NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:147.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluar Istana

Di dalam paviliun yang mewah dan agak sunyi, tiga pangeran muda itu berkumpul dengan suasana yang berbeda dari biasanya.

Zi Cheng dan Zi Xin duduk berhadapan dengan ekspresi datar, sementara Zi Rui berlari masuk dengan wajah cerah penuh semangat. “Kak Cheng! Kak Xin! Ayo kita keluar istana!” serunya tanpa basa-basi.

Zi Cheng mengangkat alis, menatap adiknya dengan sedikit heran. “Keluar?” tanyanya singkat. “Untuk apa?”

Zi Rui langsung menghampiri mereka, matanya berbinar antusias. “Kita beli perlengkapan akademi dan baju baru untuk musim dingin!” katanya cepat. “Aku dengar murid lain pakaiannya bagus-bagus, kita juga harus punya! Kita juga belum punya jubah yang hangat.”

Zi Xin yang sejak tadi diam akhirnya menimpali dengan nada datar. “Dengan apa kita membeli?” katanya dingin. “Selama ini kita tidak pernah diberi uang.”

Zi Cheng melirik pakaian mereka sendiri sekilas. “Bahkan pakaian yang kita pakai pun hanya sisa dari para pelayan,” tambahnya tanpa emosi.

Zi Rui berdecak pelan, tampak tidak puas dengan respons kedua kakaknya. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan sebuah kantong kecil dari balik pakaiannya, lalu menggoyangkannya hingga terdengar bunyi gemerincing.

Ketika kantong itu dibuka, kilauan koin emas langsung terlihat jelas. Zi Cheng dan Zi Xin spontan menegang, mata mereka membesar melihat jumlah yang tidak sedikit itu.

“Dari mana kau mendapatkan ini? Jangan bilang kau mencuri?” tanya Zi Cheng tajam, nadanya berubah serius.

Zi Rui tidak ragu sedikit pun, ia menjawab dengan jujur. “Ck, aku tidak mencuri tahu. Ini memang milik kita,” katanya mantap. “Selama ini digelapkan oleh Kepala Pelayan Si yang sudah dihukum mati itu.”

Ia tersenyum ringan, seolah merasa bangga. “Permaisuri yang membereskannya dan mengembalikannya pada kita,” lanjutnya.

Mendengar itu, ekspresi Zi Cheng langsung mengeras, sementara Zi Xin menyipitkan mata. “Jangan mudah percaya,” kata Zi Cheng tegas. “Permaisuri tidak mungkin berbuat baik tanpa alasan.”

Zi Xin mengangguk pelan, suaranya tetap dingin. “Orang seperti dia pasti punya tujuan,” ujarnya. “Jangan sampai kau dimanfaatkan.”

Namun Zi Rui justru menggeleng kuat, jelas tidak setuju dengan mereka. “Ini memang hak kita!” bantahnya dengan penuh keyakinan. “Sejak awal itu milik kita sebagai pangeran, hanya saja selama ini dirampas.”

Ia melangkah lebih dekat, mencoba meyakinkan kedua kakaknya. “Permaisuri tidak mengambil apa pun dari kita,” lanjutnya. “Justru dia yang mengembalikannya, kalian jangan terlalu berburuk sangka. Permaisuri sudah berubah. Kalian tidak ingat dia yang menolongku dari sakit?”

Zi Rui menatap mereka bergantian, ekspresinya berubah lebih lembut namun tetap penuh harap. “Kita hanya ingin hidup lebih baik, bukan?” katanya pelan. “Setidaknya seperti pangeran pada umumnya.”

Suasana hening sejenak, Zi Cheng dan Zi Xin saling bertukar pandang, seolah mempertimbangkan kata-kata adik mereka. Keraguan masih terlihat jelas, tetapi keinginan yang selama ini terpendam perlahan muncul ke permukaan.

Akhirnya Zi Cheng menghela napas panjang. “Hanya sekali,” katanya singkat.

Zi Xin tidak berkata apa-apa, tetapi ia sudah berdiri, yang berarti persetujuan tanpa kata.

Melihat itu, wajah Zi Rui langsung bersinar cerah. “Baik! Ayo cepat!” serunya dengan semangat.

Tanpa menunggu lebih lama, ketiga pangeran itu pun keluar dari paviliun, melangkah meninggalkan istana menuju pasar.

sementara itui aula utama Kediaman Mo, suasana terasa tegang meski dihiasi kemewahan yang berlebihan.

Lihau duduk dengan anggun di kursi utama, sementara Mo Weiwei mondar-mandir dengan gelisah, sesekali melirik ke arah pintu. “Aduh, ke mana Ayah dan Bo Wen, Bu?” keluhnya tidak sabar.

Lihau mengangkat cangkir tehnya dengan tenang, seolah tidak terusik. “Tunggu saja,” katanya ringan. “Mereka pasti pulang membawa kabar baik.”

Mo Weiwei tersenyum kecil, wajahnya dipenuhi harapan. “Ibu benar,” ujarnya. “Mana mungkin si anak jalang itu berani melawan Ayah.”

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar, diikuti dengan pintu yang didorong terbuka dengan kasar.

Jenderal Mo Fang dan Bo Wen masuk dengan wajah gelap, aura kemarahan begitu jelas terasa.

Melihat keduanya, Mo Weiwei langsung berlari mendekat. “Ayah! Bagaimana?” tanyanya cepat. “Harta itu sudah diambil kembali, bukan?”

Lihau juga bangkit dari duduknya, menatap suaminya dengan penuh harap. “Katakan padaku,” katanya lebih pelan, namun tajam. “Apa semuanya berjalan lancar, suamiku?”

