Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 — Para Jenius Berkumpul
Satu minggu sebelum Kingdom Tournament dimulai, Grandis berubah menjadi lautan manusia dan energi dari seluruh penjuru Kerajaan Valtherion dan sekitarnya.
Delegasi dari Elandor, Dravencourt, dan Arkhaven mulai berdatangan, masing-masing membawa rombongan murid terbaik mereka, dikawal oleh kultivator senior yang auranya membuat penduduk biasa menundukkan kepala saat mereka lewat.
Bendera-bendera dengan lambang berbeda berkibar di sepanjang jalan utama, menciptakan pemandangan warna-warni yang belum pernah Kael lihat sebelumnya.
"Ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan," Kael berkomentar, berdiri di balkon pavilionnya bersama Aria, mengamati arak-arakan delegasi Dravencourt Kingdom yang baru tiba dengan gajah perang berlapis zirah sebagai kendaraan utama rombongan mereka.
"Kingdom Tournament hanya diadakan setiap sepuluh tahun sekali," Aria menjelaskan.
"Ini kesempatan besar bagi setiap kerajaan untuk menunjukkan kekuatan generasi muda mereka, sekaligus ajang diplomasi tersembunyi antar kerajaan."
"Diplomasi tersembunyi?"
"Pernikahan politik, aliansi dagang, bahkan terkadang perjanjian damai setelah konflik perbatasan—semuanya sering dibahas di balik layar selama turnamen berlangsung, sementara di permukaan semua orang hanya fokus pada pertarungan," Aria menjelaskan dengan nada yang menunjukkan dia sudah terbiasa dengan kerumitan politik semacam itu sejak kecil.
Kael mengangguk, mulai memahami betapa kompleksnya acara yang akan dia ikuti ini—jauh lebih dari sekadar ajang unjuk kekuatan seperti yang dia bayangkan awalnya.
Heavenly Sword Sect sendiri mempersiapkan delegasinya dengan serius.
Selain Kael dan Aria, tiga murid Elite Disciple lain dipilih untuk mewakili sekte, termasuk—mengejutkan banyak orang—Reyes, yang setelah kekalahannya dari Kael justru berlatih lebih keras dari sebelumnya, seolah kekalahan itu membakar semangat kompetitifnya alih-alih memadamkannya.
"Aku tidak akan berterima kasih kepadamu," Reyes berkata suatu hari, menghampiri Kael di lapangan latihan dengan sikap yang jauh lebih rendah hati dari sebelumnya, meski nada bicaranya masih mempertahankan sedikit kesombongan.
"Tapi kekalahan itu mengajarkanku bahwa aku masih jauh dari puncak kemampuanku sendiri."
"Aku menghargai itu," Kael menjawab tulus.
"Semoga kau bisa menunjukkan yang terbaik di turnamen."
"Aku akan mengalahkan lebih banyak jenius kerajaan lain daripada dirimu, tunggu saja," Reyes berkata dengan seringai kompetitif yang kini terasa lebih seperti tantangan sehat daripada permusuhan sungguhan.
Selama persiapan terakhir, para tetua sekte mengumpulkan seluruh delegasi untuk memberikan pengarahan tentang format turnamen: babak penyisihan berdasarkan kategori usia dan tingkat kultivasi, diikuti babak eliminasi langsung untuk menentukan juara akhir, dengan hadiah utama berupa kesempatan bergabung dengan sekte mana pun pilihan sang juara, tanpa memandang kerajaan asal.
"Ini juga kesempatan bagimu untuk bertemu langsung dengan jenius dari ras lain," Tetua Marcus menjelaskan kepada Kael secara khusus, mengingat statusnya yang unik sebagai Holy Son.
"Turnamen kali ini juga mengundang perwakilan dari Sylvariel Kingdom dan Fenrir Kingdom sebagai bagian dari perjanjian diplomatik baru antara Valtherion dengan ras Elf dan Beastman."
Berita itu membuat Kael semakin penasaran. Selama ini dia hanya mendengar tentang ras-ras lain dari cerita Seraphina, belum pernah bertemu langsung dengan mereka.
Malam sebelum upacara pembukaan resmi, Kael dan Seraphina berjalan-jalan di sepanjang tembok kota, mengamati kembang api latihan yang mulai dinyalakan sebagai bagian dari persiapan perayaan.
"Kau gugup?" Seraphina bertanya, memperhatikan Kael yang tampak lebih pendiam dari biasanya.
"Sedikit," Kael mengakui. "Bukan tentang bertarung—aku sudah terbiasa dengan itu. Tapi tentang semua perhatian yang akan tertuju padaku. Dan tentang kemungkinan Dravos akan bertindak."
