DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: BATAS AKHIR JANJI
Aku memutar selot besi pintu depan dua kali, memastikan grendel kayu di atasnya terpasang kencang.
Jemariku menyapu kait jendela kaca di ruang tengah yang sudah terkunci rapat dari dalam.
Dini dan Ranti duduk berdampingan di sofa kayu, memperhatikan pergerakanku dalam hening yang kaku.
"Semua pintu dan jendela rumah kita sudah aman malam ini, Din, Ran," ujarku melangkah mendekati mereka.
"Ganjal kayu tebal di pintu samping juga mboten bakal tergeser dari luar," lanjutku menepuk bahu Ranti.
"Pintu dapur belakang juga sudah Ibu kunci dan pasang grendel besi tambahan," tambahku melengkapi.
Dini menghela napas pelan, menatap jam dinding porselen yang menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Bu, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam," bisik Dini memecah keheningan.
"Iya, Din. Ibu tahu," sahutku pelan sembari melangkah mendekati meja makan porselen.
"Perasaan Dini makin mboten tenang sejak maghrib tadi, Bu," gumam Dini menundukkan kepala.
"Apalagi waktu terus berjalan mendekati tengah malam nanti," lanjut Dini sangat pelan.
"Ibu paham ketakutanmu, Din. Tapi kita harus tetap tenang dan saling menjaga di dalam rumah," balasku mengusap bahu anak keduaku itu.
"Mbak Dini benar, Bu. Ranti juga merasa cemas banget dari tadi," timpal Ranti ikut bersuara.
"Pak RT sama Pak Wo kok belum kembali dari Polsek, nggih?" tanya Ranti cemas.
"Urusan laporan di kantor polisi butuh waktu lumayan lama, Ran," jawabku mendudukkan diri di sebelah anak bungsu saya.
"Jaraknya lumayan jauh dari gang kita, apalagi jalannya padat di sore hari," tambah Dini menimpal.
"Semoga urusan Pak RT di Polsek lancar supaya ada kepastian buat kita semua," gumam Ranti penuh harap.
"Inggih, Ran. Semoga petugas Polsek bisa segera menindaklanjuti keadaan rumah sebelah," sahutku.
Aku menatap kalender dinding yang tergantung kaku di samping lemari jati tua.
Lingkaran spidol hitam pada angka 8 di lembaran kalender itu terpampang membisu di hadapan kami.
"Lingkaran spidol di kalender itu seakan menagih jawaban hari ini," bisik Dini menunjuk dinding.
"Iya, Din. Kita tunggu kabar Pak RT bersama-sama," balasku pelan.
Dini menatap selipan buku catatan di atas meja makan porselen yang terang oleh sinar lampu gantung.
"Bu, kain perca baru yang terselip di pintu samping tadi pagi benar-benar mboten ada tulisan apa-apa?" tanya Dini penasaran.
"Mboten ada tulisan apa-apa, Din. Cuma serat kain perca kusam yang berdebu," jawabku menjelaskan.
"Aneh banget, kok ada kain perca terselip di bawah pintu samping kita?" gumam Dini heran.
"Mungkin kain itu terselip waktu gesekan semalam terjadi," timpal Ranti menebak pelan.
"Nanti waktu Pak RT datang, kita sampaikan bukti kain perca itu," sahutku menegaskan tindakan.
"Iya, Bu. Bukti kain perca itu harus ditunjukkan juga ke Pak RT," timpal Dini mendukung.
Ranti merapatkan posisi duduknya di sisiku, memegang telapak tanganku yang terasa agak dingin.
Pikiran kami bertiga tertuju pada lorong samping dan keheningan rumah sebelah yang makin pekat.
Pukul delapan malam lewat seperempat, suara langkah kaki beralas sepatu karet terdengar mengetuk teras depan.
Srek... srek...
Suara langkah kaki dari luar teras membuat kami bertiga seketika berdiri dari sofa kayu.
Tok! Tok! Tok!
Tiga ketukan pelan dan teratur berbunyi dari daun pintu kayu depan.
"Bu Sari, niki kulo, Pak RT bersama Pak Wo," panggil suara Pak RT dari balik pintu.
Aku bergegas berdiri, melangkah cepat menuju pintu depan rumah kami.
Jemariku memutar selot besi dengan cekatan, lalu membuka daun pintu kayu lebar-lebar.
Pak RT dan Pak Wo berdiri di teras depan dengan raut wajah yang tampak lelah.
"Pangapunten mengganggu malam-malam, Bu Sari," sapa Pak RT.
"Mboten menopo, Pak RT. Pripun hasil laporan dari Polsek?" tanyaku penuh ingin tahu.
