NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 wanita yang menahan luka

Setelah pintu tertutup di belakang Altres, keheningan menggantung di dalam kamar seperti kabut tebal, dan hanya suara samar langkah kaki pelayan di kejauhan yang sesekali terdengar. Erin melangkah ke meja makan dan duduk dengan punggung tegak, sementara Veronica yang masih berdiri dengan tanduk dan ekor yang mencuat mengikutinya dengan canggung dan duduk di seberangnya. Emma, yang sejak tadi berdiri kaku di dekat dinding dengan napas tertahan, buru-buru menyiapkan teh dengan tangan yang sedikit gemetar. Uap tipis mengepul dari teko perak ketika ia menuangkannya dengan hati-hati ke cangkir porselen di hadapan Erin, wanita yang sangat ia hormati, dan menunduk dalam-dalam sebelum mundur ke sudut ruangan.

Erin menyesap tehnya perlahan, membiarkan aroma hangatnya memenuhi paru-parunya sebelum menatap Veronica lurus-lurus dengan sorot yang sulit dibaca. "Sembunyikan kembali ekor dan tandukmu, Nak," ucapnya tenang. "Aku sudah yakin kau memang putri naga. Tidak perlu membuat para pelayan jatuh pingsan."

Veronica mengerjap kaget, lalu mengangguk pelan sambil melirik Emma yang masih terpaku. Dalam sekejap tanduk merah itu menghilang dan ekornya lenyap di balik gaun, meninggalkan wanita muda berambut merah yang tampak biasa saja kecuali sorot matanya yang terlalu tajam. Ia menggenggam cangkirnya dengan kedua tangan dan menunggu, seperti anak kecil yang sedang menanti hukuman, sementara matanya sesekali melirik ke arah pintu seakan berharap Altres tiba-tiba kembali.

"Katakan padaku," Erin meletakkan cangkirnya tanpa suara, "bagaimana perasaanmu menjadi istri seorang kesatria yang bergelar pembunuh naga?"

Veronica mengerutkan kening dan menjawab terus terang tanpa berpikir panjang, sama sekali tidak mencoba menyembunyikan isi hatinya. "Aku tidak senang. Sama sekali tidak." Ia mengaduk tehnya dengan sendok kecil hingga berdenting pelan di dinding cangkir. "Tapi ini perintah Ayahku, jadi aku harus melakukannya." Ia terdiam sebentar, lalu bahunya sedikit mengendur dan bibirnya melengkung tipis tanpa ia sadari. "Meski begitu, ternyata tidak terlalu buruk. Manusia punya banyak hal yang unik. Makanannya enak sekali, dan ada gaun-gaun indah yang belum pernah kulihat di tempatku."

Erin mengangkat alis tipis, tetapi tidak menyela, dan jari-jarinya mengetuk pelan tepi cangkir seolah sedang menimbang sesuatu. Veronica melanjutkan dengan mata yang mulai berbinar, tubuhnya condong sedikit ke depan di atas meja. "Aku juga penasaran dengan orang-orang di luar sana. Aku mulai suka berbicara dengan manusia. Mereka aneh, tapi menyenangkan. Setiap kali aku bertanya sesuatu, mereka selalu punya jawaban yang tidak kuduga."

"Itu mungkin tidak akan mudah, Nak." Erin menatap permukaan tehnya yang bergoyang kecil. "Kau tetap seekor naga. Walaupun kau menyandang gelar Duchess Vanguard, penguasa Brune, itu belum cukup meyakinkan orang-orang bahwa kau bukan ancaman bagi mereka." Ia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya suaranya melembut. "Karena itulah aku datang. Aku sudah bertahun-tahun beristirahat di desa, dan aku kembali untuk membantumu."

Veronica menatapnya dengan mata membulat, tak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut wanita yang kehilangan keluarganya karena ras naga. Sendok di tangannya berhenti berputar, dan tehnya mulai mendingin tanpa disentuh sedikit pun. Erin menghela napas pendek sambil memijat pangkal hidungnya, lalu menambahkan dengan nada yang lebih jujur. "Aku tidak yakin kau akan menjadi istri putraku selamanya. Hubungan kalian hanya pengikat aliansi antara kekaisaran dan ras naga. Namun itu tidak masalah. Mungkin suatu saat kau akan benar-benar menikmati hidup sebagai manusia."

"Aku memang ingin mengenal manusia lebih banyak!" seru Veronica bersemangat, hampir menjatuhkan cangkirnya karena gerakan tangannya yang terlalu antusias. "Emma sering bercerita tentang para bangsawan. Ada pesta, ada tarian, ada gaun yang katanya bisa bersinar kalau terkena cahaya lilin. Aku ingin ikut dan—"

"Sebelum itu," Erin memotong dengan satu lirikan tenang yang cukup untuk menghentikan seluruh semangat Veronica, "kau harus menyelesaikan tugasmu sebagai Duchess Vanguard lebih dulu." Ia menegakkan punggungnya sedikit. "Aku akan mengajarimu tata krama dan cara mengurus rumah tangga. Dengan begitu kau bisa berbaur dengan para bangsawan tanpa dicibir di belakang."

