NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Percikan Asmara

Pagi hari di rumah keluarga Arjowibowo terasa bergulir dengan tenang. Di meja makan, Adam tampak begitu bersemangat merapikan penampilannya. Kemeja linen berwarna krem dengan celana kasual yang dipakainya membuat adikku itu terlihat sangat tampan dan segar. Binar gembira di matanya tidak bisa disembunyikan sama sekali sebuah binar khas seorang pemuda yang sudah tak sabar ingin menemui kekasih hatinya.

"Mbak Mei, aku pamit jalan dulu ya," pamit Adam ceria saat kami berdiri di dekat teras depan. "Hari ini jadwal kami padat banget, mau keliling Kota Tua, nonton bioskop, terus cari makan malam."

Aku tersenyum hangat, merapikan kerah kemejanya seperti yang biasa kudakukan di Jogja. "Iya, Dam. Hati-hati di jalan. Ingat pesan Mbak kemarin, jangan sampai lupa waktu dan jaga diri baik-baik."

"Siap, Mbakku yang paling cantik!" sahut Adam terkekeh, mencium tanganku dengan sopan sebelum melangkah keluar menuju taksi daring yang sudah menunggunya di depan gerbang.

Melihat langkah gembira Adam, hati kecilku merasa hangat sekaligus iri. Di usianya yang masih muda, cinta terasa begitu sederhana dan penuh warna. Berbeda dengan jalan cintaku sendiri yang kini tengah terjebak di dalam labirin diam bersama Dimas.

*

*

Embusan pendingin udara di dalam bioskop kawasan Jakarta Selatan terasa begitu sejuk, namun kehangatan yang mengalir di sebelah kursi Adam jauh lebih menyita perhatian.

Alya duduk tepat di samping Adam. Gadis cantik berambut sebahu dengan mata berbinar ramah itu mengenakan gaun terusan kasual berwarna merah muda pastel. Jemari lentiknya terpaut erat di antara jari-jarinya di atas sandaran tangan bioskop sepanjang film bertema komedi romantis itu diputar.

Sudah hampir setengah tahun mereka menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi di Brooklyn. Pembatasan kaku dari Romo yang melarang Adam berpacaran selama masa kuliah membuat setiap detik pertemuan mereka terasa begitu berharga dan sarat akan kerinduan yang membuncah.

Begitu lampu bioskop menyala menandakan film telah usai, Alya menyandarkan kepalanya di bahu Adam dengan manja saat kami berjalan menyusuri koridor area mal.

"Adam, filmnya seru banget ya tadi!" celetuk Alya dengan suara cantiknya yang renyah. "Aku senang banget akhirnya kita bisa nonton berdua tanpa perlu takut ketahuan teman-teman kampus atau orang rumah."

Aku tertawa kecil, mengacak pelan rambut sebahunya dengan penuh kasih sayang. "Iya, Al. Di Jakarta kita lebih bebas. Tapi tetep aja aku kudu matikan lokasi di ponsel, takut Mbak Mei atau orang rumah curiga."

Alya mendongak, menatap wajah Adam dengan pendar rasa penasaran. "Mbak Mei gimana orangnya, Dam? Kemarin kamu cerita Mbakmu lagi di Jakarta juga kan?"

"Mbak Mei itu lembut banget, Al. Baik hati, tapi ya gitu... kalau lagi ada masalah suka mendam sendiri," jawabnya jujur tulus. "Tapi tenang aja, Mbak Mei mendukung kita kok, asal kita tahu batasan."

Alya tersenyum manis, memeluk lengan Adam lebih erat saat kami melangkah menuju restoran kafe untuk menikmati makan malam.

Malam bergulir dengan begitu cepat di antara tawa, obrolan hangat, dan momen saling menukar cerita tentang masa depan. Setelah makan malam usai, jam digital di ponsel Adam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Garis-garis lampu kota Jakarta membiaskan pemandangan indah saat taksi yang kami tumpangi melaju membelah jalanan protokol menuju kawasan apartemen elit di daerah Jakarta Selatan, tempat tinggal Alya.