Seraphina menghentikan langkahnya, menatapnya dengan serius. "Aku akan berada di dekatmu sepanjang turnamen, meski aku tidak bisa selalu terlihat jelas mengingat statusku yang... rumit untuk dijelaskan kepada publik."
"Aku tahu," Kael menjawab, menghargai kehadirannya yang selalu konsisten sejak pertama kali mereka bertemu. "Terima kasih sudah selalu ada, Seraphina."
"Kau sudah berterima kasih untuk itu sebelumnya," Seraphina berkata dengan senyum kecil. "Aku mulai berpikir kau akan mengucapkannya setiap minggu."
"Mungkin memang begitu," Kael tertawa kecil, "karena itu selalu benar setiap kali."
Mereka melanjutkan berjalan dalam diam yang nyaman, menikmati momen tenang sebelum badai yang pasti akan datang bersama dimulainya turnamen besar ini.
Keesokan paginya, seluruh Grandis bangun dengan semangat perayaan yang meluap-luap.
Jalanan dipenuhi dekorasi bendera dari berbagai kerajaan, pedagang menjajakan makanan dan suvenir khusus turnamen, dan yang paling mencolok, kerumunan besar mulai berkumpul menuju Arena Kerajaan—stadion raksasa yang dibangun khusus di pusat kota, cukup besar untuk menampung puluhan ribu penonton sekaligus.
Kael berdiri di antara delegasi Heavenly Sword Sect, mengenakan jubah putih dengan simbol pedang keemasan yang kini menjadi identitasnya, menatap arena megah itu dengan campuran gugup dan semangat yang sulit dia jelaskan.
"Ini dia," Aria berkata di sampingnya, matanya berbinar dengan antisipasi yang sama. "Momen yang sudah kita persiapkan."
"Ini dia," Kael mengulangi, menarik napas dalam-dalam.
Terompet kerajaan mulai berbunyi, menandakan dimulainya upacara pembukaan Kingdom Tournament—momen yang akan mengubah jalan hidup Kael, dan mungkin, jalan hidup seluruh Elyndra, jauh lebih dari yang bisa dia bayangkan saat pertama kali membuka mata di Death Forest beberapa bulan lalu.
---
Arena Kerajaan Grandis adalah struktur paling megah yang pernah Kael lihat sejak tiba di Elyndra.
Bentuknya melingkar sempurna, dengan tribun bertingkat yang menjulang tinggi mengelilingi lapangan pertarungan utama di tengah, dilapisi marmer putih yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Di atas setiap tribun, bendera-bendera kerajaan dan sekte berkibar megah, menciptakan lautan warna yang menakjubkan.
Kael berdiri di area khusus peserta bersama delegasi Heavenly Sword Sect, mengamati sekelilingnya dengan rasa kagum yang tidak bisa dia sembunyikan.
Di seberang lapangan, dia bisa melihat delegasi dari kerajaan-kerajaan lain berkumpul dalam kelompok masing-masing—Elandor dengan seragam biru gelap mereka, Dravencourt dengan warna hijau tua, dan Arkhaven dengan corak abu-abu perak yang elegan.
Namun yang paling menarik perhatiannya adalah dua kelompok yang berdiri terpisah dari yang lain, jelas bukan berasal dari kerajaan manusia.
Salah satunya adalah sekelompok sosok tinggi dan ramping dengan telinga runcing yang khas, rambut mereka berkilau seperti keperakan di bawah cahaya matahari, gerakan mereka begitu anggun hingga terlihat seperti tidak menyentuh tanah sama sekali.
"Delegasi Sylvariel Kingdom," Aria berbisik, mengikuti arah pandangan Kael. "Para Elf."
Di tengah kelompok itu, seorang gadis dengan rambut keemasan panjang berdiri paling menonjol, mengenakan gaun berwarna hijau muda yang serasi dengan alam, wajahnya begitu sempurna hingga hampir tidak terlihat nyata.
Matanya yang berwarna hijau zamrud sesekali menyapu area sekitar dengan tatapan yang penuh keanggunan namun sedikit waspada.
"Itu Putri Lyra Sylvariel," Aria menambahkan, nada suaranya menunjukkan rasa hormat yang tulus.
"Konon dia salah satu bakat kultivasi sihir terbesar dalam sejarah kerajaan Elf beberapa dekade terakhir."
Kael menatap sosok itu sejenak sebelum pandangannya beralih ke kelompok kedua yang tidak kalah menarik perhatian—sekelompok orang berbadan kekar dengan ciri-ciri hewan yang jelas terlihat, telinga serigala, ekor yang bergerak-gerak, dan otot-otot yang menunjukkan kekuatan fisik luar biasa.
