Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mobil sedan perak itu meluncur perlahan memasuki gerbang utama kediaman Keluarga Darma.
Langit sore sudah mulai berubah gelap menyambut datangnya malam.
Raka menghentikan mobilnya tepat di teras utama rumah mewah tersebut.
Cittt.
"Ayo turun, kakek pasti sudah menunggu laporan dari kita."
Raka mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengamannya.
Astiana mengangguk pelan dan membuka pintu mobil dengan tubuh yang masih sedikit basah.
Ceklek.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang tamu utama yang terasa sangat hangat.
Di sana, Pak Darma sedang duduk di sofa kulit sambil menyesap teh herbalnya.
"Kalian sudah pulang, bagaimana hasil penyelidikan di pelabuhan tadi."
Pak Darma meletakkan cangkir tehnya dan menatap Astiana dengan dahi berkerut.
"Astaga, Nak Astiana, kenapa pakaianmu basah kuyup seperti itu."
Pak Darma langsung berdiri dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Ceritanya sangat panjang dan rumit, Kakek Darma."
Astiana tersenyum tipis untuk menenangkan pria tua yang sudah menganggapnya cucu sendiri itu.
"Kami tidak hanya pergi ke pelabuhan, Kakek."
Raka ikut duduk di sofa seberang kakeknya sambil mengusap wajahnya yang lelah.
"Kami baru saja menyusup ke sarang utama Nyonya Besar Keluarga Adibrata di Bukit Hijau."
Pak Darma terbelalak kaget mendengar nama tempat yang sangat tabu itu disebutkan.
"Apa kau sudah gila, Raka."
Pak Darma menepuk meja kacanya dengan cukup keras.
Brak.
"Kalian bisa mati dibunuh di sana dan mayat kalian tidak akan pernah ditemukan orang."
Pak Darma menghela nafas panjang mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu.
"Kami berhasil selamat, Kakek, dan kami menemukan fakta yang jauh lebih gila lagi."
Raka menoleh ke arah Astiana memberikan isyarat agar gadis itu yang bercerita.
Astiana mengambil tempat duduk di sebelah Raka dan menatap mata Pak Darma dengan tenang.
"Nyonya Besar Miranda Adibrata itu adalah bibi kandung saya, Kek."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Astiana tanpa basa-basi.
Pak Darma terdiam mematung seolah waktu di sekitarnya mendadak berhenti.
Dia menatap wajah Astiana lekat-lekat mencoba mencari kebohongan di sana.
"Jadi kau adalah anak dari pewaris utama yang dikabarkan tewas kecelakaan itu."
Suara Pak Darma bergetar hebat saat menyadari skala bahaya yang sedang mereka hadapi.
"Benar, Kek, Bibi Miranda yang mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi orang tuaku."
Astiana meremas ujung jasnya yang masih lembap.
"Dia mencuri hak waris ibuku dan membuangku ke hutan sembilan belas tahun yang lalu."
Ruang tamu besar itu mendadak terasa sangat sunyi dan mencekam.
Pak Darma menyandarkan punggung tuanya ke sofa dengan tatapan kosong.
"Keluarga Darma kita sekarang resmi berhadapan dengan monster paling menakutkan di negara ini."
Pak Darma menggumamkan kenyataan pahit itu dengan suara yang sangat pelan.
"Kalau Kakek takut, saya akan segera angkat kaki dari rumah ini malam ini juga."
Astiana berdiri dari sofanya tidak ingin merepotkan orang baik ini lebih jauh.
"Saya tidak akan membiarkan Keluarga Darma hancur karena menampung buronan Keluarga Adibrata."
Grep.
Pak Darma menahan pergelangan tangan Astiana dengan cepat.
"Duduklah kembali, Nak, kakek tidak pernah mengatakan kakek takut."
Mata pria tua itu kembali memancarkan ketegasan seorang pengusaha yang tangguh.
"Kakek berhutang nyawa padamu, dan Keluarga Darma tidak pernah membuang penyelamatnya ke kandang singa."
"Mulai malam ini, kakek akan melipatgandakan jumlah pengawal bersenjata di seluruh sudut rumah ini."
Pak Darma menatap Raka yang langsung mengangguk setuju dengan keputusan kakeknya.
"Terima kasih banyak, Kakek Darma, saya tidak akan melupakan kebaikan ini."
Astiana menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat yang sangat dalam.
"Sekarang pergilah mandi dan istirahat di paviliunmu, kau pasti sangat kelelahan."
Pak Darma tersenyum hangat mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Astiana mengangguk pamit dan berjalan keluar menuju paviliun belakang.
Di dalam paviliun, Nadin sudah menunggu dengan wajah panik dan membawa handuk kering.
"Ya ampun, Nona Astiana, Nona habis berenang di sungai mana pakai jas begini."
Nadin langsung mengoceh tanpa henti sambil mengeringkan rambut Astiana dengan handuk.
"Nona ini perempuan loh, masa keluyuran sampai basah kuyup begini."
"Nanti kalau Nona masuk angin terus demam bagaimana, saya yang dimarahi Tuan Muda nanti."
Nadin terus merepet panjang lebar khas pelayan yang sangat cerewet dan peduli.
"Aku hanya tidak sengaja tercebur ke kolam ikan, Nadin, kau tidak perlu seheboh ini."
Astiana menjawab dengan alasan asal-asalan sambil mengambil piyama gantinya.
"Kolam ikan mana yang airnya bau kaporit begini, Nona pasti bohong."
Nadin mengerucutkan bibirnya merasa tidak puas dengan jawaban majikannya itu.
"Sudahlah, aku mau mandi air hangat sekarang, kau kembalilah ke dapur."
Astiana segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Ceklek.
Guyuran air hangat dari pancuran perlahan merilekskan otot-otot Astiana yang tegang.
Syuuuur.
Malam semakin larut dan rumah utama Keluarga Darma kini sudah dijaga ketat oleh puluhan satpam tambahan.
Namun Astiana tahu, satpam biasa tidak akan bisa menghentikan anjing pemburu milik Miranda Adibrata.
Jam dinding di kamar Astiana menunjukkan pukul dua dini hari.
Astiana sama sekali belum memejamkan matanya di atas ranjang empuk itu.
Dia sedang duduk bersila di tengah kegelapan memusatkan seluruh energi tenaga dalamnya.
Tiba-tiba, telinga Astiana menangkap suara yang sangat halus dari arah atap paviliun.
Srek srek.
Suara itu lebih pelan dari langkah kucing, namun sangat jelas bagi pendengaran Astiana.
"Mereka menemukan tempat ini jauh lebih cepat dari dugaanku."
Astiana tersenyum dingin di dalam hatinya dan perlahan turun dari ranjang tanpa suara.
Di luar paviliun, lima sosok berpakaian serba hitam sedang bergerak menempel di dinding.
Mereka memakai penutup wajah dan membawa senjata tajam yang tidak memantulkan cahaya.
"Satpam di depan itu hanya boneka pajangan, mereka bahkan tidak menyadari kita melompat pagar."
Suara hati salah satu penyusup itu langsung tertangkap oleh frekuensi pikiran Astiana.
"Nyonya Besar bilang bunuh gadis itu dalam tidurnya, potong kepalanya, dan bawa ke markas."
Pikiran kejam dari pemimpin kelompok pembunuh itu bergema dengan sangat jelas.
Astiana mengambil posisi di sudut ruangan yang paling gelap tepat di samping jendela kaca.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