NovelToon NovelToon
Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.

Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.

Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Menyerah

Malam itu, hening menyelimuti kamar utama kediaman Galvano. Hanya suara gesekan pelan tirai yang tertiup angin malam dan detak jarum jam dinding yang terdengar konstan, seolah menghitung setiap detik dari kehancuran hati Yoselin.

​Yoselin duduk di tepi tempat tidur berukuran king size yang terasa terlalu luas untuknya seorang diri. Gaun kerja yang ia kenakan saat menghadiri acara makan malam bersama rekan-rekannya masih melekat di tubuhnya. Tas tangannya tergeletak begitu saja di atas lantai parquet, terabaikan.

​Pandangannya kosong menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Bayangan seorang wanita dengan mata yang sembap, rambut yang sedikit berantakan, dan wajah yang pucat pasi menyapa penglihatannya.

​Kedua tangannya gemetar pelan saat ia meremas gaunnya sendiri. Pikiran Yoselin kembali terlempar ke area parkir restoran sejam yang lalu. Cahaya lampu jalanan yang remang, mobil hitam milik Edward, dan dua sosok manusia yang bertaut mesra di samping pintu mobil. Edward, suami yang telah mendampinginya selama dua tahun terakhir sedang mencium Angela dengan penuh kerinduan dan kehangatan. Kehangatan yang tidak pernah sekali pun Edward berikan padanya.

​Yoselin menghembuskan napas berat, mencoba menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Namun, pertahanan dirinya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes, membasahi pipinya yang dingin.

​Ia menatap pantulan matanya di cermin, lalu tertawa pelan, sebuah tawa samar yang penuh dengan kepahitan dan kepasrahan.

​"Lucu sekali ya, Yoselin?" ucapnya lirih pada pantulan dirinya sendiri. Suaranya serak dan bergetar di tengah sunyi nya kamar.

"Dua tahun... Kamu benar-benar mengira dua tahun bisa mengubah segalanya? Kamu benar-benar sebodoh itu?"

​Ia mengusap air matanya kasar, namun bulir-bulir bening itu justru mengalir semakin deras.

​"Dahulu, saat Angela pergi meninggalkan Edward di hari pernikahan mereka, kamu berpikir kamu adalah penyelamat. Kamu dengan percaya diri mengajukan diri untuk menggantikan posisi Angela. Kamu pikir, dengan menjadi istri yang baik, lembut, dan selalu ada untuknya, kamu bisa menyembuhkan luka Edward. Kamu berhalusinasi kalau cinta dan perhatianmu yang tulus akan meluluhkan hatinya seiring berjalannya waktu."

​Yoselin memeluk kedua lututnya, menyandarkan dagunya di sana sambil terus menatap cermin. Kenangan masa lalu berputar kembali di kepalanya bagai kaset rusak.

​"Ingatkah kamu apa yang Edward katakan di malam pernikahan kalian?" gumam Yoselin, suaranya nyaris berbisik.

"Angela adalah dunianya. Aku tidak akan pernah bisa menggantikannya." bisik Yoselin.

"Edward sudah memperingatkan ku sejak awal. Dia sudah jujur sejak detik pertama kami melangkah ke pelaminan. Tapi apa yang aku lakukan? Aku malah mengangguk, tersenyum, dan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku bisa mengubah perasaannya. Betapa tingginya rasa percaya dirimu saat itu, Yoselin. Betapa naifnya kamu..."

​Yoselin memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah Edward yang dingin setiap kali menatapnya kembali membayangi. Selama dua tahun ini, Edward tidak pernah secara terang-terangan berbuat kasar padanya. Edward bersikap acuh tak acuh, dingin, dan menganggap keberadaan Yoselin seolah hanya sekadar bayangan di rumah besar ini. Edward hidup dalam dunianya sendiri, dunia yang dikunci rapat dari Yoselin. Dan hari ini, saat Angela kembali, pintu dunia itu kembali terbuka lebar khusus untuk Angela seorang.