"Delegasi Fenrir Kingdom," Aria melanjutkan. "Para Beastman."
Di antara mereka, seorang gadis dengan rambut cokelat kemerahan liar dan telinga serigala yang tegak berdiri dengan sikap agresif, lengannya bersilang di dada, matanya yang tajam menyapu seluruh arena seolah mencari lawan yang layak untuk ditantang.
"Ragna Fenrir," Aria berkata lagi. "Keturunan keluarga kerajaan Beastman, terkenal dengan temperamennya yang kompetitif."
Seolah merasakan dirinya sedang diamati, Ragna tiba-tiba menoleh langsung ke arah kelompok Heavenly Sword Sect, matanya bertemu dengan mata Kael untuk sesaat.
Alih-alih menghindar, gadis itu menyeringai lebar, seringai yang jelas berupa tantangan tanpa kata.
Kael mengangkat alis, membalas dengan senyum kecil yang tidak kalah percaya diri.
"Sepertinya kau sudah menarik perhatian," Aria berkomentar dengan nada geli.
"Sepertinya begitu," Kael menjawab, meski dia sendiri tidak sepenuhnya yakin bagaimana perasaannya tentang hal itu.
Terompet kerajaan berbunyi lebih keras, menandakan kedatangan Raja Valtherion sendiri ke podium kehormatan di tribun utama.
Seluruh arena menjadi hening seketika, ribuan penonton menundukkan kepala hormat saat sang raja, mengenakan jubah keemasan dengan mahkota berlian yang berkilau megah, berdiri untuk memberikan sambutan pembukaan.
"Rakyat Elyndra," suaranya bergema ke seluruh arena berkat sihir amplifikasi yang tersembunyi di podium, "selamat datang di Kingdom Tournament, perayaan sepuluh tahunan yang menyatukan bakat-bakat terbaik dari seluruh benua kita dalam semangat kompetisi, persahabatan, dan kehormatan."
Sang raja melanjutkan pidatonya, membahas sejarah panjang turnamen ini, pentingnya persatuan antar kerajaan dan ras di tengah ancaman yang terus berkembang di dunia—meski tidak secara spesifik disebutkan ancaman apa yang dimaksud, membuat Kael bertanya-tanya apakah ada kaitannya dengan pergerakan Dravos yang mereka khawatirkan.
Setelah pidato selesai, format turnamen diumumkan secara resmi: seratus dua puluh delapan peserta dari seluruh delegasi akan bertanding dalam sistem gugur langsung, dengan babak pertama dimulai keesokan harinya. Setiap peserta akan diundi secara acak untuk menentukan lawan pertama mereka.
Upacara diakhiri dengan pertunjukan sihir spektakuler dari Moonlight Sect, menciptakan ilusi visual berupa naga-naga cahaya yang terbang mengelilingi arena, disambut sorak sorai meriah dari seluruh penonton.
Ketika upacara berakhir dan para peserta mulai kembali ke area istirahat masing-masing untuk pengundian babak pertama, Kael merasakan tepukan ringan di bahunya.
Dia menoleh dan mendapati Ragna berdiri di belakangnya, seringai lebar masih terpasang di wajahnya.
"Kau," Ragna berkata langsung, suaranya kasar namun penuh energi.
"Holy Son dari Heavenly Sword Sect, kan? Aku dengar tentang duelmu melawan murid seniormu sendiri. Kedengarannya menarik."
"Kau dengar benar," Kael menjawab, sedikit terhibur dengan sikap langsungnya yang berbeda dari formalitas yang biasa dia hadapi di sekte.
"Bagus. Aku harap kita bertemu di arena sebelum turnamen berakhir," Ragna berkata dengan nada penuh antisipasi.
"Aku ingin melihat seberapa kuat manusia yang membuat seluruh Grandis heboh ini."
"Aku akan menantikannya," Kael menjawab dengan senyum yang sama percaya dirinya.
Ragna mengangguk puas, lalu berbalik pergi bergabung kembali dengan delegasinya, meninggalkan Kael dengan perasaan semangat yang semakin membara untuk menghadapi apa pun yang akan datang di turnamen ini.
Di tribun penonton, tersembunyi di antara kerumunan biasa dengan penyamaran sempurna, Seraphina mengawasi setiap interaksi Kael dengan mata yang tajam, merasakan campuran kebanggaan dan kekhawatiran yang terus tumbuh seiring semakin banyak perhatian yang tertuju pada pemuda yang telah menjadi begitu berarti baginya.
*Semoga saja*, pikirnya, *perhatian ini tidak membawa bahaya yang lebih besar daripada yang bisa kita tangani bersama.*