NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Anak di Kuil Tua

Jian Chen membawa Ye Ran ke penginapan lewat pintu belakang supaya tidak ditanya pemilik. Anak itu berjalan di sampingnya dengan kepala menunduk, memegang ujung baju Jian Chen seperti takut hilang di keramaian. Setiap kali seseorang menoleh, bahunya mengerut.

"Kau tidak perlu takut," kata Jian Chen pelan.

"Aku tidak takut," jawab Ye Ran. Suaranya kecil sekali. "Cuma tidak biasa."

"Tidak biasa apa?"

"Ada yang membayarkan."

Jian Chen menelan sesuatu di tenggorokannya dan tidak menjawab.

Di kamar penginapan, Lin Xue sedang menyusun bungkusan akar di atas dipan. Ia mendongak ketika pintu terbuka, dan matanya langsung tertuju pada anak kurus di belakang Jian Chen. Tanpa bertanya apa pun, ia meletakkan bungkusan itu, mengambil tas kainnya, dan berlutut di depan Ye Ran.

"Luka di dagumu belum kering," katanya. "Duduk. Aku bersihkan."

Ye Ran menoleh ke Jian Chen dengan ragu. Jian Chen mengangguk. Anak itu duduk di tepi dipan, dan Lin Xue mulai mengusap lukanya dengan kapas basah.

"Namamu siapa?" tanya Lin Xue.

"Ye Ran."

"Berapa umurmu?"

"Dua belas. Mungkin sebelas. Aku tidak ingat."

"Orang tuamu?"

"Sudah tidak ada." Ye Ran menunduk. "Ibu meninggal waktu aku tujuh. Ayah pergi dan tidak kembali."

Lin Xue berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan gerakan lebih lembut. "Maaf."

"Tidak apa-apa."

Pintu terbuka lagi. Dao masuk dengan kantong besar berisi makanan, dan di belakangnya Tan Fu membawa tiga bakpao di masing-masing tangan. Keduanya berhenti di ambang pintu.

"Siapa ini?" tanya Dao.

"Ye Ran," jawab Jian Chen. "Aku bertemu dengannya di pasar."

"Dia kurus sekali," ujar Tan Fu. Tanpa menunggu izin, ia menyodorkan satu bakpao kepada Ye Ran. "Makan. Yang ini isi daging cincang, bukan isi kacang. Jangan bilang-bilang, ini jatah ketigaku."

Ye Ran menatap bakpao itu, lalu Jian Chen. "Boleh?"

"Boleh," kata Jian Chen.

Anak itu makan perlahan kali ini, dengan kedua tangan memegang bakpao seperti benda berharga. Dao duduk di lantai sambil mengeluarkan semangkuk bubur dan semangkuk sayur, dan tanpa banyak bicara mendorongnya ke arah Ye Ran. Lin Xue membalut dagunya dengan kain bersih.

"Di mana kau tidur biasanya?" tanya Lin Xue.

"Di kuil tua di ujung gang," jawab Ye Ran sambil mengunyah. "Bersama anak-anak lain. Ada sebelas."

"Sebelas?" Jian Chen mencondongkan tubuh. "Semuanya yatim?"

"Iya. Kuil itu sudah rusak, tapi atapnya masih ada. Kalau hujan kami bergeser ke sudut."

"Ada yang menjaga kalian?"

Ye Ran menggeleng, lalu berhenti. "Dulu tidak ada. Tapi beberapa hari ini ada yang datang."

Dao dan Lin Xue saling pandang. Jian Chen merasakan punggungnya mengeras. "Siapa?"

"Seorang paman. Aku memanggilnya Paman Abu." Ye Ran menjilat sisa remah di jari. "Dia datang membawa kue dan baju hangat. Katanya ada rumah besar di gunung, tempat anak-anak seperti kami bisa makan tiga kali sehari dan belajar membaca. Dia bilang besok dia akan datang lagi untuk menjemput yang mau ikut."

"Kau mau ikut?" tanya Tan Fu.

"Aku..." Ye Ran menunduk. "Aku ingin. Tapi ada yang ganjil."

"Apa yang ganjil?"

"Dua anak dari kuil sudah ikut dengan Paman Abu bulan lalu. Katanya mereka akan menulis surat. Tapi tidak ada surat. Dan aku bertanya pada penjual teh, katanya tidak ada rumah besar di gunung." Ye Ran mengangkat kepala. Matanya cemas dan sangat jujur. "Aku tidak mau ikut. Tapi aku takut kalau aku menolak, aku tidak punya apa-apa."