​"Kamu selalu berusaha menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi, memastikan pakaian kerjanya rapi, dan menunggunya pulang hingga larut malam di ruang tamu ini," tutur Yoselin pada dirinya sendiri, kini menyunggingkan senyum getir.

"Kamu melakukan semua itu dengan harapan suatu hari nanti dia akan menatapmu dengan binar mata yang hangat. Tapi jangankan binar hangat, ucapan terima kasih pun jarang sekali keluar dari bibirnya. Untuk Edward, kamu hanyalah seseorang yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama."

​Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang terasa menyakitkan. Perlahan, Yoselin menurunkan kakinya dan berdiri dari tempat tidur. Langkah kakinya membawa dirinya mendekati meja rias.

​Ia memandangi bingkai foto pernikahan mereka yang terajang elegan di atas meja. Di dalam foto itu, Yoselin tersenyum sangat manis dengan balutan gaun pengantin putih. Namun di sampingnya, Edward berdiri tegak dengan ekspresi datar tanpa emosi, matanya kosong menatap kamera.

​Yoselin menyentuh permukaan kaca foto tersebut, menelusuri garis wajah Edward dengan jarinya.

​"Dunia Edward adalah Angela," kata Yoselin pelan, kini nadanya terdengar lebih tenang, meski kepedihan itu masih tersirat jelas.

"Dan hari ini, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Tatapan mata Edward saat memeluk Angela di parkiran tadi... Itu adalah tatapan yang tidak pernah aku lihat selama dua tahun menjadi istrinya. Matanya hidup. Dia terlihat begitu lega, begitu bahagia, seolah-olah beban berat yang dibawanya selama ini menghilang begitu saja hanya karena kehadiran Angela."

​Yoselin menurunkan tangannya dari foto itu. Ia berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada meja rias, menatap langit-langit kamar yang megah.

​"Apakah aku harus marah?" tanya Yoselin pada kesunyian di sekelilingnya.

"Tentu saja dadaku terasa hancur. Rasanya seperti duniaku rubuh dalam sekejap. Tapi... Apakah aku berhak marah pada Edward? Tidak. Aku tidak punya hak itu. Sejak awal, aku yang memaksakan diri masuk ke dalam hidupnya. Aku yang menawarkan diri untuk menjadi penambal lubang di hatinya, padahal aku tahu lubang itu terlalu besar dan hanya bisa diisi oleh Angela."

​Yoselin mengusap sisa air mata di pipinya. Rasa sakit yang memuncak tadi kini berganti menjadi rasa lelah yang sangat mendalam. Lelah karena terus berharap pada hal yang sia-sia, lelah karena terus berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja.

​Ia berjalan mendekati jendela kamar, membuka sedikit tirai dan menatap kegelapan malam di luar. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, memberikan sedikit kesegaran pada pikirannya yang kalut.

​"Aku tidak boleh egois lagi," gumam Yoselin, kali ini dengan penekanan di setiap kata yang diucapkannya pada dirinya sendiri.

"Selama dua tahun ini, aku sudah cukup egois dengan menahan Edward dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah dia inginkan. Aku menahannya bersamaku hanya demi memenuhi harapanku sendiri. Itu tidak adil untuk Edward. Edward berhak bahagia. Dia berhak mendapatkan kembali dunianya yang sempat hilang."

​Yoselin memejamkan mata sejenak, membiarkan keheningan malam meresap ke dalam jiwanya. Saat ia membuka matanya kembali, pandangannya tidak lagi sesayu tadi. Ada tekad yang mulai tertata di dalam matanya yang lembut.

​"Cinta tidak harus memiliki, bukan?" Yoselin tersenyum tipis pada bayangan dirinya di kaca jendela.