"Laporan resmi warga sudah diterima petugas piket di Polsek," ujar Pak RT langsung ke inti.
"Catatan soal kepergian Rian dan Maya, gembok pagar, pintu belakang yang terbuka, sampai temuan kain perca tadi pagi sudah kami serahkan sekalian," tambah Pak Wo memperjelas.
"Petugas menetapkan besok pagi jam sembilan tim Polsek bakal datang langsung ke gang kita," tegas Pak RT.
"Polisi juga mewanti-wanti supaya warga mboten bongkar paksa sendiri sebelum mereka datang," tambah Pak Wo menimpal.
"Langkah Pak RT pun sangat tepat. Kita tunggu pemeriksaan resmi besok pagi," sahutku lega.
"Matur nuwun sanget atas bantuannya, Pak RT, Pak Wo," balasku tulus.
"Sami-sami, Bu Sari. Yang penting malam ini kunci pintu rapat-rapat dan tetap waspada," pesan Pak RT sebelum pamit.
"Kalau ada hal ganjil malam ini, langsung pukul tiang listrik atau panggil kulo," tambah Pak Wo memperingatkan.
Pak RT dan Pak Wo melangkah meninggalkan teras depan rumah kami, menyusuri jalan aspal gang.
Aku segera menutup pintu depan kembali, memutar kunci selot besinya dua kali.
Kejelasan laporan dari Pak RT membawa sedikit kepastian di dalam ruang tengah rumah kami.
Dini berjalan menuju dapur kecil, menyeduh tiga cangkir teh manis hangat.
Aroma teh manis hangat menguar lembut saat Dini membawa nampan plastik ke meja makan.
"Setidaknya besok pagi jam sembilan sudah ada polisi yang memeriksa rumah Tante Maya, Bu," ujar Dini menyerahkan cangkir porselen.
"Iya, Din. Kita sudah melakukan hal yang benar dengan melapor ke pengurus RT dan polisi," sahutku menyesap teh hangat pelan-pelan.
"Ranti merasa lebih tenang kalau besok ada petugas yang datang," timpal Ranti tersenyum tipis.
"Semoga besok pagi semua teka-teki ganjil ini benar-benar ada titik terangnya," tambah Ranti memandangi ubin.
"Amin, Ran. Yang penting malam ini kita pasrah dan berdoa sama Yang Maha Kuasa," balasku menenangkan anak bungsu saya.
"Bu, teh manisnya masih hangat, dihabiskan dulu biar badan tidak dingin," ujar Dini lembut.
"Iya, Din. Terima kasih banyak sudah buatkan teh hangat," balasku tersenyum hangat pada Dini.
Kami bertiga duduk melingkar di sofa kayu, menikmati kehangatan teh manis dalam keheningan yang tenang.
Kehangatan cangkir porselen di telapak tangan memberi jeda singkat bagi syaraf kami yang lelah.
Keheningan di dalam ruang tengah terasa lebih tenang setelah cangkir teh manis kami habiskan bersama.
Dini membawa cangkir-cangkir porselen kosong kembali ke dapur, lalu mencuci tangan di wastafel.
"Dini lap meja makan dulu biar bersih dari noda nggih, Bu," ujar Dini mengambil kain lap.
"Iya, Din. Terima kasih banyak nggih sudah bantu merapikan," jawabku.
Pukul sepuluh malam, keheningan di luar rumah kembali terasa makin pekat menekan dada.
Demi keselamatan bersama, aku mengajak Dini dan Ranti untuk tidur di kamar utama bersamaku.
Pintu kayu kamar utama kukunci rapat dari dalam menggunakan kunci kuningan kecil.
Sebagai perlindungan tambahan, aku menggeser satu kursi kayu berat untuk mengganjal gagang pintu kamar.
Sinar lampu tidur berwarna kuning temaram menerangi ruang kamar tidur kami yang sepi.
"Dini sama Ranti tidur di bagian dalam dekat dinding, nggih," pintaku merapikan letak kasur.
"Inggih, Bu," sahut Dini dan Ranti serentak menaiki tempat tidur.
"Ibu tidur di sebelah luar dekat pintu kamar?" tanya Dini menatapku khawatir.
"Iya, Din. Ibu yang jaga di dekat pintu kamar," sahutku memberikan senyuman menenangkan.
"Senter besarnya ditaruh di mana, Bu?" tanya Ranti menunjuk meja.
"Senter besarnya Ibu pegang terus di tangan kanan," jawabku menunjukkan senter besi.
"Ganjal kursi kayu di balik pintu kamar ini sudah kencang juga, Bu?" tanya Dini memastikan.
