sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Bunga Kuning Untuk Nenek Ani
Debu di kolorai dari arah Padang Sabana belum turun.
Pajero hitam plat B Jakarta yang datang kencang tadi masih nyala, mesinnya masih hidup. Debu yang naik karena ban-nya tadi, sekarang turun pelan-pelan kena angin timur. Bau rumput kering, bau kayu gosong sisa bakar Rumah Bintang semalam, semua kecampur.
Semua diam. Dua puluh warga masih berdiri melingkar. Mama Leni embernya sudah kosong. Pak Frans rambut putihnya penuh debu, HP-nya masih merah tanda merekam.
Di tengah lingkaran itu, Ibu Ani masih berlutut. Kacamata hitam mahalnya jatuh di tanah dekat sepatu hak tingginya yang sekarang miring kena debu. Rok mahalnya yang harga dua puluh juta sudah kotor.
Di depannya, Bintang berdiri. Umur satu tahun tujuh belas hari. Tangannya kotor debu, masih pegang satu bunga kuning kecil yang baru tumbuh di tanah lembab bekas siraman Mama Leni tadi subuh.
Di antara mereka ada tiga barang di tanah. Tanah lembab, abu hitam tipis dari sobekan cek lima ratus juta yang dibakar Bintang tadi di bara api, dan foto lama yang sudah kuning.
Ibu Ani buka tas LV coklatnya. Tangannya gemetar. Warga kira dia mau ambil cek lagi, mungkin satu miliar. Tapi dia ambil amplop coklat tua. Amplopnya sudah lusuh, pinggirnya sobek, warnanya pudar. Kelihatan sudah lama disimpan.
Dari dalam amplop itu dia keluarkan foto polaroid. Foto sudah kuning.
"Johan... lihat ini..." suara Ibu Ani pelan, tidak dingin lagi seperti tadi pagi waktu lempar cek.
Johan yang duduk di tanah, kaki diperban kain sarung sobekan Mama Leni, terima foto itu. Di foto itu ada laki-laki muda umur tiga puluh tahun, pakai kemeja putih, celana hitam.
Berdiri di tanah yang sama, tanah dua hektar Kolorai ini. Di belakangnya baru ada satu pohon lontar kecil, belum tinggi seperti sekarang. Tanah masih kosong, belum ada Rumah Bintang.
Di tangan kanan laki-laki itu ada bunga kuning kecil. Sama persis dengan bunga yang di tangan Bintang sekarang.
"Bapakmu... Harman..." Ibu Ani suaranya pecah, "Tahun sembilan puluh enam, tiga puluh tahun lalu, dia juga pertahankan tanah ini. Waktu itu preman tanah Jakarta datang, mau beli tanah ini lima juta saja tidak laku.
Tapi Bapakmu tidak jual. Dia bilang tanah ini untuk cucu. Dia tanam bunga kuning itu hari kamu lahir, Johan. Di tanah ini."
Johan lihat foto Bapaknya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu karena penyakit jantung di Jakarta. Air mata Johan jatuh ke foto itu. Foto jadi basah.
Sari yang hamil tiga bulan, tangannya yang lecet kena ujung paku waktu tiang rumah ditarik PT Nikel tadi pagi, masih perih. Tapi dia tahan. Dia peluk Bintang dari belakang.
"Ibu... kenapa baru sekarang datang..." suara Johan parau. Tujuh tahun dia tidak panggil Ibu.
Ibu Ani lihat Sari. Matanya merah.
"Tujuh tahun lalu Ibu usir Sari dari rumah Jakarta bukan karena Ibu benci Sari hamil. Waktu itu orang PT Nikel yang sama, yang bakar rumah kalian semalam, datang malam-malam ke rumah Jakarta.
"Mereka bawa foto kamu lagi kerja ojek, Johan. Mereka bilang kalau Sari tetap di rumah, kamu akan dibuat lumpuh selamanya. Ibu takut."
Ibu takut kehilangan kamu seperti Ibu kehilangan Bapakmu. Jadi Ibu usir Sari dengan kata kasar, biar Sari benci Ibu dan pergi jauh ke Sumba. Biar selamat."
Sari kaget. Selama tujuh tahun dia kira Ibu Ani benci dia, bilang anaknya kutukan harus dibuang ke laut Kolorai. Ternyata Ibu Ani usir karena mau menyelamatkannya.
Mama Leni maju selangkah. "Bu Ani... jadi uang satu juta tiap bulan yang saya terima untuk Sari di Lombok, yang katanya dari donatur... itu dari Ibu?"
Ibu Ani mengangguk. Debu sudah nempel di lututnya.
"Ibu titip lewat kamu, Mama Leni. Ibu tahu Bintang lahir kakinya bengkok dibilang kutukan. Ibu tahu Sari donor sumsum tulang sampai koma sebelas hari di RS Sanglah Bali untuk sembuhkan kaki Bintang.
Ibu tahu Johan lumpuh karena selamatkan Sari dari tabrak motor di Lombok. Ibu tahu semua dari Mama Leni. Ibu diam karena malu. Ibu malu sudah bilang Bintang kutukan."
Bintang yang dari tadi diam, lihat foto kakeknya di tangan Papanya. Dia lihat bunga kuning di foto itu, sama dengan bunga di tangannya.
