Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Usai makan malam, Tae-jun menyempatkan diri mengajak Ji-eun berjalan-jalan di tepi Sungai Han. Angin malam berembus cukup menggigit. Ji-eun berdiri rapat di balik pagar pembatas, menatap hamparan air sungai yang memantulkan pijar lampu kota.
"Aku suka tempat seperti ini," ujar Ji-eun pelan.
"Kenapa?"
"Karena ramai dan tak ada satu orang pun yang benar-benar peduli pada urusan orang lain."
Tae-jun berdiri tepat di sampingnya, menyelipkan tangan ke dalam saku mantel. "Alasan yang unik."
"Kenapa? Kamu heran karena aku suka menyendiri?"
"Sedikit."
Ji-eun tersenyum seraya menoleh. "Aku tidak selalu ingin sendiri. Kadang-kadang, aku hanya ingin berada di tempat yang tidak menuntutku untuk menjadi siapa-siapa."
Tae-jun tertegun. Kalimat sederhana itu bergetar hebat di dadanya. Rasanya begitu familiar, karena hal itulah yang selama ini diam-diam ia dambakan. Tidak menjadi seorang pewaris tunggal, tidak menjadi putra dari Seo Min-hyuk, dan tidak menjadi direktur yang dingin. Hanya menjadi dirinya sendiri.
"Kau tahu?" gumam Ji-eun lagi.
"Apa?"
"Kadang-kadang, kau terlihat sangat kesepian."
Tae-jun terpaku. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Entahlah," Ji-eun menggidikkan bahu tipis. "Hanya insting saja."
Tae-jun memalingkan wajahnya kembali ke arah sungai. "Jangan terlalu sering memperhatikanku."
Ji-eun tersenyum kecil. "Sudah terlanjur."
Tatapan mereka kembali bersatu. Angin malam berembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Ji-eun hingga menutupi sebagian wajahnya. Secara refleks, Tae-jun mengangkat tangan. Jarinya hampir saja menyentuh belaian rambut itu untuk merapikannya, namun ia mendadak tertahan di udara.
Ji-eun menatap jemari Tae-jun yang menggantung, lalu beralih menatap manik mata pria itu. "Ada apa?"
Tae-jun perlahan menurunkan tangannya kembali ke saku. "Ada helai rambut di wajahmu."
"Oh..." Ji-eun menyapukan jemarinya sendiri, menyelipkan helai rambut itu ke belakang telinga.
Momen canggung itu berlalu cepat, namun riak emosi di antara mereka telah bergeser secara nyata.
Dalam perjalanan pulang, rasa lelah akhirnya menguasai Ji-eun. Kepala wanita itu perlahan terkulai ke samping hingga bersandar di kaca jendela.
Tae-jun menoleh pelan. Ji-eun telah tertidur lelap. Tanpa senyum, tanpa topeng profesionalitas yang biasa ia kenakan saat bekerja. Hanya raut wajah seorang wanita yang tampak begitu lelah.
Tae-jun melepaskan mantel tebalnya, lalu membentangkannya secara perlahan di atas tubuh Ji-eun.
Ji-eun bergumam halus dalam tidurnya, "...terima kasih..."
Tae-jun tak membalas. Ia hanya kembali melempar pandangannya ke luar jendela, membiarkan keheningan menyelimuti perjalanan mereka.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen Ji-eun. Tae-jun enggan membangunkan wanita itu. Ia hanya duduk bergeming membiarkan waktu berlalu. Lima menit... sepuluh menit... hingga akhirnya Ji-eun perlahan bangun dan membuka matanya.
"Ah... sudah sampai?" tanyanya seraya mengucek mata pelan.
Ia baru menyadari mantel tebal yang menutupi bahunya, lalu mendongak menatap Tae-jun. "Ini punyamu."
"Bawa saja dulu. Besok kembalikan."
"Baiklah." Ji-eun mendorong pintu mobil, namun sebelum benar-benar keluar, ia menyempatkan diri berbalik. "Tae-jun-ssi."
Itu pertama kalinya nama itu lolos dari bibirnya secara langsung tanpa embel-embel jabatan. Tae-jun menatapnya lekat. "Ya?"
"Terima kasih untuk malam ini," ucap Ji-eun tulus dengan senyuman hangat. "Selamat tidur."
Pintu sedan tertutup. Tae-jun tetap memperhatikan punggung Ji-eun yang melangkah masuk ke dalam lobi apartemen hingga tak terlihat lagi.
Tak lama kemudian, ponsel di saku Tae-jun bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ji-eun:
Aku sudah sampai di dalam. Hati-hati di jalan. Terimakasih sudah mengantarku.
Tae-jun membaca pesan itu berulang kali, lalu tanpa sadar senyum tipis mengembang di bibirnya. Ia mengetik balasan.
Selamat tidur.
Ia hampir saja menekannya, tetapi ragu. Tae-jun menghapus tulisan itu, lalu menggantinya dengan gaya khasnya:
Besok jangan terlambat.
Ia menekan tombol kirim.
Di dalam kamarnya, Ji-eun membaca pesan balasan tersebut dan tak sanggup menahan tawa kecilnya. "Benar-benar pria yang aneh."
Namun malam itu, sebelum terlelap, bayangan tatapan Tae-jun saat disebut "kesepian" terus berputar di ingatannya.
Sementara itu, di dalam sedan yang terus melaju menjauhi area apartemen, Tae-jun melakukan sesuatu yang membuat dirinya sendiri tertegun. Ia membuka aplikasi perpesanan, mencari riwayat obrolan mereka, lalu mengetuk detail kontak Ji-eun.
Ia memandangi nama kontak tersebut cukup lama. Setelah ragu sejenak, jemarinya bergerak mengganti nama kontak wanita itu dari "Manajer Han Ji-eun" menjadi sekadar "Ji-eun".
Bukan lagi seorang bawahan, bukan lagi mitra kerja. Hanya namanya.
Tae-jun menatap layar ponselnya, lalu tersenyum tipis. Ia mungkin belum sepenuhnya paham perasaan apa yang sedang tumbuh di dadanya saat ini, tetapi satu hal yang pasti... ia sudah tak sabar untuk bertemu wanita itu lagi.
...****************...