Mata Veronica langsung menyala seperti bara kecil. "Sungguh? Kau mau mengajariku? Aku akan belajar dengan baik, aku janji! Aku tidak akan membuatmu menyesal." Ia bahkan hampir bangkit dari kursinya, dan Emma di sudut ruangan harus menahan senyum agar tidak terlihat.

Erin menatap antusiasme itu dengan bingung, sebab ia tak menduga musuh lamanya akan menyambut pelajaran dengan mata sepolos itu. Ia tersenyum samar, senyum pertama yang muncul sejak ia memasuki kamar itu, dan garis-garis tegas di sudut matanya sedikit melembut. Ia mengusap pelipisnya dengan jari-jari yang tampak lelah, dan bahunya turun sedikit seakan baru sadar betapa panjang perjalanan yang ia tempuh. "Namun sekarang aku ingin beristirahat dulu. Perjalananku cukup jauh dan punggungku sudah tidak sekuat dulu. Besok kita mulai dengan tata krama dan cara mengatur anggaran rumah."

"Baik, aku mengerti!" Veronica mengangguk cepat dengan kedua tangan terkepal di depan dada. Erin hanya menatapnya sejenak dengan senyum tipis, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu, meninggalkan teh yang belum habis di atas meja dan Veronica yang masih tersenyum lebar menatap punggungnya.

Di lorong yang remang oleh cahaya sore, ia menutup pintu dengan pelan dan baru saja berbalik menuju kamar tamu yang telah disiapkan ketika matanya menangkap sosok yang berdiri bersandar di dinding. Altres menunggu di sana dengan lengan terlipat dan wajah penuh kekhawatiran, entah sudah berapa lama ia berdiri tanpa bergerak, matanya langsung memindai wajah ibunya seakan mencari retakan.

"Ibu baik-baik saja?" tanyanya cepat, dan melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi sebagian wajah ibunya. "Apa dia melakukan sesuatu? Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan?"

"Ibu baik-baik saja." Erin menggeleng pelan, tidak sedikit pun terganggu oleh kecemasan putranya. "Ibu sudah cukup lama mengutuk dan marah pada keadaan, Altres. Rasanya sudah tidak ada tenaga lagi untuk itu, dan kemarahan tidak pernah mengembalikan siapa pun." Ia menatap pintu kamar di belakangnya sebentar, lalu berbisik pelan. "Ibu tidak membenci Veronica. Justru Ibu sulit percaya bahwa gadis dengan wajah sepolos itu adalah bagian dari ras yang begitu Ibu benci."

Altres terdiam, tak tahu harus menjawab apa, sementara tenggorokannya terasa mengering oleh ucapan yang tak pernah ia duga akan keluar dari ibunya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bertanya dengan suara hati-hati. "Apakah Ibu akan kembali tinggal di kediaman Vanguard?"

Erin mengangguk, dan pandangannya menerawang ke langit-langit lorong yang tinggi seperti menembus bertahun-tahun yang telah berlalu. Jemarinya menyentuh dinding batu di sampingnya dengan lembut, seakan menyapa teman lama yang telah menunggu terlalu lama. "Itulah alasan Ibu kembali ke rumah ini, rumah yang memberi Ibu begitu banyak kenangan. Di sini Ibu menikah dengan ayahmu dan bahagia. Di sini Ibu melahirkan putra-putra Ibu, dan sekarang hanya kau yang tersisa." Suaranya merendah, nyaris tak terdengar. "Ibu masih bisa merasakan luka di hari pemakaman itu, seakan baru kemarin. Karena itulah Ibu lari ke desa dan mencari ketenangan. Tapi kenyataannya hidup Ibu di sana tidak berubah sedikit pun."

Altres menunduk dalam, tangannya mengepal di sisi tubuhnya, dan bahunya bergetar halus menahan sesuatu yang telah lama ia simpan sendiri.

"Maka Ibu akan mengajari Veronica tata krama dan cara mengurus rumah ini," lanjut Erin, kini dengan suara yang lebih tegas dan tatapan yang mantap. "Dengan begitu Ibu bisa yakin sudah berdamai dengan musuh Ibu. Yaitu kenangan kehilangan orang-orang yang Ibu cintai."

Altres tak sanggup berkata apa pun lagi, dan tenggorokannya tercekat. Ia melangkah maju dan memeluk ibunya erat-erat, kali ini tanpa ditolak, dan merasakan tubuh kecil itu bergetar pelan dalam dekapannya, seolah seluruh beban bertahun-tahun akhirnya runtuh di bahunya. "Saya hanya ingin Ibu bahagia lagi," bisiknya serak. "Itu saja."

Erin menepuk punggung putranya perlahan dengan tangan yang masih sedikit gemetar, lalu bersandar pada bahunya, dan untuk pertama kalinya hari itu ia memejamkan mata tanpa ada yang ditahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!