NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Mencari informasi dan perubahan dunia

Aroma dupa penolak serangga menguar pekat di udara. Balai Misi Kota Sungai Abu dipadati puluhan kultivator sejak fajar menyingsing. Suara langkah kaki beradu dengan dentang sarung pedang yang saling bergesekan di lorong sempit.

Ye Chan berdiri tegak di depan meja kayu jati yang sudah tergores senjata tajam. Jubah abu-abunya tampak lusuh, menyatu sempurna dengan kerumunan kultivator tingkat bawah.

Penjaga Misi-Berjanggut Pendek memeriksa keping giok identitas Ye Chan tanpa mengangkat pandangan. Jemarinya yang kasar mengetuk meja dua kali.

"Tugas pengawalan kargo sudah terdaftar atas namamu," kata pria itu pendek. "Kumpulkan bahan buruan sebelum bulan purnama."

Ye Chan menerima keping giok itu kembali. "Terima kasih atas bantuanmu."

Tepat di samping meja pendaftaran, seorang Kultivator-Pedagang sedang menghitung kantong kulit berisi koin tembaga. Pria berbadan gempal itu menoleh ke rekannya dengan nada mencemooh.

"Kalian sudah dengar kabar dari wilayah barat?" bisik Kultivator-Pedagang itu cukup keras. "Katanya dia baru mencapai Ahli Awal, tapi sudah berani mendirikan sekte sendiri."

Rekan bicaranya membetulkan letak pedang di pinggang. "Nyawanya pasti rangkap sembilan jika berani menantang sekte mapan di sekitarnya."

Ye Chan melangkah pelan melewati mereka. Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa ada yang menyadari.

Seorang kultivator tingkat Ahli memang sudah memiliki umur panjang dan cadangan Qi yang luas. Kekuatan sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk menopang bukit sendiri. Tindakan tersebut sangat wajar bagi siapa pun yang mengerti aturan dasar dunia persilatan.

Ye Chan melanjutkan langkahnya ke tempat lain.

***

Langkah Ye Chan terhenti di dekat pilar batu aula tengah. Pandangannya menyapu kerumunan kultivator yang hilir mudik membawa gulungan tugas.

Hampir seluruh orang di ruangan ini masih berkutat pada tingkat Praktisi. Ada yang masih mematangkan Penempaan Tubuh dengan otot liat seperti kawat tembaga. Sebagian besar berada di tingkat Pengumpulan Qi seperti status samarannya saat ini. Hanya segelintir sosok tua yang berhasil menembus Pembentukan Inti.

Tiga tahap itu adalah fondasi mutlak bagi siapa pun yang meniti jalan keabadian.

Di sudut pilar, seorang kultivator muda tampak duduk bersila dengan napas memburu. Urat-urat di leher pemuda itu menegang kencang saat mencoba menyerap energi spiritual sekitar.

Ye Chan hanya melewatinya dalam hening.

Ia tahu betul rasa sakit ketika meridian menolak aliran Qi asing. Namun, setiap orang harus menaklukkan jalurnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.

'Fondasi tetap yang paling penting,' batin Ye Chan sembari merapikan lipatan lengan bajunya.

Tanpa akar yang kokoh, bangunan setinggi apa pun pasti runtuh saat badai datang. Ia sendiri pernah melalui setiap jengkal tahapan itu berpuluh-puluh tahun silam. Kini ia hanya perlu menapaki kembali jalan yang sama dengan lebih teliti.

***

Kedai teh di seberang balai misi menyediakan tempat berlindung dari riuhnya jalanan kota. Asap panas mengepul dari poci tembikar murahan yang disajikan di atas meja kayu kasar.

Ye Chan duduk di bangku sudut dekat jendela yang terbuka. Dari tempatnya, ia bisa melihat jelas orang-orang yang keluar-masuk balai misi.

Kultivator-Pedagang tadi melangkah masuk ke kedai bersama rekannya. Mereka memilih meja kayu yang hanya berjarak beberapa langkah dari Ye Chan.

"Tingkat Ahli memang berada di puncak rantai makanan kota kecil ini," kata rekan sang pedagang setelah menuangkan teh. "Mulai dari Formasi Jiwa, Harmoni Jiwa, hingga Jiwa Ilahi."

Kultivator-Pedagang mendengus sambil meletakkan cangkirnya agak keras. "Tentu saja. Sekali kau mencapai Formasi Jiwa, jiwamu tidak lagi terikat pada batas fisik fana."

Ye Chan menyesap tehnya yang terasa pahit di lidah.

Percakapan itu menegaskan kembali struktur kekuasaan yang ia pahami. Tingkat Ahli memisahkan orang biasa dari penguasa wilayah. Namun, yang menarik perhatiannya bukanlah teori tersebut.

'Berapa banyak kultivator tingkat Ahli yang bermunculan selama tiga tahun ini?' pikir Ye Chan.

Dunia terus bergerak maju ketika ia terjebak dalam pemulihan tubuh. Informasi yang ia miliki tentang para jawara sekte besar mungkin sudah kedaluwarsa.

Kultivator-Pedagang itu kembali membuka mulutnya sembari mengunyah kacang rebus. "Kudengar master tua dari klan Chen gagal menembus Harmoni Jiwa bulan lalu. Meridiannya hangus terbakar api jiwanya sendiri."

Rekan bicaranya menggeleng prihatin. "Risiko tingkat Ahli memang terlalu mengerikan bagi orang yang terburu-buru."