Mobil berhenti mulus di area lobby apartemen yang megah dan tenang. Adam keluar membukakan pintu untuk Alya, membawakan tas jinjing kecilnya.

"Terima kasih ya untuk hari ini, Adam," ucap Alya lembut saat kami berdiri di dekat area lif khusus penghuni.

"Sama-sama, Al. Aku antarkan sampai depan pintu unitmu ya," balas Adam ramah.

Alya mengangguk setuju. Kami naik bersama menggunakan lif menuju lantai dua belas. Suasana koridor apartemen malam itu begitu hening, hanya terdengar derap halus langkah kaki kami di atas karpet tebal.

Saat Alya menempelkan kartu akses dan membuka pintu unit apartemennya, suasana di dalam tampak begitu sunyi dan gelap. Alya menekan sakelar lampu, membiarkan pendar cahaya hangat menerangi ruang tengah berdesain modern yang sangat rapi.

"Sepi banget, Al?" tanya Adam heran, melangkah masuk satu tapak di ambang pintu.

Alya meletakkan tasnya di atas meja konsol, lalu berbalik menghadapku dengan senyuman tipis yang manis. "Papa sama Mama lagi ada urusan bisnis ke luar kota dari kemarin lusa, Dam. Hari ini sampai lusa rumah kosong. Cuma ada aku sendiri di sini."

Mendengar penuturan Alya, dada Adam berdesir halus. Kesunyian unit apartemen yang luas ini mendadak terasa begitu intim dan pekat.

"Oh... begitu," jawabnya agak canggung, menggaruk tengkuk. "Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang ke rumah orang tua Mas Dimas sekarang ya, Al. Sudah makin malam, takut Mbak Mei nyariin."

Adam memutar tubuhnya hendak melangkah keluar menuju koridor, namun pergerakannya terhenti seketika saat sebuah jemari hangat menahan pergelangan tanganku dari belakang.

"Adam... tunggu sebentar," panggil Alya dengan suara lirih yang hampir berbisik.

Adam menoleh kembali. Alya melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga kami berdiri begitu rapat. Binar matanya menatapku lurus dengan pendar kerinduan dan afeksi yang sangat mendalam.

"Jangan pulang dulu, ya?" bisik Alya lembut, kedua tangannya terangkat perlahan, mengalung rapi di lehernya. "Aku masih kangen banget sama kamu. Kita jarang banget punya waktu luang berdua tanpa ada yang mengganggu seperti ini."

Atmosfer di dalam unit apartemen itu seketika berubah dipenuhi percikan asmara yang membakar. Rasa cinta dan kerinduan yang selama bertahun-tahun kami tahan akibat aturan kaku di sekitar kami mendadak mencair sepenuhnya.

Adam menatap wajah cantik kekasihnya di bawah pendar redup lampu ruangan. Tangannya yang tegap secara refleks melingkar rapat di pinggang ramping Alya, menarik tubuhnya makin menempel ke dada Adam.

"Al... nanti Mbak Mei atau orang rumah khawatir kalau aku ndak pulang," bisik Adam parau, mencoba mempertahankan sedikit rasionalitasnya di tengah desiran hangat yang menguasai dadanya.

Alya menggeleng pelan, menyandarkan dahinya di dada Adam. Embusan napas hangatnya menyapu leher Adam. "Kamu bisa kirim pesan ke Mbak Mei, bilang kalau kamu menginap di tempat teman kampusmu. Tolong, Adam... malam ini saja. Stay with me tonight."

Permohonan tulus dan tatapan mata Alya yang begitu dalam runtuh seketika membakar seluruh pertahanan Adam. Rasa sayang yang amat besar pada gadis di hadapanku ini mengalahkan segala keraguan.

