Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pagi itu, halaman depan kediaman Lin dipenuhi orang. Para pelayan berdiri berkelompok di satu sisi, saling berbisik, sementara Lin Boqing duduk di kursi tinggi bersama Nyonya Su. Lin Zhaoyi berdiri di belakang mereka dengan tangan bersedekap.
Bai Hui dan Lao Zhou diseret ke tengah halaman. Tangan mereka masih terikat, lutut dipaksa menyentuh tanah yang dingin. Wajah Bai Hui pucat, matanya bengkak habis menangis semalaman, tapi bibirnya tetap terkunci rapat.
Chen Ruoxi berdiri di dekat Nyonya Su, mengenakan hanfu warna lembut. Sesekali dia menunduk, seolah tidak tega melihat kejadian di depannya.
Yuxin berdiri agak jauh, ditemani Xiao Yan, memperhatikan semuanya dengan wajah yang sudah dia atur sedemikian rupa, cukup sedih untuk terlihat seperti korban, tapi tidak terlalu tenang supaya orang tidak curiga.
"Bai Hui," Lin Boqing membuka sidang, suaranya berat dan menggema di halaman yang sepi. "Semalam kau sudah mengaku menyuap seorang pelayan pria untuk masuk ke kamar putriku dengan niat mencelakainya. Apa pengakuanmu masih sama? Kau bertindak sendirian?"
Bai Hui mendongak sebentar. Dia mencari-cari sosok Ruoxi di tengah orang-orang yang berkumpul, tapi Ruoxi sudah lebih dulu menunduk, menatap tanah dengan wajah sedih yang sudah dia latih baik-baik.
"Hamba bertindak sendirian, Tuan," jawab Bai Hui, suaranya nyaris tidak terdengar.
Lin Boqing mengangguk pelan, meski matanya menyipit sebentar, seolah tidak sepenuhnya percaya. "Kalau begitu, kau akan menerima hukuman yang setara dengan kesalahanmu. Empat puluh kali cambuk, di depan semua orang di rumah ini, supaya jadi peringatan bagi siapa saja yang berniat mencelakai keluarga Lin."
Bai Hui gemetar hebat. "Ampun, Tuan... hamba mohon ampun..."
"Kau berniat menyakiti anggota keluarga Lin," jawab Lin Boqing dingin. "Kenapa sekarang aku harus memberimu ampun?"
Dia memberi tanda pada algojo yang berdiri di pinggir halaman, memegang cambuk kulit yang sudah digulung rapi. Dua penjaga menahan tubuh Bai Hui, membuatnya membungkuk dengan punggung terbuka menghadap langit.
Dari kejauhan, Yuxin memperhatikan semuanya. Ada perasaan aneh di dadanya bukan rasa kasihan, karena dia tahu persis apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Tapi juga bukan rasa puas, sebab orang yang seharusnya berlutut di sana bukan Bai Hui.
Cambuk pertama menghantam punggung Bai Hui, disusul jeritan yang memecah suasana pagi. Para pelayan di sekeliling menunduk, tidak berani menonton langsung.
Yuxin melirik sekilas ke arah Ruoxi.
Wajah Ruoxi tetap tenang, sesekali berkedip seperti menahan air mata. Tapi Yuxin menangkap sesuatu yang lain di balik itu semua, bukan rasa bersalah, melainkan kelegaan yang disembunyikan rapat-rapat di balik wajah sedihnya.
Cambuk kedua, ketiga, keempat... jeritan Bai Hui semakin lemah setiap kali cambuk mendarat, sementara Ruoxi hanya berdiri diam, menyaksikan wanita yang sudah melayaninya sejak kecil menanggung hukuman yang seharusnya jadi miliknya sendiri.
Cambukan kelima membuat Bai Hui ambruk, tubuhnya tersungkur di tanah. Algojo berhenti sejenak, menunggu aba-aba.
"Lanjutkan," perintah Lin Boqing datar.
Cambukan demi cambukan terus mendarat. Di hitungan kedua puluh, jeritan Bai Hui sudah berubah jadi rintihan lemah. Beberapa pelayan wanita menutup mata, tidak sanggup menyaksikan lebih lama.
Nyonya Su akhirnya menyentuh lengan suaminya. "Cukup, Suamiku. Dia sudah tidak sadarkan diri."
Lin Boqing mengangkat tangan. Algojo menghentikan cambuknya di hitungan ketiga puluh dua, delapan pukulan lebih awal dari yang diputuskan.
"Bawa dia ke tabib," ucap Lin Boqing pada penjaga terdekat. "Setelah sembuh, dia dan Lao Zhou akan dijual ke pasar budak di kota selatan. Aku tidak mau melihat wajah mereka lagi di rumah ini."
Dua penjaga mengangkat tubuh Bai Hui yang lemas, punggungnya penuh luka memerah. Ruoxi maju setengah langkah, seolah hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian menahan diri dan hanya menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak pelan.
"Kasihan sekali dia," gumamnya lirih, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya. "Padahal sudah bertahun-tahun mengabdi padaku."
Yuxin memperhatikan air mata itu mengalir sempurna di pipi Ruoxi, tanpa membuat riasannya berantakan sedikit pun.
Setelah kerumunan mulai membubarkan diri, Lin Zhaoyi melangkah mendekati Yuxin, suaranya rendah agar tidak terdengar orang lain.
"Kau percaya cerita itu?" tanyanya, matanya menatap lurus ke arah Yuxin. "Bahwa Bai Hui bertindak sendirian?"
Yuxin menoleh, terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Kenapa Kakak bertanya begitu?"
"Karena aku tidak percaya," jawab Zhaoyi pelan. "Dan sepertinya kau juga tidak."
Sebelum Yuxin sempat menjawab, seorang pelayan datang tergesa dari arah gerbang depan, wajahnya panik.
"Tuan! Ada utusan dari istana. Mereka membawa titah dari Yang Mulia Kaisar."
Seluruh halaman yang baru saja mulai tenang kembali menegang.