"Sudah kencang banget, Din. Tidak bakal bisa didorong mudah dari luar," sahutku menenangkan Dini.
Dini dan Ranti perlahan-lahan terpejam karena kelelahan fisik dan mental yang menumpuk.
Aku berbaring di tepi tempat tidur sembari memegang erat senter besar di tangan kananku.
Meskipun tubuhku terasa lelah, mataku sama sekali mboten bisa terpejam tenang di atas kasur.
Setiap kali hembusan angin luar menerpa dahan pohon mangga di pekarangan sebelah, dadaku berdebar kencang.
Aku memikirkan keberadaan Maya dan Rian yang hingga malam ini masih menjadi teka-teki membisu.
Bayangan nota belanja dan potongan kain perca di laci meja rias seakan terus membayangi pikiran.
Suara azan Isya dari pengeras suara mushola gang telah lama berlalu menggantikan kesunyian malam.
Lampu penerangan di lorong samping membias temaram menembus celah ventilasi kayu di atas pintu.
Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, hawa dingin yang tak biasa berhembus masuk melintasi celah jendela.
Aroma tanah basah yang menyengat dan amis kusam mulai menyusup pelan ke dalam kamar tidur kami.
Mataku seketika terbuka lebar, meresapi perubahan hawa udara di sekeliling kami.
Aku mendudukkan diri di atas tempat tidur, mengarahkan sorot senter ke arah pintu kamar.
Dari arah lorong samping yang berbatasan langsung dengan pekarangan rumah Maya, timbul suara aneh yang merayap kaku.
Srok... srok...
Suara seretan berat tanah basah terdengar merayap melintasi ubin semen di luar pintu samping.
Dini dan Ranti terbangun seketika dari tidurnya, merapatkan tubuh mereka ke sisiku dengan cemas.
"Bu... suaranya terdengar lagi di lorong samping," bisik Dini dengan napas memburu ketakutan.
"Tetap diam di tempat tidur, Din, Ran. Jangan ada yang bergerak ke luar kamar," instruksiku berbisik tegas.
Suara seretan berat itu mendadak terhenti tepat di depan ambang pintu samping rumah kami.
Krrrit...
Suara gesekan kaku berbunyi nyaring mengikis permukaan bawah kayu pintu samping.
Guncangan halus terasa menggetarkan ambang kayu pintu, diikuti hembusan bau tanah basah yang kian pekat.
"Bu Sari... ini hari Minggu tanggal delapan..."
"Aku datang mau kembalikan uang belanja tiga puluh ribu... hari ini sudah tanggal delapan..."
Bulu kudukku meremang hebat mendengar getaran suara yang begitu kaku dan hampa di luar sana.
Genggaman jemari Dini dan Ranti di lengan bajuku terasa makin kencang dan gemetar hebat.
"Siapa pun kamu di luar... kalau ada urusan, bicara besok pagi waktu petugas Polsek dan Pak RT datang!" seruku keras dari dalam kamar.
Keheningan mendadak melingkupi lorong samping selama beberapa detik.
Tak ada jawaban kata dari balik pintu kayu samping, hanya desis napas berat yang terdengar mengendap kaku.
Aku menajamkan pendengaranku, menahan detak jantung yang berdegup kencang di balik dada.
"Bu... baunya makin tajam menyusup dari bawah celah pintu kamar kita," bisik Ranti menahan tangis.
"Tetap tenang, Ran. Jangan panik," balasku sembari mengarahkan sorot senter ke celah pintu.
Cahaya kuning temaram senter menyinari ubin semen di bawah pintu kamar tidur kami.
Getaran di lorong samping terasa makin rapat dan menekan seiring bergulirnya jarum jam.
Suara gesekan tipis kembali terdengar perlahan-lahan merayap di atas ubin semen koridor luar.
Hawa dingin yang mencekam membuat hembusan napas kami bertiga terasa berat dan tertahan di tenggorokan.
Detak jarum jam dinding di ruang tengah terdengar bergema kaku melintasi dinding semen.
Setiap detik pergerakan jarum jam terasa kian lambat di tengah keheningan malam yang menindih.
Tepat di saat jarum jam dinding di ruang tengah terdengar berdentang dua belas kali menandakan pergantian hari...
Tok! Tok! Tok!
Ketukan keras tiga kali berbunyi menghantam pintu samping, menggetarkan seluruh dinding rumah kami.
Bersamaan dengan benturan ketukan itu, sebuah bunyi dentuman kaku terdengar jatuh menimpa ambang ubin luar.
Sesuatu yang berat dan basah terhempas kaku tepat di sudut bawah daun pintu samping kami.
---