Bintang lepas pelukan Sari pelan. Jalan dua langkah kecil ke depan. Kakinya yang dulu bengkok, yang sepuluh hari lalu baru bisa lari seratus meter dari api, sekarang kuat napak di tanah Kolorai.
Dia tidak ambil foto. Dia tidak ambil uang.
Dia jongkok kecil. Dengan tangan kecilnya yang kotor debu, dia kasih bunga kuning itu ke Ibu Ani yang masih berlutut.
"Nenek... untuk Nenek... jangan sedih... Bintang maafkan Nenek..."
Suara Bintang kecil, tapi jelas sekali. Semua warga dengar. Pak Frans rekam jelas.
Itu pertama kalinya Bintang panggil kata Nenek. Selama satu tahun tujuh belas hari, Bintang hanya panggil Mama, Papa, dan Kupu Kuning. Hari ini dia panggil Nenek.
Ibu Ani terima bunga kuning kecil itu. Tangannya yang tadi pegang cek lima ratus juta, sekarang pegang bunga yang tidak ada harganya, tapi lebih mahal dari cek itu.
Dia peluk Bintang. Bukan pelukan biasa. Dia peluk erat sekali, sampai debu Kolorai nempel di baju mahalnya.
"Maafkan Nenek, Bintang... Maafkan Nenek..."
Sari ikut jongkok. Johan merangkak. Mama Leni ikut masuk lingkaran. Pelukan pertama setelah tujuh tahun. Di tengah pelukan itu ada bunga kuning kecil, di atas abu cek lima ratus juta yang sudah jadi abu.
Pak Frans yang HP-nya masih merekam, teriak pelan tapi senang.
"Bu Ani! Video Bintang kasih bunga ke Nenek yang berlutut sudah lima ratus ribu views dalam sepuluh menit! Komennya semua bilang Nenek Jakarta Akhirnya Tobat!"
Ibu Ani berdiri pelan. Lututnya sakit kena debu. Dia masih pegang bunga kuning itu. Dia buka kotak kayu tua yang dia ambil dari bagasi Pajero tadi.
Di dalam kotak itu ada sertifikat asli. Kertasnya sudah kuning. Tulisan tangan.
"Ini sertifikat asli dari Bapakmu, Johan. Tiga puluh tahun lalu Bapak tulis tanah ini untuk cucu pertama laki-laki. Namanya Bintang. Bukan untuk Ibu. Untuk Bintang."
Johan terima sertifikat itu. Tulisan Bapaknya masih jelas meski tinta sudah pudar. "Untuk cucu kami kelak, Bintang."
Ibu Ani lalu lihat ke arah Pajero hitamnya. Dia teriak ke sopirnya.
"Matikan mesin! Kita tidak balik Jakarta hari ini! Besok sidang tanah jam delapan pagi di Waingapu, kita datang berempat sama Bintang!
Tanah dua hektar ini atas nama Harman, tidak bisa dijual PT Nikel lima miliar! Rumah Bintang yang gosong setengah itu, Ibu yang akan bangun lagi pakai uang Ibu!"
Warga tepuk tangan. Mama Leni nangis.
Tapi dari kaca spion Pajero hitam yang mengkilap, Johan lihat sesuatu.
Pantulan helm hitam. Helm yang sama seperti orang yang culik Bintang empat hari lalu di sabana. Orang yang pakai penutup wajah kain hitam.
Helm itu tidak jauh. Di belakang pohon lontar, sekitar lima puluh meter dari mereka. Orang itu berdiri, lihat mereka peluk-pelukan.
Johan langsung berdiri pakai tongkat bambu patah. Kakinya yang diperban sakit sekali, tapi dia berdiri.
"Itu dia! Orang yang culik Bintang!"
Pak Frans langsung arahkan HP-nya ke pohon lontar. Tapi orang helm hitam itu sudah naik motor trail hitam, tancap gas. Debu naik tinggi lagi.
Dari motor itu jatuh satu amplop putih. Amplopnya melayang kena angin, jatuh tepat di dekat kaki Ibu Ani.
Ibu Ani ambil amplop itu. Di dalamnya ada satu foto baru. Foto sidang. Foto hakim di Waingapu lagi terima uang dari Pak Hendra manajer PT Nikel. Di belakang foto ada tulisan pakai spidol merah.
"Sidang besok jam 8 pagi sudah diatur. Tanah tetap jadi milik PT Nikel. Jangan datang kalau mau cucu selamat."
Tangan Ibu Ani yang pegang bunga kuning kecil gemetar lagi. Bunga kuning itu hampir jatuh.
Sari lihat tulisan itu, perutnya yang hamil tiga bulan langsung sakit kencang lagi. Lebih sakit dari tadi pagi.
Bintang lihat tulisan merah itu, dia tidak mengerti. Dia hanya peluk kaki Neneknya yang masih pegang bunga kuning.
Debu Kolorai yang tadi mau turun, naik lagi paling tebal hari ini karena motor trail hitam itu.
Dan besok jam delapan pagi, sidang di Waingapu belum tentu menang.
terimakasih telah menemani Bintang berjuang sampai bab, jika kalian dukung bintang, silahkan beri dukungan kalian ya.
________