"Baiklah..." bisiknya pasrah namun sarat akan kehangatan.

Alya mendongakkan wajahnya, tersenyum begitu indah. Tanpa membuang waktu lagi, Alya memajukan wajahnya dan menyatukan bibir kami ke dalam sebuah ciuman yang manis, lembut, dan penuh kehangatan.

Adam membalas ciuman itu dengan penuh kepasrahan dan rasa cinta. Lengannya makin erat mendekap tubuhnya, meresapi setiap detik kehangatan yang selama ini sangat mereka rindukan. Ciuman mesra yang berawal di depan pintu itu perlahan berubah makin dalam, makin intens, dan penuh dengan gairah asmara muda yang membara.

Alya membalas tiap belaian Adam dengan lembut, menuntun langkah kaki kami yang tertatih pelan menyusuri ruang tengah menuju kamar utama. Di dalam kamar berpendingin udara yang remang dan tenang itu, pintu tertutup rapat dari dalam.

Malam itu, di bawah dinginnya langit Jakarta dan keheningan lantai dua belas apartemen, Adam dan Alya menyerahkan seluruh rasa rindu, kepasrahan, dan kehangatan cinta mereka di dalam sebuah dekapan intim yang tak terpisahkan hingga pagi menjelang.

*

*

Pukul sebelas malam lewat, aku masih belum bisa memejamkan mata di dalam kamar rumah Dimas. Ponsel di meja samping tempat tidurku mendadak bergetar pelan.

Aku merogoh ponselku, mendapati sebuah pesan singkat masuk dari Adam.

Mbak Mei, maaf banget aku ndak bisa pulang ke rumah Mas Dimas malam ini. Teman kampusku nahan aku buat menginap di tempatnya di daerah Selatan, sekalian mau ngerjain tugas draf kuliah besok pagi. Mbak Mei jangan khawatir ya, besok pagi-pagi aku langsung pulang.

Aku membaca pesan itu dengan kening berkerut halus. Ada firasat aneh sebagai seorang kakak yang muncul di dalam dadaku, namun aku berusaha menepis pikiran buruk. Adam sudah dewasa, dan aku percaya adikku itu tahu batas moral dan kehormatan yang selalu diajarkan oleh keluarga kami.

Ya sudah, Dam. Hati-hati di sana. Jangan lupa besok pagi langsung pulang ya, Mami sama Mbak nungguin.

Aku menghembuskan napas panjang, meletakkan ponselku kembali di atas meja. Di luar jendela, angin malam Jakarta bertiup kencang, membawa kesunyian yang kian pekat menutupi rahasia asmara dan perjalanan takdir kami masing-masing.

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
Adira🍓
Jebollah keperawanan anak orang 🤣🤣 btw sudah berapa wanita yang Dimas jebol perawannya 🤔
NinLugas: 😄😄😄 rahasia
total 1 replies
Adira🍓
Pada akhirnya Dimas yg pegang kendali 🤪🤪
falea sezi
😒kecewa ternyataa dimas cm ngincar perawan🤣🤣🤣 pasti abis ne di tinggalin🤭
NinLugas: hmm...gmn ya 😄✌️✌️
total 1 replies
falea sezi
tunangan uda minta ngeweee... 🤣🤣 yg bner ada dimass elu uda sering nyelup pcr pcr elu jd ketagihan lah si calon istri mu ini perawan darah keraton perawan itu barang di jaga sakral😓
NinLugas: ✌️✌️✌️ sabar2 kak🤭
total 1 replies
falea sezi
curiga pasti alya wanita jalang
NinLugas: bisa jadi kak🤣
total 1 replies
falea sezi
dimas melepas perjaka ma mbk psk apa pacar ya🤭
NinLugas: nnti ketahuan wkwk
total 1 replies
falea sezi
ya gk perjaka denggg🤣 nasib Mei dpet bekas
NinLugas: apes dia wkwk 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!