Ye Chan meletakkan cangkirnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Informasi itu ia simpan rapat di dalam kepalanya. Peta kekuatan lokal ternyata sudah mulai bergeser dari ingatannya.

Dua kultivator pengembara di meja seberang tiba-tiba ikut menimpali percakapan dengan nada rendah. Suasana di kedai mendadak terasa lebih berat.

"Ahli masih bisa ditemukan jika kau mencari ke kota praja," bisik salah satu pengembara itu. "Bagaimana dengan tingkat Master?"

Kedai teh langsung hening selama beberapa ketukan.

Tingkat Master adalah wilayah para legenda hidup. Hanya ada dua tahap di sana: Transformasi Jiwa dan Kenaikan. Sosok pada tingkat ini konon mampu membelah puncak gunung hanya dengan sapuan lengan jubah.

Kultivator-Pedagang melambaikan tangannya di udara. "Jangan membicarakan Master di tempat kumuh ini. Orang-orang seperti itu hanya ada di dongeng kekaisaran."

"Ini bukan dongeng," bantah pengembara itu dengan mata menyipit. "Aku pernah mendengar beberapa pejabat kekaisaran berada di tingkat Master."

Ye Chan menahan cangkir tehnya tepat sebelum menyentuh bibir.

Matanya melirik lurus ke arah pengembara tersebut. Ketertarikannya tidak tertuju pada kehebatan tingkat Master yang sudah ia ketahui batasannya.

Fokus Ye Chan terkunci pada satu kata: kekaisaran.

Selama memimpin sekte dahulu, urusan birokrasi istana selalu terasa jauh dari pegunungan tempatnya bertapa. Kini nama itu muncul kembali di antara bisik-bisik para kultivator jalanan.

Kultivator-Pedagang mencibir pelan. "Kekaisaran terlalu jauh dari Kota Sungai Abu. Urus saja perburuan monstermu besok pagi."

Percakapan di kedai teh itu segera beralih membahas harga kulit monster bertaring. Ye Chan bangkit dari duduknya, meletakkan lima koin tembaga di atas meja, lalu melangkah keluar.

Matahari mulai condong ke ufuk barat saat Ye Chan menyusuri jalanan berbatu menuju penginapan. Angin dingin dari lembah menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan asap dapur penduduk kota.

Ia merangkum seluruh percakapan hari ini di dalam benaknya.

Praktisi, Ahli, lalu Master.

Tiga anak tangga besar itu masih menjadi hukum mutlak di dunia kultivasi. Namun pion-pion di atas papan catur telah berganti rupa.

Banyak tetua lama yang mungkin sudah tewas dalam usaha penerobosan ranah. Generasi baru bermunculan dengan ambisi yang lebih buas. Sekte-sekte kecil berdiri di tanah bekas darah para pendahulunya.

'Pengetahuan lama bisa menjadi jebakan jika dunia sudah berubah,' gumamnya dalam hati.

Mengandalkan ingatan masa lalu secara membabi buta hanya akan mengantarkannya pada kematian konyol. Ia harus memperlakukan setiap informasi baru dengan kewaspadaan penuh.

Langkah kakinya membawanya masuk ke lorong penginapan yang remang-remang. Tangga kayu berderit pelan di bawah pijakan sepatunya yang ringan.

***

Pintu kamar kayu tertutup rapat. Ye Chan menyalakan sebatang lilin kecil di sudut meja, mengusir kegelapan yang mulai merayapi ruangan sempit itu.

Ia membuka laci meja dan mengeluarkan selembar perkamen kasar. Ujung kuas bambu ia celupkan ke dalam tinta hitam pekat.

Ada satu teka-teki ganjil yang mengganjal pikirannya sejak meninggalkan kedai teh tadi siang.

Kekaisaran dikabarkan memiliki pejabat yang mencapai tingkat Master. Namun Ye Chan tidak pernah mendengar satu pun nama kaisar yang memegang kendali tertinggi atas takhta tersebut.

'Sebuah kekaisaran tanpa kaisar, apakah takhta kaisar itu benar-benar kosong?'

Goresan kuasnya terhenti di atas kertas. Tetesan tinta membentuk bulatan hitam kecil.

Kekosongan kekuasaan di tingkat tertinggi selalu menyembunyikan intrik yang berdarah. Jika kaisar memang tidak ada, maka kekuasaan sedang diperebutkan di balik tirai istana oleh para penguasa bayangan.

Ye Chan menarik napas teratur. Kuasnya kembali bergerak cepat di atas perkamen, menuliskan tiga kata kunci secara terpisah:

Sekte.

Shi Zhong.

Kekaisaran.

Tiga nama itu masih berdiri sendiri tanpa ada benang merah yang tampak di permukaan. Namun Ye Chan yakin badai besar sedang berputar di antara ketiganya.

'Semakin banyak aku mencari tahu, semakin jelas bahwa tiga bulan terakhir bukan waktu yang sederhana.'

Ye Chan melipat perkamen itu rapi, lalu menyelipkannya ke balik lipatan jubahnya, namun benda itu menghilang begitu saja masuk ke dalam Gioknya..

Ia meniup api lilin hingga padam dalam satu hembusan napas pelan. Ruangan seketika tenggelam dalam pekatnya malam. Ye Chan duduk bersila di atas ranjang kayu, mulai mengalirkan Qi di meridiannya yang kini telah pulih sempurna.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!