Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Nasi Goreng Kaki Lima Dan Pengawal Berjas Hitam
Mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat itu perlahan melaju membelah gemerlap lampu ibu kota, meninggalkan kawasan Hotel Imperial yang gempar akibat kekacauan di balkon. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana terasa begitu hangat.
Aira menyandarkan kepalanya di bahu tegap Gabriel. Gaun malam sutra biru bertabur berlian Afrikanya yang anggun berkilau lembut diterpa lampu interior mobil. Setelah menghadapi ketegangan dan serangan pembunuh bayaran faksi Rosewood, berada di dekapan suaminya selalu memberikan rasa aman yang tak ternilai.
Gabriel mengusap lembut jemari lentik Aira. "Sayang, kamu benar-benar tidak lapar? Di pesta tadi kita tidak sempat menyentuh makanan sama sekali."
Aira terkekeh pelan, mendongak menatap suaminya. "Bagaimana bisa makan kalau Lady Eleanor dan kawan-kawannya sibuk melempar racun verbal? Tapi jujur... aku malah kangen makan nasi goreng gila di kedai pinggir jalan dekat area pasar malam."
Gabriel mengerjap bingung. "Nasi goreng gila? Makanan apa itu?"
Aira tersenyum manis. "Makanan favoritku waktu masih kerja sebagai advisor biasa sebelum kenal kamu. Bumbunya kaya, pedas, dan disajikan panas-panas. Tapi... apa Tuan Dark Lord mau makan di tempat kumuh seperti itu?"
Gabriel menepuk dadanya bangga. "Jangankan makan nasi goreng gila di pinggir jalan! Kalau Permaisuriku yang minta, makan di atas puncak gunung pun bakal aku turuti! Felix, putar arah ke kedai nasi goreng favorit Nyonya sekarang!"
Felix yang duduk di kursi depan mengangguk sigap. "Siap, Tuan!"
Dua puluh menit kemudian.
Di sudut kawasan pasar malam yang ramai, sebuah kedai tenda pinggir jalan bertuliskan Nasi Goreng Gila Pak Budi tampak mengepulkan aroma harum rempah-rempah yang menggugah selera. Kuali raksasa menari-nari di atas kobaran api kompor gorden.
Namun, kedatangan pasangan ini membuat seluruh pengunjung dan penjual di area pasar malam melotot heran.
Sebuah Rolls-Royce Phantom diikuti empat mobil SUV hitam meluncur pelan dan parkir rapi di pinggir jalan. Tak lama kemudian, puluhan pengawal berjas hitam dengan earpiece dan postur tegap ala paspampres melompat keluar, langsung membentuk barikade pengamanan steril melingkari tenda kedai!
Pak Budi—sang penjual nasi goreng—gemetar hebat hingga sodet kayu di tangannya hampir terlepas. Matanya melotot ketakutan melihat belasan pria berwajah dingin membungkuk hormat saat pintu mobil mewah terbuka.
Gabriel melangkah keluar lebih dulu, mengenakan tuxedo hitam mahalnya, lalu mengulurkan tangan menyambut Aira yang bergaun berlian jutaan Dolar. Pasangan sultan dan penguasa bawah tanah itu berjalan santai memasuki tenda sederhana yang beralaskan terpal dan bangku plastik merah.
"G-Gabriel... ini tidak berlebihan?" bisik Aira menahan tawa melihat puluhan pengawal berjas hitam berdiri mengepung tenda seperti sedang menjaga presiden.
"Tidak ada kata berlebihan untuk keselamatanmu, Sayang," jawab Gabriel santai sambil membukakan bangku plastik untuk Aira. Pria tegap itu melambaikan tangan ke arah Pak Budi yang berdiri mematung. "Pak! Tolong buatkan dua porsi nasi goreng paling enak dan paling pedas di kedai ini! Bayarannya ambil saja ini!"
Gabriel melempar segepok uang tunai pecahan seratus ribu yang tebal ke atas meja. Pak Budi nyaris pingsan melihat tumpukan uang yang nilainya cukup untuk membeli seluruh gerobak dan restorannya.
"B-Baik, Tuan! Siap, segera dibuatkan!" seru Pak Budi terperanjat, mendadak memasak dengan kecepatan dua kali lipat karena takut kepalanya ditembak jika pesanannya terlambat.
Aira memegang dahi, menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. "Gabriel... kamu bikin penjualnya ketakutan."
Gabriel tertawa renyah, meraih kedua tangan Aira dan mengecup jemarinya. "Biarkan saja. Yang penting kamu senang malam ini."
Tak butuh waktu lama, dua piring nasi goreng gila yang asapnya masih mengepul wangi disajikan di atas meja. Aira langsung menyantapnya dengan lahap, sementara Gabriel memperhatikan cara makan istrinya dengan pandangan mata penuh cinta dan kekaguman.
Gabriel mencoba satu sendok. Matanya seketika membelalak kaget saat rasa gurih, gurih, dan pedas membakar lidahnya.
"Wah... ternyata enak sekali!" seru Gabriel kaget, lalu mulai makan dengan cepat memamerkan tingkah lahapnya. "Kenapa makanan Seenak ini tidak pernah ada di menu restoran bintang lima di Roma ya?"
Aira tertawa ngakak melihat suaminya yang tadi mengintimidasi belasan bos mafia kini sibuk mengunyah nasi goreng kaki lima dengan mulut penuh. "Makanya jangan cuma makan caviar sama steak mahal terus!"
Malam yang sederhana itu terasa begitu indah dan hangat di antara mereka berdua, meleburkan batasan antara kekuasaan tak terbatas dan kebahagiaan sederhana.
Namun, ketika mereka selesai makan dan hendak kembali ke mobil, Felix melangkah mendekat dengan raut wajah yang sangat serius. Ia membisikkan sesuatu di telinga Gabriel.
"Tuan... hasil interogasi sementara dari empat pembunuh bayaran di balkon tadi sudah keluar. Mereka mengaku menerima instruksi langsung bukan hanya dari faksi Rosewood..."
Gabriel menyipitkan matanya dingin, merangkul pinggang Aira semakin erat. "Lalu? Siapa dalang utamanya?"
"Ada keterlibatan dari orang dalam internal Blackwood Corp faksi Asia Tenggara, Tuan. Seseorang berinisial R yang selama ini memegang kendali atas dana investasi perbankan kita," bisik Felix tajam.
Aira yang mendengar hal itu menghentikan langkahnya. Senyuman di wajah cantiknya seketika menghilang, berganti menjadi pendar dingin seorang Permaisuri Hitam.
"Orang dalam yang menjual informasi pergerakan kita..." gumam Aira dingin. "Tampaknya ada yang perlu kita bersihkan sebelum pesta aliansi bulan depan, Gabriel."
Gabriel menyunggingkan senyuman miring yang begitu mengerikan dan penuh intrik. "Tepat sekali, Permaisuriku. Siapa pun yang berani berkhianat dan membahayakanmu... akan aku pastikan hidupnya berakhir di dasar neraka."
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Ngakak banget! Pasangan sultan makan nasi goreng gila di pinggir jalan sampai dikepung puluhan pengawal berjas hitam! Pak Budi yang jualan sampai mau pingsan dikasih segepok uang tunai! Tapi intrik baru muncul nih, ada pengkhianat internal berinisial R! 😱🔥