dimulainya kesibukan menyambut hari kemerdekaan.
Tak seorang pun di ruangan itu mengetahui bahwa di antara daftar kegiatan, rancangan perlombaan, dan pembicaraan tentang kerja sama, ada satu perasaan yang diam-diam mulai tumbuh.
Reihan telah menemukan kembali perempuan yang dicarinya. Namun, ia belum tahu bahwa jalan untuk mendekati Mita tidak akan semudah yang dibayangkannya.
Terlebih lagi, Ratih, sang kepala desa yang mulai menaruh perhatian kepadanya, tampaknya tidak berniat membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.
Hari itu, di balai desa Sumber Harapan, sebuah pertemuan sederhana menjadi awal dari kisah yang jauh lebih rumit daripada sekadar persiapan perayaan kemerdekaan.