Alih-alih menjawab dengan baik, Jenderal Mo Fang justru menyambar guci di sampingnya dan membantingnya ke lantai.

 Prang!

Suara pecahan keras menggema di seluruh aula, membuat semua orang terdiam.

“Gagal!” bentaknya dengan wajah memerah. “Mo Yuuran itu benar-benar anak durhaka dan kurang ajar!”

Mo Weiwei terkejut, mundur satu langkah dengan wajah pucat. “Gagal?” ulangnya tidak percaya. “Bagaimana bisa?”

Lihau menyipitkan mata, ekspresinya berubah dingin. Ia melangkah mendekati suaminya, suaranya rendah namun penuh tekanan. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya. “Bagaimana mungkin kau tidak bisa mengendalikan anakmu sendiri?”

Mo Fang mengepalkan tangannya erat, urat di pelipisnya tampak menonjol. “Anak itu … dia berani melawanku!” geramnya. “Bukan hanya menolak mengembalikan harta, dia bahkan menghina kita semua!”

Bo Wen yang berdiri di samping hanya menunduk, wajahnya juga tidak kalah buruk. Ia tampak masih mencerna kejadian sebelumnya, rahangnya mengeras menahan emosi.

Mo Weiwei yang masih diliputi kecemasan segera meraih lengan Bo Wen, menggenggamnya erat seolah mencari kepastian. “Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kenapa bisa sampai gagal seperti ini?”

Bo Wen menarik napas panjang, wajahnya tampak muram dan sulit dibaca. “Mo Yuuran dia sudah berubah,” katanya perlahan. “Dia tidak lagi mendengarkan ucapanku, bahkan ucapan ayah mertua pun dia abaikan begitu saja.”

Lihau dan Mo Weiwei saling berpandangan, jelas terkejut mendengar hal itu. “Berubah?” ulang Lihau dengan kening berkerut. “Sejak kapan dia berani seperti itu pada kalian?”

Bo Wen menggeleng pelan, rahangnya mengeras saat mengingat kejadian tadi. “Bukan hanya itu,” lanjutnya dengan nada berat. “Saat aku mengingatkan tentang rencana kita, dia justru menghina kami tanpa ragu.”

Mo Weiwei membelalakkan mata, tangannya tanpa sadar mencengkeram lebih kuat. “Menghina?” desisnya tidak percaya. “Dia berani menghina kau dan Ayah?”

Bo Wen menatapnya, seolah mencoba mencari jawaban dari wajah wanita itu. “Wei’er,” katanya pelan namun penuh tekanan. “Apa yang sebenarnya terjadi pada Mo Yuuran? Kenapa dia bisa berubah sejauh ini?”

Mo Weiwei terdiam sejenak, lalu perlahan menggeleng. “Aku … aku juga tidak tahu,” jawabnya dengan bingung. “Yang aku tahu, sejak dia bangun dari kecelakaan kereta kuda itu semuanya berubah.”

Ia menelan ludah, mengingat kejadian yang masih terasa mengerikan baginya. “Begitu sadar, dia langsung membunuh Ning Ning, pelayan pribadinya,” lanjutnya dengan suara lebih pelan. “Setelah itu dia juga mulai bersikap tidak sopan padaku dan Ibu.”

Suasana langsung menjadi semakin sunyi, hanya terdengar napas berat di antara mereka. Jenderal Mo Fang yang sejak tadi diam tiba-tiba mengangkat kepala, sorot matanya tajam penuh kecurigaan.

“Kalau begitu .…” katanya pelan namun menusuk. “Siapa yang memberitahunya tentang ibu kandungnya?”

Pertanyaan itu membuat Lihau menegang seketika. Ia menggeleng cepat, mencoba tetap tenang. “Aku tidak tahu,” jawabnya singkat.

1
mama_im
kaisar terlalu larut dalam masa lalu. yuk mulai awal baru, saling terima dan lupakan masa lalu.
mama_im
mantap 👍👍👍👍
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Sepertina sang kaisar emanh ngumpet di ruang kerjana
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bener apa yg dikatakan permaisuri Mo Yuuran kaisar Zi Xuan kl kamu hrs menyayangi ketiga pangeran karna mereka tdk bersalah 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
AA kaisar Zi Xuan gak th kejadian penyerangan pd ketiga pangeran ya kok gak nongol" 😏😏
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Mantaapp 🤣 kapok ga tuh si timun Suri 😏
ryuka
segitu cinta nya kaisar sma yuuran 😍😍😍😍😍
Dewi Anggraeni
Ditunggu Thor lanjutannya... Aku kasih hadiah kopi biar semangat nulisnya 💪👍
Ari Peny
mkch sdh up 👍👍👍
Paramitha Tikva
Kirain dibunuh sekalian
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
kepala kak, bukan kelapa🤭
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
akhirnya thor, update beberapa bab, aq kasih ☕ buat author, supaya semangat terus🫶
Tiara Bella
makasih Thor 3 babnya sehat selalu....
ismi
Aku...apa kak thor digantung sampai 2 hari lagi kita ketemu🤭🤭👃👃
💟노르 아스마💟
aahhhh...Mo Yuran🥹🥹🥹
ismi
semngat kak lekas sembuh 💪💪💪💪
Atik Kiswati
next....
Eka Haslinda
semoga Permaisuri Mo segera hamil... aaammmiiinnn
ismi
lanjut kak masak cuma satu bab,,nunggu up nya 2 hari 2alam
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍😋
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!