"Kalimat itu terdengar sangat klise, tapi malam ini aku benar-benar memahaminya. Jika mencintai Edward berarti aku harus melihatnya bahagia, maka membiarkannya bersatu kembali dengan Angela adalah satu-satunya cara. Aku tidak bisa terus-terusan bertarung dalam pertandingan yang sudah tahu akan kalah sejak awal. Sekuat apa pun aku bertahan, sekuat apa pun aku mencoba menjadi istri yang sempurna, pada akhirnya Edward akan tetap memilih Angela."

​Yoselin mengangguk pelan pada dirinya sendiri, seolah mengukuhkan keputusan besar yang baru saja terbentuk di dalam hatinya.

​"Sudah cukup, Yoselin. Perjuanganmu berhenti sampai di sini," bisiknya mantap.

"Kamu sudah berusaha sekuat tenaga, kamu sudah memberikan seluruh hatimu, dan kamu tidak perlu menyesali apa pun. Sekarang, saatnya kamu mundur dengan terhormat."

​Ia melangkah menjauhi jendela, berjalan mendekati lemari pakaian kayu yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Yoselin membuka pintunya, menatap deretan pakaian milik Edward yang tersusun rapi di sebelah pakaian-pakaian miliknya. Dua tahun kehidupan yang ia bangun di atas fondasi kebohongan dan harapan palsu kini harus segera diakhiri.

​"Malam ini... Aku berjanji pada diriku sendiri," ucap Yoselin pelan, menatap lurus ke dalam lemarinya.

"Aku akan melepaskanmu, Edward. Aku akan mengembalikan kebebasanmu. Besok, atau lusa, aku akan menyiapkan seluruh dokumen yang diperlukan. Aku tidak akan membuat rumit prosesnya. Aku tidak akan meminta harta atau apa pun darimu."

​"Aku menyerah," kata Yoselin lembut, diiringi helaan napas lega yang meruntuhkan seluruh beban di pundaknya.

"Aku menyerahkan posisiku, aku menyerahkan impianku, dan aku menyerahkan cintaku. Semoga kamu bahagia dengan duniamu yang sebenarnya, Edward. Dan untukku... Ini saatnya aku menemukan kembali duniaku sendiri."

​Bersambung...

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
falea sezi
mampus lu daniel
falea sezi
Daniel Daniel oon🤣
Sribundanya Gifran
lanjut
Luna
ingat jika ada orang yg belum selesai dengan masa lalu nya jangan coba coba jadi pahlawan yg ada kamu cuma dianggap sekedar ada,,, apalagi kalo keduanya masih sama sama cinta ,jadi GK usah seperti korban drama,GK perlu nunggu 2 tahun ,5 bulan menikah kalo masih tak Sudi melihat mending pergi,
Luna
kenapa kamu mau yg menjadi pahlawan padahal sudah jelas dari awal,,,kamu berharap bisa dicintai,disini kamu bukan korban kamu sendiri yg cari penyakit, untuk apa mengobati luka orang lain tapi kamu sendiri tak ada yg ngobatin ,,,
Halimatun Saadiah
lanjut
Ruryn Amanda
ayo lanjut Thor,,😄
Ruryn Amanda
🤣🤣🤣dasar laki2 manipulatif,,licik,,penuh akal bulus tp q suka,,,,🤭
Ruryn Amanda
🤣🤣javierrr gue bius yaaaa,,,,
Ruryn Amanda
ayo Javier,,hancurkan si ed itu,,pebinor yg kudukung,,🤭
It's me Ri🥕: No no yaa🤣
total 1 replies
falea sezi
lanjut🤭
Sribundanya Gifran
lanjutthor
merry yuliana
crazy up yq kak💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
Potatoes 🥔
Cerai ajalah🥺
Potatoes 🥔
Kurangajar emang Edward!
Sribundanya Gifran
lanjut
Mia Camelia
makin membara nih javier🤭
Gustinur Arofah
ceraikan Thor, terus kasih liat Edward klo angela tidak sebaik yg dia kira. biar menyesalnya double😁
hayasna
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!