Kamar sunyi sejenak. Lin Xue menghela napas pelan. Dao mengepalkan tangannya di lutut.

"Paman Abu itu," kata Jian Chen hati-hati. "Seperti apa orangnya?"

"Tinggi. Memakai jubah abu-abu dan tudung. Suaranya lembut sekali." Ye Ran berpikir. "Dan dia membawa koin."

"Koin?"

"Koin kecil dari perak, ada garis di tengahnya." Ye Ran merogoh kantung bajunya dan menarik sesuatu. "Dia memberiku satu supaya aku ingat. Aku tidak mau, tapi dia memaksa."

Ia meletakkan koin itu di telapak tangan Jian Chen. Koin perak sebesar kuku ibu jari, dengan ukiran lingkaran dan satu garis tipis yang membelah dari ujung ke ujung. Persis seperti stempel di surat izin Pak Lei.

Jian Chen menatap koin itu lama. Dingin menjalar dari ujung jarinya sampai ke tengkuk.

"Jian Chen," kata Lin Xue pelan. "Kau pucat."

"Aku baik."

"Kau bilang itu terlalu sering."

"Karena aku sering baik-baik saja." Jian Chen mengepalkan koin itu, lalu membukanya lagi. "Ye Ran. Paman Abu bilang akan datang kapan?"

"Besok pagi. Di kuil."

"Berapa orang yang ikut dengannya biasanya?"

"Dia datang sendiri. Tapi dua kali aku melihat dua orang menunggunya di ujung jalan."

Jian Chen menoleh pada Dao dan Lin Xue. Mereka tidak bertanya. Mereka hanya menunggu.

"Aku punya permintaan," kata Jian Chen. "Besok pagi, sebelum Paman Abu datang, aku ingin pergi ke kuil itu. Aku ingin bertemu anak-anak itu."

"Kau mau menghentikan orang itu?" tanya Dao.

"Aku mau memastikan tidak ada yang ikut."

"Dengan apa? Kau Pengumpul Napas tengah. Orang itu mungkin lebih kuat."

"Aku tahu."

"Kalau begitu kau butuh aku," kata Dao. Ia berdiri, menepuk bajunya. "Aku tidak bisa membiarkan anak-anak diseret orang yang membawa koin aneh dan jubah abu-abu. Itu terdengar seperti penculik."

"Dan aku," kata Lin Xue. "Aku punya racun tidur yang bisa kutaburkan dalam lima tarikan napas."

"Aku bawa bakpao," kata Tan Fu.

Semua menoleh padanya. Tan Fu mengangkat bahu. "Untuk menenangkan anak-anak. Aku tidak punya kemampuan lain."

Jian Chen tertawa pendek, hampir tak percaya. Di depannya duduk Ye Ran, makan bubur sedikit demi sedikit, dan ia tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak kembali ke sini, ia punya orang-orang yang mau berdiri di sisinya tanpa meminta penjelasan.

"Terima kasih," katanya. "Semuanya."

Malam itu, Ye Ran tidur di lantai beralas selimut yang dipinjamkan pemilik penginapan, berdekatan dengan dipan Jian Chen. Ketika kamar sudah gelap dan napas yang lain mulai teratur, terdengar bisikan kecil dari bawah.

"Kakak."

"Ya?"

"Kakak kenal aku?"

Jian Chen terdiam. "Kenapa kau bertanya?"

"Cara Kakak melihatku. Seperti aku orang yang Kakak kenal lama." Ye Ran berhenti. "Padahal kita baru bertemu."

Jian Chen menatap langit-langit gelap. "Aku mengenal seseorang yang mirip denganmu," katanya akhirnya. "Dia kehilangan banyak hal waktu masih kecil, dan tidak ada yang menolongnya."

"Apa dia baik-baik saja sekarang?"

"Belum," jawab Jian Chen. "Tapi aku sedang berusaha."

Ye Ran tidak bertanya lagi. Tak lama kemudian napasnya melambat.

Di tengah malam, Jian Chen bangun dan duduk di dekat jendela, memegang koin perak itu. Dari celah daun jendela ia mengintip ke jalan di bawah. Lampion merah bergoyang pelan, dan di bawahnya berdiri sosok tinggi berjubah abu-abu, wajahnya tersembunyi di balik tudung, menatap lurus ke arah jendela kamar mereka.

Sosok itu tidak bergerak. Lalu perlahan, ia mengangkat satu tangan dan menggoyangkannya seperti menyapa.

Jian Chen menahan napas. Ketika ia berkedip, sosok itu sudah hilang.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!